เข้าสู่ระบบ“Mana Shopia?” tanya Aurora ketika baru saja sampai di rumah Raja dan Shopia.Aurora celingukan, matanya terus mencari keberadaan sahabatnya tersebut. Tetapi ia tidak menemukan Shopia sampai sekali.“Di mana Shopia, Raja?” tanya Aurora dengan tidak sabaran padahal Raja baru saja mau membuka suara tetapi pertanyaan Aurora menghentikan suaranya.Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum canggung karena Aurora terus bertanya kepadanya.“Shopia ada di kamarnya. Ke kamar saja tidak apa-apa biar saya dan Papa mengobrol di bawah,” jawab Raja.Aurora melihat ke arah suaminya, ia merasa tidak enak jika harus memasuki kamar Shopia dan Raja. Tetapi ia sudah sangat ingin bertemu dengan Shopia sejak di kabarkan jika sahabatnya itu sedang hamil.“Tapi…”“Tidak apa-apa masuk saja,” ucap Raja mengizinkan.“Temui Shopia, Sayang. Tidak mungkin Shopia yang keluar dia tidak boleh kelelahan dulu karena terlalu beresiko untuk kehamilannya,” timpal Raja.Aurora akhirnya menyetujuinya walaupun
Raja memandang hasil USG Shopia tak berkedip. Berulang kali Raja meyakinkan dirinya jika ini bukanlah mimpi.“Sayang yakinkan Mas kalau ini bukan mimpi,” ucap Raja dengan menepuk pipinya dengan pelan.Shopia juga masih tidak percaya, tetapi rasa bahagia itu sangat membuncah di hatinya. Ia bisa hamil kembali, matanya berkaca-kaca menatap hasil ISG miliknya.“A-aku hamil, Mas. Ini beneran bukan mimpi hiks…hiks…” jawab Shopia menangis haru.Raja memeluk istrinya dengan erat, mencium ubun-ubun Shopia dengan penuh penghayatan sampai ia memejamkan mata.“Mas janji akan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Mas tidak akan membiarkan kalian kenapa-napa. Kamu dan anak kita harus sehat,” ucap Raja tersenyum menatap wajah Shopia.Bahkan ia juga ikut menangis haru. Raja berjongkok di hadapan Shopia, wajahnya dan perut sang istri saling sejajar. Ia mencium perut Shopia berulang kali dengan rasa bahagia yang sangat membuncah. “Sayang, kamu sehat-sehat di dalam perut Mama ya. Papa akan menjaga kamu d
Benar saja sampai keesokan harinya keadaan Shopia tidak kunjung membaik. Wanita itu semakin terlihat lemas dan muntah-muntah setelah bangun tidur hingga wajahnya pucat pasih, bahkan Shopia tidak bisa melakukan aktivitas apa pun selain rebahan di kasur.Tanpa pikir panjang Raja langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Pikirannya kalut melihat keadaan Shopia yang tidak berdaya.Ia juga sudah menghubungi Leo jika mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksa Shopia. “Sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit,” ucap Raja menatap wajah Shopia.Shopia hanya mengangguk saja, ia sudah sangat lemas sekali. Ia sudah pasrah jika harus dibawa di rumah sakit.Shopia sudah tidak membantah, ia sudah janji dengan suaminya. Toh ia juga merasakan tubuhnya sama sekali tidak enak.“Mas, aku takut. Kalau aku terkena penyakit keras gimana? Bagaimana nanti kalau aku meninggal?” tanya Shopia dengan suara sendunya.Raja mengepalkan kedua tangannya, ia tidak suka mendengar pertanyaan tidak bergun
“Sayang bangun.” Raja mencoba membangunkan sang istri yang belum bangun sampai sekarang. Ia menggoyangkan lengan Shopia tetapi tidak ada pergerakan sama sekali.“Sayang,” panggil Raja dengan lembut.Tumben sekali Shopia sangat susah untuk dibangunkan. Raja jadi khawatir, ia duduk di pinggir ranjang.Ia mengelus rambut Shopia, menatap wajah sang istri. Dan mengecek suhu tubuh istrinya.“Sayang kamu kenapa? Jangan buat Mas khawatir,” tanya Raja dengan pelan tepat di telinga Shopia.Shopia mencoba membuka matanya yang terasa berat sekali, tubuhnya sangat pegal-pegal tanpa sebab.“Aku capek banget, Mas. Lemas juga. Gak tahu kenapa,” jawab Shopia dengan suara lirihnya.Shopia mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang, menatap Raja dengan pandangan sayunya.“Kita ke rumah sakit ya. Kamu terlihat sangat lemas sekali, Sayang. Mas gak tenang kalau harus meninggalkan kamu untuk kerja,” bujuk Raja.Shopia menggelengkan kepalanya. “Aku cuma lemas, Mas. Nanti juga sembuh kok,” tolak Shopia deng
