Share

Bab 5

last update publish date: 2026-08-27 18:09:49

"Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"

Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.

Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. 

Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget.

"Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."

Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan. 

Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman.

"Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunanya. Daripada cuma numpang makan dan tidur gratis."

Kalimat itu diucapkan dengan nada begitu kasual, seolah-olah Rama hanya sedang membicarakan cuaca. 

Pria itu berbalik dan berjalan masuk ke arah ruang tengah menuju meja kerjanya.

Aya mengepalkan tangannya di samping tubuh. Wajahnya merona merah karena menahan malu atas sikap suaminya yang begitu tidak sopan di hadapan Joni.

"Mas! Bisa nggak sih bicaranya agak halus dikit?"

Rama tidak memedulikan teguran istrinya. Ia mengambil sekumpulan dokumen tebal di atas meja, lalu merogoh dompet kulitnya. 

Pria itu menarik beberapa lembar uang ratusan ribu tanpa menghitungnya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja kaca ruang tengah.

"Nih, buat ongkos atau beli baju layak buat anak itu. Biar kalau ada tamu datang, rumah ini nggak kelihatan kayak penampungan," kata Rama santai sambil merapikan kerah kemejanya. "Aku ada meeting luar kota sampai lusa. Nggak usah tungguin."

Tanpa menunggu balasan dari Aya, apalagi pamit, Rama melangkah lebar keluar rumah. 

Suara pintu depan yang tertutup keras menandai kepergiannya, disusul deru mesin mobil mewahnya yang menjauh.

Di dalam rumah, suasana mendadak hening dan kaku.

Aya berdiri mematung di dekat meja tengah, menatap lembaran uang di atas meja dengan tatapan terluka. 

Perlakuan Rama yang meremehkan Joni seolah-olah menyiramkan air raksa ke atas harga dirinya sebagai tuan rumah sekaligus sahabat ibu Joni.

Joni melangkah keluar dari garasi, mengusap tangannya yang kotor dengan kain lap kering. Ia menghampiri Aya yang masih menunduk.

"Tante..." panggilan pelan Joni membuat Aya mendongak.

Aya buru-buru mengambil uang ratusan ribu itu dari meja, lalu mengulurkannya ke arah Joni dengan tangan yang sedikit gemetaran. 

"Joni... ini, kamu ambil ya. Buat beli keperluan kamu atau simpan buat tabungan."

Joni menatap lembaran uang di tangan Aya, lalu menggeleng dengan tegas. Tangannya tetap berada di samping tubuh, menolak menyentuhnya.

"Nggak usah, Tante. Simpan aja," jawab Joni tenang. "Saya ke sini mau kerja keras pakai keringat sendiri, bukan minta-minta. Saya masih punya harga diri."

Aya tertegun. Matanya menatap wajah Joni yang tampak bersahaja namun menyimpan keteguhan luar biasa. 

Kontras yang begitu tajam antara keangkuhan suaminya yang kaya raya dan ketulusan pemuda desa yang tidak punya apa-apa ini membuat dada Aya berdesir hebat.

"Tapi Mas Rama tadi—"

"Om Rama nggak kenal Joni, jadi wajar kalau bicara begitu," potong Joni, mengulas senyum tipis untuk menenangkan Aya. "Tante nggak perlu merasa sungkan sama Joni."

Aya menatap Joni dalam-dalam. Tanpa sadar, jemari halusnya terangkat, menggenggam pergelangan tangan Joni yang hangat dan kasar. 

"Maafin Tante ya, Joni... Tante benar-benar malu sama kamu..."

Sensasi sentuhan langsung jari-jari Aya di kulit tangannya membuat Joni menahan napas seketika. 

Tatapan mata mereka saling mengunci di tengah ruang tengah yang sepi. Ada kehangatan terlarang yang merambat pelan di antara mereka.

Joni membalas genggaman tangan Aya dengan remasan lembut yang menenangkan. Ia sendiri berusaha keras menepis perasaan itu. 

"Nggak ada yang perlu dimaafin, Tante. Selama Joni di sini, Tante nggak sendirian lagi."

Bibir Aya bergetar tipis mendengarnya. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan melepas genggaman tangannya saat menyadari betapa dekatnya posisi mereka.

"Kalau gitu, Joni ke kamar dulu ya, Tante."

Aya mengangguk, "Ya, istirahatlah…"

Malam harinya, sekitar pukul sebelas.

Suasana rumah terasa amat lengang. Joni baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaus santai. 

Ia duduk di tepi ranjang kamarnya, menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam. 

Pikirannya masih dipenuhi bayangan tatapan mata Tante Aya sore tadi.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pelan di pintu kamarnya mengejutkan Joni.

Joni beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekat lalu memutar gagang pintu.

Saat pintu terbuka, berdiri Aya di ambang pintu.

Wanita itu mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis berwarna biru yang lembut, membingkai lekuk tubuh sekalnya dengan begitu indah di bawah temaram lampu koridor.

Di kedua tangannya, Aya memegang cangkir keramik yang masih mengepulkan uap hangat.

Aya mendongak, menatap Joni dengan mata sayu.

