로그인Joni melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua area kantor kedai kopi. Di setiap pijakannya, otaknya terus berputar cepat. Mangkir kerja selama beberapa hari tanpa kabar jelas bukan tindakan profesional. Sekalipun ia selalu diandalkan di bar, Bu Ratna adalah tipe pemilik usaha yang tegas jika menyangkut disiplin karyawan.Pikirannya sempat menimbang kemungkinan terburuk: teguran keras, pemotongan gaji, atau yang paling parah, surat pemecatan.Joni mengetuk pintu di ujung lorong dua kali."Masuk," suara Bu Ratna terdengar dari dalam.Joni memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Bu Ratna berukuran sedang, beraroma pengharum ruangan lavender yang menyengat, tertata rapi dengan deretan map berkas dan tanaman hias di sudut jendela. Wanita paruh baya berpenampilan elegan itu sedang duduk di balik meja kerjanya, menatap laptop sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Joni.Joni memasang sikap tubuh tegak namun tetap sopan. "Bu Ratna. Mas Doni bilang Ibu memanggil s
Aroma biji kopi menyapa indra penciuman Joni begitu ia melangkah melewati pintu belakang kedai. Kebisingan khas jam makan siang di kafe, mulai dari suara denting cangkir, gelak tawa pelanggan, dan alunan musik pop ber volume sedang… terasa seperti embun segar yang menyiram kepalanya.Setelah ketegangan berhari-hari, kedai ini adalah zona aman bagi Joni. Di sini, ia tidak perlu memutar otak mencari siapa dalang di balik peneror atau menyusun strategi untuk membongkar borok yang disembunyikan Rama. Di sini, ia hanya Joni, barista yang terampil dan tenang."Akhirnya nongol juga lo, Jon!" tegur Doni seraya mengelap meja bar dengan kain kanebo. "Gue kira lo udah resign tanpa pamit."Joni tertawa pendek, menyampirkan apron hitamnya ke leher dan mengikat talinya di belakang pinggang. "Ngawur. Urusan keluarga kemarin agak menyita waktu, Mas. Maaf ya.""Halah, sok sibuk lo," kekeh Doni. Ia lalu menepuk bahu Joni pelan seraya berbisik dengan mata melirik ke arah ruang istirahat karyawan. "Tuh
Aya melangkah mendekati meja nakas di sisi kanan tempat tidur. Dengan gerakan tenang, ia membuka laci paling atas, lalu menggeser beberapa tumpukan dokumen pribadi hingga menemukan sebuah kotak kayu kecil tempat Rama menyimpan salah satu koleksi jam tangan mewahnya.Di bawah bantalan beludru di dalam kotak itu, terselip sebuah kunci.Aya mengambil kunci tersebut, berbalik, lalu menyerahkannya pada Joni yang berdiri di samping tempat tidur."Ini kuncinya, Jon," kata Aya.Joni menerima kunci itu. Logamnya terasa dingin di telapak tangannya."Yuk," ajak Joni.Mereka berdua keluar dari kamar, menyusuri
SUV putih itu memasuki garasi rumah utama yang luas.Joni mematikan mesin. Di kursi penumpang, Aya mengusap lengannya sendiri. Postur tubuh wanita itu seketika berubah. Bahunya yang rileks selama di vila kini kembali tegang."Udah sampai," ujar Joni, memecah keheningan.Aya menghela napas pelan. "Iya. Rasanya aneh banget, Jon. Baru semalam kita bisa lepas dan ketawa-ketawa... sekarang balik ke sini, Tante ngerasa kayak rumah ini lagi ngawasin kita."Joni menatap Aya. Ia paham betul perasaan itu. Si peneror memang sedang tidak bergerak, tapi bukan berarti ancaman itu menguap."Kita main aman, Tante," kata Joni dengan tenang. "Tante langsung masuk
Air di dalam bathtub mulai mendingin, menyisakan buih sabun yang perlahan menipis.Aya bangkit lebih dulu, melangkah keluar dari bak mandi itu dengan tubuh yang masih basah kuyup.Tetesan air mengalir turun melintasi bahu dan lekuk pinggangnya, membasahi keset tebal di lantai.Wanita itu melangkah mendekati cermin besar di atas wastafel yang permukaannya tertutup embun tebal.Dengan punggung tangannya, Aya mengusap kaca tersebut, memperlihatkan pantulan wajahnya yang masih memerah dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.Di belakangnya, Joni ikut melangkah
Sinar matahari pagi menerobos lewat celah tirai kamar. Udara dingin masih terasa menusuk kulit, tapi di atas ranjang berseprai putih yang kusut itu, kehangatan sama sekali belum surut.Aya terbangun lebih dulu. Ia berbaring miring dengan kepala bertumpu di lengan tegap Joni. Matanya menatap wajah pemuda di sampingnya yang masih memejamkan mata. Jemari lentiknya bergerak, mengusap rahang Joni yang mulai ditumbuhi samar bulu halus.Begitu merasakan sentuhan di wajahnya, kelopak mata Joni terbuka perlahan. Sorot mata hitamnya langsung mengunci pandangan Aya."Pagi, Tante," suara Joni terdengar berat dan serak khas bangun tidur.Aya tersenyum tipis, merapatkan tubuh polosnya semakin melekat ke dada Joni. "Pagi. Udah lama nggak ngerasa sebebas ini pas bangun tidur.""Biasanya jam segini Tante udah sibuk nyiapin sarapan si Om," goda Joni seraya melingkarkan tangannya di pinggang mulus Aya, menariknya merapat."Jangan sebut nama dia, ah. Ngerusak suasana aja," sahut Aya cepat seraya mencubit







