LOGIN
"Aku bakal pulang telat malam ini."
Evan merapikan dasinya di depan cermin. Ucapannya datar tanpa menatap Istrinya.
Meyra tengah merapikan tempat tidur. Menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu menoleh.
“Telat lagi?” suaranya pelan tapi sarat kecewa. “Padahal malam ini Papa kamu ngajak makan malam di luar.”
"Kalian aja yang pergi. Aku ada urusan di kantor," balas Evan.
Suaranya terdengar dingin. Membuat udara kamar seperti menegang.
Meyra menatap punggungnya. Dalam hati selalu muncul kecurigaan setiap kali Evan pulang terlambat dengan alasan yang sama.
“Urusan di kantor atau… sama Clara?”
Nada Meyra pelan, hampir seperti gumaman. Tapi cukup membuat Evan menoleh tajam.
“Ini masih pagi, Meyra. Aku nggak mau ribut.”
Evan menghela napas kasar. Tapi Meyra melanjutkan dengan hati-hati, hanya mencoba menjelaskan.
“Aku nggak ngajak ribut. Aku tau kamu sibuk. Cuma, kalau bisa, jangan terlalu deket sama Clara. Orang-orang di kantor bisa salah paham. Aku takut kamu yang nanti disalahin.”
Evan menatap dengan raut jengkel. Rahangnya mengeras. Dia semakin kesal dengan perkataan Meyra yang berbelit-belit.
“Cukup, Meyra!”
Suara Evan meninggi. Detik berikutnya—
Prang!
Meyra terkejut, matanya refleks terpejam. Suara napasnya tercekat di tenggorokan.
Tinju Evan menghantam cermin di sampingnya hingga pecah. Suara nyaring itu sengaja ia lakukan untuk melampiaskan amarah. Sekaligus memberi Meyra peringatan.
"Clara cuma sekretaris aku. Nggak usah berlebihan!" bentaknya.
Meyra menggigit bawah bibirnya. Lalu mendongak, menatap dengan matanya yang sedikit berkaca-kaca.
"Bukannya kamu udah janji sama Ayah bakal jagain aku? Kenapa makin hari kamu makin kasar?" katanya dengan suara lirih.
Bukannya luluh atau merasa bersalah, Evan hanya mengusap kasar wajahnya.
"Jadi kamu mau ancam aku sekarang?" geramnya.
Meyra menggeleng cepat. “Bukan gitu, aku cuma—”
“Denger, Meyra,” desisnya. “Aku nurutin kemauan Ayah kamu, karena nggak mau reputasi keluargaku tercoreng. Jadi jangan ngungkit hal itu lagi. Paham?!”
Perkataannya menampar lebih keras dari suara kaca pecah.
Meyra diam mematung. Pandangannya jatuh ke lantai. Napasnya bergetar.
Evan mengambil tas kerjanya dan pergi tanpa menoleh.
Brak!
Pintu tertutup keras. Menyisakan keheningan yang menyesakkan.
Hanya ada bayangan pecah di cermin. Dan hati Meyra yang ikut retak bersamanya.
"Walau aku tahu kamu terpaksa nikahin aku. Setidaknya aku cuma pengen kamu lebih perhatiin aku," gumamnya lirih.
Sudah dua tahun sejak mereka menikah. Dan selama itu pula Evan masih bersikap dingin padanya.
Pernikahan mereka bukan berawal dari cinta. Melainkan dari tragedi kecelakaan yang merenggut nyawa Aditya, Ayah Meyra.
Evan kala itu menabrak mobil Aditya tanpa sengaja. Dan bersedia menikahi Meyra sebagai bentuk tanggung jawab.
Tak ada dendam di hati Meyra. Ia tahu itu kecelakaan. Dan menerima Evan dengan lapang dada.
Sebagai istri, Meyra hanya ingin menjalankan tugasnya dengan baik.
Selama tinggal bersama di rumah orang tuanya ini, perlahan Meyra merasakan benih-benih cinta pada Evan.
Sayangnya, rasa itu seperti menumbuh di tanah tandus. Evan tak pernah sekalipun menyentuhnya. Atau menatapnya dengan kehangatan seorang Suami.
Yang ada hanya ada jarak, dan kesepian yang kian menekan.
Namun Meyra tetap bertahan. Karena dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Sambil berharap ada keajaiban yang menggerakkan hati Evan.
Pandangan Meyra kini beralih pada cermin yang pecah di dekatnya.
Sambil menghela nafas panjang, Meyra berjongkok. Lalu mengumpulkan pecahan kaca.
Di tengah kegiatannya. Tak lama muncul suara ketukan di pintu kamarnya.
Tok! Tok!
“Meyra.”
Suara berat seorang pria terdengar dari luar.
Dia adalah Glen Anderson—Ayah Mertua Meyra.
Meyra terkesiap. Dengan cepat dia bangkit. Dan membuang pecahan kaca di tangannya.
Namun karena kondisi kamar yang berantakkan, Meyra tak ingin menunjukkannya pada Glen.
“I-iya, Pah?” sahutnya dari balik pintu.
“Papa denger kayak ada suara benda pecah,” ujar Glen penasaran.
