ログインAdrian menutup resleting celananya dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.Dia mendongak ke langit-langit, memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. "Rosella." Namanya keluar pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Beraninya kamu."Dia bangkit dari sofa dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, berjalan ke mejanya, dan duduk dengan ekspresi seseorang yang sedang menyusun rencana.Rosella berlari ke kantin dengan napas yang belum sepenuhnya normal.Dia menjatuhkan dirinya di kursi sebelah Ane, meletakkan tas dengan keras, lalu mengelus dadanya sendiri."Selamat."Ane menoleh. "Kamu kenapa, Rose?""Selamat." Rosella mengulang, masih mengelus dada."Selamat dari apa?" Tom ikut menoleh."Tuan Adrian."Suasana meja mereka menjadi hening. Hardan, Tom dan Lizzy saling lempar pandang dengan ekspresi yang tidak bisa disebut netral. Sejak malam karaoke, cara ketiga Toretto masuk ke ruang nomor tujuh itu seperti mereka punya hak, pertanyaan-pertanyaan kecil sudah menumpuk di kepala masin
Di dalam kantornya, Robin duduk menatap dinding.‘Wanitaku’Kata itu masih terngiang di otaknya. Di London, nama Toretto adalah hukum. Semua orang tahu itu, bahkan orang yang baru seminggu di kota ini pun sudah bisa merasakannya dari cara dosen senior tadi membubarkan kerumunan begitu melihat Adrian.Robin mengepalkan tangannya di atas meja.Di Liverpool lain ceritanya. Di Liverpool, Anderson yang berkuasa, dan tidak ada satupun orang yang berani bicara seperti itu ke wajahnya.Tapi dia tidak di Liverpool sekarang. Dia di sini dengan nama Robin Parker, ayah penjaga taman bermain, ibu seorang ibu rumah tangga, tidak punya kuasa apa-apa."Sial."Dia berdiri, berjalan ke jendela.Tapi dia tidak akan mundur. Rosella adalah wanita pertama yang membuat dadanya bergetar, wanita yang membuat rasa hangatnya mencuat.Setiap melihat gadis itu, kutub es di dalam dirinya seolah mencair.Apakah yang sebenarnya terjadi? Ini cinta atau perasaan kakak yang rindu akan adiknya? Dia harus bisa bicara d
Siang itu setelah jam kedua selesai, Rosella akan ke kantin, dia sudah membayangkan makan mie pedas kesukaannya. Tapi baru saja ingin melangkah keluar kelas, ada suara yang menghentikan langkahnya. "Rosella, sebentar."Robin berdiri dengan buku di tangan, rambutnya sedikit berantakan. Rosella berhenti lalu menghadap Robin. "Ada apa, Pak?" Tanyanya. "Ikut aku ke kantor.” Jawabnya.Tanpa sadar tangan Rosella memegang perutnya sendiri, mie pedas hilang sudah digantikan dengan larangan-larangan Tuan Muda. "Ada beberapa poin dari materi tadi yang ingin aku bahas lebih dalam, sepertinya kamu bisa mengikuti kalau dijelaskan lebih jauh." Jelas Robin. Rosella masih tidak bergerak.Dibenaknya, suara Leon yang sangat datar dari malam sebelumnya masih terdengar jelas. ‘Jawab seperlunya’. Dan di sebelah suara itu ada wajah Adrian yang bahkan sudah mengirim orang untuk menggali informasi tentang pria yang berdiri di depannya sekarang."Pak, apakah tidak bisa dibahas di kelas saja?""Tidak se
Orang Adrian mengirim data Robin ke ponsel Adrian sore itu. Adrian yang sudah menunggu segera membuka data itu. Nama lengkap, Robin Parker. Berasal dari keluarga sederhana di Manchester, ayah penjaga taman bermain, ibu seorang ibu rumah tangga.Datang ke London sekitar seminggu hingga dua minggu lalu, langsung melamar sebagai dosen dan diterima.Adrian membaca data itu dua kali kemudian meletakkan ponselnya di meja.Robin Parker dari Manchester.Tapi wajah pria itu, dan nama Robin, masih menggantung di benaknya seperti sesuatu yang hampir diingat tapi terus tergelincir sebelum bisa digenggam.Keluarga sederhana dari Manchester, tidak ada kaitan dengan Anderson Group, tapi wajahnya? Adrian menggeleng memilih mengabaikannya karena yang penting sekarang adalah bagaimana cara agar Rosella tidak dekat-dekat dengan pria itu. Malam itu Adrian menemukan Rosella di perpustakaannya, gadis itu duduk dengan buku terbuka dan pensil di tangan.Dengan pelan Adrian menutup pintu di belakangnya."
Kelas selesai lebih cepat dari jadwal, Robin menutup materinya dengan tenang, mempersilakan mahasiswanya keluar, tapi matanya mengikuti satu orang yang packing paling lambat di barisan tengah.Rosella memasukkan bukunya ke dalam tas tanpa terburu-buru.Ane sudah berdiri di pintu, melambaikan tangan. "Aku tunggu di kantin ya."Rosella mengangguk.Ketika dia keluar ke lorong, langkah kaki di belakangnya terdengar dan berhenti tepat di sisinya."Rosella."Robin berdiri dengan berkas di tangannya, senyumnya tipis dan tidak dibuat-buat."Penjelasan kamu sangat bagus, mudah dimengerti juga." Katanya.Rosella mengangguk. "Terima kasih, Pak.""Apa kamu mahasiswa beasiswa?” Tanya Robin "Iya Pak." Rosella menjawab singkat, sedikit memiringkan tubuhnya ke arah yang berlawanan tanpa dia sadari.Robin memperhatikan itu tapi tidak berkomentar."Kamu asli London?" Rosella menatapnya sebentar. Pertanyaan yang terlalu personal untuk percakapan pertama dengan dosen baru. Tapi tidak ada nada yang sala
Leon menatapnya beberapa detik tanpa berkata apa-apa.Lalu dia mengambil berkas tipis dari meja, membukanya, dan berkata dengan sangat tenang, "Tidak perlu minta maaf untuk hal yang benar Rosella, aku tahu kamu cemburu.” Rosella mendongak, menatap Leon dengan kesal. “Tidak, hanya kesal saja.” Cicitnya melemas. Leon sudah menatap berkasnya, Adrian masih menyimpan senyumnya sedangkan Lucas meletakkan gelasnya, bangkit, dan duduk lebih dekat ke Rosella dari posisi sebelumnya."Tidurlah kamu terlihat lelah dari pagi." Bisiknya "Saya lelah karena siapa.” Sahut Rosella geram. Lucas menatapnya dengan cara yang sangat tenang tapi tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya terhadap Rosella. Pria itu memeluk Rosella membuat Adrian dan Leon kini ikut kesal. “Lucas apa yang kamu lakukan!” Teriak Leon. "Memeluk wanitaku.” Lucas semakin mengeratkan pelukannya. “Lalu kami ini kamu anggap apa?” Adrian tak terima. Sebelum mereka berebut lebih jauh, Rosella pamit untuk tidur terlebih dahulu. “Say
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is
Rosella mematung mendengar ucapan terima kasih dari Leon.Seorang Leon berterima kasih padanya?Pria yang selama ini hanya menatapnya dengan dingin, sekarang mengucapkan terima kasih dengan nada yang berbeda? Ditambah sebuah kecupan hangat? Rosella tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih lema
Lucas tersenyum miring, mencoba mengabaikan pikirannya, lalu dia menggenggam tangan Rosella lebih erat. Suasana hening menyelimuti mereka hingga dia melihat Rosella yang kurang tak nyaman dengan pakaian yang dikenakan. “Kamu kenapa Rosella?” Tanyanya. “Tidak ada-apa Tuan.” jawab Rosella kikuk.







