Share

Tante, Tahan! Nanti Keterusan
Tante, Tahan! Nanti Keterusan
Author: Little Tangerine

Bab 1

last update publish date: 2026-08-27 18:08:36

"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?"

Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu.

Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.

Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.

Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.

Tok! Tok! Tok!

Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.

Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas.

Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu.

Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.

Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang terbuka terdengar pelan di belakangnya.

Sebelum Joni sempat menoleh sepenuhnya, dua lengan halus dan hangat mendadak melingkar dari belakang, mengunci pinggangnya dengan erat.

Deg!

Sensasi lembut yang tak asing bagi insting seorang laki-laki menyentuh punggungnya secara penuh. Kenyal dan padat.

Aroma wangi yang menggoda, campuran antara bunga melati malam dan vanila yang mahal, langsung menusuk indra penciumannya, begitu memabukkan dan pekat.

"Kok baru pulang, sih, Mas? Kamu tahu nggak aku nungguin dari tadi sampai ketiduran?" suara itu berbisik sangat dekat di tengkuknya. Desahan napasnya hangat, menerpa leher Joni dan mengirimkan sengatan ke seluruh saraf di tubuhnya.

Joni membeku seketika. Tubuhnya menegak kaku seperti patung.

Lengan halus itu makin mengerat, lalu jemari dengan kuku bercat merah menyala bergerak perlahan naik ke dada Joni, meraba kain kaus tipisnya yang lembap oleh keringat.

"Mas jahat banget... Bilangnya cuma sebentar, tapi jam segini baru nyampe. Niat banget bikin aku kangen, ya?" bisikan itu berlanjut, diikuti kekehan manja yang terdengar amat sensual.

Bagian depan tubuh wanita itu menempel makin lekat ke punggung Joni, memberikan kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Joni menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam dadanya seperti genderang perang.

Sebagai pemuda 20 tahun yang besar di desa dan hanya pernah melihat wanita dengan pakaian daster longgar atau pakaian kerja di ladang, situasi ini benar-benar menghantam akal sehatnya.

Ia mencoba bersuara, tetapi tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir.

"Anu... Ma-maaf..."

Saat kata itu terucap, gerakan jemari wanita di dadanya terhenti seketika.

"Lho??"

Suara Joni yang berat, sedikit serak, dan jelas bukan suara suaminya membuat wanita itu sadar. Dengan cepat, ia melepas pelukannya dan mundur dua langkah.

Joni buru-buru memutar tubuhnya. Dan saat pandangannya jatuh pada sosok wanita di depannya, napasnya seolah tertahan di dada.

Bayangan Joni tentang Tante Aya, sahabat lama ibunya, adalah sosok wanita paruh baya berwajah teduh, mungkin dengan rambut yang mulai beruban dan pakaian ibu-ibu rumah tangga pada umumnya.

Namun, wanita yang berdiri di depannya sekarang benar-benar meruntuhkan semua ekspektasinya.

Aya berdiri di bawah pendar remang lampu teras. Ia mengenakan gaun malam bahan sutra berwarna merah marun yang amat tipis dan jatuh pas memeluk lekuk tubuhnya.

Pakaian itu memiliki potongan leher V-neck yang cukup rendah, mengekspos tulang selangka yang tegas serta belahan dada yang begitu mengundang. Tali gaunnya yang tipis menopang bahu mulusnya yang terbuka bebas tanpa halangan.

Rambut hitamnya yang bergelombang dibiarkan terurai berantakan secara alami, jatuh melewati bahu dan membingkai wajah cantiknya yang tampak matang. Kulitnya putih bersih, tampak begitu kontras dengan warna gaunnya.

Di usianya yang hampir berkepala empat, tidak ada tanda-tanda penuaan yang berarti. Yang ada justru aura keanggunan wanita dewasa yang matang dan penuh pesona sensual yang berbahaya.

Aya membeku. Matanya yang lebar menatap Joni dari atas ke bawah. Wajahnya yang tadinya menyiratkan manja mendadak berubah merah padam begitu menyadari siapa yang baru saja ia peluk erat-erat.

