LOGIN"Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.
Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat.
Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya.
Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.
Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya.
"M-maaf, Tante!"
Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup.
Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.
Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap.
Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang.
"Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya serak karena canggung. "Anu... tadi pas di dapur Joni lihat keran air wastafel agak longgar dan sedikit bocor. Joni... Joni mau cek dan perbaiki itu dulu di dapur, Tante."
Aya menatap Joni dengan pandangan lembut, sedikit tersenyum melihat pemuda desa itu yang salah tingkah.
"Eh? Keran wastafel? Nggak apa-apa, Joni, nanti bis—"
"Nggak apa-apa, Tante. Joni perbaiki sekarang aja," potong Joni cepat, seolah mencari alasan untuk melarikan diri dari ketegangan sensual di ruang tengah itu.
Joni langsung melangkah cepat menuju dapur, mengambil kunci pas dan kotak perkakas yang sempat ia lihat di dekat kamar mandi belakang.
Sepanjang siang hingga menjelang sore, Joni menyibukkan dirinya habis-habisan.
Ia mengencangkan pipa wastafel, mengelap bagian dapur yang berdebu, hingga akhirnya ia beralih ke garasi samping rumah.
Di sana, Joni menemukan sebuah sepeda motor matik yang tampak sudah berdebu dan lama diabaikan.
Dengan cekatan, Joni membuka kap mesinnya, membersihkan karburator, dan memeriksa akinya.
Pekerjaan fisik adalah satu-satunya cara bagi Joni untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan aroma wangi Tante Aya, desahan wanita itu di kamar, dan kelembutan tubuhnya saat di sofa tadi.
"Tahu diri, Joni. Jangan mikir aneh-aneh. Dia itu Tante Aya!"
Berkali-kali Joni merutuk dan mengingatkan dirinya tentang status dan posisi Aya.
Sekitar pukul empat sore, Aya berjalan menuju garasi membawa segelas teh manis dingin.
Ia sudah berganti pakaian dengan atasan kaus santai dan celana longgar pendek yang tetap memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih.
Aya berdiri di ambang pintu garasi, menatap Joni yang sedang berjongkok mengelap rantai motor.
Kaus polos hitam yang dikenakan Joni sudah basah oleh keringat, menempel ketat di punggung lebar dan lengannya yang berotot tegas.
"Joni... Kamu dari tadi siang nggak berhenti kerja," tegur Aya lembut sambil mendekat. "Kan Tante bilang kamu di sini tamu, bukan tukang bersih-bersih."
Joni mendongak, menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Maaf ya, Tante... saya agak lancang bongkar-bongkar motor dan garasi. Tapi saya benar-benar nggak tahan kalau cuma diam nggak ngapa-ngapain di rumah sebesar ini."
Aya tertawa kecil, suara renyahnya menggema di garasi yang agak sempit itu. "Dasar... Ya udah, diminum dulu tehnya."
Aya menyerahkan gelas teh manis dingin itu. Joni menerimanya dan langsung meminumnya hingga tersisa separuh.
"Motor ini udah dua tahun cuma jadi pajangan," kata Aya sambil memperhatikan tangan Joni yang bernoda oli tipis. "Mas Rama nggak pernah mau pakai, Tante juga nggak bisa naik motor."
Joni meletakkan gelasnya, lalu menatap Aya. "Sekarang mesinnya udah halus lagi, Tan. Nanti bisa Tante pakai buat ke supermarket depan atau Joni yang bonceng kalau Tante mau."
Joni menyapu pandangan ke sekeliling garasi yang kini sudah rapi. "Anu... Tante, apa masih ada barang rusak atau hal lain yang perlu Joni bantu perbaiki?"
Aya mengamati wajah polos pemuda di depannya. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dada.
Suaminya biasanya hanya tahu menuntut dan mengabaikan, tetapi pemuda 20 tahun ini justru hadir dan memperbaiki segalanya tanpa diminta.
"Nggak ada lagi, Jon. Kamu udah kerja keras seharian," ujar Aya pelan.
Aya melangkah makin dekat. Tanpa peringatan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar tisu bersih.
Jemari halus Aya terangkat, menyapu keringat bercampur sedikit noda hitam di dahi dan leher Joni.
Joni membeku seketika. Deru nafasnya seolah terhenti saat wajah Aya kembali sangat dekat. Ia bisa mencium keharuman alami dari leher dan tubuh Aya.
