เข้าสู่ระบบ
“Kau mau membawaku kemana, Lukas?! Lepaskan aku!” teriak Valerie.
“DIAM! Ikuti saja apa kataku, Ibumu sudah tidak ada, maka kau harus berguna untukku!” desis Lukas, Ayah tiri Valerie.Seminggu setelah kematian Ibu kandung Valerie, Lukas dengan tega akan menjadikan Valerie sebagai alat untuk melunasi hutangnya, dengan menjual Valerie.
Kedua tangan Valerie diikat dan dibawa paksa oleh Lukas, ke sebuah club malam. Valerie sangat takut, karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sana. Lukas masih menutupi niat sebenarnya pada Valerie, membiarkan Valerie tahu ketika bertemu dengan pria yang akan membelinya.
Lukas mencengkram wajah Valerie, saat akan memasuki club malam tersebut, tatapannya tajam. “Bersikap baiklah, agar kau bisa menghasilkan banyak uang untukku!”
“Apa yang akan kau lakukan padaku? lepas, aku tidak mau!” Vale dengan menggeram kesal, takut, ketika Lukas terus menyeretnya masuk ke dalam club malam. Valerie terus memberontak, sehingga membuat Lukas semakin marah.
Plak! Lukas menampar Valerie.
“DIAM! Sudah aku katakan agar kau diam, Vale! Atau kau akan mendapatkan lebih dari tamparan ini. Dengar, meskipun aku Ayah tirimu, tapi kau harus tetap menuruti apa yang aku inginkan! Jika mau disalahkan, salahkan saja ibumu!” desis Lukas disertai senyum seringainya.
“Aku tidak mau… Ayah? kau sangat tidak pantas menjadi seorang ayah, meskipun itu hanya ayah tiri! kau lebih pantas disebut pria bajingan!” balas Vale tidak kalah sengit, tatapan Valerie penuh dengan kebencian terhadap Lukas– Ayah tirinya. “Lepaskan aku! kau sama sekali tidak berhak atasku!”
Valerie benar-benar marah, ia menyesal memasuki rumah itu, Valerie tidak pernah menyangka Lukas akan berbuat jahat padanya. Pantas, ibunya tidak pernah mengizinkannya untuk bertemu di rumah mereka. Valerie yang tinggal terpisah dengan Ibunya, di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota.
Setelah pikirannya tenang dan bisa menerima kematian Ibunya, Vale merasa curiga dengan kematian Ibu kandungnya, kematian yang mendadak. Tapi Vale tahu, ia tidak bisa asal menuduh tanpa sebuah bukti. Hingga Vale memutuskan untuk mencari bukti, di rumah yang pernah ditinggali Ibu–Louisa dan Lukas. Namun bukan bukti yang didapat, Valerie justru disambut oleh Lukas dengan senyum liciknya.
Hingga kini Vale berada di sebuah club malam, diseretnya Vale memasuki ruang VIP, beberapa orang berpakain hitam menyambut mereka. Lukas terlihat senang, karena transaksi yang akan dilakukan, mungkin akan berjalan dengan lancar.
Namun berbeda dengan Valerie, ia semakin waspada dan takut, bertanya-tanya apa yang sebenarnya Lukas rencanakan?
Di ruang VIP, ada sosok seorang pria yang sedang duduk dengan santai, kakinya menyilang, sebatang rokok dihisap olehnya hingga asap mengepul di sekitarnya, serta beberapa botol minuman beralkohol dengan harga mahal pun berjejer rapi di atas meja.
Valerie menyadari satu hal, jika pria itu adalah sosok yang cukup disegani. Melihat begitu banyaknya pengawal serta Lukas yang begitu menghormatinya, begitupun dengan Lukas.
Pria itu tersenyum saat Lukas membawa orang cantik. Janji yang Lukas tepati terhadapnya. Lukas seolah tahu, apa yang disukai oleh pria itu–James.
“Tuan, saya membawa seorang wanita, yang pasti anda suka,,” ucap Lukas dengan sopan.
“Kau benar-benar menepati janjimu, Lukas.” Suara pria itu terdengar dingin tatapannya datar, menatap Vale dengan seringai yang terbit di wajahnya, membuat Vale merasa takut.
Siapa pria ini? tanya Vale, berbisik dalam hatinya.
“Dengan begitu, apa hutangku lunas, Tuan James?” tanya Lukas penuh kehati-hatian.
“Hutang?” desis Vale, Lukas hanya tersenyum padanya.
James yang masih melihat Valerie dengan tatapan penuh gairah, seolah ingin segera menyentuh wanita yang diberikan oleh Lukas.
“Kau menjadikanku jaminan hutan, Lukas? atas dasar apa aku lakukan itu padaku?!” Lukas tidak menjawab, ayah tirinya hanya bisa tersenyum senang, karena hutang dengan jumlah yang banyak itu, akan hilang. “Pria bajingan, brengsek! aku tidak mau, aku menolak, lepaskan aku! Tuan aku tidak ada hubungan dengan dia jadi tolong lepaskan aku!” Vale meronta, ia tidak mau dijadikan alat untuk melunasi hutang Lukas.
“Jangan melawan, Vale! Bersikap baiklah!” geram Lukas pada Vale yang berusaha untuk pergi.
“Aku mengirim sejumlah uang ke rekening kamu, sebagai bonus, dan wanita ini menjadi milikku sepenuhnya!” ucap James, membuat Valerie membulatkan kedua matanya.
“Terima kasih, Tuan James, Anda memang sangat pengertian, hanya saja, Vale akan memberontak, anda perlu mengawasinya dengan benar. Pastikan Vale diikat, agar tidak melarikan diri, dan jangan khawatir, anak tiriku ini, masih perawan, dan tentu saja, Vale menjadi milik anda sepenuhnya, ” ucap Lukas sebelum meninggalkan ruangan VIP itu, tanpa peduli pada Valerie yang terus meronta meminta lepas dari masalah Lukas, dari transaksi yang merugikan dirinya.
“Nona Valerie… Kau sungguh cantik, tapi kau masih perlu dipoles sedikit, agar terlihat lebih baik, sehingga kau bisa membuatku puas,” ucap James pada Vale dengan senyum liciknya. “Persiapkan dia, aku ingin merasakan tubuhnya malam ini juga!” perintahnya pada tangan kanannya.
Tubuh Valerie bergetar, ia benar-benar takut saat ini, ia tidak mau berakhir di tangan pria kejam di hadapannya. Vale yang terus memberontak, berteriak meminta pertolongan, meminta agar ia lepas dari jerat pria bernama James, tapi itu hanya sia-sia.
“Diamlah, Nona, jangan sampai kami memukul anda, agar kau diam. Kau tidak ingin memiliki tubuh penuh luka bukan? karena jika begitu Tuan James akan semakin menambah luka di tubuh Anda. Tuan James tidak suka melihat tubuh wanita miliknya lecet sebelum digunakan!” Seorang wanita yang ditugaskan untuk mempersiapkan Valerie, datang dengan tatapan sinisnya. Wanita itu mengingatkan agar Valerie tidak membuat James semakin marah, karena akibatnya akan semakin fatal.
“Aku tidak peduli, aku bahkan memilih mati daripada harus menjadi pemuas nafsu pria bjingan itu!” geram Vale.
Mendengar perkataan Vale membuat wanita tersenyum dengan liciknya, karena baru kali ini ada wanita yang penuh dengan perlawanan. “Nona, Anda sungguh membuatku kesal, proses ini akan lama, dan aku tidak mau membuat tuan James menunggu lebih lama lagi, jadi aku terpaksa melakukan ini padamu! Segera bawa dia, ingat jangan sampai ada luka sedikitpun ditubuhnya, jika wanita ini berontak, suntikan saja obat bius padanya!”
Jarum suntik benar-benar dimasukkan pada lengan Valerie. Kesadarannya pun perlahan mulai menghilang.
“Lukas, kau brengsek!” batin Valerie, menggeram marah.
James melangkah mendekati Valerie yang sedang menatap dirinya di sebuah cermin besar, gaun yang indah melekat di tubuhnya. James tiba-tiba memeluk Valerie dari belakang, ekspresi wajah datar dan dingin seketika berubah, dengan senyuman yang terukir di bibir Valerie. "Kau cantik dan sangat cocok dengan gaun ini, aku tidak sabar untuk segera berada di altar pernikahan," ucap James berbisik lembut di samping telinga Valerie. "Terima kasih, aku memang sudah cantik. James, pernikahan ini,apa kita mengundang banyak orang?" tanya Valerie. "Tentu, terutama kolega bisnisku dan juga dari perusahaan Russel, aku ingin mereka tahu siapa istriku," jawah James tanpa ragu, Valerie mengangguk mengerti.Orang-orang yang berada di butik itu, melihat jika mereka adalah pasangan serasi dan bahagia, bahkan setelah kejadian Grace yang melabrak Valerie. James yang membela calon istrinya dan membuang simpanannya, bahkan membuat Grace menyesal karena kini kehilangan segalanya. Hal itu membuat mereka yakin j
James tersenyum tipis ketika Valerie mulai menggunakannya, ia pun melangkah mendekati mereka. Grace melirik ke arah Valerie menatap, benar saja, James tidak jauh dari sana dan sedang mendekati mereka. Suasana di butik itu menjadi tegang, hening, beberapa orang memperhatikan mereka, seolah penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. James kini sudah berada di antara mereka, berdiri di dekat Valerie. Sehingga membuat Grace semakin merasa terancam. Grace merasa bodoh karena berpikir Valerie tidak bersama dengan James. Ketika ia memasuki butik itu bersama salah satu temannya dan melihat wanita yang tidak asing baginya, Valerie dalam sebuah foto di galeri ponselnya yang didapatkan dari Eleanor. Grace yang kesal dan marah karena Valerie mengambil dan memiliki James seorang diri, naik menjadi istri sah James, wanita yang ia tahu baru yang dikenal oleh James. Mereka para wanita di sisi James, sama-sama merasa tidak adil karena seharusnya James memilih wanita diantara mereka, paling tidak
