LOGINLyria Valetta harus melepaskan tunangannya untuk saudari sepupunya, tidak hanya sampai di sana, ia juga dipaksa untuk menjadi istri kedua seorang pria tua mesum. Lyria tidak ingin menerima begitu saja paksaan dari keluarganya yang tidak pernah mencintainya sejak kecil. Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah club malam dan melakukan cinta satu malam dengan seorang pria yang ia kira adalah pria sewaan. "Penampilanmu terlihat baik, temani aku satu malam, sebutkan berapa hargamu?" "Mari bicarakan harga setelah Anda menerima pelayanan dari saya." Namun, kejadian malam itu telah mengubah hidupnya. Dia menjadi terikat dengan Axelsev Leander yang memiliki identitas luar biasa.
View MoreThe lace of my wedding veil felt less like silk and more like a shroud. It scratched against my cheek, heavy and suffocating, mirroring the weight pressing down on my chest. I stood before the altar of St. Jude’s Cathedral, my hands clasped so tightly that my knuckles turned white. The air smelled of stale incense and the expensive, cloying cologne of the man waiting for me at the end of the aisle.
Count Valerius.
He was seventy years old, with breath that smelled of rotting teeth and eyes that roamed over my body like a butcher inspecting a cut of meat. My father had sold me to him for fifty thousand gold coins—enough to clear his gambling debts and buy himself another year of miserable freedom. I wasn’t a bride. I was currency.
"Smile, Elara," my father hissed from beside me, his grip on my arm bruising. "Don’t look so miserable. You should be grateful. A Countess? It’s more than you deserve."
I didn’t answer. I couldn’t. If I opened my mouth, I would scream. So I stared at the stained-glass window above, watching the dust motes dance in the light, trying to detach my soul from my body. Just get it over with, I told myself. Say the vows, become his property, and die inside.
The organ music swelled, a mournful dirge that matched my heartbeat. The heavy oak doors at the back of the cathedral creaked open. But it wasn’t the groom walking down the aisle.
The sound that followed wasn’t music. It was the sharp, metallic click of a rifle being cocked. Then another. And another. A hush fell over the congregation, thick and sudden. Boots echoed against the marble floor. Heavy, rhythmic, terrifying.
I turned my head, my heart skipping a beat. Standing in the doorway, framed by the blinding afternoon sun, was a figure clad in black military attire. A long coat brushed against his calves, and a sword hung at his hip, its hilt gleaming with cold malice.
Kaelen von Hohenheim. The Duke of Iron. The Empire’s Butcher. My stepbrother.
He didn’t look like a man attending a wedding. He looked like death incarnate. His dark hair was swept back, revealing a face carved from granite—sharp jawline, high cheekbones, and eyes so black they seemed to swallow the light around them.
My father gasped, stepping forward. "Duke Kaelen? What is the meaning of this intrusion?"
Kaelen didn’t speak. He didn’t even look at my father. His gaze locked onto me. It was a physical blow. That stare stripped me bare, ignoring the layers of lace and satin, seeing straight into the trembling core of my soul. It was possessive. Predatory. Hungry.
"Step aside," Kaelen said. His voice was low, a velvet rumble that vibrated through the floorboards and straight into my bones.
"This is a private ceremony!" Count Valerius squeaked, though he took a shaky step back. "You have no right—"
Kaelen moved. It happened so fast I barely registered it. One moment he was at the door; the next, he was halfway down the aisle. He drew his sword in a single, fluid motion. The steel sang as it cut through the air.
Slash.
Count Valerius’s head tilted at an unnatural angle. A fountain of crimson erupted from his neck, spraying across the front row of pews. Screams shattered the silence. Chaos erupted. Guests scrambled for the exits, tripping over their own robes in a panic.
I stood frozen, my brain unable to process the horror. Warm droplets landed on my cheek. I touched them, staring at the red stain on my gloved finger. Blood.
Kaelen stepped over the Count’s twitching body as if it were nothing more than a discarded rug. He walked up the steps to the altar, his boots leaving bloody prints on the white carpet. My father tried to run, but Kaelen’s lieutenant blocked his path with a pistol.
Now, it was just me and him.
Kaelen stopped inches from me. He was tall, looming over me like a storm cloud. The scent of iron and gunpowder mixed with his signature sandalwood fragrance, creating a dizzying cocktail of danger. He reached out, his leather-gloved hand catching my chin. His touch was cold, but his eyes burned with a feverish intensity.
"Elara," he said, my name rolling off his tongue like a prayer and a curse all at once.
"Why..." My voice cracked, barely a whisper. "Why did you do this?"
He leaned in, his lips brushing against my ear. I could feel the heat radiating from his body, contrasting sharply with the chill of his glove. "Because you are mine," he whispered, his voice rough with a dark emotion I couldn’t name. "And I do not share what belongs to me."
Before I could protest, he scooped me up into his arms. My veil tore, fluttering to the ground like a dead butterfly. As he carried me out of the church, past the bodies and the screams, I realized with dawning horror that I hadn’t been saved. I had just been claimed.
