LOGINKelakuan kasar Martin Anggoro, membuat Vania Larasati, istrinya tersiksa lahir dan batin. Martin bukan hanya tidak menafkahi Vania, tapi ia kerap kali memukulinya. Selama tiga tahun pernikahannya, bahkan Vania menjadi sapi perah tanpa tahu kemana Martin menghabiskan uangnya. Vania berjuang agar tetap terlihat tegar di mata semua orang. Hingga kehadiran sosok Regantara Handoro mengubah semuanya. Lelaki itu memberikan perlindungan dan semua yang tidak diberikan suaminya selama ini. Bagaimana jika keduanya jatuh cinta? Mungkinkah Vania bisa melepaskan diri dari cinta toxic Martin Anggoro? Siapakah sesungguhnya Regantara Handoro?
View MoreMalam ini, sebuah pernikahan mewah digelar meriah. Mengusung tema pernikahan ala American clasic benar-benar menakjubkan. Ribuan kamera berancang-ancang diposisi masing-masing, tentu tidak ingin melewatkan momen berharga barang sedetikpun. Rekan-rekan aktor sampai para pelawak tanah air turut memeriahkan acara.
Ellard bahkan bermurah hati membiarkan para penggemar hadir, menjadi saksi hari bersejarah dirinya dengan kekasih.
Alhasil tamu yang datang meluap sampai halaman depan.
Alunan music romantic dimainkan menggetarkan hati. Kelopak bunga bertabur mengiringi langkah demi langkah menuju altar.
Ellard menggandeng calon isterinya dengan senyum mengembang dibibir, melambaikan tangan menyapa tamu dengan ramah. Semua orang ikut bahagia menyaksikan bagaimana pasangan serasi itu saling melempar senyum malu-malu, terlihat menggemaskan disetiap mata memandang. Ellard mengelus tangan Alura yang mengandeng lengannya, ketegangan jelas Ellard rasakan saat mata mereka bersitatap.
"Kau gugup?"
Perhatian kecil ia lemparkan pada Alura yang dibalas anggukan kecil ragu-ragu. Ellard pun tersenyum sibuk mengurusi detak jantungnya yang mulai ugal-ugalan.
Gugup yang Ellard rasakan tentu berbeda dengan Alura. Sesuatu yang orang tidak tahu sedang berkecamuk dalam dirinya. Dari awal Ellard memasuki ruangan ia sudah melihat wanita berambut pirang dengan kacamata hitam mengendap masuk diantara penggemarnya.
Takut bercampur senang mungkin itu yang ia rasakan. Ellard memang memaksa Bella untuk datang ke pernikahan nya hari ini, tapi demi Tuhan ia tidak pernah menyangka wanita itu benar-benar akan datang, setelah semua yang ia lakukan.
Ellard mengulum senyumnya tahu-tahu sudah tiba diatas altar. Menghadap semua tamu kemudian membungkuk 90 Drajat memberi penghormatan.
"Sebelum pernikahan ini dilanjutkan, saya terlebih dahulu ingin bertanya kepada para saksi yang terhormat, apakah ada diantara kalian yang kerberatan dengan pernikahan ini?"
Ellard muak dengan suasana ini, semua orang mulai berbisik, mengantisipasi karena sesuatu mungkin saja terjadi. Mengingat dirinya yang memang bukan orang biasa.
Bella tersenyum tipis, melihat dirinya yang begitu dibenci semua orang.
"Jalang sialan bernama Bella itu benar-benar tidak tahu diri kalau sampai berani mengacaukan acara ini." Tiba-tiba wanita didepan Bella berbisik dengan temannya, "dengan wajahnya yang huhhh jelek itu, aku yakin dia tidak cukup berani bersaing dengan Alura." Setelah itu mereka tertawa, mengejek orang yang jelas-jelas berdiri tepat dibelakang mereka sendiri.
Bella menjatuhkan padangan kelantai pun kepalanya tak mampu berdiri dengan tegak. Pembicaraan itu memaksa jatuh mental Bella yang mati-matian ia pertahanan. Kesalahan terbesar Bella laksanakan hari ini.