Meyra menoleh sekilas pada kekacauan di kamarnya. Memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal untuk mengelabui Glen.
“Em. Itu, botol parfum aku jatuh, Pah. Nggak sengaja kesenggol. Maaf ya bikin ribut.”
Sedikit kebohongan mungkin tidak masalah.
“Beneran? Tadi Evan pergi buru-buru. Mukanya kayak kesel. Apa kalian abis berantem?”
Lagi Glen bertanya.
Dan itu membuat Meyra terdiam sejenak. Tarikan nafasnya terasa berat.
Tak ingin dicurigai, akhirnya Meyra membuka pintu sedikit. Hanya cukup memperlihatkan dirinya saja.
Glen berdiri di depan pintu kamarnya.
Pria paruh baya itu terlihat rapi dengan setelan jas biru. Namun masih terlihat tampan dan berkarisma.
“Nggak, kok. Mas Evan cuma buru-buru ke kantor. Ada kerjaan mendesak,” jelas Meyra beralasan.
Glen mengangguk pelan.
“Oh, kirain. Soalnya kebiasaan Evan, kalau marah suka banting pintu atau mukul sesuatu.”
Meyra hanya tersenyum dan kepala menunduk sopan.
“Nggak, Pah.”
Kemudian melangkah keluar.
“Aku buat sarapan dulu,” lanjutnya.
Seolah ingin mengalihkan pembicaraan. Meyra menutup pintu kamarnya dengan cepat. Melangkah lebih dulu ke arah dapur.
Meyra malu jika memperlihatkan rumah tangganya yang tidak harmonis.
Meyra menggeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Nggak, Mas. Aku nggak pernah. Aku cuma sama kamu."Glen menatapnya lama. Tapi tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik."Mas, kamu masih nggak percaya sama aku?" suara Meyra putus asa. "Mas Glen!"Glen tak menjawab. Ia terus melangkah, berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.Meyra tertunduk dalam. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Tangisnya pecah."Hiks..."Begitu Glen pergi, suasana kamar berubah menjadi semakin mencekam. Evan yang sejak tadi diam di belakang Erina akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala menahan amarah yang sudah memuncak."Kamu pikir kamu hebat, ya?" desisnya dengan suara penuh kebencian. "Nggak nyangka selama ini kamu juga main kotor di belakang aku. Kamu lebih menjijikan dari yang aku kira, Meyra."Meyra masih terisak, kepalanya kembali mendongak. "Mas Evan, aku—"Belum sempat Meyra menyelesaikan kalimatnya, Evan mendorong bahunya dengan keras. Tubuh Meyra yang lemah ta
Erina duduk di sofa apartemennya dengan wajah tegang. Pikirannya terus mengulang kejadian beberapa hari lalu, saat Meyra tiba-tiba muntah di depan matanya.Gerak-gerik Meyraa, wajah pucatnya, mual-mualnya. Semua mengarah pada satu kemungkinan.'Nggak mungkin...' batinnya gelisah. 'Bukannya Om Glen mandul? Atau jangan-jangan...'Tak ingin menggantungkan rasa penasarannya, Erina meraih ponsel dan menekan nomor Evan. Tak lama, suara Evan terdengar dari seberang."Ada apa, Sayang?""Evan, aku perlu ketemu Om Glen," ucap Erina langsung tanpa basa-basi."Hah? Buat apa?"Erina menahan napas. "Pokoknya kamu temenin aja. Oke?"Setelah mengatakan itu, Erina memutuskan panggilan. Sebenarnya ia masih ragu, namun mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk melakukan hal ini.'Kalaupun benar itu anak Mas Evan, aku yakin Mas Evan bakal lebih milih aku,' pikirnya penuh tekad dan keyakinan. Seketika tatapan Erina berubah tajam, bibirnya menyeringai."Kita lihat apa Om Glen masih ngelindungin kamu atau n
"Itu kecelakaan," balas Meyra, suaranya mulai lelah. "Kita sama-sama nggak sadar. Aku juga nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi.""Masih saja ngeles!" Erina mengangkat tangannya, dan sebelum Lisa sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipi Meyra.Plak!"Meyra!" Lisa membelalak kaget.Meyra terhuyung, hampir jatuh. Lisa segera menahan dan berdiri di depan Meyra, melindunginya."Berani-beraninya kamu tampar dia!" bentak Lisa, dengan kasar mendorong Erina sampai terjatuh. "Keluar! Sekarang juga, sebelum aku panggil satpam!"Erina tertegun melihat reaksi Lisa, tapi belum puas. "Meyra, kamu—"Belum selesai bicara, Meyra tiba-tiba memegangi mulutnya, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju kamar mandi."Mey!" Lisa panik, segera mengikuti.Erina hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.Di dalam kamar mandi, Meyra muntah hebat di depan wastafel."Uwek! Uwek!"Lisa mengusap punggungnya, membasuh wajahnya dengan air, mencoba menenangkan."Kamu kenapa, Mey? Sakit?" tanya Lisa ce