Jemari lembut wanita itu bergerak perlahan di kulit lehernya, terasa amat kontras dengan kulit Joni yang hangat dan tegang.
"Ta-tante, saya bisa sendiri—"
"Biar aku aja, Jon. Tangan kamu kan kotor."
Mata Aya menatap bibir Joni yang sedikit terbuka, lalu beralih menatap lekat mata pemuda itu.
Joni menahan napas, bergulat hebat antara dorongan naluri prianya dan rasa bersalah pada almarhumah ibunya.
Brak!
Suara pintu garasi samping yang didorong kasar mengejutkan mereka berdua.
Joni dan Aya refleks menoleh. Di ambang pintu, berdiri Rama dengan kemeja kerjanya yang sedikit berantakan.
Tidak biasanya pria itu pulang lebih awal.
Rama berdiri mematung di sana, menatap tajam ke arah Joni dan Aya yang berdiri amat dekat di dalam garasi itu.
Mata Rama menyipit penuh kecurigaan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Joni tertegun di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada sosok Aya yang berdiri di hadapannya. Gaun tidur itu membingkai lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan rendah di bagian dada dan kain tipis yang jatuh tepat di atas lututnya membuat tenggorokan Joni mendadak tercekat. "Joni... Tante boleh masuk?" bisik Aya sekali lagi. Nadanya pelan, sedikit serak, dan sarat akan nada memohon yang manja. "I-iya, Tante. Silakan," jawab Joni terbata. Ia melangkah mundur memberi jalan. Aya masuk dengan anggun, membawa aroma vanila dan melati malam yang langsung memenuhi kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Aya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas kayu kecil, lalu duduk perlahan di tepi ranjang Joni. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur, lemari satu pintu, dan sebuah kursi kayu sederhana di sudut. "Kamar ini... terasa lebih hangat dibanding kamar Tante di atas," gumam Aya lirih. Tangannya mengusap seprai katun abu-abu milik Joni. "Kamar Tante
"Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget."Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan. Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman."Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunan
"Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat. Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya."M-maaf, Tante!"Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup. Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap. Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang."Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya se
Joni terpaku.Sensasi hangat dari dada Aya yang bersandar di lengannya membuat darah muda Joni berdesir tak karuan.Joni menelan ludah, mencoba menguasai suaranya. "Tante... Tante nggak jelek sama sekali. Tante Aya justru cantik banget dan juga baik. Om Rama aja yang nggak tahu cara bersyukur."Kata-kata jujur yang keluar tanpa rekayasa dari mulut pemuda desa itu seketika meruntuhkan pertahanan Aya. Bibirnya sedikit terbuka, menatap Joni dengan binar terkejut yang perlahan berubah menjadi binar hangat. Pujian sederhana itu menghantam bagian paling rentan di hatinya, bagian yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dianggap tak berharga oleh suaminya sendiri.Aya tersenyum tipis, meremas pelan lengan kekar Joni sebelum akhirnya menegakkan kembali tubuhnya. "Kamu ini... pinter banget bikin orang tua seneng," bisiknya pelan, mencoba menutupi rasa haru yang mendadak menyeruak.Tak lama kemudian, suara langkah Rama menuruni tangga terdengar. Pria itu sudah tampak lebih segar dengan sete
Joni memandangi amplop cokelat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tadi, sebelum Aya naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian, Joni belum sempat menanyakan apakah ia harus memberikan dokumen penting lain yang dititipkan ibunya enam bulan lalu. Karena merasa tidak enak jika harus menunggu sampai besok pagi, Joni akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Langkah kakinya pelan melintasi marmer dingin menuju lantai dua.Lampu koridor lantai atas menyala remang. Joni berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar yang pintunya sedikit renggang, menyisakan celah cahaya tipis.Baru saja jemarinya hendak terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati itu, langkahnya mendadak terkunci.Sebuah suara sayup-sayup merambat keluar dari celah pintu. Suara desahan halus, napas yang memburu pendek-pendek, bercampur dengan lenguhan rendah yang sarat akan dahaga.“Ahh… Mas Rama… aku kangen kamu….”Joni membeku seketika. Jakunnya naik turun. Melalui celah sempit pintu yang terbuka beberapa senti, pa
"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?" Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.Tok! Tok! Tok!Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang t