Ada banyak hal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini.Lyria telah menerima kabar bahwa Mallory telah tiada, wanita tua itu meninggal karena penyakit yang dideritanya. Sementara itu Kaitlyn di kirim ke rumah sakit jiwa karena mengalami gangguan jiwa.Samuel dan Eugene masih berada di penjara, tapi saat ini kondisi kesehatan Eugene juga tidak baik.Di dalam penjara kedua orang itu menerima kabar mengenai Lyria yang merupakan pewaris dari keluarga Stanley. Mereka berdua memikirkan untuk membalas dendam pada Lyria sebelumnya, tapi setelah mereka tahu siapa Lyria dan siapa suami Lyria, mereka harus mengubur dalam-dalam keinginan mereka untuk membalas dendam. Lyria bukan seseorang yang bisa mereka sentuh dengan mudah. Selain itu mereka pasti akan mati dengan menderita jika mereka sampai tertangkap ingin mencelakai Lyria.Sedangkan Amanda, wanita itu dihukum penjara seumur hidup. Seperti yang telah diatur oleh Axelsev, Amanda mendapatkan perundungan dari teman-teman satu sel nya. H
Wanita Paling Beruntung (End)Suara tangis bayi memenuhi ruangan bersalin itu. Bayi kembar Lyria yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki telah dilahirkan dengan selamat.Lyria kehabisan tenaga karena proses melahirkan yang panjang. Wanita itu tampak sangat pucat dengan keringat yang membasahi keningnya.Senyum di wajahnya mengembang ketika dia memeluk dua anaknya, air matanya menetes begitu saja. Dia telah berpikir terlalu banyak dalam beberapa hari terakhir ini.Bagaimana jika dia tidak bisa melahirkan anak-anaknya dengan selamat, bagaimana jika hal buruk terjadi. Namun, semua pikiran buruk itu tidak menghentikannya untuk berjuang. Dia telah merasakan sakit yang sangat luar biasa, tapi semua rasa sakit itu terbayarkan ketika dia mendengar suara tangis putra dan putrinya.Sekarang dia sudah benar-benar menjadi seorang ibu. Dia masih tidak menyangka bahwa malaikat kecil yang hanya dia lihat di layar ketika melakukan pemeriksaan kini sudah ada di dalam dekapannya.“Sayang, mereka
Hari-hari berlalu, Lyria saat ini telah keluar dari penjara dan memutuskan untuk langsung mengunjungi Amanda. Wanita itu akhirnya memiliki hari di mana dia akan bertemu dengan Amanda.Lyria keluar dari mobil bersama dengan Axelsev. Dia melihat sebuah rumah dua tingkat yang bergaya kuno. Rumah ini pasti telah berdiri sangat lama.“Ini adalah merupakan kediaman lama Sylvien yang telah dibeli olehku.” Axelsev memberitahu Lyria. “Ayo masuk.”“Ya, Sayang.”Axelsev harus menemani Lyria. Istrinya baru keluar dari rumah sakit, dan saat ini sedang mengandung jadi dia harus lebih berhati-hati karena kondisi Lyria tidak terduga.Kediaman itu memiliki ruangan bawah tanah, dan di sanalah Amanda dikurung.“Sayang, biarkan aku bicara berdua saja dengan Amanda,” seru Lyria.Axelsev sudah melihat Amanda sebelumnya, wanita itu diikat di kursii, jadi wanita itu tidak akan bisa menyakiti Lyria. “Baiklah, jangan terlalu lama. Berbicara dengan wanita sakit jiwa seperti Amanda tidak akan baik untuk kesehata
“Kakek, aku baik-baik saja. Tenanglah.” Lyria berkata dengan pelan. Dia menatap kakeknya yang datang dengan wajah cemas dan tubuh gemetaran.Malvis tidak bisa menahan air matanya. Pria tua itu benar-benar menangis karena takut dia akan kehilangan Lyria. Saat ini putrinya dalam keadaan vegetatif, jika Lyria meninggalkannya maka dia benar-benar tidak akan memiliki keluarga lagi. Dia mungkin akan mati karena kesepian dan putus asa.Lyria terus membujuk kakeknya untuk menjadi lebih tenang. Dia takut jika kakeknya terus seperti ini itu akan membuat kesehatannya terganggu.Dia tidak bisa menyalahkan kepala pengawas di tempat proyek karena memberitahu kakeknya tentang kejadian yang menimpanya.“Kakek, berhentilah bersedih. Aku sungguh baik-baik saja.” Lyria menggenggam tangan kakeknya. “Jika Kakek sedih seperti ini aku juga akan sedih. Tidak, bukan hanya aku cicit kakek juga akan sedih.”Ekspresi di wajah Malvis sedikit berubah. Lyria kemudian mengatakannya dengan lebih jelas. “Kakek, saat i
Perasaan Lyria tidak bisa dijelaskan saat ini. Dia benar-benar telah mendapatkan akta nikah dengan Axelsev Leander, penerus dari Leander Grup yang digilai oleh banyak wanita. Lyria pasti akan dikutuk oleh ribuan wanita jika sampai mereka tahu bahwa ia kini sudah mendapatkan sertifikat pernikahan de
Lyria tercengang. Apakah dia salah dengar barusan? Tidak, ini pasti tidak nyata.“Pak, apa yang Anda katakan tadi?”“Menikahlah denganku.”“Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tapi saya tidak bisa menikah dengan Anda.”“Jadi, apakah kau lebih suka menikah dengan pria seperti R
Pagi-pagi sekali Lyria meninggalkan kediaman neneknya. Ia harus menjaga suasana hatinya untuk tetap tenang, dan satu-satunya jalan adalah menghindari pertemuan dengan seluruh anggota keluarga di kediaman neneknya.Nenek serta bibinya pasti tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah jika mereka tah
“Kau benar-benar pembawa sial!” Mallory mengutuk Lyria. “Semua orang yang terlibat denganmu pasti akan mendapatkan bernasib buruk!”Lyria telah mendengar neneknya mengutuknya seperti ini beberapa kali. Dia pikir dia kebal, tapi rasanya masih tetap menyakitkan.“Ayahmu tewas, Ibumu terbaring seperti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore