تسجيل الدخولLangkahku terasa berat saat menuruni tangga besar yang berlapis karpet merah. Jantungku berdebar, bukan hanya karena tubuh Elira masih lemah, tapi juga karena firasatku. Ada sesuatu yang menunggu di bawah sana.
Seorang pelayan pria langsung menunduk hormat. “Nyonya, Tuan sedang menerima tamu di ruang utama.”
Aku mengangguk singkat. Tuan—tentu maksudnya Leonard.
Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju ruang tamu. Suara tawa pelan terdengar dari balik pintu setengah terbuka. Suara wanita.
Aku berhenti sejenak, merasakan hawa dingin merayap dari ujung kaki.
Perlahan aku mendorong pintu.
Dan di sana—di sofa panjang berlapis kain biru tua—duduklah seorang wanita muda yang mempesona. Rambut cokelatnya bergelombang indah, matanya berkilau penuh percaya diri. Senyumnya… lembut, tapi juga menusuk, seolah ia tahu betul siapa dirinya di hati lelaki yang duduk di sampingnya.
Leonard.
Pria itu, dengan jas abu-abu elegan, duduk begitu dekat dengannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang belum pernah kulihat sejak aku bangun di tubuh Elira. Senyum yang hanya ia berikan pada wanita itu.
“Aku tidak salah lihat, kan?” suara wanita itu terdengar jernih. “Elira… kau sudah membaik?”
Aku menahan napas. Jadi… ini dia. Lysandra.
Perempuan yang selalu ada di hati Leonard.
Aku melangkah masuk dengan berusaha tenang. “Ya. Aku… sudah jauh lebih baik.”
Matanya meneliti wajahku, seolah mencari celah. Senyumnya makin mengembang. “Syukurlah. Aku sempat khawatir, mendengar kau… terjatuh di danau.”
Nada suaranya halus, tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sesuatu di balik kalimat itu. Seperti tatapan seorang penonton yang sudah tahu akhir cerita, tapi pura-pura peduli.
Leonard bangkit berdiri. Tatapannya dingin, tapi ada bayangan cemas terselubung. “Kau seharusnya beristirahat, Elira. Apa yang kau lakukan turun ke sini?”
Aku menegakkan punggung. “Aku hanya ingin… melihat siapa tamu yang membuatmu tersenyum begitu hangat.”
Sejenak suasana membeku.
Lysandra terkekeh pelan, menutup mulut dengan jemarinya yang sempurna. “Oh, jangan salah paham, Elira. Aku dan Leonard sudah berteman sejak lama. Kami hanya… membicarakan hal-hal lama.”
Aku membalas dengan senyum tipis. “Ya, aku tahu.”
Aku tahu lebih dari sekadar teman.
Leonard menatapku tajam, seolah ingin menyuruhku diam. Tapi aku justru melangkah lebih dekat, duduk di sofa seberang mereka.
“Bagaimana kabarmu, Lysandra?” tanyaku, mencoba terdengar anggun seperti Elira biasanya.
“Baik sekali. Terima kasih sudah menanyakan,” jawabnya, lalu ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Leonard. “Dan aku berterima kasih pada Leonard… karena selalu memperhatikan aku. Bahkan di saat kau sakit, dia tetap menyempatkan diri menengokku.”
Aku bisa merasakan dadaku panas. Tapi aku menahan diri. Aku bukan Elira yang pasrah. Aku adalah Alea—dan aku tidak akan membiarkan wanita ini merendahkanku dengan cara halus seperti itu.
“Oh ya?” aku menatap Leonard dengan senyum yang sedikit menantang. “Kau memang pria yang penuh perhatian, ya, Leonard?”
Dia terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
Lysandra menepuk tangan Leonard dengan lembut. “Itulah yang selalu aku kagumi darimu.”
Aku meremas ujung gaun di pangkuanku, menahan gemuruh emosi.
Di detik itu aku sadar, inilah luka terbesar Elira. Duduk di ruangan yang sama, melihat suaminya tersenyum hangat kepada wanita lain, sementara dirinya hanyalah bayangan, istri sah yang tidak pernah dicintai.
Aku menghela napas panjang. “Mungkin aku harus kembali ke kamar. Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian.”
Lysandra tersenyum puas. “Oh, kau tidak mengganggu sama sekali.”
Leonard menatapku, matanya sulit terbaca. “Aku akan menyuruh Mira mengantarmu.”
Aku berdiri, tapi sebelum pergi, aku menatap Lysandra dengan senyum samar. “Senang melihatmu begitu sehat dan… bahagia, Lysandra. Semoga kau tetap seperti itu.”
Tatapan mata kami bertemu. Sesaat, aku melihat kilatan—seperti tantangan, atau mungkin… rahasia.
Aku berbalik dan melangkah pergi, tapi dalam hatiku aku bersumpah.
Aku kembali ke kamar dengan langkah cepat, hampir seperti melarikan diri. Begitu pintu tertutup, aku menjatuhkan diri ke ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan.
Dadaku terasa sesak.
Senyum hangat Leonard… bukan untukku. Tatapan penuh arti itu… hanya untuk Lysandra.
“Tidak…” gumamku lirih. “Aku tidak bisa seperti ini.”
Aku bukan Elira yang diam dan menerima segalanya. Aku adalah Alea. Aku punya mulut yang bisa bicara, otak yang bisa berpikir, dan hati yang tak mau diinjak-injak.
Aku duduk tegak, menarik napas dalam. “Kalau Leonard tidak mencintaiku… itu masalahnya. Tapi kalau ada orang yang berusaha membunuhku di danau… itu masalahku sekarang.”
Aku berdiri, berjalan ke depan cermin besar. Sosok wanita elegan dengan gaun putih sederhana menatap balik. Mata itu indah, tapi sayu. Senyum itu lembut, tapi rapuh.
“Elira…” aku menyentuh bayangan di cermin. “Kau mungkin terlalu lemah untuk melawan. Tapi aku… tidak. Aku akan menemukan siapa yang ingin menghancurkanmu. Dan aku akan membuat mereka menyesal.”
Ketukan pintu memutus lamunanku.
Tok… tok…
“Mira?” tanyaku.
Benar saja, pelayan setia itu masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat. “Saya membawakan minuman untuk Anda, Nyonya. Wajah Anda terlihat pucat.”
Aku mencoba tersenyum. “Terima kasih. Taruh saja di meja.”
Mira menuruti, lalu menatapku penuh cemas. “Apa Anda… bertemu dengan tamu Tuan?”
Aku mengangguk pelan. “Ya. Lysandra.”
Wajah Mira langsung berubah. Ada sesuatu di matanya—semacam rasa tidak suka yang ia sembunyikan.
“Kau mengenalnya?” tanyaku.
Mira ragu sebentar sebelum mengangguk. “Semua orang mengenalnya, Nyonya. Dia… wanita yang selalu berada di sisi Tuan. Bahkan sebelum pernikahan Anda terjadi.”
Aku sudah menduga. Tapi mendengar langsung seperti ini tetap saja menyakitkan.
“Mira,” aku menatapnya serius. “Katakan padaku dengan jujur. Apakah mungkin… Lysandra ada hubungannya dengan apa yang terjadi di danau itu?”
Mira menunduk, suaranya nyaris berbisik. “Saya tidak bisa menuduh tanpa bukti. Tapi… saya tahu satu hal, Nyonya. Malam sebelum kejadian, saya melihat Lysandra meninggalkan taman belakang. Wajahnya terlihat puas, seperti baru saja menang.”
Aku membeku. Dadaku kembali berdegup cepat. Jadi malam itu… Lysandra ada di dekat danau?
“Kenapa kau tidak bilang sebelumnya?” tanyaku tak percaya.
“Saya takut, Nyonya,” jawabnya jujur. “Lysandra terlalu berkuasa di rumah ini. Bahkan Tuan… lebih mendengar dirinya daripada Anda.”
Aku menggenggam tangannya. “Mulai sekarang, Mira. Jangan pernah sembunyikan apa pun dariku lagi. Kalau kau di pihakku, aku janji akan melindungimu.”
Mira mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Saya di pihak Anda, Nyonya. Sejak awal.”
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatiku. Ada satu hal yang jelas: aku tidak bisa hanya duduk diam. Aku harus bergerak.
Aku menatap ke luar jendela, ke arah taman luas dan bayangan danau di kejauhan. Tempat segalanya bermula.
“Kalau memang ada rahasia di sana…” aku berbisik pada diri sendiri, “aku akan menemukannya. Dan aku akan membongkar siapa pun yang bermain kotor.”
Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon
Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li