"Ya orang sakit emang gitu," sahut Lisa santai sambil merebahkan diri di samping Meyra. "Mau nyemil apa, dong? Biar aku ada kerja nih jagain kamu."Meyra terkekeh pelan. Sikap Lisa yang rebahan santai sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan."Udahlah. Temenin ya temenin aja. Papa mertuaku nggak nyuruh kamu ngebabu.""Tapi aku emang dikasih tip, sih. Makanya semanget banget aku pagi-pagi ke sini, haha!" ujar Lisa jujur sambil tertawa puas.Meyra menggeleng. Ia baru tahu kebenarannya.Usai tertawa, Lisa tersadar akan sesuatu saat membicarakan Glen. "Eh, tapi kamu selalu berdua sama mertua di rumah ini? Suami kamu ke mana?"Meyra menghela napas. "Entahlah. Mungkin sama selingkuhannya. Dia terang-terangan banget ngenalin Erina ke Papa."Mendengar hal itu, Lisa membelalak. "Hah?! Yang bener?"Meyra mengangguk pelan. Dia lupa menceritakan hal ini pada Lisa. Jika sebelumnya ia akan sakit hati, tapi kali ini Meyra benar-benar tak peduli. Dia langsung mengutarakan perasaannya saa
Evan duduk di sofa apartemen Erina dengan wajah tegang. Erina berdiri di depannya, kedua tangan terlipat di dada, matanya merah menahan tangis."Kamu harus jujur sama aku, Mas. Itu bekas dari siapa?" suara Erina bergetar penuh tuntutan.Evan menunduk. Tangannya meremas rambutnya frustrasi. Akhirnya, dengan suara serak, ia mengaku."Meyra."Erina terkesiap. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh."Meyra? Bukan pelacur atau yang lain, tapi Meyra?!" ulangnya masih tak percaya."Aku nggak sadar, Erina. Aku mabuk. Jadi aku nggak ingat apa-apa," dalih Evan cepat.Erina menangis, memukul-mukul dada Evan lemah. "Tapi kenapa kamu harus tidur sama dia?! Kamu udah janji!""Aku bener-bener minta maaf, Sayang. Itu cuma kesalahan. Tolong percaya sama aku." Evan meraih tangan Erina, menggenggamnya erat.Erina masih melotot marah pada pria itu. Dengan suara penuh amarah dan air mata yang masih mengalir, dia membalas."Pokoknya kamu harus cepat ceraikan dia. Aku nggak mau tahu!"Evan menarik napas panja
Glen meraih kedua tangan Meyra yang masih berusaha menutupi dada, lalu memborgolnya ke atas kepala.Meyra hanya bisa pasrah, tak kuasa melawan perbedaan kekuatan yang sangat jelas. Tubuhnya terbuka sepenuhnya di hadapan Glen.Kain hitam kemudian diikatkan di mata Meyra. Dunianya menjadi gelap."Mas... jangan begini. Aku nggak suka," rintih Meyra, suaranya bergetar hampir menangis."Aku lebih nggak suka denger desahan kamu sama Evan," sindir Glen.Glen kemudian meraih sesuatu dari samping. Benda kecil, tumpul, dan dingin.Meyra merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Bukan milik Glen. Benda itu kecil, bergetar, terbuat dari silikon."Mas, itu... ah..." Meyra mengerang pelan.Glen menekan remote. Level getaran naik. Meyra menjerit kecil, tubuhnya menegang. Sensasi yang aneh, asing, dan terlalu intens menjalar dari area sensitifnya."M-mas... aku minta maaf... tolong, berhenti," rintihnya di sela-sela erangan yang tak bisa ditahan.Glen hanya menatapnya, dengan ekspresi yang sulit diba
“M-maaf Tante. Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma menantunya Papa Glen,” ujar Meyra buru-buru menjelaskan.Tidak ingin ada salah paham apa pun.Luna menatap lekat. Dan perlahan, wajah ketusnya berubah menjadi senyuman kecil.“Muka kamu panik banget, haha!” serunya sambil tertawa puas.Meyra memiringka
Merasa penasaran, Meyra akhirnya menelepon Evan. Hanya untuk mengkonfirmasi sesuatu.Beberapa waktu kemudian, akhirnya pria itu menjawab.“Kenapa?” suaranya datar seperti biasa.Meyra menggigit bibirnya, mencoba tetap terdengar santai.“Tadi kamu kirim pesan ya, Mas? Kenapa dihapus?”Hening sesaat.
“Entah. Lihat aja penampilannya kampungan banget. Kayak kutu buku,” lanjut si karyawan berkacamata.“Eh, katanya dia kan emang bikin buku,” balas temannya.“Oh! Penulis novel cringe gitu? Haha!”Mereka tertawa pelan, sambil pura-pura melihat arah lain.Tapi Meyra tahu jelas, setiap kata itu diarahk
Hujan deras mengguyur di luar kala malam kian larut. Udara dingin menyelinap lewat celah-celah ruangan, namun Meyra tidak merasakannya.Kehangatan di sekujur tubuhnya justru membuatnya nyaman.Meyra menggeliat pelan saat sensasi kecupan dan sentuhan panas di bagian bawah tubuhnya semakin nyata.“Ah







