Compartilhar

Bab. 9 Satu Ronde Lagi

last update Data de publicação: 2026-09-17 18:03:06

“Hah... hah...”

Suara napas terengah-engah bersahutan memenuhi kamar utama villa yang minim cahaya itu. Aroma keringat bercampur wangi parfum menguar begitu kuat di udara.

Di luar jendela, kilat menyambar membelah langit malam, disusul gemuruh guntur yang menggetarkan kaca. Tapi, badai di luar sana sama sekali tak sebanding dengan badai gairah yang baru saja meluluhlantakkan kewarasan dua anak manusia di atas ranjang tersebut.

Keduanya berbaring telentang bersisian, menatap langit-langit kamar
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 16 Ancaman Lagi

    Angin malam berhembus cukup kencang menyapu area villa, namun Elang tak berniat beranjak dari balkon samping. Pria itu menyendiri sembari menatap langit malam yang kelam tanpa bintang. Kepulan asap putih keluar dari bibirnya, membaur dengan udara dingin.Pikirannya melayang pada kejadian di ruang tamu beberapa saat lalu. Membayangkan bagaimana wajah Rania yang memerah, air mata yang membasahi pipi wanita itu, dan tatapan terluka yang begitu kentara. Ada sesuatu di sudut dadanya yang berdenyut, membuat Elang merasa sedikit sesak. "Masa iya hanya karena menghabiskan waktu semalam, aku mulai ada perasaan sama Bu Rania?" gumam Elang pelan pada dirinya sendiri.Sesaat kemudian, Elang menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seolah berusaha mengusir bayangan wajah rapuh Rania. Ia tahu batasan. Ia tak pantas memikirkan Rania, apalagi wanita itu adalah istri sah dari majikannya sendiri. "Ngaca, Lang! Ngaca! Kamu ini siapa? Cuma supir yang dibayar untuk menyelesaikan tugas kotor. Bisa-bisanya m

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 15 Rayuan Bima

    "Apa kamu bilang, Mas? Menginap semalam lagi? Apa kamu sudah gila?!" pekik Rania tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya yang selama ini sangat ia cintai melebihi apa pun."Kenapa? Kamu keberatan, Sayang?" Bima melangkah mendekat, mengabaikan raut terluka di wajah istrinya. Ia membungkuk, lalu berbisik tepat di telinga Rania, "Ayolah, hanya semalam lagi. Supaya kamu cepat hamil dan tidak perlu repot-repot lagi menghabiskan malam dengan Elang."Plak!Suara tamparan keras memecah keheningan ruang tamu villa.Entah keberanian dari mana, mendengar ucapan bernada merendahkan dari suaminya, Rania refleks melayangkan telapak tangannya tepat ke pipi kanan Bima."Rania! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Bima murka, memegangi pipinya yang mendadak panas.Ini pertama kalinya sejak tiga tahun pernikahan mereka, Rania berani mengangkat tangan padanya.Rania tersenyum kecut sembari menatap telapak tangannya sendiri yang terasa kebas dan gemetar. Harusnya, ia melakukan tamparan ini sejak awal,

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 14 Meninap Semalam Lagi

    "Aku harus pergi sekarang sebelum orang tuaku kembali meneror dan memintaku menjemput Rania," ucap Bima terburu-buru. Pria itu berdiri di depan cermin besar di kamar sebuah apartemen mewah, sibuk merapikan kerah kemeja.Di atas ranjang berukuran king size, kekasih Bima bangkit dengan wajah ditekuk cemberut. Sosok berbalut jubah mahal yang membalut tubuh proporsionalnya itu melangkah mendekat dengan langkah gontai."Kamu yakin nggak mau menginap di sini malam ini, Bim?" tanyanya dengan nada manja. Sepasang lengan yang wangi oleh parfum bertaraf internasional itu memeluk pinggang Bima rapat-rapat dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung tegap sang pujaan hati."Lain kali, Sayang. Aku janji bakal lebih banyak menghabiskan waktu denganmu setelah urusan di Puncak beres," bujuk Bima memutar tubuhnya perlahan, membelai telapak tangan kekasihnya yang melingkar manja di dadanya."Aku lelah sembunyi-sembunyi dari semua orang, Bima. Aku ini icon. Aku terbiasa jadi pusat perhatian. Tap