Valerie berjalan di samping James, memegang tangan Valerie seolah tidak ingin Valerie menjauh darinya. James benar-benar ingin membuat orang-orang yang mengenalnya tahu jika ia akan menikahi wanita di sampingnya. Memasuki sebuah butik yang cukup terkenal dengan rancangan gaun pengantinnya, Valerie sedikit terpukau dengan gaun-gaun yang indah dan cantik, elegan bahkan terkesan mewah. Sayangnya pernikahan dengan James bukanlah pernikahan impiannya, bukan pernikahan yang membahagiakan, melainkan perang melawan nasib buruknya bersama James Addison."Kau pilihlah, ada yang harus aku lakukan lebih dahulu," ujar James lembut bahkan mencium kening Valerie. Valerie mengangguk dan tersenyum tipis, melihat James yang kemudian menjauh sambil menerima telepon yang masuk ke ponselnya. "Nona, Anda ingin melihat agun seperti apa?" tanya salah satu pegawai di toko tersebut. "Pilihkan saja, yang paling baru dan paling mahal!" ucap Valerie dingin, ia tidak peduli apapun dengan bentuk gaun seperti ap
Valerie dan James kini sudah kembali ke rumah. James meninggalkan Valerie menuju ruang kerjanya, tanpa sepatah kata, sedangkan Valerie berjalan memasuki kamar. Di dalam kamar, Valerie duduk di depan meja rias, berniat untuk membersihkan riasannya.Terdengar langkah kaki yang mendekati Valerie, Anna, wanita disisi James sebagai asisten, yang memberikan obat perangsang pada dirinya, kini datang dan menemui Valerie kembali. 'Aku kira kau sudah tidak bekerja bersama James lagi, Anna?" tanya Valerie dingin."Hampir, Tuan James hampir membunuhku, karena kehilanganmu." Anna menjawab dengan sinis pada Valerie."Apakah kau akan bersikap sinis padaku, Anna? bukankah kau tahu, aku akan menjadi istri James, dan itukan yang kau inginkan?" tanya Valerie menatap Anna dengan senyum liciknya.Valerie ingat betul jika Anna ingin Valerie tunduk pada James, sehingga bisa menikmati kekayaannya. Namun nyatanya bukannya tunduk sebagai jalang, melainkan sebagai istri dan itu membuat Anna berada di bawahnya.
Langkah Valerie beriringan memasuki rumah besar itu, di dalam Henry sudah menunggu kedatangan mereka, tatapan Henry datar, seolah tidak peduli dengan apapun yang akan James lakukan, bahkan dalam hati kecilnya ia merasa takut. Maeva yang juga baru sampai setelah bertemu dengan Eleanor, terlihat menatap sinis dan tajam pada Valerie. Meskipun Valerie berasal dari keluarga kaya, tapi itu tetap tidak menguntungkan darinya. Karena hanya kekayaan dari Addison yang bisa membuatnya bertahan di posisi atas. "Seharusnya Eleanor yang ada di posisimu, gadis murahan!" bisik Maeva dalam hatinya, terlihat kebencian itu pada Valerie. "Kita langsung makan malam saja," ujar Henry tanpa mau berbasa-basi.Valerie mengernyit heran, melihat sikap ayah James, tapi dengan begitu ia tahu jika ayahnya benar-benar tidak bisa membantah James, anak laki-lakinya sendiri. James bahkan tatapannya lebih dingin dari yang ia kira, entah apa yang sebetulnya terjadi di keluarga Addison. Meski begitu, ia tidak begitu te
"Bukankah itu mereka? mereka bertengkar?" tanya Eleanor pada Maeva. Maeva melihat ke arah yang ditunjukan oleh Eleanor, benar saja disana ada James bersama wanita pilihannya. "Mereka akan menemui Henry malam ini," decak kesal Maeva setelah mendapat info dari Henry jika James akan memperkenalkan calon istrinya. "Lihatlah, wanita itu berlagak seperti seorang cinderella. James terlalu royal padanya, Ele, kau harus segera cari cara agar James hanya akan menjadi milikmu!""Aku tahu, tapi aku bingung bagaimana caranya, James, sangat sulit untuk aku perdaya!" kesal Eleanor. "Mengapa tidak kau berpura-pura hamil?" tanya Maeva. Eleanor berdecak kesal, " ada wanita yang melakukan cara itu, meskipun itu benar anaknya, tapi jika James tidak mau, maka tetap wanita itu akan disingkirkan olehnya. Menghadapi James sangatlah sulit, berada tetap di dekatnya saja itu sudah cukup bagus, tapi ketika wanita itu datang James malah langsung menyingkirkanku. Padahal sedikit lagi, aku mungkin aku bisa mem







