Share

Terjerat Cinta Ayah Mertua
Terjerat Cinta Ayah Mertua
Penulis: Onigiri

Bab 1 ー Terpaksa

Penulis: Onigiri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-03 10:16:21

"Aku bakal pulang telat malam ini."

Evan merapikan dasinya di depan cermin. Ucapannya datar tanpa menatap Istrinya.

Meyra tengah merapikan tempat tidur. Menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu menoleh.

“Telat lagi?” suaranya pelan tapi sarat kecewa. “Padahal malam ini Papa kamu ngajak makan malam di luar.”

"Kalian aja yang pergi. Aku ada urusan di kantor," balas Evan.

Suaranya terdengar dingin. Membuat udara kamar seperti menegang.

Meyra menatap punggungnya. Dalam hati selalu muncul kecurigaan setiap kali Evan pulang terlambat dengan alasan yang sama.

“Urusan di kantor atau… sama Clara?”

Nada Meyra pelan, hampir seperti gumaman. Tapi cukup membuat Evan menoleh tajam.

“Ini masih pagi, Meyra. Aku nggak mau ribut.”

Evan menghela napas kasar. Tapi Meyra melanjutkan dengan hati-hati, hanya mencoba menjelaskan.

“Aku nggak ngajak ribut. Aku tau kamu sibuk. Cuma, kalau bisa, jangan terlalu deket sama Clara. Orang-orang di kantor bisa salah paham. Aku takut kamu yang nanti disalahin.”

Evan menatap dengan raut jengkel. Rahangnya mengeras. Dia semakin kesal dengan perkataan Meyra yang berbelit-belit.

“Cukup, Meyra!”

Suara Evan meninggi. Detik berikutnya—

Prang!

Meyra terkejut, matanya refleks terpejam. Suara napasnya tercekat di tenggorokan.

Tinju Evan menghantam cermin di sampingnya hingga pecah. Suara nyaring itu sengaja ia lakukan untuk melampiaskan amarah. Sekaligus memberi Meyra peringatan.

"Clara cuma sekretaris aku. Nggak usah berlebihan!" bentaknya.

Meyra menggigit bawah bibirnya. Lalu mendongak, menatap dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca.

"Bukannya kamu udah janji sama Ayah bakal jagain aku? Kenapa makin hari kamu makin kasar?" katanya dengan suara lirih.

Bukannya luluh atau merasa bersalah, Evan hanya mengusap kasar wajahnya.

"Jadi kamu mau ancam aku sekarang?" geramnya.

Meyra menggeleng cepat. “Bukan gitu, aku cuma—”

“Denger, Meyra,” desisnya. “Aku nurutin kemauan Ayah kamu, karena nggak mau reputasi keluargaku tercoreng. Jadi jangan ngungkit hal itu lagi. Paham?!”

Perkataannya menampar lebih keras dari suara kaca pecah.

Meyra diam mematung. Pandangannya jatuh ke lantai. Napasnya bergetar.

Evan mengambil tas kerjanya dan pergi tanpa menoleh.

Brak!

Pintu tertutup keras. Menyisakan keheningan yang menyesakkan.

Hanya ada bayangan pecah di cermin. Dan hati Meyra yang ikut retak bersamanya.

"Walau aku tahu kamu terpaksa nikahin aku. Setidaknya aku cuma pengen kamu lebih perhatiin aku," gumamnya lirih.

Sudah dua tahun sejak mereka menikah. Dan selama itu pula Evan masih bersikap dingin padanya.

Pernikahan mereka bukan berawal dari cinta. Melainkan dari tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa Aditya, Ayah Meyra.

Evan kala itu menabrak mobil Aditya tanpa sengaja. Dan bersedia menikahi Meyra sebagai bentuk tanggung jawab.

Tak ada dendam di hati Meyra. Ia tahu itu kecelakaan. Dan menerima Evan dengan lapang dada.

Sebagai istri, Meyra hanya ingin menjalankan tugasnya dengan baik.

Selama tinggal bersama di rumah orang tuanya ini, perlahan Meyra merasakan benih-benih cinta pada Evan.

Sayangnya, rasa itu seperti menumbuh di tanah tandus. Evan tak pernah sekalipun menyentuhnya. Atau menatapnya dengan kehangatan seorang Suami.

Yang ada hanya ada jarak, dan kesepian yang kian menekan.

Namun Meyra tetap bertahan. Karena dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Sambil berharap ada keajaiban yang menggerakkan hati Evan.

Pandangan Meyra kini beralih pada cermin yang pecah di dekatnya.

Sambil menghela nafas panjang, Meyra berjongkok. Lalu mengumpulkan pecahan kaca.

Di tengah kegiatannya. Tak lama muncul suara ketukan di pintu kamarnya.

Tok! Tok!

“Meyra.”

