Accueil / Male Adult / Pesona Pemuda Desa / 3. Enak Banget, Tante

Partager

3. Enak Banget, Tante

last update Date de publication: 2026-08-27 18:09:18

Joni terpaku.

Sensasi hangat dari dada Aya yang bersandar di lengannya membuat darah muda Joni berdesir tak karuan.

Joni menelan ludah, mencoba menguasai suaranya. "Tante... Tante nggak jelek sama sekali. Tante Aya justru cantik banget dan juga baik. Om Rama aja yang nggak tahu cara bersyukur."

Kata-kata yang keluar tanpa rekayasa dari mulut pemuda desa itu seketika meruntuhkan pertahanan Aya.

Bibirnya sedikit terbuka, menatap Joni dengan binar terkejut yang perlahan berubah menjadi binar hangat.

Pujian sederhana itu menghantam bagian paling rentan di hatinya, bagian yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dianggap tak berharga oleh suaminya sendiri.

Aya tersenyum tipis, meremas pelan lengan kekar Joni sebelum akhirnya menegakkan kembali tubuhnya.

"Kamu ini... pinter banget bikin orang tua seneng," bisiknya pelan, mencoba menutupi rasa haru yang mendadak menyeruak.

Tak lama kemudian, suara langkah Rama menuruni tangga terdengar.

Pria itu sudah tampak lebih segar dengan setelan kerja yang baru. Ia berjalan melewati dapur dan ruang makan tanpa menoleh sedikit pun.

"Mas, kamu nggak makan dulu? Aku udah—"

"Nggak usah!" sahut Rama ketus. "Aku udah telat."

Tanpa menunggu reaksi dari istrinya, Rama pergi begitu saja.

Suara deru mesin mobil Rama yang meninggalkan pekarangan rumah perlahan menghilang di kejauhan.

Keheningan kembali menguasai rumah megah dua lantai itu.

Aya menghela napas panjang. "Kapan kamu melihat aku, Mas?" lirihnya pilu.

Ia berjalan perlahan menuju sofa di ruang tengah. Tubuhnya yang tampak lelah diposisikan bersandar rileks di atas busa empuk.

Gaun rumahan yang dikenakannya sedikit terangkat, menyingkap sebagian paha mulusnya yang tersingkap tanpa disengaja.

Joni melangkah menyusul ke ruang tengah, berdiri canggung di dekat area sofa. "Tante… baik-baik aja?" tanyanya.

Aya tersenyum tipis. "Tante udah biasa kok, Jon," katanya lalu terkekeh pelan meski terdengar hampa. "Mas Rama memang jarang di rumah. Tante udah biasa sendirian di rumah sebesar ini."

Joni agak tidak enak hati mendengarnya, seolah ia baru saja membuat Aya terlihat menyedihkan.

"Tante… nggak punya pembantu di sini?"

Aya menggeleng. "Nggak ada. Tante kurang suka kalau ada orang asing yang tinggal menetap. Paling dua hari sekali sewa ART harian buat bersih-bersih dan menyapu seluruh ruangan. Sisanya Tante urus sendiri, hitung-hitung buat mengisi waktu luang supaya nggak bosen."

Aya mendongak, menatap Joni yang masih berdiri kaku seperti pengawal. Ia mengibaskan tangannya, menepuk area sofa kosong di sampingnya.

"Duduk, Joni. Jangan berdiri terus kayak begitu. Tante merasa kayak lagi disidang."

Joni menelan ludah, lalu duduk di ujung sofa, mengambil jarak yang cukup aman demi menjaga kesopanan.

"Berarti, kedatangan saya bikin Tante Aya nggak nyaman?"

Aya terkekeh, kali ini terdengar lebih tulus. "Kamu kan bukan orang asing!" katanya.

"Ibu kamu... Jena... waktu terakhir Tante ketemu di kampung, dia selalu cerita soal kamu. Katanya anak laki-lakinya ini penurut banget," kenang Aya, pandangannya menerawang menatap langit-langit. "Dia wanita paling kuat yang Tante kenal."

"Benar," gumam Joni. "Ibu memang wanita yang kuat."

"Dulu di desa kamu kerja apa aja, Jon?" tanya Aya kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu sendu.

"Kerja serabutan, Tante. Apa aja yang ada," jawab Joni jujur. "Kadang bantu ngangkut hasil panen tetangga, benerin genteng rumah warga, atau ikut kuli bangunan di kecamatan. Yang penting ada uang buat beli obat Ibu dan makan sehari-hari."

Aya menatap pemuda 20 tahun di depannya dengan tatapan kagum yang tak tertutup-tutupi.

Bahu Joni yang lebar dan lengannya yang berotot jelas merupakan hasil dari kerja keras bertahun-tahun, bukan sekadar bentukan gym di kota besar.

Ada keperkasaan alami dan ketulusan yang terpancar kuat dari diri pemuda desa ini.

"Terus sekarang, rencana kamu di Jakarta apa?" tanya Aya lembut.