Demi Tuhan Bella tidak pernah berpikiran untuk membalaskan dendamnya dengan melakukan hal yang sama. Dituduh seperti itu membuat ia seketika memikirkan hal keji, bagaimana jika Bella benar-benar berdiri tegak diantara Ellard dan Alura. Berpura-pura gila pun bisa ia lakukan, mengancam semua orang dengan mengatakan dirinya membawa bom atom untuk kemudian ia ledakan diatas kepala Ellard. Dan lihat bagaimana ruang sesak ini akan menjadi kosong melompong.
Senyum jahat terbit dari bibirnya, namun Bella tentu tidak sebodoh itu. Setidaknya untuk sekarang, otaknya masih bisa bekerja dengan baik. Daripada melakukan hal yang membuat harga dirinya jatuh Bella lebih memilih untuk pergi.
"Dihadapan Tuhan-"
Yang mana Bella urungkan saat terdengar Ellard membacakan janji pernikahannya dengan lantang.
"Saya Ellard Wiliam dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Alura Rinjani menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, diwaktu sehat dan sakit, dengan kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku."
Prosesi berjalan khidmat, Alura mengikrarkan janjinya tepat setelah Ellard, kemudian pendeta menyatakan pernikahan mereka sah dihadapan Tuhan. Lalu mempersilahkan pasangan suami-istri itu untuk berciuman.
Dari kejauhan Bella dapat melihat bagaimana manisnya senyum Ellard sebelum meraih tenguk Alura, mencium mesra bibirnya. Bersamaan dengan itu, air mata jatuh membasahi pipi Bella. Sorakan riang disertai tepukan tangan mencubit perasaan.
"Jangan menangis."
Seolah tersadar, Bella menghapus air mata yang mungkin jatuh ditanpa terasa. Dia membalik kan tubuh tanpa perhitungan sampai ketika mereka berhadapan, mata teduh milik Mark langsung ia dapatkan.
"Mark?"
"Kau benar-benar datang ternyata."
Bella tersenyum tipis hampir tak terlihat, "aku hanya penasaran dengan konsep acaranya."
Alih-alih mengiyakan mark malah tampak mencebikan bibirnya. Lelaki itu jelas sedang mengejek kebodohannya, tapi Bella abai.
"Harusnya kau datang bersama ku."
"Lalu mendapatkan kecemburuan dari kekasihmu?" Sindir Bella telak membuat Mark menjadi gagu seketika, lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "yahh setidaknya kalau kau memberitahuku, aku bisa mengusahakan agar tidak datang bersama Yeri dulu kali ini."
"Memang nya bisa?"
"Bisa lah. Apapun demi sahabat tercinta." Mark menyengir ceria
"Minggu lalu saja kau habis dimarahi ayahmu gara-gara tidak menjemput Yeri dari sekolah. Ish dia benar-benar berhasil menjadikanmu babu--"
"BELLA!!"
Mark kelepasan, Bella tersentak tapi tak mengurangi kesadarannya untuk menarik keluar Mark dari kerumunan. wanita pirang disebelah Bella sempat mengeryit, satu detik saja bisa-bisa Bella pulang dengan kaki tangan patah.
Darah terasa mengalir lebih cepat seiring dengan detak jantungnya asik berdisco ria. Bella ingin mengehabisi Mark saja rasanya.
Sementara Mark masih sempat terkekeh geli, seolah itu bukanlah masalah. Bella menggerutu, tidak tahu saja dia bagaimana kejamnya penggemar fanatik Ellard-alura. Bella bahkan sempat dikutuk habis-habisan karena dianggap menjadi penghalang hubungan Ellard dan Alura.
"Mark, kau hampir saja membunuhku dengan berteriak seperti itu tadi." Sunggutnya menghentikan langkah mereka tepat didepan toilet pria.
"Oke. Maaf, aku kelepasan." Mark menyengir menampilkan giginya yang rapi seolah tidak merasa bersalah. "Kalau sampai ada yang sadar aku disini. Bisa habis aku."
"Lagian kenapa pula kau datang ujuk-ujuk kesini? Mau mengantarkan nyawa?" Mark tertawa melihat keseluruhan penampilan Bella, "ini lagi nyamar ceritanya?"
"Terserah!"
Mark terkekeh, Bella menggunakan wig berwarna mencolok. Persis seperti badut Ancol dimata Mark, "Niatmu perlu diacungi jempol." katanya serentak dengan kedua ibu jarinya yang mengacung untuk Bella, "Kalau aku sedang tidak menggunakan sepatu sudah kuberikan juga dua jempol kaki ku untukmu."
Kelakar lawas, Bella sama sekali tidak menganggap itu lucu. Wanita itu lebih memilih menyandarkan punggungnya ke tembok. Menatap langit-langit, yang entah kenapa membuat hatinya kian sesak.
"Aku bodoh sekali ya, Mark?"
Matanya berlinang, tapi sebisa mungkin ia tahan agar tidak menangis.
"Dia yang menyuruh ku untuk datang kesini, kalau kau ingin tahu."
Mark tidak menjawab. Ikut bersandar bersama Bella. Kedua tangannya ia masukan kesaku celana, siap mendengarkan apa saja keluhan wanita itu.
"Bahkan aku juga bingung, setelah semua yang terjadi--aku tetap tidak bisa membencinya Mark-"
Tangis Bella pecah setelahnya, meluapkan semua yang ia tahan selama ini. Bella wanita yang kuat, tidak pernah sekalipun Mark melihat nya menangis sepilu ini. Namun sekarang ia paham jika wanita ini sedang mengalami kesakitan yang amat sangat. Mark menjadi tidak tahan untuk tidak merengkuh Bella kedalam pelukannya. Menepuk punggungnya lembut demi memberikan ketenangan.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Kau ingin menemuinya setelah ini?"
Bella menggelengkan kepala lemah, masih terisak walau terbungkam dada Mark. "Aku tidak tahu."
"Jangan menangis."
Suara Mark ikut-ikutan serak, sehingga Bella menjadi Malu sendiri. Seperti tersadar tindakannya kali ini menjadi beban bagi orang lain.
"Bawa aku pulang, Mark."
***
Ellard tetap menggandeng mesra Alura, menyalami tamu-tamu yang terus berdatangan. Senyuman lebar ia tampilkan tidak pernah luntur yang mana diejek habis-habisan oleh dasi kupu-kupu yang masih bertengger rapi mengikat kerah kemeja.
Seorang aktor memang harus pandai bersandiwara, bukan?
"Sayang?"
Langkah mereka terhenti otomatis, Ellard menaikan alisnya, bertanya melalui itu.
Pelukan erat Alura pada lengannya Ellard dapatkan sebagai jawaban, yang mana Ellard tatap mata istrinya yang terlihat sayu "Aku lelah, tidak bisakah acaranya diselesaikan dengan cepat?"
"Tidak sayang. Akan sangat tidak sopan jika kita menghentikan acara-nya tiba-tiba."
"Tapi aku mual. Kaki ku pegal. Kalau tidak mau, biarkan aku pergi duluan. Aku ingin istirahat." Alura mengeluh manja pada Ellard yang masih enggan meninggalkan acara. Wanita itu mendengus kesal, melepasakan Ellard lalu pergi begitu saja.
"Sayang?!"
"Alura."
Pangilannya diabaikan, tak membuat Ellard berniat mengejar Alura. lelaki itu hanya mengedikan bahu. Alura sedang hamil muda, jadi wajar jika moodnya sering dalam kondisi tidak baik.
Ellard memahami hal itu, berusaha melenturkan bibirnya kembali agar bisa tersenyum lebih natural.
"Ellard William."
"Rangga Pratama."
Ellard terkekeh menyambut sang sahabat yang langsung menjabat tangannya.
"Selamat atas pernikahanmu, Dude." Ucapnya bangga, "aku benar-benar tidak menyangka kau akan berjodoh dengan lawan mainmu sendiri."
Bukan hanya Rangga, Ellard pun tidak menyangka.
"Ya begitulah." Balas Ellard tidak mengurangi intensitas senyumnya.
"Terimakasih ya sudah turut hadir di pernikahanku."
"Eyss bicara apa kau ini? Aku sahabatmu sudah sewajarnya memberikan dukungan untukmu." Rangga menepuk pundak Ellard, "Tapi maaf, sebenarnya aku sangat menyayangkan hal ini, aku tidak bisa membersamaimu lebih lama, Ellard." Kelakar Rangga berpura-pura melihat jam tangannya "aku harus menemani istriku kerumah sakit." Lanjutnya setengah berbisik.
Ellard mengidikan bahu tanda tak punya hak menahan Rangga lebih lama, istri Rangga tengah hamil besar dan kalau tidak salah Rangga pernah mengatakan kalau Minggu-minggu ini istrinya akan segera melahirkan.
"Kau memang pandai mencari alasan." Rangga tertawa mendengarnya,
"Sana! Pergilah! Sampaikan salamku dengan Elena." Usir Ellard sedikit mendorong bahu Rangga.
"Tentu. Ah padahal dia ingin sekali melihat mu menikah, tapi sudahlah--" setelahnya hanya punggung lebar Rangga yang bisa Ellard lihat. Lelaki itu tampak berlari kecil. Tanpa sadar hati Ellard menghangat, tarikan dibibirnya menjelaskan kalau Ellard iri melihat kebahagiaan sang kawan.
Yang ia tendang jauh-jauh perasaan itu demi kelangsungan hidupnya.
Lelaki itu kembali mengedarkan pandangan, lagi-lagi hatinya seperti dihujani beribu bunga. Para penggemar masih setia berdiri dihalaman depan. Menunjukan cinta mereka, dengan ucapan-ucapan selamat yang mereka buat sendiri melalui tulisan.
"Ellard-Alura Forever!"
"Teruslah bahagia Ellard William! We love you!!"
Hampir saja Ellard menitikan air mata. Bagaimana bisa begitu banyak orang mencintai lelaki brengsek seperti dia. Ellard semakin melebarkan senyumnya melambaikan tangan, memberikan ucapan terimakasih melalui isyarat.
Tindakan itu tak ayal mendapat sautan luar biasa dari fans. Mereka meneriakkan nama Ellard berkali-kali.
Ellard membungkuk menghormati orang-orang yang tulus mendukungnya. Berpamitan untuk meninggalkan tempat itu, yang langsung diiyakan begitu saja oleh mereka.
Langkah Ellard lagi-lagi ia lanjutkan, menuju toilet untuk sekedar mencuci muka. Matanya sudah terasa berat karena lelah.
Namun di detik selanjutnya mata Ellard seolah dibuat benar-benar terbuka saat melihat sesuatu yang tidak ia suka terjadi didepan matanya. Lelaki itu menggertakan giginya, ia marah tapi ia tahan. Ellard menyandarkan punggungnya ke tembok dengan arogan, lalu berdeham keras.
"Disini kau rupanya."
***
“Alisha!” teriak Regantara. Lelaki itu segera menarik bedcover untuk menutup bagian tubuhnya yang terekspos. “Maaf Kak,” ucap Alisha yang langsung menutup pintu kamar itu kembali. Mood mereka langsung menghilang karena peristiwa itu. …. Suasana di meja makan pagi itu sepi, tidak seperti biasanya. Alisha tidak lagi berceloteh. Gadis itu bahkan menghabiskan sarapannya jauh lebih cepat dari biasanya. “Aku hampir terlambat,” sahutnya ketika Vania mencoba mengajaknya bicara. Dan benar, selang beberapa saat kemudian ia berlari keluar. Ia menyalakan motor maticnya dan berangkat ke sekolahnya. Kaki Vania menyenggol kaki suaminya sebagai kode. Ia merasa perubahan sikap Alisha masih ada hubungannya dengan peristiwa semalam. Sungguh situasi yang sangat canggung. Mereka tak bisa sepenuhnya mempersalahkan Alisha yang langsung membuka pintu kamar mereka. Bagaimanapun mereka juga bersalah karena lebih mementingkan hasratnya dan melalaikan kewajibannya menutup pintu. “Papa suda
“Apa yang mau Papa lakukan jika bertemu kembali dengan mama?” tanya Regantara, “aku tidak akan pernah ijinkan Papa bertemu mama jika Papa hanya ingin menyakiti hati mama lagi.”“Papa sudah dengar semuanya,” ucap lelaki tua itu. Raut wajah sendunya memperlihatkan dengan jelas penyesalannya. “Kenapa kamu tidak memberitahu papa? Seharusnya semua ini tidak perlu terjadi.” “Seandainya pun aku memberitahu Papa, apa mungkin Papa akan percaya?” Sahut Regantara dengan perasaan getir, “saat itu Papa sibuk dengan selingkuhan Papa yang menuntut tinggal di rumah ini. Aku masih ingat ketika perempuan jalang itu masuk ke rumah ini bersama dua anaknya. Aku masih ingat bagaimana dia memperlakukan mama di belakang Papa.” Vania meremas lengan suaminya. Ia tidak suka melihat suaminya menciptakan perasaan bersalah pada pemilik tubuh renta di hadapan mereka. Seharusnya ia dapat hidup dengan damai di usia senjanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Hutomo menghela napas dengan berat. Sepasang matanya
“Nggak ada apa-apa. Pasti cuma mati lampu biasa. Sebentar lagi juga pasti nyala,” bisik Regantara menenangkan istrinya. Ia mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam kamar mereka. Untung saja cahaya bulan dari jendela besar apartemennya cukup berguna malam itu. “Sepertinya kita memang harus melanjutkan misi kita malam ini,” goda Regantara disambut cubitan ringan di pinggangnya. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di samping Vania. “Sayang, pernikahan seperti apa yang sebenarnya kamu impikan?” tanya Regantara, “apakah itu tentang mengundang banyak orang, memakai gaun putih dengan dekorasi yang penuh bunga?” “Aku tidak mau. Bagaimana kalau pernikahan itu gagal? Aku nggak mau merasakan kecewa untuk yang kedua kalinya,” sahut Vania, “jujur aku tak akan sanggup jika kegagalan yang sama kembali terulang. Mungkin aku bisa terlihat setegar ini, tapi sebenarnya hatiku —”Regantara menghentikan ucapan istrinya dengan sebuah kecupan. Ia memagut dengan penuh hasrat, menikmatinya, seakan h
Vania meletakkan beberapa foto yang didapatnya dari seorang pemegang saham. Ia tak bisa menyangkal kalau hatinya terasa sakit saat melihat lembaran foto yang memperlihatkan bahwa suaminya sedang tidur bersama gadis lain. Namun ia dituntut profesional, apalagi saat ini ia sedang melakukan tugasnya, sebagai seorang sekretaris. Ia tidak seharusnya melibatkan perasaannya. Regantara menatap foto-foto di depannya. Foto yang memperlihatkan betapa intimnya hubungannya dengan Alisha. Sesaat ia menghela napas sambil melirik tajam pada istrinya, mencari sirat kecemburuan di wajahnya nan ayu. “Tentang peristiwa ini, aku berhak untuk diam karena ini terlalu privacy dan aku tidak ingin melukai siapapun dengan pernyataanku,” ucap Regantara, “tapi aku bisa menjamin, nilai saham kita akan melesat naik di minggu berikutnya. Aku sudah menindaklanjuti pemberitaan itu dan orang-orang yang berniat buruk padaku juga sudah diamankan oleh para penegak hukum.” Kegaduhan kembali terdengar di dalam ruangan it
Mata bulat dengan bulu lentik itu semakin membulat. Kecemasan sangat kentara di wajah ayunya. Hal itu justru membuat suaminya merasa tergelitik untuk kembali menggodanya. “Aah – aah! Jangan dorong. Nanti punyaku putus,” lanjutnya mengaduh seolah kesakitan.“Terus kita mesti gimana?” Regantara hampir
“Aku sudah menemukan ibuku.” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Regantara, seolah tak ada sesuatu yang penting. Namun sebaliknya bagi Vania. Namun justru perempuan itu mendelik, seolah kalimat itu sebuah kejutan besar baginya. “Dimana? Apa kamu sudah menemuinya? Bagaimana keadaannya? Apa dia
Vania meraih akta notaris yang disodorkan Andini. Buku sertifikat itu tak urung membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Betapa tidak, jalan sudah jelas terbentang di hadapannya. Dikeluarkannya ponselnya dan menghubungi salah satu pemilik nomer yang ada di dalam kontaknya. “Er, aku berniat membel
“Kenapa terburu-buru?” tanya Amalia ketika melihat Regantara dan Vania keluar dari ruang kerja suaminya. Ia tersenyum seolah tak pernah ada konflik di antara mereka. “Sudah larut, Tante,” sahut Vania, “kami harus pulang. Lagipula Pak Hutomo … ehm, maksudku, papa kelihatannya butuh istirahat.” Peremp






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews