ANMELDENSepulangnya dari rumah Roy senyum Aurora tidak pernah luntur sedikit pun. Ia yang tidak mendapatkan figur seorang ayah kini menemukan kembali sosok itu dalam diri Roy—papa mertuanya. “Kenapa senyum-senyum dari habis pulang dari rumah Papa?” tanya Leo dengan lembut. Ia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya walaupun ia tidak bertanya, Leo sudah tahu penyebab rasa bahagia yang istrinya rasakan saat ini. Aurora terkekeh, kedua pipinya bersemu merah. Bahkan ia tidak malu untuk memeluk lengan Leo terlebih dahulu. “Hehe…aku sangat bahagia, Mas. Akhirnya aku punya ayah,” ungkap Aurora dengan mata berbinar. “Syukur lah kalau kamu bahagia, Sayang. Anggap papa itu papa kandungmu juga ya. Kamu tidak perlu sungkan. Tapi kalau kamu lebih manja dengan papa, Mas cemburu,” balas Leo dengan ekspresi yang dibuat-buat sedih. Aurora tergelak, ia mengelus pipi Leo dengan manja. “Ya gak mungkin, Mas. Aku masih menjaga batasan.” Leo memeluk Aurora dan mencium puncak kepa
Aurora menggenggam tangan Leo dengan erat ketika mereka baru saja memasuki rumah Roy.“Akhirnya kalian datang juga,” ujar Roy yang tak jauh dari mereka.Matanya tertuju pada Aurora lalu ke perut Aurora yang sudah terlihat membesar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapa pun.Aurora tampak terlihat takut, tubuhnya bergerak untuk semakin merapatkan dirinya pada Leo.“Sayang itu Papa,” bisik Leo dengan lembut.Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan, perlahan ia bergerak dan melepaskan genggamannya pada Leo. Kakinya mulai melangkah untuk mendekat ke arah mertuanya.Tangannya dengan ragu terulur untuk menjabat tangan sang mertua.“A-aurora, Pa.”Aurora memperkenalkan diri dengan nada bicara yang terdengar takut-takut. Ia takut Roy tidak akan menerimanya sebagai menantu. Kehidupannya dan Leo sangat berbeda jauh, perbedaan itu terlihat sangat jelas.Roy tersenyum tipis, ia menyambut tangan menantunya itu dengan hangat dan menyentuh puncak kepala Aurora dengan mengelusnya pela
“Di mana istrimu?” tanya Roy—papa kandung Leo dengan ekspresi datar namun penasaran.Ekspresi wajah Leo langsung tampak serius. Semua keluarga sedang berkumpul setelah acara pernikahan Shopia dan Raja.“Ada di apartemen,” sahut Leo tanpa keraguan.Roy menautkan kedua tangannya dan menjadikan sebagai tumpuan dagunya.“Kenapa tidak kamu bawa ke sini, Leo? Apa kamu tidak ingin memperkenalkan istri barumu itu kepada Papa dan yang lainnya? Kamu sama sekali tidak menghargai keluarga ini. Bisa-bisanya menikah tanpa sepengetahuan Papa dan yang lainnya,” tanya Roy sambil memarahi anaknya.Roy menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan sang anak. Bahkan ia tidak habis pikir kenapa Leo bisa menikahi perempuan muda se-usia Shopia. Bahkan kabarnya cucu dan menantunya itu adalah sahabat dekat.“Situasinya tidak seperti yang Papa pikirkan. Saya yang memaksanya untuk masuk ke dunia saya. Dia sudah menolak tetapi demi ibunya di rela direndahkan oleh saya. Tetapi pada akhirnya saya yang jatu
Leo benar-benar sangat hati-hati menyentuh sang istri. Gerakannya pelan saat memasuki Aurora.Sedangkan suara desahan Aurora terdengar mengalun indah di telinga Leo. Cengkeraman tangan Aurora terasa kuat di bahunya.“M-mas terus,” pinta Aurora dengan merengek manja.Suara napas keduanya terdengar berat, Leo berusaha mengontrol dirinya agar tidak menyakiti calon anak mereka dengan mempercepat gerakannya.“Iya, Sayang. Kita harus ingat juga dengan calon anak kita,” jawab Leo dengan suara berbisik.Aurora mengangguk, ia menggigit bibir bawahnya ketika milik Leo masuk dengan sempurna.“Aaahhh…”Aurora meremas payudaranya sendiri dengan mata terpejam menikmati milik Leo yang keluar masuk di bawah sana.Ini sungguh nikmat!Aurora merasa tidak ingin berhenti, peluh sudah membanjiri tubuhnya. Sudah berapa kali tubuhnya bergetar hebat mendapatkan pelepasan.Leo juga merasa sebentar lagi ia akan keluar. Dengan kesadaran penuh ia melepaskan penyatuan mereka.“Arghh…” Cairan miliknya keluar di a
Leo menutup pintu kamar dengan perlahan, ia mendengar tangisan lirih istrinya. Leo menghela napasnya dengan pelan ketika melihat sang istri meringkuk di tempat tidur sambil menahan tangisannya yang hendak pecah.Tanpa menimbulkan suara Leo berjalan menghampiri Aurora. Ia duduk di pinggir tempat tidur, dan mengelus rambut Aurora dengan lembut.Aurora yang merasakan kehadiran suaminya, ia tak langsung melihat ke arah Leo. Tangisan wanita hamil itu malah kian terdengar keras.“Shopia sudah pulang, Sayang. Mas pastikan dia tidak akan menemui kamu sebelum kamu siap untuk bertemu dengan dia,” ujar Leo memulai pembicaraan.Aurora masih tetap diam, tangisannya membungkam suaranya sendiri.“Sayang, boleh Mas memberikan saran?” tanya Leo dengan lembut.Aurora perlahan memperlihatkan wajah sembabnya kepada Leo. “Apa?” tanya Aurora dengan serak—ia berusaha meredam isakannya sendiri.Leo menatap dalam manik mata Aurora yang terlihat sembab. “Sudah berapa lama kamu sahabatan dengan Shopia?” tanya
“Pergi kamu dari sini!” bentak Aurora sambil menunjuk ke arah pintu agar Shopia segera pergi dari hadapannya sekarang juga.Gadis itu masih diam, ia menelan ludahnya dengan kasar. Namun, tekadnya tak akan membuatnya pergi.Shopia meremas tangannya sendiri, ia semakin gugup ketika tatapan Aurora semakin terlihat membencinya.“A-aurora, aku—”“Pergi! Aku gak mau melihat wajah kamu!”Dada Aurora naik turun, tatapan tajam menghunus. Emosinya naik seketika, wajahnya merah padam, aliran darahnya terasa mendidih—panas menjalar ke seluruh tubuhnya.“A-aku minta maaf,” ucap Shopia dengan terbata.Wajahnya menunduk tak berani menatap Aurora sama sekali. Degup jantung Shopia menggila, gadis itu takut dengan semua reaksi Aurora.Benar saja, Aurora langsung terkekeh mendengar permintaan maaf dari Shopia yang menurutnya sudah terlambat. Dan Aurora yakin jika Shopia meminta maaf kepadanya karena Leo yang sudah menemui Shopia terlebih dahulu.“Maaf? Dengan semua yang terjadi kamu hanya meminta maaf?”
“Papa, Aurora. Kalian ini terlihat canggung sekali ya. Padahal cuma tabrakan doang,” ucap Shopia tertawa kecil melihat ekspresi papa dan sahabatnya itu. Aurora langsung melepaskan diri dari Leo. Ia salah tingkah dengan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. “M-maaf, Om. Aku gak sengaja na
“Ayolah Aurora. Papaku gak akan marah kalau kamu menginap di rumah,” bujuk Shopia memegang tangan sahabatnya dengan wajah yang memelas.Aurora melirik ke arah Leo sekilas, pria itu mengangguk dengan tegas. Jika Leo memang mengizinkan dirinya untuk menginap di rumah mewah milik Leo itu.Aurora mengh
Aurora menatap langit-langit kamar Shopia, berkedip perlahan dan hembusan napasnya terdengar, sejak tadi ia sudah menguap, tetapi matanya tidak bisa terpejam.Padahal di sebelahnya ada Shopia yang tidur dengan nyenyak dan memeluknya dengan erat.Malam semakin larut, rintik hujan mulai terdengar tur
Aurora menatap Leo dengan tegas, sorot matanya sayu tetapi terlihat tidak ada keraguan di dalamnya.“Aku sudah menandatangani perjanjian kita, Om. Dan Om yang hanya bisa menyudahi hubungan kita bukan aku. Mana mungkin aku membeberkan semuanya apalagi di hadapan Shopia,” sahut Aurora dengan lirih.“







