تسجيل الدخول"Apa yang kepala sekolah kamu ucapkan itu benar, Jennifer?" tanya Mikail dengan suara tertahan kepada putrinya. Saat ini, Jennifer sedang berada di ruang kepala sekolah setelah ia melakukan pembalasan pada Anna tadi. Tanpa ada rasa takut sedikit pun pada tatapan ayahnya, Jennifer mengangguk santai. "Ya. Aku memang melakukannya." Jawab Jennifer tanpa beban. "Saya benar-benar nggak terima anak saya diperlakukan seperti ini oleh putri kamu, Pak Mikail." Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Gina menatap tajam Mikail dan Jennifer secara bergantian. Mikail terdiam dengan tangan mengepal. Ingin sekali ia menegur Jennifer, akan tetapi ia tidak mungkin melakukannya saat ini. "Lihat, putri saya sampai seperti ini karena dipukuli oleh putri kamu! Inikah hasil didikan kamu? Pak Mikail, kamu benar-benar nggak becus mendidik anak. Saya nggak mau tahu, pembully seperti dia harus dikeluarkan dari sekolah. Kalau nggak, terpaksa saya harus membawa ini ke jalur hukum agar Gina men
"Dasar polos-polos bangsat!" hardik Sinta. "Berani banget kamu ngunciin sahabat aku!"Mata Anna berkobar panik, wajahnya memucat begitu mengetahui bahwa rekaman CCTV sudah menyebar ke seluruh sekolah. Berbeda dengan Anna, gadis yang berada di sebelahnya terlihat sudah pasrah.Gina sudah benar-benar pasrah menerima fakta bahwa kejahatan yang mereka lakukan pada Jennifer terbongkar hanya dalam waktu singkat."B-bukan aku yang lakuin, Kak!" teriak Anna yang langsung bersimpuh di bawah kaki Jennifer. "Aku terpaksa lakuin itu. Gina yang nyuruh aku. Dia bilang kalau aku nggak mau bantu dia menjebak Kak Jennifer, dia bakal ikut bully aku. Tolong maafin aku, Kak. Aku nggak mungkin lakuin itu secara sengaja."Jawaban Anna membuat semua orang ternganga tidak percaya, begitu pula dengan Gina yang langsung menoleh ke arah Anna dan menatapnya penuh kekecewaan."Gina selama ini selalu benci sama Kak Jennifer. Maka dari itu, dia membuat rencana itu untuk menjebak Kak Jennifer. Aku udah berusaha kera
"Aku nggak tahu, intinya itu bukan aku, Kak!" Jennifer tertawa sinis. "Kamu pikir ruang penyimpanan olahraga nggak ada CCTV seperti toilet, hah?"Mendengar itu, Anna langsung pucat."Kalau mau berbuat jahat, makanya pikir pakai otak. Mentang-mentang bego, kamu malah bertindak ceroboh. Dasar tolol!" sentak Jennifer dengan tatapan penuh penghinaan.Tangan Anna mengepal. Meski matanya berkaca-kaca, hatinya justru meradang karena tidak terima diperlakukan seperti ini.Sial! Sial! Kenapa dia bisa sebegitu cerobohnya sampai tidak memperhatikan CCTV saat mengunci gadis sialan ini?"Kak Jennifer salah paham. Itu... itu bukan aku," kilah Anna dengan air mata yang terus mengalir.Jennifer kembali menarik rambut Anna dan mencengkeram rahangnya."Bacot! Sudah seperti ini masih bisa mengelak juga! Aku punya rekamannya. Apa perlu aku sebarkan sekarang?"Anna mengerang ketika tubuhnya didorong hingga kehilangan keseimbangan."Anna!"Tatapan Jennifer berkilat dingin mendengar suara itu.Ia berbalik,
Keesokan paginya, Jennifer sudah siap dengan seragam sekolahnya. Raut wajahnya tampak sumringah saat keluar dari rumah bak neraka itu. Tidak ada Mikail ataupun Ratih yang duduk di meja makan seperti biasanya. Jennifer yakin ayahnya sedang menemani Ratih memeriksakan matanya yang bengkak akibat kejadian semalam."Ah, andai setiap hari kayak gini. Pasti hidup gue bakal sejahtera terus," ujarnya santai. "Saatnya memberi pelajaran buat orang-orang nggak tahu diri itu."Jennifer menyeringai samar. Ia memasuki mobil dan mengendarai mobil berwarna putih itu dengan kecepatan sedang menuju sekolah. Untuk pertama kalinya, ia kembali mengendarai benda roda empat tersebut setelah kecelakaan nahas itu.Meskipun sedikit kaku, akhirnya ia berhasil sampai di sekolah dengan selamat. Pagi ini, ia ingin memberikan hadiah kecil untuk adik tirinya.Gerbang sekolah sudah ditutup. Karena itu, Jennifer membunyikan klakson berkali-kali hingga menimbulkan suara bising.Seorang satpam sekolah bertubuh tambun ak
