LOGIN"Apa yang kalian lakukan di garasi sempit begini?"
Suara Rama yang berat dan sarat akan sindiran kembali memecah keheningan garasi.
Aya buru-buru menarik tangannya yang memegang tisu dari dahi Joni, mundur setengah langkah dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin.
Sementara Joni tetap berdiri di tempatnya, menatap Rama dengan wajah tenang meski dadanya berdegup kencang karena kaget.
"Mas Rama? Kok udah pulang?" tanya Aya, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Ini... Joni baru selesai benerin motor matik tua yang mampet. Kasihan dia panas-panasan dari tadi."
Rama tidak melangkah masuk ke garasi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Joni dari atas ke bawah dengan pandangan menilai, bahkan nyaris merendahkan.
Tidak ada raut cemburu atau curiga di wajahnya. Bagi Rama, pemuda desa dengan pakaian bernoda oli ini terlalu jauh di bawah kelasnya untuk dianggap sebagai ancaman.
"Oh," sahut Rama pendek, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. "Baguslah kalau ada gunanya. Daripada cuma numpang makan dan tidur gratis."
Kalimat itu diucapkan dengan nada begitu kasual, seolah-olah Rama hanya sedang membicarakan cuaca.
Pria itu berbalik dan berjalan masuk ke arah ruang tengah menuju meja kerjanya.
Aya mengepalkan tangannya di samping tubuh. Wajahnya merona merah karena menahan malu atas sikap suaminya yang begitu tidak sopan di hadapan Joni.
"Mas! Bisa nggak sih bicaranya agak halus dikit?"
Rama tidak memedulikan teguran istrinya. Ia mengambil sekumpulan dokumen tebal di atas meja, lalu merogoh dompet kulitnya.
Pria itu menarik beberapa lembar uang ratusan ribu tanpa menghitungnya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja kaca ruang tengah.
"Nih, buat ongkos atau beli baju layak buat anak itu. Biar kalau ada tamu datang, rumah ini nggak kelihatan kayak penampungan," kata Rama santai sambil merapikan kerah kemejanya. "Aku ada meeting luar kota sampai lusa. Nggak usah tungguin."
Tanpa menunggu balasan dari Aya, apalagi pamit, Rama melangkah lebar keluar rumah.
Suara pintu depan yang tertutup keras menandai kepergiannya, disusul deru mesin mobil mewahnya yang menjauh.
Di dalam rumah, suasana mendadak hening dan kaku.
Aya berdiri mematung di dekat meja tengah, menatap lembaran uang di atas meja dengan tatapan terluka.
Perlakuan Rama yang meremehkan Joni seolah-olah menyiramkan air raksa ke atas harga dirinya sebagai tuan rumah sekaligus sahabat ibu Joni.
Joni melangkah keluar dari garasi, mengusap tangannya yang kotor dengan kain lap kering. Ia menghampiri Aya yang masih menunduk.
"Tante..." panggilan pelan Joni membuat Aya mendongak.
Aya buru-buru mengambil uang ratusan ribu itu dari meja, lalu mengulurkannya ke arah Joni dengan tangan yang sedikit gemetaran.
"Joni... ini, kamu ambil ya. Buat beli keperluan kamu atau simpan buat tabungan."
Joni menatap lembaran uang di tangan Aya, lalu menggeleng dengan tegas. Tangannya tetap berada di samping tubuh, menolak menyentuhnya.
"Nggak usah, Tante. Simpan aja," jawab Joni tenang. "Saya ke sini mau kerja keras pakai keringat sendiri, bukan minta-minta. Saya masih punya harga diri."
Aya tertegun. Matanya menatap wajah Joni yang tampak bersahaja namun menyimpan keteguhan luar biasa.
Kontras yang begitu tajam antara keangkuhan suaminya yang kaya raya dan ketulusan pemuda desa yang tidak punya apa-apa ini membuat dada Aya berdesir hebat.
"Tapi Mas Rama tadi—"
"Om Rama nggak kenal Joni, jadi wajar kalau bicara begitu," potong Joni, mengulas senyum tipis untuk menenangkan Aya. "Tante nggak perlu merasa sungkan sama Joni."
Aya menatap Joni dalam-dalam. Tanpa sadar, jemari halusnya terangkat, menggenggam pergelangan tangan Joni yang hangat dan kasar.
"Maafin Tante ya, Joni... Tante benar-benar malu sama kamu..."
Sensasi sentuhan langsung jari-jari Aya di kulit tangannya membuat Joni menahan napas seketika.
Tatapan mata mereka saling mengunci di tengah ruang tengah yang sepi. Ada kehangatan terlarang yang merambat pelan di antara mereka.
Joni membalas genggaman tangan Aya dengan remasan lembut yang menenangkan. Ia sendiri berusaha keras menepis perasaan itu.
"Nggak ada yang perlu dimaafin, Tante. Selama Joni di sini, Tante nggak sendirian lagi."
Bibir Aya bergetar tipis mendengarnya. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan melepas genggaman tangannya saat menyadari betapa dekatnya posisi mereka.
"Kalau gitu, Joni ke kamar dulu ya, Tante."
Aya mengangguk, "Ya, istirahatlah…"
Malam harinya, sekitar pukul sebelas.
Suasana rumah terasa amat lengang. Joni baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaus santai.
Ia duduk di tepi ranjang kamarnya, menatap ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam.
Pikirannya masih dipenuhi bayangan tatapan mata Tante Aya sore tadi.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan di pintu kamarnya mengejutkan Joni.
Joni beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekat lalu memutar gagang pintu.
Saat pintu terbuka, berdiri Aya di ambang pintu.
Wanita itu mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis berwarna biru yang lembut, membingkai lekuk tubuh sekalnya dengan begitu indah di bawah temaram lampu koridor.
Di kedua tangannya, Aya memegang cangkir keramik yang masih mengepulkan uap hangat.
Aya mendongak, menatap Joni dengan mata sayu.
"Joni..." bisik Aya pelan, suaranya terdengar amat halus di tengah keheningan malam. "Tante buatkan teh hangat... Tante boleh masuk? Tante... lagi nggak mau sendirian malam ini."
Joni mematikan mesin motor di depan pintu pagar samping.Napas pemuda itu masih memburu liar. Ia baru saja memacu kendaraannya menembus kemacetan seperti orang kesetanan. Joni membuka kunci gembok pagar dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melangkah cepat melintasi pekarangan.Seluruh rumah utama tampak gelap gulita dari luar. Joni mendorong pintu dapur yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang tengah, pandangannya langsung tertumbuk pada sesosok tubuh yang meringkuk di sudut sofa.Aya duduk di sana dengan kedua lutut terlipat rapat ke dada.Seluruh tubuh wanita matang itu gemetar hebat. Wajahnya yang pucat menatap kosong ke atas meja, tempat sebuah amplop cokelat berukuran besar teronggok dalam keadaan terbuka. Kedua tangannya meremas ujung bantal sofa begitu kuat."Tante..." panggil Joni pelan seraya melangkah mendekat.Mendengar suara itu, kepala Aya tersentak ke atas. Sorot matanya dipenuhi kecemasan yang teramat pekat."Joni..." bisik A
Pukul sepuluh malam, lampu utama di area kafe sudah dipadamkan.Hanya ada satu lampu yang masih menyala di balik meja bar, menerangi deretan cangkir yang baru saja selesai ditiriskan.Suasana kafe sunyi senyap. Doni sudah pulang lebih awal setengah jam lalu, menyisakan Joni dan Rina untuk menyelesaikan tugas penutupan sif.Joni sedang berdiri di depan wastafel dapur belakang, menyeka tangannya yang basah dengan serbet bersih.Di kepalanya, kalimat Mirna tadi siang masih terngiang samar.‘Cepat atau lambat... saat masalah besar melanda rumah itu, kamu bakal sadar kalau cuma Tante yang punya kekuatan buat nyelamatin kamu.’