"K-kamu..." suara Aya tertahan.

Tangan kanannya dengan refleks menutup bagian dada atasnya, meski itu tidak banyak membantu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang tampak jelas.

Joni buru-buru menundukkan kepalanya, mencoba mengalihkan pandangannya dari dada dan juga paha mulus Aya yang tersingkap di balik belahan gaun bawahnya.

Pikiran pemuda itu kacau balau. Antara rasa bersalah, canggung, dan dorongan biologis alami laki-laki muda yang mendadak bangkit akibat sentuhan fisik tadi.

"Maaf, Tante... Saya... Saya Joni," kata Joni cepat-cepat, suaranya agak bergetar. "Joni, anak Bu Jena."

Mendengar nama itu, ekspresi terkejut di wajah Aya perlahan melunak. Matanya mengerjap beberapa kali, mengamati wajah pemuda bertubuh tegap dan berparas polos yang ada di hadapannya.

"Joni? Anak... Jena?" gumam Aya.

"Iya, Tante. Ini... saya bawa surat dari Ibu sebelum Ibu meninggal." Joni merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sedikit kumal dan menyodorkannya dengan tangan yang agak gemetaran.

Aya menatap amplop itu, lalu menatap Joni lagi.

Perlahan, senyum canggung terbit di bibirnya yang teroles lipstik tipis. Kejadian konyol dan memalukan barusan tampaknya mulai menguap, berganti dengan rasa geli dan haru.

Aya tidak langsung mengambil surat itu. Sebaliknya, ia melipat kedua tangannya di dada. Gerakannya justru semakin mempertegas lekuk tubuh bagian atasnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah.

"Astaga... Joni?" Aya terkekeh pelan. Suaranya kembali terdengar santai, seperti berniat menutupi rasa malunya sendiri. "Terakhir Tante lihat kamu itu waktu kamu masih SD, pendek, dan sering ingusan. Sekarang... kok bisa jadi setinggi ini?"

Aya mendongak sedikit untuk menatap mata Joni. Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter.

Aroma wangi dari tubuh Aya kembali berembus menguasai indra Joni, membuat pemuda desa itu makin serba salah.

Joni hanya bisa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "I-iya, Tante... Udah lama nggak ketemu ya."

Aya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat merdu di telinga Joni.

"Dan Tante malah main peluk aja dari belakang... Ya ampun, Tante pikir kamu Om Rama. Lagian kamu diam aja lagi pas Tante megang-megang tadi. Suka, ya?"

Aya mengedipkan sebelah matanya secara spontan, sebuah godaan kecil yang murni keluar karena sifat dasarnya yang jahil ketika mencoba mencairkan suasana canggung.

Kata-kata itu sukses membuat wajah Joni terasa panas terbakar. "N-nggak gitu, Tante! Saya cuma kaget..."

Aya tertawa lagi. Kepolosan dan kepanikan pemuda desa di depannya ini menurutnya sangat menggemaskan.

Ia lalu mengulurkan tangan dan mengambil amplop cokelat dari tangan Joni. Sentuhan singkat jemari lembut Aya pada kulit tangannya membuat Joni lagi-lagi menahan napas.

"Ya udah, masuk dulu. Kamu pasti capek abis perjalanan jauh," ucap Aya lembut. Ia berbalik badan, membelakangi Joni untuk berjalan masuk ke dalam rumah.

Saat berjalan, gaun sutra tipis itu bergerak mengikuti lekuk pinggulnya yang indah, memperlihatkan bayangan punggung mulusnya yang hampir terbuka sepenuhnya.

Joni yang berjalan di belakangnya terpaksa terus menundukkan kepala, memfokuskan pandangannya hanya pada lantai marmer rumah tersebut agar pikirannya tidak melayang ke mana-mana.

"Kamar kamu di lantai satu, sebelah kiri," ujar Aya sambil menunjuk sebuah pintu kayu di dekat area tangga. "Tante mau ganti baju dulu sebentar. Nanti kita bicara lagi, ya."

"Baik, Tante. Terima kasih."

Aya berjalan naik ke lantai dua dengan langkah anggun. Sementara Joni berjalan masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Joni menyandarkan punggungnya di pintu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengusap wajahnya yang masih terasa panas.

Dadanya masih berdebar kencang. Bayangan sentuhan lembut, aroma wangi, dan lekuk tubuh wanita 37 tahun itu seolah melekat di ingatannya, menolak untuk hilang.

‘Dia sahabat Ibu, Joni... Inget, dia udah punya suami,’ batin Joni keras-keras pada dirinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 6

    Joni tertegun di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada sosok Aya yang berdiri di hadapannya. Gaun tidur itu membingkai lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan rendah di bagian dada dan kain tipis yang jatuh tepat di atas lututnya membuat tenggorokan Joni mendadak tercekat. "Joni... Tante boleh masuk?" bisik Aya sekali lagi. Nadanya pelan, sedikit serak, dan sarat akan nada memohon yang manja. "I-iya, Tante. Silakan," jawab Joni terbata. Ia melangkah mundur memberi jalan. Aya masuk dengan anggun, membawa aroma vanila dan melati malam yang langsung memenuhi kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Aya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas kayu kecil, lalu duduk perlahan di tepi ranjang Joni. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur, lemari satu pintu, dan sebuah kursi kayu sederhana di sudut. "Kamar ini... terasa lebih hangat dibanding kamar Tante di atas," gumam Aya lirih. Tangannya mengusap seprai katun abu-abu milik Joni. "Kamar Tante

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 5

    "Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget."Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan. Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman."Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunan

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 4

    "Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat. Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya."M-maaf, Tante!"Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup. Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap. Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang."Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya se

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 3

    Joni terpaku.Sensasi hangat dari dada Aya yang bersandar di lengannya membuat darah muda Joni berdesir tak karuan.Joni menelan ludah, mencoba menguasai suaranya. "Tante... Tante nggak jelek sama sekali. Tante Aya justru cantik banget dan juga baik. Om Rama aja yang nggak tahu cara bersyukur."Kata-kata jujur yang keluar tanpa rekayasa dari mulut pemuda desa itu seketika meruntuhkan pertahanan Aya. Bibirnya sedikit terbuka, menatap Joni dengan binar terkejut yang perlahan berubah menjadi binar hangat. Pujian sederhana itu menghantam bagian paling rentan di hatinya, bagian yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dianggap tak berharga oleh suaminya sendiri.Aya tersenyum tipis, meremas pelan lengan kekar Joni sebelum akhirnya menegakkan kembali tubuhnya. "Kamu ini... pinter banget bikin orang tua seneng," bisiknya pelan, mencoba menutupi rasa haru yang mendadak menyeruak.Tak lama kemudian, suara langkah Rama menuruni tangga terdengar. Pria itu sudah tampak lebih segar dengan sete

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 2

    Joni memandangi amplop cokelat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tadi, sebelum Aya naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian, Joni belum sempat menanyakan apakah ia harus memberikan dokumen penting lain yang dititipkan ibunya enam bulan lalu. Karena merasa tidak enak jika harus menunggu sampai besok pagi, Joni akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Langkah kakinya pelan melintasi marmer dingin menuju lantai dua.Lampu koridor lantai atas menyala remang. Joni berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar yang pintunya sedikit renggang, menyisakan celah cahaya tipis.Baru saja jemarinya hendak terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati itu, langkahnya mendadak terkunci.Sebuah suara sayup-sayup merambat keluar dari celah pintu. Suara desahan halus, napas yang memburu pendek-pendek, bercampur dengan lenguhan rendah yang sarat akan dahaga.“Ahh… Mas Rama… aku kangen kamu….”Joni membeku seketika. Jakunnya naik turun. Melalui celah sempit pintu yang terbuka beberapa senti, pa

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 1

    "Masa jam segini Tante Aya udah tidur?" Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.Tok! Tok! Tok!Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status