Jennifer baru saja menutup pintu ketika aroma rumah itu menyergap indra penciumannya, aroma yang selalu membuat dadanya terasa berat setiap kali menginjakan kaki di rumahnya sendiri.Beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti di ruang keluarga, ia melihat dua sosok telah menunggunya dan Jennifer yakin mereka menunggu bukan untuk menanyakan kondisinya melainkan memberikan omelan seperti biasa.Mikail duduk di sofa utama dengan postur tegak dan rahang mengeras. Di sampingnya berdiri sang istri, kedua lengannya terlipat di dada, dengan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah. Tatapan wanita itu menyapu Jennifer dari ujung rambut hingga ujung kaki, penuh penilaian dan rasa superior.Jennifer menarik napas dalam-dalam. Ia melepas sepatunya, lalu melangkah melewati ruang keluarga tanpa sedikit pun melirik mereka, seolah dua orang itu tidak ada."Jennifer."Suara Mikail terdengar dingin dan menekan.Jennifer tetap berjalan tanpa memberikan jawaban pada panggilan ayahnya."Jennifer, duduk.
Mata Samuel mengerjap. "Serius?" Dia tidak ingin kesenangan sendiri sebelum memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, namun jawaban Jennifer selanjutnya meruntuhkan imajinasinya. "Bercanda, elah. Serius amat kamu." Jennifer tertawa lebar dengan mata berbinar cerah. Hal itu membuat Samuel terdiam dengan napas tertahan, hingga akhirnya Samuel segera membuang muka. "Nggak usah kebanyakan ketawa, nanti gigi kamu rontok," gumamnya sedikit ketus. Samuel kemudian berbalik. Sebelum pergi dari ruangan itu, ia sempat melirik Karina. "Titip Jennifer." Setelahnya, Samuel benar-benar pergi. Keheningan terjadi selama beberapa saat setelah kepergian Samuel. "Karina," panggil Jennifer pelan. "Aku belum bilang ini sama kamu. Makasih banyak, ya." Jennifer tersenyum tipis ketika melihat binar terkejut di balik kacamata gadis itu. "I-iya, Kak," jawab Karina tergagap. "Aku juga mau mengucapkan makasih karena Kak Jennifer sudah mau meminjamkan soal olimpiade kepada aku." Jennifer mengangguk
Jennifer berharap wanita itu akan menatapnya dengan wajah kebingungan karena dia salah menyebutkan nama. Namun..."Iya, Non?"What the fuck!Jennifer memejamkan mata dengan bibir menipis, napasnya naik turun. Bagaimana bisa? Ini sangat tidak masuk akal dan sulit dipercaya. Apakah dia benar-benar ma
Celia memaksakan matanya yang terasa berat untuk terbuka. Perlahan dia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang mulai masuk di sela-sela matanya. Setelah pandangannya sedikit jernih, Celia malah merasakan sakit menyerang kepalanya, pusing seperti ditusuk ribuan jarum di dalam kepala
"Celia!" Teriak seorang gadis di koridor sekolah menengah atas. Gadis berambut sepinggang itu menepuk pundak sahabatnya begitu tiba di dekat gadis bernama Celia tersebut. "Kemana aja sih? Aku cari dari tadi malah ketemu di sini." "Toilet, emang ada apa?" Celia merangkul bahu Siska, sahabatnya. "
"Jenni," Sinta tak bisa menutupi raut terkejutnya.Di antara banyak hal yang Sinta inginkan, salah satunya adalah ingin mendengar kalimat seperti ini dari sahabatnya. Dia tahu betapa Jennifer sangat mencintai Rafka selama ini, sangat sulit membuat Jennifer berhenti dan menyadari bahwa Rafka tidak a