Joni melepas celemek hitamnya, menyampirkannya ke gantungan loker karyawan di lorong belakang kafe.Begitu ia melangkah keluar menuju area parkir motor, derit pintu darurat berbunyi pelan. Rina muncul dari balik pintu, bersandar di kusen seraya menyilangkan kedua tangan di bawah dada.Senyum jahil terbit di wajah manis gadis itu, mengamati Joni yang sedang memasukkan kantong kertas tebal dan amplop cokelat ke dalam ransel kecilnya."Laris manis banget ya kamu hari ini, Mas Barista," celetuk Rina santai seraya melangkah mendekat.Joni meliriknya sekilas seraya mengancingkan jaketnya. "Cuma disuruh Bu Ratna antar titipan barang, Rin.""Halah, titipan ap
Aroma biji kopi sangrai dan desis uap panas dari mesin espresso menyambut langkah Joni saat mendorong pintu kafe pagi itu.Mengenakan celemek hitam berlogo kafe yang diikat rapi di pinggang, Joni langsung menuju area bar depan untuk menyiapkan peralatan sif pagi.Suasana kafe masih relatif lengang, hanya ada satu-dua pelanggan yang sibuk dengan laptop di meja sudut dekat jendela."Pagi, Mas Ganteng," sebuah bisikan renyah menyapa tepat di samping telinganya.Joni menoleh cepat. Rina sudah berdiri di sampingnya dengan celemek serupa, rambutnya dikuncir ekor kuda tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Gadis itu tersenyum manis dengan binar mata yang jauh lebih cerah dari biasanya. 
Napas Aya perlahan kembali teratur di atas tumpukan bantal sofa.Gaunnya kusut masai, tersampir seadanya menutupi dada yang masih menyisakan rona kemerahan bekas lumatan bibir Joni. Rambut panjangnya berantakan di sandaran sofa, namun binar matanya memancarkan kepuasan, seolah bara api cemburu yang tadi membakar dadanya telah padam sepenuhnya tersiram pelampiasan hasrat barusan.Joni bangkit dari sofa, memungut kaus tanpa lengan dan celana pendeknya dari lantai, lalu mengenakannya kembali."Mau ke mana, Jon?" tanya Aya pelan, suaranya serak seraya menatap punggung tegap pemuda itu."Mau keluar sebentar ke depan, Tante. Cari angin sekalian beli rokok di minimarket luar komplek," sahut Joni seraya meraba saku celananya, memastikan dompet dan kunci motornya terbawa.Aya mengangkat alisnya sedikit, menatap Joni dengan kening berkerut heran. "Loh, kamu ngerokok? Tante baru tahu.""Jarang, Tante. Sesekali aja kalau kepalanya lagi agak penuh," jawab Joni santai, menoleh dengan senyum tipis
Cecaran Aya tidak membuat Joni mundur barang satu senti pun. Pemuda itu mengulurkan kedua tangannya, menggenggam lembut pergelangan tangan Aya yang gemetar di bahunya, lalu menurunkannya perlahan. Sentuhan hangat dari telapak tangan Joni seolah mengalirkan ketenangan langsung ke saraf-saraf Aya yang sedang tegang."Tante, tarik napas dulu," bisik Joni rendah. "Nggak ada apa-apa lagi di belakang sana. Dia cuma ngomong soal kerjaan, pamer koneksi bisnisnya, terus nawarin gaji besar biar saya mau jadi asisten pribadinya. Itu doang.""Kamu nggak bohong kan, Jon?" suara Aya bergetar parau, bibirnya mengerucut menahan desakan emosi. "Dia nggak nyentuh kamu di tempat lain?""Nggak ada, Tante. Kan Tante sendiri yang lihat tadi," sahut Joni seraya menatap lurus ke dalam manik mata Aya. "Saya tolak tawarannya langsung di depan muka dia. Saya bilang saya masih nyaman kerja di kafe Bu Ratna."Melihat ketegasan di wajah pemuda itu, bahu Aya yang tegang perlahan melorot turun. Wanita itu menghela