"Joni..." bisik Aya pelan, suaranya terdengar amat halus di tengah keheningan malam. "Tante buatkan teh hangat... Tante boleh masuk? Tante... lagi nggak mau sendirian malam ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 6

    Joni tertegun di ambang pintu. Pandangannya terpaku pada sosok Aya yang berdiri di hadapannya. Gaun tidur itu membingkai lekuk tubuhnya dengan jelas. Belahan rendah di bagian dada dan kain tipis yang jatuh tepat di atas lututnya membuat tenggorokan Joni mendadak tercekat. "Joni... Tante boleh masuk?" bisik Aya sekali lagi. Nadanya pelan, sedikit serak, dan sarat akan nada memohon yang manja. "I-iya, Tante. Silakan," jawab Joni terbata. Ia melangkah mundur memberi jalan. Aya masuk dengan anggun, membawa aroma vanila dan melati malam yang langsung memenuhi kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Aya meletakkan dua cangkir teh hangat di atas nakas kayu kecil, lalu duduk perlahan di tepi ranjang Joni. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi tempat tidur, lemari satu pintu, dan sebuah kursi kayu sederhana di sudut. "Kamar ini... terasa lebih hangat dibanding kamar Tante di atas," gumam Aya lirih. Tangannya mengusap seprai katun abu-abu milik Joni. "Kamar Tante

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 5

    "Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget."Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan. Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman."Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunan

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 4

    "Joni…" lirih Aya sekali lagi, memanggil nama Joni yang masih terpaku mengungkung tubuhnya.Napas yang bersahutan dan tatapan mata yang terkunci di atas sofa itu menyisakan ketegangan yang pekat. Jantung Joni berdegup amat keras, seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Wajah Aya yang merona merah serta hembusan napas hangatnya yang menerpa kulit pipi Joni membuat akal sehat pemuda itu goyah seketika.Sadar akan posisinya yang menindih tubuh istri orang, sekaligus sahabat almarhumah ibunya, Joni buru-buru menyerap sisa kesadarannya."M-maaf, Tante!"Joni dengan sigap menegakkan tubuhnya, buru-buru bangun dari atas sofa dengan gerakan gugup. Wajahnya merah padam, dan tangannya sedikit gemetaran saat mengusap leher belakangnya.Aya ikut duduk perlahan di sofa, membenarkan letak gaun rumahannya yang agak tersingkap. Bibirnya mengulas senyum canggung, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri yang tak kalah kencang."Maaf, Tante, saya nggak sengaja," kata Joni cepat, suaranya se

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 3

    Joni terpaku.Sensasi hangat dari dada Aya yang bersandar di lengannya membuat darah muda Joni berdesir tak karuan.Joni menelan ludah, mencoba menguasai suaranya. "Tante... Tante nggak jelek sama sekali. Tante Aya justru cantik banget dan juga baik. Om Rama aja yang nggak tahu cara bersyukur."Kata-kata jujur yang keluar tanpa rekayasa dari mulut pemuda desa itu seketika meruntuhkan pertahanan Aya. Bibirnya sedikit terbuka, menatap Joni dengan binar terkejut yang perlahan berubah menjadi binar hangat. Pujian sederhana itu menghantam bagian paling rentan di hatinya, bagian yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dianggap tak berharga oleh suaminya sendiri.Aya tersenyum tipis, meremas pelan lengan kekar Joni sebelum akhirnya menegakkan kembali tubuhnya. "Kamu ini... pinter banget bikin orang tua seneng," bisiknya pelan, mencoba menutupi rasa haru yang mendadak menyeruak.Tak lama kemudian, suara langkah Rama menuruni tangga terdengar. Pria itu sudah tampak lebih segar dengan sete

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 2

    Joni memandangi amplop cokelat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Tadi, sebelum Aya naik ke lantai atas untuk mengganti pakaian, Joni belum sempat menanyakan apakah ia harus memberikan dokumen penting lain yang dititipkan ibunya enam bulan lalu. Karena merasa tidak enak jika harus menunggu sampai besok pagi, Joni akhirnya memutuskan keluar dari kamar. Langkah kakinya pelan melintasi marmer dingin menuju lantai dua.Lampu koridor lantai atas menyala remang. Joni berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar yang pintunya sedikit renggang, menyisakan celah cahaya tipis.Baru saja jemarinya hendak terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati itu, langkahnya mendadak terkunci.Sebuah suara sayup-sayup merambat keluar dari celah pintu. Suara desahan halus, napas yang memburu pendek-pendek, bercampur dengan lenguhan rendah yang sarat akan dahaga.“Ahh… Mas Rama… aku kangen kamu….”Joni membeku seketika. Jakunnya naik turun. Melalui celah sempit pintu yang terbuka beberapa senti, pa

  • Tante, Tahan! Nanti Keterusan   Bab 1

    "Masa jam segini Tante Aya udah tidur?" Joni menyapu pandangannya ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Satpam yang tadi mengizinkannya masuk sudah tidak kelihatan di posnya.Pemuda itu baru saja menempuh perjalanan 12 jam dengan bus hingga akhirnya tiba di Jakarta. Tepatnya di depan rumah Tante Aya, sahabat mendiang ibunya.Jemarinya yang kasar mengetuk pintu kayu jati itu sekali lagi.Tok! Tok! Tok!Hening. Hanya suara jangkrik dari taman samping dan deru halus angin malam yang menyapa kulit lengannya.Joni menghela napas panjang. Ia merogoh saku celana jinsnya yang sudah memudar, mengeluarkan ponsel dengan layar retak di pojok kanan atas. Jarinya mengusap layar yang meredup, membuka catatan berisi alamat, yang diberikan oleh sang ibu. Alamatnya sudah benar. Tidak ada yang salah.Joni baru saja membalikkan badan, berniat berjalan keluar dari halaman menuju jalan utama untuk mencari warung atau masjid terdekat guna menumpang tidur malam ini, ketika sebuah suara daun pintu yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status