Sesampainya di rumah Aurora langsung memeluk sang anak dengan erat dan menciumnya dengan rasa haru dan penuh kerinduan.Ia takut tidak bisa bertemu lagi dengan Alvaro. Tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan untuk dirinya.“Sayang, Mama kangen banget sama kamu,” ucap Aurora dengan rasa syukur yang luar biasa.Perasaan lega menghampiri dirinya. Namun, energinya terkuras habis hanya karena berbicara dengan Darma.“Kamu cuma merindukan Alvaro, Sayang?” tegur Leo merasa tidak terima jika sang istri hanya merindukan anak mereka.Aurora menoleh ke arah suaminya, ia tersenyum lalu masuk ke dalam pelukan Leo di mana Alvaro berada di tengah-tengah mereka.“Aku merindukan Mas dan Alvaro. Aku pikir gak bisa bertemu dengan kalian lagi, ternyata pemikiranku salah. Papa tidak melakukan apa pun ke aku, Mas.”Aurora menatap Leo dengan mata berkaca-kaca. Ia menghela napas dengan pelan.Leo mencium ubun-ubun Aurora dengan lembut. Padahal amarahnya masih membara di hatinya, matanya tajam menatap lurus
Leo menarik Aurora dengan cepat setelah sang istri berada di hadapannya. Ia langsung menyusul ke tempat ini ketika dihubungi oleh bodyguardnya jika Aurora dibawa oleh seseorang.“Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?” tanya Leo memastikan keadaan sang istri.Leo melihat seluruh tubuh Aurora dengan teliti, ia takut Aurora terluka sedikit saja.Aurora sedikit syok melihat kedatangan suaminya, ia yang masih melamun, tubuhnya kaku ketika dipeluk.“A-aku gak apa-apa, Mas. Tadi—”“Pria brengsek itu yang membawa kamu pergi, kan?!” ucap Leo memotong ucapan istrinya dengan cepat.Suaranya datar, dingin dan sama sekali tidak bersahabat.Aurora menelan ludahnya dengan kasar mendengar suara suaminya yang seperti vonis mati untuk dirinya. Kenapa suaminya cepat sekali mengetahui semuanya? Bahkan ia belum bercerita sama sekali.“D-dari mana Mas tahu?” tanya Aurora dengan terbata.“Kamu lupa suamimu ini siapa, Sayang?” Suara Leo bertambah dingin. Ia menarik Aurora dengan pelan untuk masuk ke dalam mobil,
Aurora menatap buku nikah yang ada di tangannya, ia tidak menyangka jika sejam yang lalu dirinya dan Leo sudah mengucapkan janji suci pernikahan dan sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri.Ada perasaan senang, tetapi perasaan bersalah datang bersamaan menekan dadanya.Keduanya sekarang sudah
“Kamu masih di sini?” tanya Shopia yang sudah terlihat membaik dari sebelumnya.Aurora yang sedang menyiapkan makan malam menoleh dan tersenyum tipis. Ia dibantu dengan pelayan yang lain untuk menyiapkan makan malam.“Papa kamu yang suruh aku tetap tinggal di sini untuk menjadi teman kamu, Shopia.
Tangan Aurora bergetar, suaranya tercekat, bisa masih tidak percaya membaca rentetan kata yang tertera di kertas tersebut.Namanya tertera di sana. Ini terlalu berlebihan, tetapi Aurora merasa dirayakan.“Beneran, Sayang. Rumah ini buat kamu. Nanti suruh mama tinggal di rumah ya, karena kita juga l
Leo membantu Aurora untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang. Gadis itu terlihat lemas, pucat, dan tidak berdaya.Suhu tubuhnya belum juga turun. Sebab, Aurora belum minum obat.“Makan dulu buburnya setelah itu minum obat biar panas kamu turun,” ujar Leo denga







