Home / Romansa / Tanda Cinta Tuan Benjamin / Akibat menahan pria bergairah

Share

Akibat menahan pria bergairah

Author: Babytiran
last update Petsa ng paglalathala: 2024-02-29 21:45:14

Rhea menyentuh pelan tangan Benjamin. Dia masih bergidik. “Aku mau pulang.” pintanya.

Jemari Benjamin yang tadinya mengepal kuat dengan urat-urat tangannya yang nampak, lantas dia merilekskan diri.

Kini perhatiannya tertuju pada Rhea. Kemudian Benjamin menyentuh pipi kiri Rhea lembut. “Ya. Kita pulang.” ucapnya menenangkan.

Kemudian tiga orang bawahan Benjamin menerobos masuk. Tampak didalam situasi aman terkendali, dan tak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

“Urus mereka dan ganti rugi kerusa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Ekstra Bab: Mhh!

    Sore harinya, mereka telah kembali sampai di kediaman mereka. Saat melangkah masuk, hanya Marie yang tampak berdiri menyambut di lobi utama. "Tuan kecilku pasti lapar," kata Marie dengan nada manja yang dibuat-buat begitu melihat Kenzo. Kenzo mengangguk-angguk penuh semangat. Marie kini dengan cekatan langsung melayani tuan kecilnya itu. Padahal Benjamin sudah memberinya pangkat yang cukup tinggi di dalam organisasi Oleander, namun wanita itu berulang kali menegaskan bahwa dia jauh lebih tertarik menjadi pengasuh pribadi Kenzo kecil. "Di mana Daniel dan Anna?!" tanya Benjamin saat tidak mendapati keberadaan dua orang itu. "Ah! Mereka menitipkan pesan sebelum pergi," jawab Marie, mencoba mengingat-ingat. "Anna baru saja pergi untuk menjelajahi kota lain, sedangkan Daniel kembali ke klub miliknya." Marie melanjutkan, "Seperti Daniel yang kita kenal, uang adalah segalanya. Dia sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan barunya... menjadi penyanyi di klubnya sendiri." Benjamin han

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Epilog

    Tiga tahun berlalu sejak badai besar yang hampir merenggut kebahagiaan mereka. Waktu perlahan menyembuhkan banyak luka, mengubah banyak hal, dan membawa kedamaian yang selama ini mereka impikan. "Hei, kenapa kau berlari..." Anna terengah-engah mengejar Kenzo. "Larinya lincah sekali!" "Bibi hanya ingin memeluk!" rengeknya kemudian, merasa gemas sendiri. Kenzo kecil kini menginjak usia tiga tahun. Langkah kakinya yang mungil sebenarnya masih tertatih, namun ia cukup gesit hingga membuat Anna kesulitan menangkapnya. "Dia tidak mau bersamamu," tukas Daniel seraya bangkit dari duduknya. Pria itu memasang kuda-kuda, bersiap menangkap Kenzo yang hendak melesat melewatinya. Namun, Kenzo melintas begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Daniel. Bocah kecil itu berlari lurus menghampiri Rhea yang duduk tepat di sebelah kursi Daniel tadi. "Bu... Ib-u. Bibib mena-nggu..." ucap Kenzo terbata-bata. Di usianya sekarang, dia memang belum lancar berbicara dan kata-katanya masih agak sulit dip

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Dia datang untuk menjelaskan

    Benjamin tak bisa sepenuhnya menikmati rasa bahagianya. Banyak hal menantinya. Esok hari, dia sudah ada dimakam itu—berdiri seorang diri. Tanahnya masih basah, nisan itu baru dipasang. Semua dia urus sendiri.Tak ada pelayat. Tak ada doa. Hanya diam menekan dada. "Setidaknya, aku harap kau tenang di sana!" ucapnya. Tak ada air mata yang menetes, wajahnya hanya datar. "Aku ingat tak mengundangmu!" kata Benjamin kemudian. Tepat disampingnya Sicilia berdiri dengan pakaian serba hitamnya. Benjamin tampak menurunkan kewaspadaanya."Dia Tuanku." jawabnya singkat. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" tanya Benjamin tanpa menoleh. "... aku datang hanya untuk melihat liang terakhir pria yang penuh derita," Sicilia menepuk pelan pundak Benjamin. "Hanya itu?" kini Benjamin menoleh, memberikan tatapan tak percaya. Sicilia tersenyum kecil, lantas menaburkan bunga di atas makam basah itu. "Aku adalah saksi hidup kisah orang tuamu..."Dia melanjutkan, "Aku teman dekat Ibumu, juga orang kep

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Lega...

    Kini di ruangan itu Benjamin seorang diri. Pikirannya melayang, segala hal buruk terjadi bersamaan. Kekhawatirannya tentang Rhea kian menjadi, bersamaan dengan perasaanya yang terasa hampa. Tak lama pintu berderit, nenek Rhea masuk dengan bingung. "Mengapa kau ada disini?" tanyanya. "Bising apa yang terjadi? aku tidak menemukan putraku juga Vareli?!" Benjamin menoleh, wajah yang penuh derita itu berubah menghangat. Dia berpura-pura tak terjadi apapun. Dia menghampiri sang nenek, menyentuh tangan wanita tua itu dengan lembut. "Nenek, aku datang untuk memberi kabar Rhea telah melahirkan seorang putra." Nenek tampak terkejut, kemudian lega. Agak lama nenek tak mengatakan apapun, dia hanya menyentuh wajah Benjamin dengan lembut. "Kau tidak baik-baik saja? pakaianmu begitu lusuh, kotor, dan terdapat noda darah! Jangan menipuku...?!" Saat itu lah Benjamin tak mampu menahan air matanya lagi. Beban yang terlalu lama menumpuk meluap begitu saja. Tak sekalipun kehangata

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Terasa mudah?!

    Dengan perasaan puas Vareli membuka ruangan suaminya, dimana segala cap dan hak kekuasaan ada disana. Senyum yang sempat merekah indah mendadak lenyap, tat kala melihat Benjamin duduk santai di kursi dengan kaki menyilang di atas meja. "Aap-" belum sempat Vareli berteriak, seseorang telah membekap mulutnya dari samping. Pintu tertutup rapat. Dengan kasar, tubuhnya dipaksa merosot hingga berlutut di lantai. Benjamin menopang wajahnya sembari menatap ke arah Vareli tajam. "Aku sudah memperingati, jangan menganggu!" ucapnya dingin.Dengan wajah kebingungan, dan takut Vareli mencoba memberontak dari dekapan bawahan Benjamin, yang jelas mustahil."Orang bodoh!" kata Benjamin, "Sejak tau Lili bergabung dengan Charles kediaman Dominic ada dalam pengawasan ku." dia menyeringai. "Benar kan Ayah mertua," Pintu berderit, Vareli segera menoleh kebelakang, dan Hendra berjalan masuk dengan tegap, dan hidup. Lalu Charles dan Lili sudah tertangkap oleh bawahan Benjamin lainnya. Kini Benjami

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Kematian tak terduga!

    Di dalam sebuah gudang tua yang lembab. Charles dan Lili bersembunyi didalamya. Jauh dari lokasi perseteruan dengan rombongan Benjamin sebelumnya. Lili menatap Charles penuh keputusasaan—pria yang terengah-engah akibat luka tembakan serta pukulan yang sempat menghantamnya. "Kenapa begini!" Lili mengacak kasar rambutnya. Dia dengan kasar menarik kerah jaket Charles, "Aku tidak ingin MATI. Kau berjanji padaku bahwa posisi Benjamin akan kau gantikan!""Aku bergabung dengan mu sebab, ingin melihat kehancuran Rhea, bukan sebaliknya?!" teriaknya lantang.Tapi Charles bahkan tak bergeming hanya napas berat yang susah payah ia tenangkan. Dengan kesal Lili memukul dada Charles. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar saat menggenggam jaketnya sendiri. Ia berkali-kali menoleh ke pintu, ke jendela, ke sudut-sudut gelap ruangan. Menduga-duga bawahan Benjamin pasti akan segera menemukan mereka."Kita harus pergi lagi," ucap Lili terbata. "Benjamin tidak akan berhenti. Sekarang dia memimpin dua

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Big no, Ben

    Rhea mematung. Kalimat yang baru saja Benjamin lontarkan menyihirnya. Wanita mana yang tak senang kala seorang pria terang-terangan menunjukan rasa cintanya pada wanitanya?!“Aku lebih tak suka jika kau tak menggunakan uang ku.” bisik Benjamin ditelinga Rhea.“Dan yang tak kalah penting, aku juga mili

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   What?!

    Rhea yang tampak mengabaikannya membuat Benjamin sedikit kesal. Apa yang dipikirkan oleh wanita didepannya ditengah dia yang sedang mencumbunya? Lantas Benjamin mengigit bibir Rhea.“Ah! au…” rintih Rhea, menatap Benjamin yang kian melumat bibirnya.Benjamin mengusap lembut bibir Rhea dengan jemarin

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Memuaskan mu

    Benjamin menatap Rhea intens. Wajahnya tampak bergairah penuh ide-ide nakal. Benjamin lantas mencumbu bagian perut Rhea dan sesekali menjilatinya dengan lembut.Rhea mengernyit. “Tenanglah Rhea, hari ini aku akan memuaskanmu.” ucap Benjamin.Rhea merasa aneh, hal ini sangat memalukan. Namun, dia tak m

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Uhuk...

    Amarah yang memuncak membuat Rhea beranjak dari kasur. Dia menatap Benjamin dengan kesal. “Jangan menuduhku!” tunjuk nya kesal. Benjamin terdiam sejenak, alisnya terangkat. Lantas dia meraih selimut dan menggulung tubuh Rhea dengan selimut itu. Rhea membelalak, dia sempat lupa bahwa dia tak menggena

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status