共有

4. Tanpa Jarak

last update 公開日: 2026-08-27 18:09:35

"Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.

Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat. 

Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. 

Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.

Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya.

"M-maaf, Tante!"

Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup. 

Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.

Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap. 

Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang.

"Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya serak karena canggung. "Anu... tadi pas di dapur Joni lihat keran air wastafel agak longgar dan sedikit bocor. Joni... Joni mau cek dan perbaiki itu dulu di dapur, Tante."

Aya menatap Joni dengan pandangan lembut, sedikit tersenyum melihat pemuda desa itu yang salah tingkah. 

"Eh? Keran wastafel? Nggak apa-apa, Joni, nanti bis—"

"Nggak apa-apa, Tante. Joni perbaiki sekarang aja," potong Joni cepat, seolah mencari alasan untuk melarikan diri dari ketegangan sensual di ruang tengah itu.

Joni langsung melangkah cepat menuju dapur, mengambil kunci pas dan kotak perkakas yang sempat ia lihat di dekat kamar mandi belakang. 

Sepanjang siang hingga menjelang sore, Joni menyibukkan dirinya habis-habisan. 

Ia mengencangkan pipa wastafel, mengelap bagian dapur yang berdebu, hingga akhirnya ia beralih ke garasi samping rumah.

Di sana, Joni menemukan sebuah sepeda motor matik yang tampak sudah berdebu dan lama diabaikan. 

Dengan cekatan, Joni membuka kap mesinnya, membersihkan karburator, dan memeriksa akinya. 

Pekerjaan fisik adalah satu-satunya cara bagi Joni untuk mengalihkan pikirannya dari bayangan aroma wangi Tante Aya, desahan wanita itu di kamar, dan kelembutan tubuhnya saat di sofa tadi.

"Tahu diri, Joni. Jangan mikir aneh-aneh. Dia itu Tante Aya!" 

Berkali-kali Joni merutuk dan mengingatkan dirinya tentang status dan posisi Aya. 

Sekitar pukul empat sore, Aya berjalan menuju garasi membawa segelas teh manis dingin. 

Ia sudah berganti pakaian dengan atasan kaus santai dan celana longgar pendek yang tetap memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih.

Aya berdiri di ambang pintu garasi, menatap Joni yang sedang berjongkok mengelap rantai motor. 

Kaus polos hitam yang dikenakan Joni sudah basah oleh keringat, menempel ketat di punggung lebar dan lengannya yang berotot tegas.

"Joni... Kamu dari tadi siang nggak berhenti kerja," tegur Aya lembut sambil mendekat. "Kan Tante bilang kamu di sini tamu, bukan tukang bersih-bersih."

Joni mendongak, menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. "Maaf ya, Tante... saya agak lancang bongkar-bongkar motor dan garasi. Tapi saya benar-benar nggak tahan kalau cuma diam nggak ngapa-ngapain di rumah sebesar ini."

Aya tertawa kecil, suara renyahnya menggema di garasi yang agak sempit itu. "Dasar... Ya udah, diminum dulu tehnya."

Aya menyerahkan gelas teh manis dingin itu. Joni menerimanya dan langsung meminumnya hingga tersisa separuh.

"Motor ini udah dua tahun cuma jadi pajangan," kata Aya sambil memperhatikan tangan Joni yang bernoda oli tipis. "Mas Rama nggak pernah mau pakai, Tante juga nggak bisa naik motor."

Joni meletakkan gelasnya, lalu menatap Aya. "Sekarang mesinnya udah halus lagi, Tan. Nanti bisa Tante pakai buat ke supermarket depan atau Joni yang bonceng kalau Tante mau." 

Joni menyapu pandangan ke sekeliling garasi yang kini sudah rapi. "Anu... Tante, apa masih ada barang rusak atau hal lain yang perlu Joni bantu perbaiki?"

Aya mengamati wajah polos pemuda di depannya. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dada. 