"Saya mau cari kerja secepatnya, Tante. Kerjaan apa aja yang penting halal. Saya mau kumpulin uang buat biaya hidup sendiri di sini, dan kalau ada sisanya... saya pengen banget nabung buat biaya kuliah."

Aya tersenyum makin lebar. Tekad dan ambisi Joni membuatnya tersentuh.

"Kuliah? Bagus itu. Nanti Tante bantu cariin kerjaan yang cocok buat kamu. Ada beberapa teman Tante yang punya usaha kafe atau kantor kecil. Nanti Tante coba tanyain ya."

Joni buru-buru mengibaskan tangannya dengan canggung. "Eh, nggak usah, Tante. Jangan repot-repot. Tante udah izinin saya menumpang di sini aja saya udah sangat berutang budi. Saya nggak mau makin nyusahin Tante."

"Siapa bilang nyusahin?" potong Aya cepat.

Tanpa ragu, wanita itu menggeser duduknya mendekat ke arah Joni, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma vanila yang manis dari tubuhnya kembali menguasai indra penciuman Joni.

"Tante justru seneng ada kamu di sini. Rumah ini jadi nggak sepi lagi."

Aya mengambil piring berisi kue kering dari meja, lalu mengarahkannya ke depan Joni.

"Coba ini. Tante bikin sendiri kemarin."

"Te-terima kasih, Tante," Joni mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tetapi Aya justru menarik piring itu kembali.

"Ah, jangan ambil sendiri deh. Tante suapin aja," kata Aya dengan kerlingan mata.

Tanpa menunggu persetujuan Joni, jemari lentiknya mengambil sepotong kue dan mengarahkannya tepat ke depan bibir Joni.

"Aaa."

Joni membeku. Wajahnya mendadak terasa amat panas.

Jarak mereka kini begitu dekat hingga ia bisa melihat dengan jelas belahan dada yang tersingkap samar di balik leher gaun Aya.

"Ayo, buka mulutnya. Masa disuapin Tante sendiri malu-malu?" goda Aya, terkekeh pelan seolah menikmati kepanikan pemuda di depannya.

Dengan canggung dan jantung yang berdebar kencang, Joni akhirnya membuka mulutnya sedikit dan menerima suapan itu.

Jemari halus Aya sempat tak sengaja menyapu bibir bawah Joni, menyengat saraf pemuda itu seperti aliran listrik.

"Enak?" tanya Aya penuh harap, menatap bibir Joni.

"E-enak banget, Tante," sahut Joni pelan, suaranya agak serak.

Aya tertawa kecil, berniat berdiri dari sofa untuk mengambilkan minum. "Tante ambilkan minum dulu ya—"

Srett!

Ujung gaun rumahan Aya yang panjang tak sengaja tersangkut hingga langkahnya hilang keseimbangan.

Aya memekik kecil saat tubuhnya limbung dan jatuh ke belakang. "Ahh!"

"Tante!"

Refleks, tangan Joni terjulur menangkap pinggang Aya dengan erat untuk menahannya.

Namun, karena dorongan berat tubuh Aya yang tiba-tiba, Joni ikut kehilangan tumpuan.

Bruk!

Keduanya jatuh bersamaan ke atas sofa empuk.

Joni mendapati posisinya kini berada di atas Aya, menindih tubuh wanita dewasa itu dengan kedua lengannya menahan beban di samping kepala Aya.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Hembusan napas Aya yang hangat dan sedikit memburu menerpa wajah Joni. Dada mereka yang naik turun bersentuhan sangat dekat.

Joni bisa merasakan kelembutan dada Aya di bawahnya, sementara matanya terkunci pada bibir merekah wanita itu yang hanya sejengkal dari bibirnya sendiri.

Jantung keduanya berpacu sangat kencang di tengah keheningan ruangan.

"Umm… Joni…."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Rini Safitri
seruuu bangettt bacaa nyaa jadii salting sendiri......
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Pesona Pemuda Desa   91. Tamatlah Sudah

    Joni mematikan mesin motor di depan pintu pagar samping.Napas pemuda itu masih memburu liar. Ia baru saja memacu kendaraannya menembus kemacetan seperti orang kesetanan. Joni membuka kunci gembok pagar dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melangkah cepat melintasi pekarangan.Seluruh rumah utama tampak gelap gulita dari luar. Joni mendorong pintu dapur yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang tengah, pandangannya langsung tertumbuk pada sesosok tubuh yang meringkuk di sudut sofa.Aya duduk di sana dengan kedua lutut terlipat rapat ke dada.Seluruh tubuh wanita matang itu gemetar hebat. Wajahnya yang pucat menatap kosong ke atas meja, tempat sebuah amplop cokelat berukuran besar teronggok dalam keadaan terbuka. Kedua tangannya meremas ujung bantal sofa begitu kuat."Tante..." panggil Joni pelan seraya melangkah mendekat.Mendengar suara itu, kepala Aya tersentak ke atas. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang teramat pekat."Joni..." bisik A

  • Pesona Pemuda Desa   90. Paket Tanpa Nama

    Pukul sepuluh malam, lampu utama di area kafe sudah dipadamkan.Hanya ada satu lampu yang masih menyala di balik meja bar, menerangi deretan cangkir yang baru saja selesai ditiriskan.Suasana kafe sunyi senyap. Doni sudah pulang lebih awal setengah jam lalu, menyisakan Joni dan Rina untuk menyelesaikan tugas penutupan sif.Joni sedang berdiri di depan wastafel dapur belakang, menyeka tangannya yang basah dengan serbet bersih.Di kepalanya, kalimat Mirna tadi siang masih terngiang samar.‘Cepat atau lambat... saat masalah besar melanda rumah itu, kamu bakal sadar kalau cuma Tante yang punya kekuatan buat nyelamatin kamu.’

  • Pesona Pemuda Desa   89. Ruangan Kedap Suara

    Joni melepas celemek hitamnya, menyampirkannya ke gantungan loker karyawan di lorong belakang kafe.Begitu ia melangkah keluar menuju area parkir motor, derit pintu darurat berbunyi pelan. Rina muncul dari balik pintu, bersandar di kusen seraya menyilangkan kedua tangan di bawah dada.Senyum jahil terbit di wajah manis gadis itu, mengamati Joni yang sedang memasukkan kantong kertas tebal dan amplop cokelat ke dalam ransel kecilnya."Laris manis banget ya kamu hari ini, Mas Barista," celetuk Rina santai seraya melangkah mendekat.Joni meliriknya sekilas seraya mengancingkan jaketnya. "Cuma disuruh Bu Ratna antar titipan barang, Rin.""Halah, titipan ap

  • Pesona Pemuda Desa   88. Pesanan Khusus

    Aroma biji kopi sangrai dan desis uap panas dari mesin espresso menyambut langkah Joni saat mendorong pintu kafe pagi itu.Mengenakan celemek hitam berlogo kafe yang diikat rapi di pinggang, Joni langsung menuju area bar depan untuk menyiapkan peralatan sif pagi.Suasana kafe masih relatif lengang, hanya ada satu-dua pelanggan yang sibuk dengan laptop di meja sudut dekat jendela."Pagi, Mas Ganteng," sebuah bisikan renyah menyapa tepat di samping telinganya.Joni menoleh cepat. Rina sudah berdiri di sampingnya dengan celemek serupa, rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Gadis itu tersenyum manis dengan binar mata yang jauh lebih cerah dari biasanya. 

  • Pesona Pemuda Desa   87. Kenalan dengan Tetangga

    Napas Aya perlahan kembali teratur di atas tumpukan bantal sofa.Gaunnya kusut masai, tersampir seadanya menutupi dada yang masih menyisakan rona kemerahan bekas lumatan bibir Joni. Rambut panjangnya berantakan di sandaran sofa, namun binar matanya memancarkan kepuasan, seolah bara api cemburu yang tadi membakar dadanya telah padam sepenuhnya tersiram pelampiasan hasrat barusan.Joni bangkit dari sofa, memungut kaus tanpa lengan dan celana pendeknya dari lantai, lalu mengenakannya kembali."Mau ke mana, Jon?" tanya Aya pelan, suaranya serak seraya menatap punggung tegap pemuda itu."Mau keluar sebentar ke depan, Tante. Cari angin sekalian beli rokok di minimarket luar komplek," sahut Joni seraya meraba saku celananya, memastikan dompet dan kunci motornya terbawa.Aya mengangkat alisnya sedikit, menatap Joni dengan kening berkerut heran. "Loh, kamu ngerokok? Tante baru tahu.""Jarang, Tante. Sesekali aja kalau kepalanya lagi agak penuh," jawab Joni santai, menoleh dengan senyum tipis

  • Pesona Pemuda Desa   86. Jangan Samain!

    Cecaran Aya tidak membuat Joni mundur barang satu senti pun. Pemuda itu mengulurkan kedua tangannya, menggenggam lembut pergelangan tangan Aya yang gemetar di bahunya, lalu menurunkannya perlahan. Sentuhan hangat dari telapak tangan Joni seolah mengalirkan ketenangan langsung ke saraf-saraf Aya yang sedang tegang."Tante, tarik napas dulu," bisik Joni rendah. "Nggak ada apa-apa lagi di belakang sana. Dia cuma ngomong soal kerjaan, pamer koneksi bisnisnya, terus nawarin gaji besar biar saya mau jadi asisten pribadinya. Itu doang.""Kamu nggak bohong kan, Jon?" suara Aya bergetar parau, bibirnya mengerucut menahan desakan emosi. "Dia nggak nyentuh kamu di tempat lain?""Nggak ada, Tante. Kan Tante sendiri yang lihat tadi," sahut Joni seraya menatap lurus ke dalam manik mata Aya. "Saya tolak tawarannya langsung di depan muka dia. Saya bilang saya masih nyaman kerja di kafe Bu Ratna."Melihat ketegasan di wajah pemuda itu, bahu Aya yang tegang perlahan melorot turun. Wanita itu menghela

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status