LOGINJoni memandangi amplop cokelat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Tadi, sebelum Aya naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian, Joni belum sempat menanyakan apakah ia harus memberikan dokumen penting lain yang dititipkan ibunya enam bulan lalu.
Karena merasa tidak enak jika harus menunggu sampai besok pagi, Joni akhirnya memutuskan keluar dari kamar.
Langkah kakinya pelan melintasi marmer dingin menuju lantai dua.
Lampu koridor lantai atas menyala remang. Joni berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar yang pintunya sedikit renggang, menyisakan celah cahaya tipis.
Baru saja jemarinya hendak terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati itu, langkahnya mendadak terkunci.
Sebuah suara sayup-sayup merambat keluar dari celah pintu. Suara desahan halus, napas yang memburu pendek-pendek, bercampur dengan lenguhan rendah yang sarat akan dahaga.
“Ahh… Mas Rama… aku kangen kamu….”
Joni membeku seketika. Jakunnya naik turun. Melalui celah sempit pintu yang terbuka beberapa senti, pandangan mata pemuda desa itu tak sengaja menangkap bayangan dari pantulan kaca rias di dalam kamar.
Aya terbaring terlentang di atas tempat tidur. Gaun malamnya sudah tersingkap hingga ke batas pinggang, mengekspos pahanya yang putih mulus.
Satu tangannya meremas sprei dengan erat, sementara tangannya yang lain berada di balik pakaian dalamnya, bergerak teratur dengan mata terpejam rapat dan bibir bawah yang digigit menahan desahan.
Wajah anggun itu tampak begitu tersiksa sekaligus haus akan kepuasan yang tak kunjung ia dapatkan.
“Engh… cepetin Mas Rama… a-aku udah mau sampai…”
Darah Joni serasa berdesir hebat ke seluruh tubuhnya. Jantungnya menghantam dada dengan sangat keras.
Sensasi panas membakar mendadak menguasai pikirannya sebagai seorang lelaki muda.
Joni bukannya tidak pernah melihat film biru. Tapi menyaksikannya langsung seperti ini menimbulkan sensasi yang jauh berbeda.
Tubuhnya panas dingin. Ia buru-buru menarik kakinya mundur.
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia berbalik dan hampir berlari menuruni tangga kembali ke kamarnya.
Ia menutup pintu kamar dengan rapat, menyandarkan tubuhnya di pintu sambil bernapas terengah-engah.
“Astaga… Tante Aya…”
Bayangan paha mulus, leher jenjang yang mendongak, dan desahan pasrah Tante Aya terus berputar-putar di kepalanya.
Joni menunduk melihat celananya yang mendadak terasa sangat sempit. “Sial!” rutuknya. “Sadar, Jon! Nggak boleh!”
Malam itu, Joni tidak bisa memejamkan mata sama sekali hingga fajar menyingsing.
….
Pukul tujuh pagi.
Joni sudah rapi dengan kaus polos dan celana rumahan yang tampak lusuh.
Ia keluar kamar dan menemukan suasana rumah sudah hangat oleh aroma masakan.
Di dapur, Aya tampak sedang sibuk menata piring di meja makan. Ia sudah mengenakan gaun rumahan tanpa lengan berwarna pastel yang elegan, meski lingkaran hitam tipis di bawah matanya tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa wanita itu juga kurang tidur.
"Eh, Joni... Sudah bangun?" Aya menyapa ramah.
Senyum manis langsung terbit di bibirnya, kembali bersikap anggun seolah kejadian salah peluk semalam tak pernah terjadi.
Ditambah lagi, Aya tak tahu rahasia gelapnya semalam sempat disaksikan Joni.
"Pagi, Tante. Saya mau bantu..."
Belum sempat Joni menyelesaikan kalimatnya, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di garasi depan.
Wajah Aya yang tadinya tenang mendadak berbinar. Ia langsung meletakkan sendok dan berjalan cepat menuju pintu depan.
Joni mengikuti dari jarak aman di dekat area meja makan.
Sesosok pria tinggi berjas rapi masuk ke dalam rumah membawa tas kerja. Wajahnya tampan, tetapi dingin dan kentara sekali menyiratkan kelelahan, atau mungkin rasa bosan.
Itu Rama.
"Mas... Kamu pulang?" suara Aya berubah seketika. Nada bicaranya menjadi sangat manja dan kekanak-kanakan.
Tanpa ragu, Aya langsung menghampiri Rama, mencoba meraih lengan suaminya dan menyenderkan kepala di bahunya.
"Kangen banget... Kok semalam nggak ada kabar?"
Namun, respon Rama justru berbanding terbalik. Pria itu menarik lengannya dengan kasar, membuat pelukan Aya terlepas sebelum sempat tercipta.
"Jangan nempel-nempel, Aya. Aku capek, baru nyampe!" potong Rama ketus, bahkan tanpa menatap wajah istrinya.
Aya tersentak kecil, tetapi ia berusaha mempertahankan senyumnya meski matanya menyiratkan kepedihan yang amat dalam. Rasa percaya dirinya runtuh seketika di depan orang lain.
"Y-ya udah... Kamu sarapan dulu, ya? Aku udah masakin sop buntut kesukaan kamu—"
"Aku mau mandi. Nanti ada rapat jam sembilan," sela Rama dingin.
Saat itulah matanya menangkap keberadaan Joni yang berdiri diam di dekat ruang makan. Dahi Rama berkerut tajam.
"Siapa dia?"
Aya buru-buru mengusap lengannya sendiri dengan canggung. "Oh... ini Joni, Mas. Anak almarhumah Jena, sahabat aku di kampung yang sering aku ceritain. Ibunya baru meninggal beberapa bulan yang lalu... Joni bakal tinggal di sini sementara. Nggak apa-apa, kan?"
Rama menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
"Tinggal di sini? Kamu kira rumah ini panti asuhan, Aya? Nambah-nambahin beban aja!"
Kalimat itu begitu menohok. Joni merapatkan rahangnya, menahan emosi.
Harga dirinya sebagai lelaki tercoreng, tetapi ia menahannya demi menghormati Aya.
"Mas! Jangan bicara gitu!" tegur Aya, suaranya sedikit meninggi membela Joni. "Joni ini anak sahabat terbaikku. Aku udah janji sama almarhumah untuk menjaganya."
Rama menyeringai tipis, tampak malas. "Terserah kamu. Asal dia nggak ganggu barang-barang aku dan tahu diri. Aku mau ke atas."
Tanpa memedulikan respon istrinya, Rama berjalan melewatinya begitu saja menaiki tangga.
Aya berdiri mematung di tengah ruangan. Bahunya merosot. Wajah ceria yang tadi dipaksakan kini tampak begitu rapuh dan rendah diri.
Ditolak dan diabaikan secara terang-terangan oleh suami sendiri di hadapan anak dari sahabatnya adalah tamparan yang amat mematikan bagi harga dirinya.
Aya menarik napas panjang, mencoba menetralkan emosinya sebelum berbalik menghadapi Joni.
Ia memaksa bibirnya membentuk senyuman, berusaha keras menutup-nutupi rasa malunya.
"Maaf ya, Joni... Om kamu memang suka sensitif kalau kurang tidur," ujar Aya dengan nada yang dibuat-buat santai, walau matanya berkaca-kaca.
Joni melangkah mendekati meja makan. Hatinya merasa iba melihat wanita seanggun dan secantik ini diperlakukan seperti sampah oleh suaminya sendiri.
"Nggak apa-apa, Tante. Saya ngerti."
Aya melangkah mendekati Joni yang sedang berdiri di dekat meja.
Tapi, bukannya mengambil piring, Aya justru menghentikan langkahnya tepat di samping Joni.
Jarak mereka begitu dekat hingga aroma wangi tubuhnya kembali menguar.
Tiba-tiba, Aya menyenderkan sebagian bahunya pada lengan Joni yang kekar, seolah mencari tumpuan untuk tubuhnya yang lelah.
"Joni..." bisik Aya pelan. Suaranya terdengar begitu lirih. Haus kasih sayang.
Joni membeku, merasakan kehangatan benda kenyal wanita dewasa itu menempel di lengannya.
Aya mendongak sedikit, menatap mata Joni dengan tatapan sayu. "Tante... jelek ya? Kenapa Om kamu selalu risih tiap Tante deketin?"
Joni tertegun di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada sosok Aya yang berdiri di hadapannya. Gaun tidur itu membingkai lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan rendah di bagian dada dan kain tipis yang jatuh tepat di atas lututnya membuat tenggorokan Joni mendadak tercekat. "Joni... Tante boleh masuk?" bisik Aya sekali lagi. Nadanya pelan, sedikit serak, dan sarat akan nada memohon yang manja. "I-iya, Tante. Silakan," jawab Joni terbata. Ia melangkah mundur memberi jalan. Aya masuk dengan anggun, membawa aroma vanila dan melati malam yang langsung memenuhi kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Aya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas kayu kecil, lalu duduk perlahan di tepi ranjang Joni. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur, lemari satu pintu, dan sebuah kursi kayu sederhana di sudut. "Kamar ini... terasa lebih hangat dibanding kamar Tante di atas," gumam Aya lirih. Tangannya mengusap seprai katun abu-abu milik Joni. "Kamar Tante
"Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget."Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan. Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman."Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunan
"Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat. Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya."M-maaf, Tante!"Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup. Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap. Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang."Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya se
Joni terpaku.Sensasi hangat dari dada Aya yang bersandar di lengannya membuat darah muda Joni berdesir tak karuan.Joni menelan ludah, mencoba menguasai suaranya. "Tante... Tante nggak jelek sama sekali. Tante Aya justru cantik banget dan juga baik. Om Rama aja yang nggak tahu cara bersyukur."Kata-kata jujur yang keluar tanpa rekayasa dari mulut pemuda desa itu seketika meruntuhkan pertahanan Aya. Bibirnya sedikit terbuka, menatap Joni dengan binar terkejut yang perlahan berubah menjadi binar hangat. Pujian sederhana itu menghantam bagian paling rentan di hatinya, bagian yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dianggap tak berharga oleh suaminya sendiri.Aya tersenyum tipis, meremas pelan lengan kekar Joni sebelum akhirnya menegakkan kembali tubuhnya. "Kamu ini... pinter banget bikin orang tua seneng," bisiknya pelan, mencoba menutupi rasa haru yang mendadak menyeruak.Tak lama kemudian, suara langkah Rama menuruni tangga terdengar. Pria itu sudah tampak lebih segar dengan sete
Joni memandangi amplop cokelat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tadi, sebelum Aya naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian, Joni belum sempat menanyakan apakah ia harus memberikan dokumen penting lain yang dititipkan ibunya enam bulan lalu. Karena merasa tidak enak jika harus menunggu sampai besok pagi, Joni akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Langkah kakinya pelan melintasi marmer dingin menuju lantai dua.Lampu koridor lantai atas menyala remang. Joni berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar yang pintunya sedikit renggang, menyisakan celah cahaya tipis.Baru saja jemarinya hendak terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati itu, langkahnya mendadak terkunci.Sebuah suara sayup-sayup merambat keluar dari celah pintu. Suara desahan halus, napas yang memburu pendek-pendek, bercampur dengan lenguhan rendah yang sarat akan dahaga.“Ahh… Mas Rama… aku kangen kamu….”Joni membeku seketika. Jakunnya naik turun. Melalui celah sempit pintu yang terbuka beberapa senti, pa
"Masa jam segini Tante Aya udah tidur?" Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.Tok! Tok! Tok!Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang t







