Share

BAB.4

Author: Ara Azzahra
last update Last Updated: 2025-09-20 13:41:42

Langkahku terasa berat saat menuruni tangga besar yang berlapis karpet merah. Jantungku berdebar, bukan hanya karena tubuh Elira masih lemah, tapi juga karena firasatku. Ada sesuatu yang menunggu di bawah sana.

Seorang pelayan pria langsung menunduk hormat. “Nyonya, Tuan sedang menerima tamu di ruang utama.”

Aku mengangguk singkat. Tuan—tentu maksudnya Leonard.

Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju ruang tamu. Suara tawa pelan terdengar dari balik pintu setengah terbuka. Suara wanita.

Aku berhenti sejenak, merasakan hawa dingin merayap dari ujung kaki.

Perlahan aku mendorong pintu.

Dan di sana—di sofa panjang berlapis kain biru tua—duduklah seorang wanita muda yang mempesona. Rambut cokelatnya bergelombang indah, matanya berkilau penuh percaya diri. Senyumnya… lembut, tapi juga menusuk, seolah ia tahu betul siapa dirinya di hati lelaki yang duduk di sampingnya.

Leonard.

Pria itu, dengan jas abu-abu elegan, duduk begitu dekat dengannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang belum pernah kulihat sejak aku bangun di tubuh Elira. Senyum yang hanya ia berikan pada wanita itu.

“Aku tidak salah lihat, kan?” suara wanita itu terdengar jernih. “Elira… kau sudah membaik?”

Aku menahan napas. Jadi… ini dia. Lysandra.

Perempuan yang selalu ada di hati Leonard.

Aku melangkah masuk dengan berusaha tenang. “Ya. Aku… sudah jauh lebih baik.”

Matanya meneliti wajahku, seolah mencari celah. Senyumnya makin mengembang. “Syukurlah. Aku sempat khawatir, mendengar kau… terjatuh di danau.”

Nada suaranya halus, tapi entah kenapa aku bisa merasakan ada sesuatu di balik kalimat itu. Seperti tatapan seorang penonton yang sudah tahu akhir cerita, tapi pura-pura peduli.

Leonard bangkit berdiri. Tatapannya dingin, tapi ada bayangan cemas terselubung. “Kau seharusnya beristirahat, Elira. Apa yang kau lakukan turun ke sini?”

Aku menegakkan punggung. “Aku hanya ingin… melihat siapa tamu yang membuatmu tersenyum begitu hangat.”

Sejenak suasana membeku.

Lysandra terkekeh pelan, menutup mulut dengan jemarinya yang sempurna. “Oh, jangan salah paham, Elira. Aku dan Leonard sudah berteman sejak lama. Kami hanya… membicarakan hal-hal lama.”

Aku membalas dengan senyum tipis. “Ya, aku tahu.”

Aku tahu lebih dari sekadar teman.

Leonard menatapku tajam, seolah ingin menyuruhku diam. Tapi aku justru melangkah lebih dekat, duduk di sofa seberang mereka.

“Bagaimana kabarmu, Lysandra?” tanyaku, mencoba terdengar anggun seperti Elira biasanya.

“Baik sekali. Terima kasih sudah menanyakan,” jawabnya, lalu ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Leonard. “Dan aku berterima kasih pada Leonard… karena selalu memperhatikan aku. Bahkan di saat kau sakit, dia tetap menyempatkan diri menengokku.”

Aku bisa merasakan dadaku panas. Tapi aku menahan diri. Aku bukan Elira yang pasrah. Aku adalah Alea—dan aku tidak akan membiarkan wanita ini merendahkanku dengan cara halus seperti itu.

“Oh ya?” aku menatap Leonard dengan senyum yang sedikit menantang. “Kau memang pria yang penuh perhatian, ya, Leonard?”

Dia terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”

Lysandra menepuk tangan Leonard dengan lembut. “Itulah yang selalu aku kagumi darimu.”

Aku meremas ujung gaun di pangkuanku, menahan gemuruh emosi.

Di detik itu aku sadar, inilah luka terbesar Elira. Duduk di ruangan yang sama, melihat suaminya tersenyum hangat kepada wanita lain, sementara dirinya hanyalah bayangan, istri sah yang tidak pernah dicintai.

Aku menghela napas panjang. “Mungkin aku harus kembali ke kamar. Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian.”

Lysandra tersenyum puas. “Oh, kau tidak mengganggu sama sekali.”

Leonard menatapku, matanya sulit terbaca. “Aku akan menyuruh Mira mengantarmu.”

Aku berdiri, tapi sebelum pergi, aku menatap Lysandra dengan senyum samar. “Senang melihatmu begitu sehat dan… bahagia, Lysandra. Semoga kau tetap seperti itu.”

Tatapan mata kami bertemu. Sesaat, aku melihat kilatan—seperti tantangan, atau mungkin… rahasia.

Aku berbalik dan melangkah pergi, tapi dalam hatiku aku bersumpah.

Jika memang Lysandra terlibat dengan apa yang menimpa Elira di danau itu… aku akan mengetahuinya.

Aku kembali ke kamar dengan langkah cepat, hampir seperti melarikan diri. Begitu pintu tertutup, aku menjatuhkan diri ke ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan.

Dadaku terasa sesak.

Senyum hangat Leonard… bukan untukku. Tatapan penuh arti itu… hanya untuk Lysandra.

Elira telah bertahun-tahun menahan rasa sakit itu. Dan sekarang, aku yang harus merasakannya.

“Tidak…” gumamku lirih. “Aku tidak bisa seperti ini.”

Aku bukan Elira yang diam dan menerima segalanya. Aku adalah Alea. Aku punya mulut yang bisa bicara, otak yang bisa berpikir, dan hati yang tak mau diinjak-injak.

Aku duduk tegak, menarik napas dalam. “Kalau Leonard tidak mencintaiku… itu masalahnya. Tapi kalau ada orang yang berusaha membunuhku di danau… itu masalahku sekarang.”

Aku berdiri, berjalan ke depan cermin besar. Sosok wanita elegan dengan gaun putih sederhana menatap balik. Mata itu indah, tapi sayu. Senyum itu lembut, tapi rapuh.

“Elira…” aku menyentuh bayangan di cermin. “Kau mungkin terlalu lemah untuk melawan. Tapi aku… tidak. Aku akan menemukan siapa yang ingin menghancurkanmu. Dan aku akan membuat mereka menyesal.”

Ketukan pintu memutus lamunanku.

Tok… tok…

“Mira?” tanyaku.

Benar saja, pelayan setia itu masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat. “Saya membawakan minuman untuk Anda, Nyonya. Wajah Anda terlihat pucat.”

Aku mencoba tersenyum. “Terima kasih. Taruh saja di meja.”

Mira menuruti, lalu menatapku penuh cemas. “Apa Anda… bertemu dengan tamu Tuan?”

Aku mengangguk pelan. “Ya. Lysandra.”

Wajah Mira langsung berubah. Ada sesuatu di matanya—semacam rasa tidak suka yang ia sembunyikan.

“Kau mengenalnya?” tanyaku.

Mira ragu sebentar sebelum mengangguk. “Semua orang mengenalnya, Nyonya. Dia… wanita yang selalu berada di sisi Tuan. Bahkan sebelum pernikahan Anda terjadi.”

Aku sudah menduga. Tapi mendengar langsung seperti ini tetap saja menyakitkan.

“Mira,” aku menatapnya serius. “Katakan padaku dengan jujur. Apakah mungkin… Lysandra ada hubungannya dengan apa yang terjadi di danau itu?”

Mira menunduk, suaranya nyaris berbisik. “Saya tidak bisa menuduh tanpa bukti. Tapi… saya tahu satu hal, Nyonya. Malam sebelum kejadian, saya melihat Lysandra meninggalkan taman belakang. Wajahnya terlihat puas, seperti baru saja menang.”

Aku membeku. Dadaku kembali berdegup cepat. Jadi malam itu… Lysandra ada di dekat danau?

“Kenapa kau tidak bilang sebelumnya?” tanyaku tak percaya.

“Saya takut, Nyonya,” jawabnya jujur. “Lysandra terlalu berkuasa di rumah ini. Bahkan Tuan… lebih mendengar dirinya daripada Anda.”

Aku menggenggam tangannya. “Mulai sekarang, Mira. Jangan pernah sembunyikan apa pun dariku lagi. Kalau kau di pihakku, aku janji akan melindungimu.”

Mira mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Saya di pihak Anda, Nyonya. Sejak awal.”

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan hatiku. Ada satu hal yang jelas: aku tidak bisa hanya duduk diam. Aku harus bergerak.

Aku menatap ke luar jendela, ke arah taman luas dan bayangan danau di kejauhan. Tempat segalanya bermula.

“Kalau memang ada rahasia di sana…” aku berbisik pada diri sendiri, “aku akan menemukannya. Dan aku akan membongkar siapa pun yang bermain kotor.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.9

    Ruang makan itu dingin, meski lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan.Aku duduk di kursi Elira—kursi seorang istri yang sah, namun tak pernah benar-benar dianggap ada. Di hadapanku, keluarga Valen duduk dengan sikap tenang dan senyum tipis yang terlalu terlatih.Ini bukan jamuan keluarga.Ini pertemuan bisnis.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Ia bahkan tidak menatapku—seolah kehadiranku hanya formalitas yang terpaksa diterima.“Elira,” suara pria paruh baya itu terdengar datar. “Kami dengar kondisimu sempat… mengkhawatirkan.”Arman Valen.Ayah kandung Elira.

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.9

    Ruang makan utama mansion Veyron malam itu dipenuhi suara—bukan tawa, bukan kehangatan, melainkan denting sendok yang terlalu keras dan napas yang ditahan.Aku duduk di kursi yang sama. Kursi Elira.Namun malam ini, untuk pertama kalinya, keluarga besar Elira hadir di hadapanku.Mereka datang tanpa senyum. Tanpa basa-basi.Seolah kedatanganku bukan sebagai menantu… melainkan sebagai peringatan.Leonard duduk di ujung meja. Wajahnya datar, dingin, seperti dinding batu yang tak ingin disentuh.Di hadapanku, seorang pria paruh baya dengan rahang tegas dan tatapan tajam menatap tanpa berkedip.“Sudah lama sekali sejak kau terlihat cukup s

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.7

    Leonard tidak langsung membawaku keluar rumah. Ia hanya berjalan menuju lorong samping, langkahnya panjang dan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang tak ia inginkan.Kami berhenti di depan ruang kerjanya.“Masuk,” katanya singkat.Nada itu bukan ajakan. Lebih seperti perintah.Aku menurut.Begitu pintu tertutup, udara di ruangan itu berubah. Lebih dingin. Lebih berat. Leonard berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di meja.“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan pada Lysandra?” tanyanya tanpa menoleh.“Aku hanya bertanya,” jawabku pelan.“Kau berbicara seolah-olah ada seseorang yang mendorongmu ke danau,” katanya tajam. “Itu tidak pantas.”Aku menelan ludah. “Dan jika memang begitu?”Leonard berbalik cepat. Tatapannya keras.“Elira,” ucapnya menekan. “Kau jatuh ke danau karena kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri.”Kata-kata itu menghantam dadaku lebih keras dari yang kuduga.“Kau begitu yakin?” tanyaku.“Aku tahu bagaimana keadaanmu saat itu,” katanya. “Kau h

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.6

    Pagi itu udara terasa lebih ringan, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajah Elira—kulit pucat, mata lembut, dan garis rapuh yang selalu membuat orang mengira ia mudah dihancurkan.Namun hari ini berbeda.Ada sesuatu yang hidup di balik mata itu. Sesuatu yang tidak lagi mau tunduk.“Gaun ini cocok sekali,” ujar Mira sambil merapikan lipatan kain biru muda di bahuku. “Tuan pasti… terkejut.”Aku tersenyum tipis. “Itu tujuannya.”Mira terdiam, lalu ikut tersenyum kecil. Ia pasti juga merasakan perubahanku. Elira yang dulu tak pernah peduli dengan penampilan—seolah ingin menghilang—kini berdiri tegak, tenang, dan sadar akan keberadaannya.Saat aku melangkah menuju ruang makan, langkah kakiku mantap. Tidak tergesa, tidak ragu.Meja makan sudah terisi.Leonard duduk di ujung meja, seperti biasa. Posturnya tegap, wajahnya tenang, tapi sorot matanya selalu dingin—seperti dinding yang tak pernah bisa ditembus.Dan di sisi kanannya, Lysand

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.5

    Malam turun dengan cepat, menyelimuti rumah besar keluarga Valdez dengan keheningan yang dingin. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan, memantulkan cahaya lembut di permukaan danau yang tenang.Aku berdiri di jendela kamar, menatap ke arah gelapnya air itu. Bayangan pohon-pohon besar di sekelilingnya tampak seperti sosok-sosok raksasa yang berjaga. Ada sesuatu di sana… aku bisa merasakannya.“Kalau memang jawabannya ada di tempat itu,” gumamku, “aku harus melihat sendiri.”Dengan hati-hati aku mengenakan mantel tipis, lalu membuka pintu kamar. Koridor sunyi, hanya cahaya lilin kecil yang menerangi. Aku melangkah pelan, menahan napas setiap kali papan lantai berderit di bawah kakiku.Beruntung, Mira sudah memberitahuku jalur yang lebih sepi menuju taman belakang—melewati lorong samping dapur, bukan lewat aula utama.Begitu keluar, udara malam menyambut. Dingin menusuk tulang, tapi aku tetap melangkah, menuruni anak tangga batu yang mengarah ke halaman belakang.Taman itu luas, dipenuhi bu

  • Terjebak di Tubuh Istri yang Tak Dicintai   BAB.4

    Langkahku terasa berat saat menuruni tangga besar yang berlapis karpet merah. Jantungku berdebar, bukan hanya karena tubuh Elira masih lemah, tapi juga karena firasatku. Ada sesuatu yang menunggu di bawah sana.Seorang pelayan pria langsung menunduk hormat. “Nyonya, Tuan sedang menerima tamu di ruang utama.”Aku mengangguk singkat. Tuan—tentu maksudnya Leonard.Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju ruang tamu. Suara tawa pelan terdengar dari balik pintu setengah terbuka. Suara wanita.Aku berhenti sejenak, merasakan hawa dingin merayap dari ujung kaki.Perlahan aku mendorong pintu.Dan di sana—di sofa panjang berlapis kain biru tua—duduklah seorang wanita muda yang mempesona. Rambut cokelatnya bergelombang indah, matanya berkilau penuh percaya diri. Senyumnya… lembut, tapi juga menusuk, seolah ia tahu betul siapa dirinya di hati lelaki yang duduk di sampingnya.Leonard.Pria itu, dengan jas abu-abu elegan, duduk begitu dekat dengannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status