Home / Male Adult / Pesona Pemuda Desa / 6. Ini Salah, Tapi....

Share

6. Ini Salah, Tapi....

last update publish date: 2026-09-02 10:35:43

Joni tertegun di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada sosok Aya yang berdiri di hadapannya.

Gaun tidur itu membingkai lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan rendah di bagian dada dan kain tipis yang jatuh tepat di atas lututnya membuat tenggorokan Joni mendadak tercekat.

"Joni... Tante boleh masuk?" bisik Aya sekali lagi. Nadanya pelan, sedikit serak, dan sarat akan nada memohon yang manja.

"I-iya, Tante. Silakan," jawab Joni terbata. Ia melangkah mundur memberi jalan.

Aya masuk dengan anggun, membawa aroma vanila dan melati malam yang langsung memenuhi kamar berukuran tiga kali empat meter itu.

Aya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas kayu kecil, lalu duduk perlahan di tepi ranjang Joni. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur, lemari satu pintu, dan sebuah kursi kayu sederhana di sudut.

"Kamar ini... terasa lebih hangat dibanding kamar Tante di atas," gumam Aya lirih. Tangannya mengusap seprai katun abu-abu milik Joni. "Kamar Tante terlalu luas. Dingin. Tiap kali Mas Rama nggak pulang, rasanya kayak dikurung di dalam penjara."

Joni menelan ludah. Ia memilih menarik kursi kayu dari sudut dan mendudukinya di depan ranjang, menjaga jarak sekitar satu meter demi mempertahankan batas sopan santun.

"Om Rama memang sering pergi dinas lama begini, Tante?" tanya Joni berusaha mencari topik yang aman.

Aya tersenyum getir, menatap cangkir teh yang masih mengepulkan uap. "Dinas? Itu alasan resminya. Aslinya... dia cuma malas aja melihat wajah Tante. Bertahun-tahun sejak Tante keguguran dan dokter bilang rahim Tante lemah, Mas Rama udah berhenti memperlakukan Tante sebagai istri."

Sorot mata Aya meredup, menyiratkan luka lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat di balik senyum cerianya.

"Dia jijik sama Tante, Joni," lanjutnya dengan nada getir. "Dia nggak pernah mau menyentuh Tante lagi. Seolah-olah tubuh Tante ini cuma barang rusak yang nggak berguna."

Mendengar pengakuan jujur yang begitu menyayat hati itu, dada Joni berdenyut nyeri. Sebagai pemuda yang dibesarkan oleh seorang ibu yang tangguh di desa, melihat wanita sebaik dan secantik Aya direndahkan seperti ini membuat rasa protektif di dalam dirinya tiba-tiba menyala.

"Om Rama yang bodoh, Tante," ujar Joni, suaranya terdengar begitu mantap. "Tante Aya wanita yang luar biasa. Sangat cantik, perhatian, dan baik. Nggak ada yang salah dengan tubuh Tante."

Aya mendongak. Tatapannya bersirobok langsung dengan mata Joni yang tajam dan jujur. Rasa hangat seketika menyengat dada wanita itu. Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar pengakuan setulus ini dari seorang pria.

Sudut bibir Aya perlahan terangkat, memunculkan kembali sisi playful-nya untuk menutupi rasa haru yang meluap.

"Kamu ini ya... pinter banget bikin hati Tante luluh. Sini, ngapain duduk jauh-jauh di kursi? Duduk di sini sama Tante."

Aya menepuk kasur di sampingnya.

Joni ragu sejenak, tetapi ia akhirnya beranjak dari kursi dan duduk di tepi kasur.

Jarak mereka kini terpangkas drastis. Paha Joni yang berbalut celana rumahan lusuh hanya berjarak beberapa senti dari paha mulus Aya yang terekspos.

"Minum dulu tehnya, Joni. Keburu dingin," kata Aya sambil mengambil salah satu cangkir dari nakas dan menyodorkannya.

"Terima kasih, Tante."

Joni mengulurkan tangannya untuk menerima cangkir keramik tersebut. Namun, kegugupan yang teramat sangat membuat jemarinya sedikit gemetar saat bersentuhan dengan jari lentik Aya.

Tes! Srrtt!

Keseimbangan cangkir goyah. Beberapa tetes air teh hangat yang manis tumpah, merembes langsung ke atas kain sutra gaun tidur Aya, tepat di bagian paha atasnya.

"Ah!" Aya memekik tertahan.

"M-maaf, Tante! Ya ampun, maaf!"

Panik melihat gaun sutra itu basah dan mungkin membakar kulit Aya, Joni meletakkan cangkir kembali ke nakas secara terburu-buru.

Tanpa berpikir panjang, ia meraih tisu dari nakas lalu menempelkannya ke paha Aya untuk mengeringkan tumpahan itu.

Namun, gerakan refleks itu justru menjadi bumerang.

Kain sutra tipis yang basah itu menempel transparan di kulit paha Aya. Saat telapak tangan lebar Joni yang terlapisi tisu menekan dan mengusap paha mulus itu, sensasi panas dan kenyal dari daging paha Aya merambat langsung ke seluruh saraf pemuda itu.

Gerakan tangan Joni membeku.

Aya tersentak. Napasnya tercekat di tenggorokan.

Sentuhan tangan Joni di pahanya mengirimkan sengatan listrik yang begitu dahsyat ke seluruh tubuhnya yang sudah bertahun-tahun hampa sentuhan pria.

Joni perlahan mengangkat wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Aya.

Jarak mereka kini tinggal sejengkal. Wajah Aya memerah padam, tetapi matanya tidak menunjukkan kemarahan. Sorot mata wanita itu sayu dan sarat akan dahaga emosional yang teramat pekat. Bibir merekahnya sedikit terbuka, menghembuskan napas yang hangat dan memburu di pipi Joni.

Bukannya menepis, tangan kanan Aya yang halus perlahan terangkat. Ujung jemarinya yang hangat menyentuh rahang kokoh Joni, lalu membelai pipi kasar pemuda itu dengan amat lembut.

"Joni..." bisik Aya dengan suara bergetar pelan. "Kamu... benar-benar menganggap Tante menarik?"

Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah mantra pemikat.

Napas Joni tercekat. Sentuhan jemari Aya di rahangnya terasa seperti bara api yang membakar akal sehatnya.

Namun, bayangan wajah almarhumah ibunya mendadak melintas di benaknya. Sebuah pengingat tentang siapa wanita di hadapannya ini.

Joni buru-buru menarik kepalanya mundur beberapa senti. Tangannya yang memegang tisu di paha Aya ditarik lepas dengan kaku.

"T-Tante... jangan begini," tolak Joni terbata. Suaranya serak, matanya berusaha keras membuang pandangan ke arah lantai. "Tante sahabat almarhumah Ibu... Ini nggak benar."

Penolakan halus dan rasa bersalah yang terpancar dari mata pemuda desa itu bukannya membuat Aya tersadar, melainkan justru semakin meremukkan pertahanan dirinya.

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dianggap mati rasa oleh suaminya sendiri, penolakan sopan dari Joni terasa amat berbeda. Bukan karena jijik, melainkan karena batas moral.

Aya tidak menarik tangannya kembali. Sebaliknya, wanita itu bergerak maju.

Dengan dorongan rasa haus akan kasih sayang yang tak lagi bisa ia bendung, kedua tangan Aya melingkar perlahan di tengkuk Joni. Ia menarik tubuh tegap pemuda itu mendekat, membuat jarak yang sempat Joni ciptakan lenyap seketika.

"Tante tahu ini salah, Joni..." bisik Aya tepat di depan bibir pemuda itu. Napasnya memburu, matanya menatap langsung ke manik mata Joni. "Tapi malam ini aja... Tante mohon, jangan tolak Tante seperti Mas Rama menolak Tante..."

Tekanan lembut dari lengan Aya dan tubuh harum wanita itu yang condong menempel ke dadanya membuat Joni kehilangan keseimbangan.

Gerakannya tertahan, terjebak di antara tepi ranjang sempit tanpa ruang untuk mundur lagi.

Joni membeku, jakunnya naik turun dengan napas yang memburu cepat. Seluruh sarafnya berteriak untuk menghindar, tetapi kedekatan tubuh sintal Aya meruntuhkan sisa-sisa kewarasannya.

....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pemuda Desa   90. Paket Tanpa Nama

    Pukul sepuluh malam, lampu utama di area kafe sudah dipadamkan.Hanya ada satu lampu yang masih menyala di balik meja bar, menerangi deretan cangkir yang baru saja selesai ditiriskan.Suasana kafe sunyi senyap. Doni sudah pulang lebih awal setengah jam lalu, menyisakan Joni dan Rina untuk menyelesaikan tugas penutupan sif.Joni sedang berdiri di depan wastafel dapur belakang, menyeka tangannya yang basah dengan serbet bersih.Di kepalanya, kalimat Mirna tadi siang masih terngiang samar.‘Cepat atau lambat... saat masalah besar melanda rumah itu, kamu bakal sadar kalau cuma Tante yang punya kekuatan buat nyelamatin kamu.’

  • Pesona Pemuda Desa   89. Ruangan Kedap Suara

    Joni melepas celemek hitamnya, menyampirkannya ke gantungan loker karyawan di lorong belakang kafe.Begitu ia melangkah keluar menuju area parkir motor, derit pintu darurat berbunyi pelan. Rina muncul dari balik pintu, bersandar di kusen seraya menyilangkan kedua tangan di bawah dada.Senyum jahil terbit di wajah manis gadis itu, mengamati Joni yang sedang memasukkan kantong kertas tebal dan amplop cokelat ke dalam ransel kecilnya."Laris manis banget ya kamu hari ini, Mas Barista," celetuk Rina santai seraya melangkah mendekat.Joni meliriknya sekilas seraya mengancingkan jaketnya. "Cuma disuruh Bu Ratna antar titipan barang, Rin.""Halah, titipan ap

  • Pesona Pemuda Desa   88. Pesanan Khusus

    Aroma biji kopi sangrai dan desis uap panas dari mesin espresso menyambut langkah Joni saat mendorong pintu kafe pagi itu.Mengenakan celemek hitam berlogo kafe yang diikat rapi di pinggang, Joni langsung menuju area bar depan untuk menyiapkan peralatan sif pagi.Suasana kafe masih relatif lengang, hanya ada satu-dua pelanggan yang sibuk dengan laptop di meja sudut dekat jendela."Pagi, Mas Ganteng," sebuah bisikan renyah menyapa tepat di samping telinganya.Joni menoleh cepat. Rina sudah berdiri di sampingnya dengan celemek serupa, rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Gadis itu tersenyum manis dengan binar mata yang jauh lebih cerah dari biasanya. 

  • Pesona Pemuda Desa   87. Kenalan dengan Tetangga

    Napas Aya perlahan kembali teratur di atas tumpukan bantal sofa.Gaunnya kusut masai, tersampir seadanya menutupi dada yang masih menyisakan rona kemerahan bekas lumatan bibir Joni. Rambut panjangnya berantakan di sandaran sofa, namun binar matanya memancarkan kepuasan, seolah bara api cemburu yang tadi membakar dadanya telah padam sepenuhnya tersiram pelampiasan hasrat barusan.Joni bangkit dari sofa, memungut kaus tanpa lengan dan celana pendeknya dari lantai, lalu mengenakannya kembali."Mau ke mana, Jon?" tanya Aya pelan, suaranya serak seraya menatap punggung tegap pemuda itu."Mau keluar sebentar ke depan, Tante. Cari angin sekalian beli rokok di minimarket luar komplek," sahut Joni seraya meraba saku celananya, memastikan dompet dan kunci motornya terbawa.Aya mengangkat alisnya sedikit, menatap Joni dengan kening berkerut heran. "Loh, kamu ngerokok? Tante baru tahu.""Jarang, Tante. Sesekali aja kalau kepalanya lagi agak penuh," jawab Joni santai, menoleh dengan senyum tipis

  • Pesona Pemuda Desa   86. Jangan Samain!

    Cecaran Aya tidak membuat Joni mundur barang satu senti pun. Pemuda itu mengulurkan kedua tangannya, menggenggam lembut pergelangan tangan Aya yang gemetar di bahunya, lalu menurunkannya perlahan. Sentuhan hangat dari telapak tangan Joni seolah mengalirkan ketenangan langsung ke saraf-saraf Aya yang sedang tegang."Tante, tarik napas dulu," bisik Joni rendah. "Nggak ada apa-apa lagi di belakang sana. Dia cuma ngomong soal kerjaan, pamer koneksi bisnisnya, terus nawarin gaji besar biar saya mau jadi asisten pribadinya. Itu doang.""Kamu nggak bohong kan, Jon?" suara Aya bergetar parau, bibirnya mengerucut menahan desakan emosi. "Dia nggak nyentuh kamu di tempat lain?""Nggak ada, Tante. Kan Tante sendiri yang lihat tadi," sahut Joni seraya menatap lurus ke dalam manik mata Aya. "Saya tolak tawarannya langsung di depan muka dia. Saya bilang saya masih nyaman kerja di kafe Bu Ratna."Melihat ketegasan di wajah pemuda itu, bahu Aya yang tegang perlahan melorot turun. Wanita itu menghela

  • Pesona Pemuda Desa   85. Nyonya Besar Murka

    Alih-alih kikuk atau gelagapan, tawa renyah justru meluncur mulus dari bibir Mirna."Aduh, Jeng Aya..." gurau Mirna dengan nada manja nan santai. "Mukanya tegang banget sih? Santai sedikit napa, kayak habis mergokin suami sendiri lagi selingkuh aja."Rahang Aya mengeras seketika. "Kamu ngapain di pekarangan belakang, Mir? Aku cariin di ruang tamu ternyata malah ke sini.""Tadi di dalam bosen, Aya. Kamu lama banget teleponannya," sahut Mirna enteng seraya melangkah santai mendekati Aya, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan menusuk tuan rumah. "Pas jalan ke belakang cari angin segar, kebetulan banget lihat Joni lagi sibuk nyapu. Ya sekalian aja aku ajak ngobrol sebentar.""Ngobrol sampai harus pegang-pegang dada segala?" semprot Aya, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar sampai ke rumah tetangga, namun racun kecemburuannya meluap pekat.Mirna tertawa kecil, melipat kedua tangannya di depan dada seraya melirik Joni yang masih berdiri memegang gagang sapu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status