로그인Impian Arin untuk memiliki Ayah yang bisa membuat dirinya nyaman hanyalah isapan jempol belaka karena kenyataannya Ayah Arin tidak memiliki sikap yang membuat Arin bisa nyaman dengan sikapnya. Ayah Arin sangatlah egois, semua hal yang terjadi pada keluarganya harus dia yang memutuskannya, bahkan dia tak pernah sekalipun mengalah kepada anaknya. Hal itu berlaku juga untuk masalah pasangan untuk anaknya, bahkan kedua Kakak perempuan Arin pun sudah menjadi korban perjodohan oleh Ayahnya. Mereka berdua hanya bisa menuruti perintah dari Ayahnya. Akan tetapi, itu semua tidak berlaku bagi Arin. Arin yang sudah memiliki kekasih malah menentang keputusan ayahnya. Mengingat sifat Ayah Arin yang Egois, bisakah Arin mendapatkan lelaki pilihannya sendiri ataukah dia terpaksa menuruti perintah dari Ayahnya dan menjadi korban perjodohan.
더 보기Ariellas Pov
(Warning this book can be read as a stand alone but has a book before it called The Goddess of wisdom and creation.) "Ariella are you ready?" My father asked for the hundred time. I could only roll my eyes. Nomatter how many times I told him I would come down when I was ready he kept coming to my bathroom door. I mean I knew I was running late but I couldn't help that I wanted to look perfect for my first day at the most sought out school in all realms. Plus I couldn't help it that my curls were nearly impossible to tame. Just looking in the mirror was giving me anxiety. The light make up I had looked perfect but it was my hair I was struggling with. "Ariella school started 10 minutes ago." My father yelled from down stairs. He sounded annoyed and that was all I needed to snap out of the never ending brushing that I was doing. I couldn't mess this up. Even though my hair was a frizzy mess because off all the brushing, I had no choice but to put my brush down. For years I had tried to convince my father to let me go to school but I was forbidden. I couldn't mess this up. You see I'm not your average Goddess. I'm far from it. When I was born I was missing one thing, my powers. Turns out before my mother died while giving birth to me, she took every drop of my power trying to save herself. So not only am I powerless but I'm also motherless. It's kind of ironic that my father was the God of Good fortune and we ended up with so much bad fortune in one day. "Ariella." My father snapped me out of my thoughts with a bang on the door. "I'm coming." I rushed out. One last glance at myself in the mirror and I was running out my perfectly organized room. I woke up hours earlier to make sure my outfit was perfect and makeup was just right. How it took me every minute to get ready was beyond me. My hair seemed to have a mind of its own and nomatter how many times I straightened it, my curls still made an appearance. It was frustrating. "25 minutes late. Maybe you should just stay home instead of going to the academy. I don't need letters sent for your tardiness." My father threatened as I ran down the stairs taking two steps at a time. The unladylike cry that I made said it all. "It won't happen again." I rushed out. I couldn't stay home any longer. I needed friends and to see more than my back yard and the inside of our two story house. My father gave me a scrutinizing look before he was sighing and shaking his head. I couldn't help the little hop from foot to foot I made. I needed this. My excitement was so thick it was probably contagious. "Let's go than." He sighed as he grabbed my arm. One last look at our simple living room was all I got before I was heading out. This was it. My new start. Butterflies filled me as I realized that I wouldn't see my father for a long time. Unlike mortals we didn't get breaks to go home. 4 years of being at the academy and no going home. Unless we had dinners at the academy or ceremonies I wouldn't get to hug my father or laugh with him for a long time. Would I remember my very pink room and bright white bathroom? Or would I forget the way my father's eyes crinkled when he was happy even though he was a God and wasn't suppose to have any wrinkles. Would I remember the bright smile he gave me every time I remembered something he taught me? "Are you okay because we are here?" He whispered pulling me out of my second guessing thoughts. It would be fine. I wanted and needed this. I looked up to a huge white and golden building. "Its only one building?" I asked in astonishment instead of answering his question. How could I, I was far from okay. The pillers that were at the front entrance were huge. The building looked as big as a mortal football field. It was big but was it big enough? "It's magically infused. It's bigger in the inside. You'll love it." He stated as he dragged me forward towards the big double doors. It seemed like he had turned around and was more excited about this transition. His eyes twinkled as he looked at the building that looked more like a government building than a school. The excitement I felt earlier was replaced with fear and anticipation. I dragged my feet slowly as we walked up the the building steps that seemed to get bigger the more we ascended the steps. My father had to teleport us up half way up. Did they not account for Gods that didn't have powers? I mean yes I was one of the only Goddesses born without but there were also God's who lost their powers because of breaking laws. I heard the laws here were strict and the high king was brutal and unforgiving. Never in existence did dark rule until the high king took over everything the moment he killed his wife. He was ruthless and my father said he was not one to be crossed. If I seen him I was to go the other way. I definitely would be taking his warning to heart. "Ready." My dad broke me out my thoughts again. I definitely had to get use to paying more attention. The huge door opened before I could reach for the handle. My eyes went big as I looked through the doors. When my father said it was amazing he wasn't lying. Anticipation took over completely as I looked at the open courtyard with green grass that was a radiant dark green. The buildings that scattered all around were a whitish gray and made this school yard look older than it was. The high king had this created alittle after I was born. So it was no more than 18 years old.Perjalanan ini cukup melelahkan dan begitu leganya setelah benar-benar sampai di tempat tujuan, yaitu Rumah, meskipun rumah itu tidak menghangatkan bagiku.Berat rasanya tangan ini membuka pintu pagar, mungkin karena perasaan yang tidak nyaman kembali menyelimutiku.Ku paksakan untuk membuka pagar rumah kemudian ku langkahkan kakiku untuk memasuki halaman.Di depan pintu ku ketukkan jari-jariku di sana. Ku tunggu sampai ada seseorang yang membukakan pintu untukku."Arin."Tampak wajah yang sedang terkejut di depanku."Kak," balasku dengan biasa saja.“Masuk!” Mbak Dea langsung memintaku untuk masuk dan tangan-tangannya menggenggam dengan erat tanganku. “Arin, tidak perlu membalas amarah Ayah. Kasihani Ibu.” Mbak Dea berbisik kepadaku.Aku hanya diam, tidak mengiyakan dan juga tidak menolaknya.Di tuntunnya aku sampai ke ruang tengah.“Kok pulang?!”Suara yang benar-benar aku benci pun terdengar.Aku pun mengingat apa kata Mbak Dea. Aku diam dan tidak menyahuti pertanyaan yang keluar d
Di pagi hari yang cerah ini aku harus kembali melaukan perjalanan dari kota satu ke kota yang lainnya, tapi kota yang sekarang akan aku kunjungi adalah kota asalku, bukanlah kota pelarian.Seharusnya hati ini menjadi senang ketika hendak pulang ke kota asalnya, tapi tidak bagi hatiku. Hatiku sungguh tidak karuan, dimana aku merasa berat sekali meninggalkan kota pelarian, tapi di sisi lain aku harus kembali ke kota asal karena ada seseorang yang sedang menunggu kedatanganku.Aku pun mulai membawa tas ku untuk keluar dari tempat kosku dan tetap pada keputusanku semalam, yaitu pulang ke kota asal.Ku langkahkan kakiku dan ku buka pintu kosku, tampak lelaki yang ku sayang dan ku cinta sudah berada didepan kos ku.Ku hampiri Syarif dan setelah itu ku sapa dia. “Selamat pagi,” sapa ku kepada Syarif.Syarif tersenyum kepadaku dan mulai membalas sapaanku. “Selamat pagi, sayang. Ayo, aku antar kamu untuk ke terminal Bus.” Syarif langsung saja mengajakku pergi ke terminal Bus.Tanpa di suruh la
Setelah seharian bersama Syarif, aku pun sekarang mulai beristirahat di kamar kosku. Aku yang benar-benar lelah sekali mencoba untuk memejamkan mataku, tapi aku sungguh merasakan kesulitan karena pikiranku hanya tertuju pada keadaan Ibuku.Bayangan wajah ibuku terus saja menari di pikiranku, bahkan aku sangat-sangat merasa bersalah kepada Ibuku. “Oh Ibu, kenapa harus sakit?” Gumamku.Ku coba untuk melupakan sejenak masalah ini, tapi aku memang tak mampu. Aku sangat menyayangi Ibuku dan karena Ibulah alasanku untuk bertahan di rumah selama ini. Andaikan Ibuku tidak ada, mungkin aku lebih memilih hidup jauh dari Ayahku.Ku pikir terus apa yang enaknya akan aku lakukan. Pulang? Ataukah tetap bertahan pada keputusan?Ah, aku pun merasa menjadi anak durhaka, apabila harus mempertahankan keputusan dan tak perduli dengan keadaan Ibuku yang telah melahirkan dan juga merawatku sejak bayi.Akhirnya, aku pun mulai mengambil keputusan untuk pulang pada keesokan harinya.Aku harus melihat keadaan I
Aku masih saja duduk di tempatku semula dengan tidak ada semangat. Kebahagiaan yang tadi sempat menghampiriku kini sudah pergi entah kemana.Kabar bahwa Ibuku tercinta sedang jatuh sakit karena memikirkanku itu sanggup membawa pergi rasa bahagia yang aku kira tak akan sanggup meninggalkanku dalam waktu singkat. Ya, mungkin hidupku memang di takdirkan akrab dengan yang namanya kesedihan.Ku usap keringat yang mulai menetes di wajahku dan setelah itu aku mulai menarik nafas dalam-dalam.Ku coba memandangi sekeliling area permainan yang masih belum aku tinggalkan, tapi aku tak dapat lagi menemukan mana kebahagiaan dan keceriaanku tadi.“Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?” Tanya Syarif kepadaku, mungkin karena aku yang mendadak diam saja, jadi Syarif mengkhawatirkan keadaanku.Ku paksakan untuk tersenyum dan setelah itu gelengkan kepalaku. “Aku tidak apa-apa.”Syarif terus saja memandangiku dan sepertinya dia tidak percaya
Deringan ponselku yang begitu keras membuat jantungku semakin berdetak dengan cepat. Ku seka keringatku yang mulai menetes ke wajahku. “Aku harus bagaimana?” pikirku dari dalam hati. Aku benar–benar di buat bingung dengan panggilan yang masuk ke ponselku. Panggilan telepon dari
Aku dan Syarif sudah ada di warung untuk melakukan sarapan. Aku juga sudah diantar untuk membeli kartu perdana oleh Syarif, bahkan kartu perdana yang baru saja aku beli masih saja aku pegang dan belum aku simpan di dalam tasku.Kupermainkan kartu perdana yang masih ada di dalam bungkusnya
Aku bisa bernafas lega ketika aku sudah bisa merebahkan diri di atas tempat tidur. Akhirnya, berkat lelaki yang bernama Syarif itu, aku mendapatkan rumah kos yang nyaman untukku.Ya, lelaki tadi yang membawaku ke rumah kos ini bernama Syarif. Dia diam–diam telah mengamatiku dan mulai
Menahan air mata untuk tidak terjun bebas dari sudut-sudut mata itu sangatlah sulit sekali. Akan tetapi, aku terus berusaha untuk menahannya agar butiran air yang bening itu tidak akan meluncur jatuh.Ini mungkin hari yang bahagia untuk mantan kekasihku, Reyhan. Dia menikah dengan kekasihn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.