Suara berat seorang pria terdengar dari luar.

Dia adalah Glen Anderson—Ayah Mertua Meyra.

Meyra terkesiap. Dengan cepat dia bangkit. Dan membuang pecahan kaca di tangannya.

Namun karena kondisi kamar yang berantakkan, Meyra tak ingin menunjukkannya pada Glen.

“I-iya, Pah?” sahutnya dari balik pintu.

“Papa denger kayak ada suara benda pecah,” ujar Glen penasaran.

Meyra menoleh sekilas pada kekacauan di kamarnya. Memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal untuk mengelabui Glen.

“Em. Itu, botol parfum aku jatuh, Pah. Nggak sengaja kesenggol. Maaf ya bikin ribut.”

Sedikit kebohongan mungkin tidak masalah.

“Beneran? Tadi Evan pergi buru-buru. Mukanya kayak kesel. Apa kalian abis berantem?”

Lagi Glen bertanya.

Dan itu membuat Meyra terdiam sejenak. Tarikan nafasnya terasa berat.

Tak ingin dicurigai, akhirnya Meyra membuka pintu sedikit. Hanya cukup memperlihatkan dirinya saja.

Glen berdiri di depan pintu kamarnya.

Pria paruh baya itu terlihat rapi dengan setelan jas biru. Namun masih terlihat tampan dan berkarisma.

“Nggak, kok. Mas Evan cuma buru-buru ke kantor. Ada kerjaan mendesak,” jelas Meyra beralasan.

Glen mengangguk pelan.

“Oh, kirain. Soalnya kebiasaan Evan, kalau marah suka banting pintu atau mukul sesuatu.”

Meyra hanya tersenyum dan kepala menunduk sopan.

“Nggak, Pah.”

Kemudian melangkah keluar.

“Aku buat sarapan dulu,” lanjutnya.

Seolah ingin mengalihkan pembicaraan. Meyra menutup pintu kamarnya dengan cepat. Melangkah lebih dulu ke arah dapur.

Meyra malu jika memperlihatkan rumah tangganya yang tidak harmonis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 94 — Pasangan Pada Umumnya

    "Harusnya kamu bisa nahan diri kalau itu terlalu mahal, dong! Kenapa kamu jadi mudah terpancing gini?!" bentak Evan, suaranya menggema di lorong tangga darurat yang kosong. Wajahnya memerah oleh amarah yang meluap, urat di pelipisnya tampak menegang.Erina menganga tak menyangka reaksi Evan sekeras ini. "Kok bentak aku sekarang? Jadi kamu belain dia, hah?""Astaga...." desis Evan terdengar frustasi, sembari memijat pangkal hidungnya yang pening. "Bukan gitu maksud aku belain Meyra. Sekarang masalahnya jadi rumit karena kamu buat masalah sama keluarga Nyonya Altmer. Mereka itu berbesanan sama keluarga Gray Evander! Kamu tau nggak susahnya aku buat dapet kerja sama ke mereka?!"Erina terdiam cukup lama kali ini, bibirnya bergetar halus. Matanya mulai sedikit berkaca-kaca. Tangannya terkepal erat, menahan sesak di dada karena bentakan Evan padanya—pria yang selama ini selalu lembut dan memanjakannya."Terus aku harus gimana sekarang? Urusannya udah beres, kan?""Tetep aja, nama aku jadi

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 93 — Pertengkaran

    Wajah Meyra memerah, dan langsung memalingkan pandangan."Nggak, ah. Aku cuma bantu sekali. Mas agak kasar tadi," tolaknya, sedikit menggerutu di akhir kalimat.Glen terkekeh pelan. Jarinya dengan lembut mengusap bibir Meyra yang kemerahan, seolah masih tak percaya bibir semungil itu entah bagaimana bisa menerima miliknya yang cukup besar."Mau bibir bawah atau bibir atas kamu terlalu enak soalnya.""Mas, ih! Udah!" gerutu Meyra menunduk malu sambil memukul bahu Glen dengan tinju kecil. Pipinya masih terbakar oleh rasa malu.Glen menahan tangan yang memukulnya, lalu menarik dagu Meyra untuk bertatapan dengannya. "Ya udah, aku minta maaf. Tapi kamu jangan pernah lakuin ini ke siapa pun, terutama Evan. Oke?"Meyra mendengus kecil, namun kepalanya mengangguk. Dia menuruti semua perkataan pria itu.Senyum puas merekah di bibir Glen."That's my girl," pujinya berbisik. Perlahan wajah Glen mendekat lagi, dan kali ini ciumannya lembut, penuh kasih sayang.Meyra tak menolak. Kedua tangannya re

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 92 — Aku Bisa Bantu, Mas

    "Tapi apa?" desak Glen, kesabarannya mulai menipis. Tatapannya berubah tajam, terhalang kabut nafsu.Meya menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, namun ia tahu tak bisa lagi menghindar dan harus tetap mengatakannya."Aku nggak bisa, Mas. Barusan aku datang bulan."Glen seketika terdiam. Matanya mengerjap kaget, memproses kata-kata itu, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Satu tangan menepuk jidatnya.‘Astaga. Bisa-bisanya aku maksa perempuan yang lagi datang bulan,’ batinnya merutuki diri sendiri akan perbuatan bodohnya.Glen perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang, punggungnya membelakangi Meya. Bahunya naik turun dalam tarikan napas yang berusaha dikendalikan.Tak bisa dipungkiri, raut Glen tampak kecewa. Bukan pada Meya, tetapi pada situasi yang tak bisa memuaskan hasratnya yang telah berkobar."Maaf, Meya. Kalau gitu kamu tidur aja di sini, ya. Aku mau nenangin diri dulu," ucap Glen, suaranya serak. Ia turun dari tempat tidur.Namun saat hendak melangkah menjauh, Meya l

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 91 — Hanya Kita Berdua Di Sini

    Glen tertawa mendengar penuturan Meyra tentang apa yang telah ia lakukan."Bagus," pujinya, matanya berbinar bangga. "Gitu, dong. Itu baru namanya keluarga Anderson."Tangan Glen terangkat, lalu mengusap pipi Meyra dengan gemas.Meyra hanya bisa merapatkan bibirnya, menahan senyuman. Pipinya memerah, tersipu oleh pujian dan gesture Glen yang tiba-tiba mesra itu.Tak lama kemudian, mobil sport berwarna biru berhenti di depan rumah keluarga Anderson. Meyra turun dan masuk lebih dulu, tubuhnya masih terasa lembap dan tidak nyaman. Gaun mewahnya yang basah kini hanya menjadi beban kain yang berat dan dingin.Usai berendam lama di air hangat, Meyra segera mengenakannya. Saat ia sedang merapikan tempat tidur, ponselnya tiba-tiba berdering. Layar menyala menunjukkan nomor asing yang tak ia simpan.Jantung Meyra sedikit berdebar kencang, rasa skeptis dan waswas muncul. Teringat pada nomor anonim yang pernah ia terima sebelumnya. Namun, Meyra tetap merasa penasaran dan akhirnya menerima panggil

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 90 — Terpojok

    Di tengah kebimbangan dan kepanikan, Erina berusaha mati-matian untuk tetap tenang. Ia menggeleng cepat."I-ini cuma salah paham. Saya nggak sengaja celakain nona Atheril," katanya dengan suara yang sedikit tergagap, buru-buru menjelaskan.Altmer yang masih ada di sana mendekat pada Erina dengan tatapan tajam."Artinya, betul kamu yang buat putri saya tenggelam, kan? Mau itu sengaja atau nggak."Sontak, Erina menutup mulutnya dengan tangan. Saking gugupnya, ia tak sadar telah mengakui perbuatannya secara tidak langsung. Ia terpojok."Bukan gitu maksud saya, nyonya—" Erina mencoba berbelit, mencari celah.Namun, wanita paruh baya di depannya tak memberi kesempatan lagi untuk berbicara. "Ikut. Kita bicara di tempat lain."Suara dingin yang penuh penekanan itu membuat Erina kehilangan nyali untuk membantah. Erina akhirnya dengan sangat terpaksa, berjalan mengikuti Altmer.Ketika berbalik, sekilas dari sudut matanya, Erina menangkap ekspresi Meyra yang berdiri di antara kerumunan orang. M

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 89 — Trik Murahan

    Usai acara lelang, suasana di vila mewah itu belum sepenuhnya reda. Sebagian tamu masih bertahan, menikmati kelanjutan pesta di tepi kolam renang. Mereka berkelompok, berbincang santai sambil meneguk anggur, memanfaatkan malam untuk memperluas relasi.Di tengah keramaian itu, Meyra berdiri dekat meja prasmanan. Perutnya sedikit keroncongan setelah semua drama lelang tadi"Meyra, aku mau telpon dulu, ya," pamit Atheril di sampingnya."Iya, silahkan," jawab Meyra dengan anggukan pelan, lalu kembali fokus pada piring kuenya, memberikan Atheril ruang untuk privasi.Di saat Meyra berbalik, mencari tempat duduk yang nyaman, ia tak sadar ada seseorang yang berjalan agak cepat melewatinya. Tubuh mereka bertabrakan dengan sentuhan yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat keseimbangan goyah."Akh!" Meyra sedikit meringis. Bukan karena sakit, tetapi karena cipratan dingin dan basah yang tiba-tiba membasahi sisi tubuhnya.Minuman anggur merah gelap di gelas tinggi itu tumpa , menciptaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status