Suaminya biasanya hanya tahu menuntut dan mengabaikan, tetapi pemuda 20 tahun ini justru hadir dan memperbaiki segalanya tanpa diminta.

"Nggak ada lagi, Jon. Kamu udah kerja keras seharian," ujar Aya pelan.

Aya melangkah makin dekat. Tanpa peringatan, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar tisu bersih. 

Jemari halus Aya terangkat, menyapu keringat bercampur sedikit noda hitam di dahi dan leher Joni.

Joni membeku seketika. Deru nafasnya seolah terhenti saat wajah Aya kembali sangat dekat. Ia bisa mencium keharuman alami dari leher dan tubuh Aya.

Jemari lembut wanita itu bergerak perlahan di kulit lehernya, terasa amat kontras dengan kulit Joni yang hangat dan tegang.

"Ta-tante, saya bisa sendiri—"

"Biar aku aja, Jon. Tangan kamu kan kotor."

Mata Aya menatap bibir Joni yang sedikit terbuka, lalu beralih menatap lekat mata pemuda itu. 

Joni menahan napas, bergulat hebat antara dorongan naluri prianya dan rasa bersalah pada almarhumah ibunya.

Brak!

Suara pintu garasi samping yang didorong kasar mengejutkan mereka berdua.

Joni dan Aya refleks menoleh. Di ambang pintu, berdiri Rama dengan kemeja kerjanya yang sedikit berantakan. 

Tidak biasanya pria itu pulang lebih awal.

Rama berdiri mematung di sana, menatap tajam ke arah Joni dan Aya yang berdiri amat dekat di dalam garasi itu. 

Mata Rama menyipit penuh kecurigaan. 

"Apa yang kalian lakukan?" 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Rini Safitri
iihh ngapain sih suaminya Dateng awal ganggu aja......
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Pesona Pemuda Desa   91. Tamatlah Sudah

    Joni mematikan mesin motor di depan pintu pagar samping.Napas pemuda itu masih memburu liar. Ia baru saja memacu kendaraannya menembus kemacetan seperti orang kesetanan. Joni membuka kunci gembok pagar dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melangkah cepat melintasi pekarangan.Seluruh rumah utama tampak gelap gulita dari luar. Joni mendorong pintu dapur yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang tengah, pandangannya langsung tertumbuk pada sesosok tubuh yang meringkuk di sudut sofa.Aya duduk di sana dengan kedua lutut terlipat rapat ke dada.Seluruh tubuh wanita matang itu gemetar hebat. Wajahnya yang pucat menatap kosong ke atas meja, tempat sebuah amplop cokelat berukuran besar teronggok dalam keadaan terbuka. Kedua tangannya meremas ujung bantal sofa begitu kuat."Tante..." panggil Joni pelan seraya melangkah mendekat.Mendengar suara itu, kepala Aya tersentak ke atas. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang teramat pekat."Joni..." bisik A

  • Pesona Pemuda Desa   90. Paket Tanpa Nama

    Pukul sepuluh malam, lampu utama di area kafe sudah dipadamkan.Hanya ada satu lampu yang masih menyala di balik meja bar, menerangi deretan cangkir yang baru saja selesai ditiriskan.Suasana kafe sunyi senyap. Doni sudah pulang lebih awal setengah jam lalu, menyisakan Joni dan Rina untuk menyelesaikan tugas penutupan sif.Joni sedang berdiri di depan wastafel dapur belakang, menyeka tangannya yang basah dengan serbet bersih.Di kepalanya, kalimat Mirna tadi siang masih terngiang samar.‘Cepat atau lambat... saat masalah besar melanda rumah itu, kamu bakal sadar kalau cuma Tante yang punya kekuatan buat nyelamatin kamu.’

  • Pesona Pemuda Desa   89. Ruangan Kedap Suara

    Joni melepas celemek hitamnya, menyampirkannya ke gantungan loker karyawan di lorong belakang kafe.Begitu ia melangkah keluar menuju area parkir motor, derit pintu darurat berbunyi pelan. Rina muncul dari balik pintu, bersandar di kusen seraya menyilangkan kedua tangan di bawah dada.Senyum jahil terbit di wajah manis gadis itu, mengamati Joni yang sedang memasukkan kantong kertas tebal dan amplop cokelat ke dalam ransel kecilnya."Laris manis banget ya kamu hari ini, Mas Barista," celetuk Rina santai seraya melangkah mendekat.Joni meliriknya sekilas seraya mengancingkan jaketnya. "Cuma disuruh Bu Ratna antar titipan barang, Rin.""Halah, titipan ap

  • Pesona Pemuda Desa   88. Pesanan Khusus

    Aroma biji kopi sangrai dan desis uap panas dari mesin espresso menyambut langkah Joni saat mendorong pintu kafe pagi itu.Mengenakan celemek hitam berlogo kafe yang diikat rapi di pinggang, Joni langsung menuju area bar depan untuk menyiapkan peralatan sif pagi.Suasana kafe masih relatif lengang, hanya ada satu-dua pelanggan yang sibuk dengan laptop di meja sudut dekat jendela."Pagi, Mas Ganteng," sebuah bisikan renyah menyapa tepat di samping telinganya.Joni menoleh cepat. Rina sudah berdiri di sampingnya dengan celemek serupa, rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Gadis itu tersenyum manis dengan binar mata yang jauh lebih cerah dari biasanya. 

  • Pesona Pemuda Desa   87. Kenalan dengan Tetangga

    Napas Aya perlahan kembali teratur di atas tumpukan bantal sofa.Gaunnya kusut masai, tersampir seadanya menutupi dada yang masih menyisakan rona kemerahan bekas lumatan bibir Joni. Rambut panjangnya berantakan di sandaran sofa, namun binar matanya memancarkan kepuasan, seolah bara api cemburu yang tadi membakar dadanya telah padam sepenuhnya tersiram pelampiasan hasrat barusan.Joni bangkit dari sofa, memungut kaus tanpa lengan dan celana pendeknya dari lantai, lalu mengenakannya kembali."Mau ke mana, Jon?" tanya Aya pelan, suaranya serak seraya menatap punggung tegap pemuda itu."Mau keluar sebentar ke depan, Tante. Cari angin sekalian beli rokok di minimarket luar komplek," sahut Joni seraya meraba saku celananya, memastikan dompet dan kunci motornya terbawa.Aya mengangkat alisnya sedikit, menatap Joni dengan kening berkerut heran. "Loh, kamu ngerokok? Tante baru tahu.""Jarang, Tante. Sesekali aja kalau kepalanya lagi agak penuh," jawab Joni santai, menoleh dengan senyum tipis

  • Pesona Pemuda Desa   86. Jangan Samain!

    Cecaran Aya tidak membuat Joni mundur barang satu senti pun. Pemuda itu mengulurkan kedua tangannya, menggenggam lembut pergelangan tangan Aya yang gemetar di bahunya, lalu menurunkannya perlahan. Sentuhan hangat dari telapak tangan Joni seolah mengalirkan ketenangan langsung ke saraf-saraf Aya yang sedang tegang."Tante, tarik napas dulu," bisik Joni rendah. "Nggak ada apa-apa lagi di belakang sana. Dia cuma ngomong soal kerjaan, pamer koneksi bisnisnya, terus nawarin gaji besar biar saya mau jadi asisten pribadinya. Itu doang.""Kamu nggak bohong kan, Jon?" suara Aya bergetar parau, bibirnya mengerucut menahan desakan emosi. "Dia nggak nyentuh kamu di tempat lain?""Nggak ada, Tante. Kan Tante sendiri yang lihat tadi," sahut Joni seraya menatap lurus ke dalam manik mata Aya. "Saya tolak tawarannya langsung di depan muka dia. Saya bilang saya masih nyaman kerja di kafe Bu Ratna."Melihat ketegasan di wajah pemuda itu, bahu Aya yang tegang perlahan melorot turun. Wanita itu menghela

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status