Masuk"Berani banget Tante turun ke sini," ujar Joni dengan nada rendah. "Nggak takut Om Rama tiba-tiba bangun, terus nyariin istrinya yang hilang dari kasur?"Pertanyaan itu membuat napas Aya tercekat. Ketakutan itu nyata, tetapi dorongan di dalam dirinya jauh lebih beringas. Seharian ini ia merasa sesak berada di dekat suaminya sendiri. Setiap kali Rama mendekat, tubuhnya meremang, mual, sangat kontras dengan kerinduan liar yang terus mendidih menuntut sentuhan pemuda di hadapannya ini.Tanpa membalas sindiran itu, Aya melangkah mendekat. Ia menanggalkan rasa gengsinya, merangkak naik ke atas kasur Joni, lalu menumpukan kedua tangannya di dada bidang pemuda itu."Tante nggak bisa, Joni..." bisik Aya dengan nada bergetar dan putus asa. Tatapannya menatap lapar ke arah bibir Joni. "Di atas rasanya kayak di penjara. Tante cuma mau kamu... tolong..."Joni tidak langsung menyambut rengkuhan itu. Tangan kekarnya terangkat, mencengkeram rahang tirus Aya, memaksa wanita itu menatap tepat ke man
Joni melangkah masuk tanpa suara ke dalam kamar utama.Pintu yang setengah terbuka tidak ia tutup rapat, sengaja membiarkan celah kecil agar tidak mengundang curiga dari bawah.Begitu Joni berdiri tepat di hadapannya, pertahanan Aya runtuh total. Ia menatap Joni dengan mata basah yang sarat akan rasa putus asa.Tanpa sepatah kata pun, Joni menarik tubuh ramping Aya ke dalam dekapannya.Tangan kekar Joni melingkar erat di punggung wanita itu, menempelkan dada bidangnya yang hangat ke tubuh Aya yang dingin dan kaku.Aya tersentak panik, kedua tangannya sempat mendorong dada Joni pelan seraya melirik ke arah pintu yang terbuka.
“Apa kamu bilang?!” Napas Rama memburu kasar di ruang tamu.Penolakan terang-terangan dari mulut Aya barusan terasa bagai tamparan keras bagi harga diri dan egonya sebagai kepala keluarga. Pria itu menatap istrinya dengan rahang mengeras, lalu melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Aya dengan kasar."Ikut aku ke atas," desis Rama dingin tanpa memberi ruang bantahan."Mas! Lepas, sakit!" rintih Aya berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Rama terlalu kuat.Rama menyeret Aya menaiki anak tangga menuju kamar utama. Pintu kamar dibanting menutup dengan bunyi berdebum keras. Rama mulai melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya dengan gerakan tergesa-gesa. Matanya menatap Aya dengan lapar bercampur amarah, sebuah tuntutan primitif seorang pria yang ingin menegaskan kepemilikan mutlak atas istrinya setelah lelah berhari-hari di luar kota."Mas mau ngapain?!" tanya Aya panik, mundur beberapa langkah hingga kakinya menabrak tepi ranjang."Ngapain?" Rama mendengus si
Pagi harinya, Joni membuka matanya lebih dulu. Fisiknya terasa segar bugar, berbeda dengan Aya yang masih tidur mendengkur halus di sampingnya dengan tubuh terbungkus selimut sebatas dada.Joni menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Pandangannya langsung terpaku pada leher jenjang Aya yang tersingkap bebas. Di dekat tulang selangka wanita itu, bercak merah keunguan tercetak jelas, tanda kepemilikan yang ia tinggalkan semalam.Joni tersenyum tipis. Tangannya terulur, mengusap tanda merah itu dengan ibu jarinya yang kasar.“Mm..?” Sentuhan itu membuat Aya melenguh pelan. Kelopak matanya terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Joni yang tengah menatapnya lekat-lekat dari jarak begitu dekat."Pagi, Tante," sapa Joni rendah. Suaranya serak khas bangun tidur.Sebelum Aya sempat mengumpulkan kesadarannya, Joni mencondongkan tubuh, mendaratkan ciuman lembut di bibir merekah wanita itu, lalu beralih turun mengecup tanda merah di lehernya.Tubuh Aya meremang seketik
Tanpa membuang waktu, Joni mencengkeram kedua sisi pinggang ramping Aya, lalu dengan satu tarikan bertenaga, ia mengangkat tubuh wanita itu kembali ke atas kasur empuk. Tubuh Aya mendarat di atas seprai, rambutnya terurai berantakan membingkai wajahnya yang merah padam.Joni merangsek naik ke atas ranjang. Tubuh kekarnya yang menjulang menaungi Aya sepenuhnya, mengurung wanita itu di antara kedua lengannya yang kokoh."Joni... masukin sekarang..." rintih Aya parau seraya merengkuh bahu berotot pemuda itu. Suaranya terdengar begitu memelas, lenyap sudah wibawa sang nyonya rumah yang biasa memberi perintah. "Tante mau kamu... cepat, Joni… please…"Namun, lagi-lagi, Joni tidak langsung menurut. Ia sengaja menahan pinggulnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aya yang bergetar. Sudut bibir Joni terangkat tipis, menikmati setiap detik permohonan yang terlontar dari bibir wanita dewasa di bawahnya."Siapa yang pegang kendali malam ini, Tante, hmm?" tanya Joni dengan nada rendah dan menunt
Lilitan handuk putih di pinggang Joni terlepas, jatuh tanpa suara ke atas lantai. Udara dingin dari pendingin ruangan seketika menyapu kulitnya, tetapi hawa panas yang membakar di dalam kamar itu jauh lebih dominan.Aya masih bersandar lemas di atas kasur dengan dada yang kembang kempis. Matanya yang sayu terpaku pada kejantanan Joni yang kini tersingkap bebas tanpa sehelai benang pun. Napas wanita itu tercekat. Ada getaran lapar yang kembali menyengat dadanya, mengikis habis sisa-sisa tenaga pasca pelepasan barusan.Aya mengulurkan tangannya, hendak menarik Joni agar segera naik ke atas ranjang dan menyatukan tubuh mereka.Namun, Joni menahan pergelangan tangan lentik itu. Cengkeramannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk menegaskan siapa yang memegang kendali di ruangan ini.“Tunggu, Tante.”Aya mendongak menatapnya. “Kenapa, Jon? Kamu nggak mau langsung aja? Udah tegang begitu loh,” katanya dengan nada tidak sabar. “Sini Tante bantu.”Joni menggeleng. "Bukan pakai tangan kayak