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 13 Digigit Tomcat

    "Ngapain kamu masih di sini? Bukannya kamu mau menyusul istrimu, Bim?" tanya Dimas, menatap tajam ke arah putranya yang masih asyik duduk bersandar di kursi makan. "Santai, Pa. Bima sarapan dulu buat isi energi," sahut Bima. Melihat kelakuan putranya yang kelewat santai, wajah Dimas perlahan memerah menahan emosi. Urat-urat di leher pria paruh baya itu mulai menonjol. "Santai-santai gundulmu!" sembur Dimas seraya menggebrak meja makan. "Istrimu itu pasti sudah menunggu kamu, Bima! Kamu ini mbok ya becus sedikit jadi suami. Gimana mau cepat punya anak kalau tingkahmu begini terus? Istri ditinggal sendirian, suami malah leyeh-leyeh di rumah!" Rasanya, nafsu makan Dimas pagi ini hilang tak bersisa melihat betapa menyebalkannya putra semata wayangnya ini. Dimas selalu mendambakan kehadiran seorang cucu untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi melihat kelakuan Bima yang tidak ada tanggung jawabnya sama sekali, harapan itu terasa makin jauh. Alih-alih merasa bersalah atau seti

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 12 Nyamuk Ganas

    “Astaga, Bu Rania!” pekik Elang sambil membanting pintu kamar hingga tertutup rapat kembali.Jantung Elang rasanya nyaris melompat keluar dari rongga dadanya. Bagaimana tidak terkejut? Rania masih duduk di atas karpet berbulu tepat di depan cermin berukuran besar dan sama sekali tanpa mengenakan sehelai benang pun.Pria kekar itu buru-buru memutar menutup pintu dan menekan slot pengamannya rapat-rapat. Gawat kalau sampai mang Ujang atau mbok Sumi tiba-tiba masuk mengantarkan teh hangat pagi-pagi begini.“Kenapa malah duduk di bawah? Ayo, saya bantu bangun,” ucap Elang sembari mendekat.Elang mengalihkan pandangannya sedikit ke arah lain, mencoba menjadi pria gentleman amatir sembari mengulurkan tangannya untuk memapah Rania.Namun, Rania tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. Wanita cantik itu perlahan mendongak, menatap Elang dengan mata yang sudah berlinang. Hidungnya memerah dan bibirnya mengerucut menahan tangis.“Sakit, Lang,” rengek Rania dengan serak nada dan sangat manja.

  • Tambah Lagi Dong Pak Sopir!    Bab. 11 Curiga

    Setibanya di lantai bawah, udara dingin khas kawasan Puncak langsung menyapa kulit Elang. Indra penciumannya lebih dulu dimanjakan oleh aroma sedap bumbu masakan rumahan yang menguar dari arah dapur. Ternyata mang Ujang sedang sibuk menata piring, sendok dan beberapa gelas kaca di atas meja makan. “Pagi, Mas Elang. Wah, wajahnya kelihatan segar bener nih. Gimana tidurnya semalam? Nyenyak, Mas? Nggak kedinginan, kan?” sapa mang Ujang dengan ramah saat melihat pria tegap itu melangkah mendekat. Elang tertawa hambar, sebelah tangannya mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa kaku, mencoba menutupi kegugupannya. “Eh, pagi, Mang. Iya nyenyak banget, Mang. Angin puncak emang bikin betah merem,” jawab Elang santai. Padahal dalam hati, Elang merutuk keras. “Nyenyak dari Hongkong?! Mataku baru bisa merem pas denger ayam jago berkokok. Boro-boro kedinginan, yang ada semalaman saya keringetan kayak lagi ikut lomba lari maraton bawa beban.” Mang Ujang mengangguk-angguk percaya sambil me

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status