Se connecter"Kenapa Fanny bekerja di klub malam? Padahal, dia bisa bekerja di perusahaanku! Posisimu yang kemarin masih kosong. Kalau Fanny mau, dia bisa langsung bekerja!" jelas Danendra sambil meletakan tas jinjingnya di atas meja. Lalu jasnya dibuka oleh Marissa. "Oh, itu... nanti aku coba bicarakan dengan Fanny!" balas Marissa yang masih sangat bingung. 'Sejak kapan Fanny bekerja di klub malam? Kenapa aku tidak tahu?' "Eh, tapi, sepertinya Fanny tidak bisa bekerja! Dia ...." Seketika Marissa pun terdiam. Ia tidak bisa mengatakannya pada Danendra kalau Fanny tidak bisa bekerja karena sedang hamil juga, seperti dirinya. "Kenapa? Bukankah perusahaanku yang baru ini berbeda? Bukan di KJK lagi, kan? Kenapa Fanny tidak bisa?" tanya Danendra sambil membuka semua kancing kemejanya. Lalu melemparkannya ke atas sofa. Tindakannya yang sembarangan itu membuat Marissa heran. "Eh, kenapa bajunya dilempar sembarangan? Sini ... berikan padaku!" Marissa mengulurkan tangan, meminta kemeja itu seg
Di ruangan dokter, Fanny masuk ditemani oleh Marissa. Tanpa basa-basi, Marissa segera menjelaskan kondisi Fanny pada dokter wanita itu. Bahkan, ia meminta untuk dilakukan tes kehamilan. "Apa? Tes ... tes kehamilan? Sa, apa kau sudah gila? Siapa yang hamil?" tanya Fanny yang sangat terkejut dengan permintaan Marissa pada dokter. Namun, dokter itu mengerti. Dengan santainya dia membuka alat tes kehamilan, lalu memberikan benda bulat seperti gelas kecil pada Fanny. "Isi gelas kecil ini dengan setengah urin Anda! Nanti kita akan melakukan pengecekan kehamilan," jelas dokter sambil memakai sarung tangan karet. "Kamar mandinya ada di sebelah sana!" tambahnya lagi sambil menunjuk pintu kamar mandi yang ada di pojok ruangan. "Ayo, Fan! Sana pergi!" ucap Marissa dengan tampang seriusnya. Fanny pun tidak bisa membantah. Ia segera pergi ke kamar mandi, lalu mengisi gelas kecil itu dengan urinnya. Setelah selesai, Fanny membawanya pada dokter. "Cuci tangan Anda di sini, Nona!" Dokter menun
"Eh, Wilyam, kau mau pergi ke mana?" Ambar berteriak. Tapi putra keduanya sudah pergi keluar. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah mewah tersebut. "Aishhh! Dosa apa aku ini? Punya anak dua laki-laki, semuanya tidak ada yang menurut! Hadeuh ...." Ambar masih mengoceh sendiri. Baik suami maupun anak-anaknya, tidak ada yang berani berbicara. Ambar mengoceh tanpa ada yang menanggapi. Di meja makan, Marissa menyantap makanannya yang tadi diberikan oleh Danendra dengan lahap. Ia begitu bersemangat saat makan seolah baru melihat makanan seenak itu. "Pelan-pelan, Sayang! Nanti tersedak!" ucap Danendra yang segera menyodorkan air minum pada Marissa. Pria itu masih terdiam sambil melihat istrinya makan. "Papa ... aku juga mau minum!" ucap Drizela yang langsung meminta air minum pada ayahnya. Sepertinya Drizela cemburu melihat ayah dan ibunya mesra walau mereka sedang berada di meja makan. "Ini Sayang!" Ambar mendahului. Ia memberikan masing-masing satu gelas air pada kedua cucu
Berita pagi ini.Tadi malam, ada kejadian yang sangat memalukan, di mana seorang pria memanjat pohon, lalu terjatuh. Kejadian itu direkam oleh seseorang, lalu diunggah ke media sosial. "Haha .... Ini sangat lucu!" Danendra tertawa sambil melihat layar komputer di mejanya. "Tidak apa-apa, ini tidak buruk, kok! Nanti kau viral, terus terkenal! Hufttt!" Danendra menutup mulutnya dengan tangan. Ia menahan tawanya karena orang yang ada di depannya terlihat kesal. "Ta-tapi Tuan, itu sangat memalukan! Walau sakitnya tidak seberapa, tapi rasa malunya sangat besar! Saya jadi bahan tertawaan orang-orang!" balas Asisten Anas dengan murung. Hanya karena menuruti keinginan majikannya yang sedang ngidam, Asisten Anas harus rela ditertawakan oleh semua pengguna media sosial. Rasanya, harga dirinya sebagai seorang pria hancur berkeping-keping. Wibawanya pun turun drastis. "Ehem!" Kali ini Danendra mulai serius. Ia tidak lagi menertawakan Asisten Anas. "Kau tinggal urus saja, hapus semua video
"Sesuai dengan apa yang tadi dokter katakan, Tuan Lim kecapean! Dia kurang istirahat dan ada gangguan tidur juga. Kenapa kau terus bertanya pada kami? Seharusnya, yang lebih tahu tentang kondisi Tuan Lim itu adalah kau, bukannya kami!" balas Danendra dengan tegas. Danendra pun menahan tangan Marissa, mengisyaratkan wanita di sampingnya untuk tidak mengatakan apapun tentang kejadian tadi siang. Kalau sampai Ken tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia pasti akan marah pada Marissa. Danendra tidak ingin istrinya dimarahi orang lain. "Ya, tapi, ini terjadi di tempatmu! Kau yang mengundang Tuan Lim, kau jugalah yang harus bertanggung jawab atas kondisi Tuan Lim!" Padahal, Ken lah orang terdekatnya, dia merupakan asisten pribadi Tuan Lim yang sudah mengabdikan dirinya lebih dari 20 tahun. Dan sekarang, melihat majikannya berbaring tak berdaya seperti ini, bukannya sedih, dia malah menyudutkan orang lain dan meminta orang lain untuk bertanggung jawab atas kesehatan Tuan Lim. Padahal, tida
Mendengar hal itu, Tuan Lim malah tertawa. "Haha! Bukannya aku tidak mau berandai-andai. Tapi, itu sangat sulit terjadi! Kalau pun iya Ghio punya anak, seharusnya dia datang dan meminta restu dari kami! Bukan malah menghilang tanpa kabar selama puluhan tahun!" "Kalau dia pulang, tentu kami akan senang! Melihat dia hidup bahagia bersama anak dan istrinya, kami ikut bahagia. Tapi, ini tidak sama sekali!" "Emh ...." Marissa pun mengangguk. Ia mengerti dengan kekecewaan Tuan Lim yang mendapati putra sulungnya pergi meninggalkan rumah tanpa kabar. Mungkin, bisa dibilang, anaknya Tuan Lim itu termasuk anak yang durhaka. "Maaf!" Tiba-tiba Marissa mewakili ayahnya meminta maaf pada Tuan Lim. Ucapan dan kesedihannya itu membuat Danendra dan Tuan Lim merasa heran. "Kenapa harus meminta maaf? Aku tidak apa-apa dengan pembahasan kita ini, kau jangan merasa bersalah!" "Bukan ... bukan itu ...." Kali ini air mata Marissa sudah mulai menetes. Marissa tidak kuasa menahan perasaannya. Ia sanga
Semenjak kejadian malam itu, Fanny tidak pernah lagi menghubungi Marissa, tidak juga mengangkat teleponnya, bahkan tidak mau bertemu dengan Marissa lagi walau teman baiknya itu sudah datang ke rumah atau bahkan menjemputnya di kantor. Fanny benar-benar menghindar.Sekarang, terasa ada jarak di anta
"Aku yang seharusnya bertanya padamu, kau mau pergi ke mana? Sudah kukatakan, tunggu kami! Jangan pergi ke mana-mana!" ucap Danendra tanpa rasa bersalah sedikitpun."Ayo kita pergi! Diego sedang menunggumu di rumah!" Tiba-tiba Danendra menggenggam tangan Marissa, lalu menariknya berjalan ke mobil y
"Baru bangun, ya?" tanya Danendra dari seberang telepon. Marissa menjadi gugup. "Enh!" "Bangunlah! Cepat mandi," ucap Danendra lagi dari seberang telepon. Suaranya sangat lembut dan enak didengar. Suara seperti itu bisa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa terpesona. "Pakaian baru un
Mereka berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi yang lewat. Dari dalam mobil hitam yang ada di area tersebut, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua. Tidak lama, Fanny dan Marissa masuk ke dalam taksi, lalu pergi. Seseorang yang ada di dalam mobil itu tidak jadi mengikuti







