Masuk“Na, gue sekelompok sama lo ya. Kelompok lo belum penuh, kan?”Leena sempat tersentak kecil. Refleks, kepalanya menoleh. Ia mengangguk sebelum sempat berpikir panjang."Iya... belum," jawabnya.“Gue juga ya, Na,” timpal satu mahasiswa lain yang juga ikut mendekat.“H-hah? Oh… iya. Boleh kok,” sahut Leena. Ia sedikit gugup tapi berusaha terdengar santai.Perlahan, suasana kampus kembali seperti biasa. Bisik-bisik yang sempat mengarah pada Leena, kini mulai mereda. Beberapa orang yang sempat menjaga jarak, kini kembali menyapa Leena seperti biasa.Leena berpikir ulang. Semua itu juga tidak lepas dari peran Zayn.Hukuman-hukuman kecil yang kerap Leena terima memang terlihat seolah murni disiplin. Tapi Leena tahu, di balik itu, Zayn sengaja menempatkan dirinya di tempat itu.Bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memberinya ruang, menunjukkan kemampuan akademik yang sebenarnya. Sampai hasilnya mulai terlihat. Orang-orang mulai melihat Leena bukan memang serakah, tapi sebagai role model yang
“Uhmm…” Suara lirih itu lolos dari bibir Leena, seolah ia mendengar tapi enggan bangun.Zayn menatap wajah Leena yang masih terlelap. Gadis itu tampak ikut terlelap, kepalanya miring, satu tangan menopang sisi wajahnya sendiri. Nafasnya teratur, wajahnya jauh lebih tenang dari biasanya.“Cih! Ikut tidur juga,” bisik Zayn sambil menyeringai kecil.Perlahan Zayn menggeser kepalanya sampai kembali menengadah ke posisi semula, menatap langit-langit sebentar, sebelum akhirnya tersadar dengan situasi saat itu. Masih di atas pangkuan paha Leena. Di saat itu juga pandangannya jatuh ke tubuh gadis itu. Tanktop tipis yang dikenakan membuat bahunya terbuka jelas. Kulitnya putih, bersih, mulus. Pernah ia lihat sebelumnya, tapi kali ini lebih jelas, bukan lagi samar di bawah lampu temaram.“Cantik…” gumamnya tanpa sadar.Rambut Leena sedikit berantakan, wajahnya tampak polos dalam tidur. Pemandangan itu membuat Zayn terpaku sepersekian detik.Detik berikutnya, Zayn spontan bangkit, seolah mene
“Astaga! Ini… barusan?”Leena masih membeku di tempat. Tubuhnya seolah lupa cara bergerak. Bibir yang semula mengatup rapat kini terbelah pelan, seakan masih menyimpan sisa kehangatan dari kecupan singkat itu.Jantung Leena berdegup semakin keras, sampai dirinya sendiri merasa denging di telinga, tak yakin apakah suaranya berasal dari luar atau justru dari dalam kepala sendiri.Tatapan mereka masih saling terikat. Suara “Mwah” yang keluar dari mulut Zayn membuat waktu seakan terhenti sesaat.Leena menelan ludah dengan susah payah. Kali ini bukan mimpi. Tidak ada transisi bangun yang menyelamatkannya. Sentuhan barusan terasa jelas dan nyata hangatnya. Semua juga terasa terlalu konkret untuk disebut sebagai ilusi.“Pak…” suara Leena lirih nyaris tak terdengar.“Bayaran buat pangkuan kamu,” ucap Zayn tiba-tiba.Perkataan singkat Zayn itu membuat Leena terkekeh hambar, lalu meringis kecil dan bergumam dalam hati dengan nada jengkel. ‘Bayaran? Dia pikir gue ini apa? Tukang sewa pangkuan y
‘Hah?!’Leena refleks mengusap pelan tengkuknya, seolah disanalah rasa kikuk bermula. Setiap Zayn meminta dirinya untuk ke ruangannya, selalu ada sensasi yang sama. Ada sesuatu yang selalu dirasa salah tempat.Kali ini, perasaan itu datang dengan beban yang jauh lebih berat. Sejak tadi pagi, mimpi sialan itu terus menempel di kepalanya. Ia sudah berusaha acuh sambil menyibukkan diri dengan rutinitas. Tapi sekarang, ketika Zayn benar-benar berdiri di hadapannya dan meminta hal yang sama, mimpi itu seolah bangkit, utuh tanpa sensor. Kepalanya berdenyut pelan saat potongan mimpi itu kembali menyeruak tanpa izin. Bayangan adegannya berkelebat: gerakan cepat saat pria dingin itu melumat bibir seksinya tanpa aba-aba, lalu lanjut menelusuri lehernya. Leena menggigit bibir bawah, berusaha menepis ingatan sial itu.‘Cuma mimpi! Cuma mimpi, Na’ pikir Leena, cepat-cepat menepis bayangan itu. Jemarinya mengcengkram tapi totebag-nya lebih erat, seakan benda itu jadi pegangan satu-satunya untuk
“Untung dosen!” Leena berhenti sebentar, tepat di bawah lampu jalan. Ia kemudian menarik nafas panjang, berusaha menahan desakan emosi yang tak jelas ujungnya. Bahunya naik turun, sementara panas mulai merambat naik ke wajahnya. Pandangan Leena turun, menatap ponsel di genggaman yang nampak kembali diam. “Kalau bukan dosen,” umpatnya lirih, suaranya nyaris tenggelam. “Pasti dah gue blok dari tadi.” Namun, jemari Leena tak bergerak. Ponsel itu tetap ia genggam erat, seolah tahu benar kalau Zayn tak akan berhenti sampai sosoknya muncul di depan kelas. Leena mengusap kasar wajah dengan telapak tangan, lalu merapikan helai rambut yang jatuh ke pipi dengan gerakan kilat. “Ya ampun, Na,” desahnya kesal. “Kenapa sih harus ribet banget sama orang ini.” Dengan satu helaan nafas panjang, Leena kembali melangkah. Pandangannya lurus ke depan, menuju pintu ruang 2.12 yang sudah terlihat samar dari kejauhan. ** Sampai dimana Leena akhirnya berdiri tepat di depan pintu ruang 2.12. Tangan
‘Ck! Pak Zayn… kenapa juga harus balik lagi ke dia, sih,’ tukas Leena dalam hati.Batin Leena terus mendengus pelan. Tangannya meremas sisi gelas sampai dingin menusuk ke telapak tangan. Ia baru sadar, minuman di gelas hampir tandas.Gelas itu Leena angkat sedikit, menatap sisa cairan di dasar tanpa benar-benar fokus. Sudut bibirnya mengerucut tanpa sadar, rahangnya mengeras tipis. Seakan sedang menahan kata-kata yang tak ingin keluar.Di sisi lain, Evan tampak menggeser cangkir kosong di depannya. Memutarnya pelan dengan ujung jari. Tatapannya sesekali jatuh ke Leena, mencari celah untuk bersuara.“Ngomong-ngomong,” ucap Evan akhirnya. Nada suaranya dibuat santai. “Part-time lo gimana? Aman, kan?”Leena hanya mengangguk kecil sebagai respon, lalu menaruh kembali gelas dengan sedikit hentakan di meja. Jemarinya masih melingkari gelas yang nyaris kosong. “Aman, lancar kok, Van.” Jawaban singkat itu cukup meyakinkan untuk menutup kemungkinan pertanyaan lanjutan.Evan tersenyum tipis. “







