MasukSetelah mengetahui perselingkuhan kekasihnya dan saudari tirinya, Caroline harus terusir dari rumah dan dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua oleh ibu tirinya yang jahat. Caroline tidak memiliki pilihan lain selain setuju karena ibu tirinya mengancam akan menghabisi ayahnya. Si rentenir tua itu nyatanya adalah Eric. Pria itu menawarkan kerja sama untuk membantunya membalaskan dendam, tetapi dengan syarat Caroline harus menikah dengannya. Apa yang harus Caroline pilih?
Lihat lebih banyakThe night I turned sixteen, the moon was bright enough to expose flaw and mercilessness. It hung above the Moonfall clearing like a silent judge, silver light spilling over the trees and onto the gathered pack members below.
I remember standing in the center of the teenagers of the moon fall pack, my heart pounding so loudly I was sure everyone could hear it. The air smelled of Pine and anticipation, laughter echoed through the trees. Tonight was the night . The night every child of the pack waited for. The night we would meet the other half of ourselves. Parents stood proudly at the edge of the clearing, waiting patiently to witness their children’s first shit. I stood in the center of the clearing with the other sixteen year olds, my hands trembling at my sides. Around me parents whispered encouragement to their children. I have learned not to look at familiar faces in crowds. My father was long gone and executed as a traitor before I could fully understand what betrayal meant. My mother had disappeared soon after, swallowed by rumors and silence. So I stood alone under the full moon, pretending I didn’t notice the empty space where my family should have been me The moon Goddess was supposed to bless us at sixteen. Bones would crack, skin would split, fur would rise. And for the first time, we would meet the other half of our souls. I waited for my wolf. Around me, my peers began to tremble. Gasps filled the clearing. Their cries filled the night half agony, half triumph. Wolves burst into existence, howling proudly beneath the silver sky. The pack erupted in applause and cheers. I felt… nothing. No heat, no tearing bones. Just cold. I told myself it was delayed. That maybe I was simply different, my breathing grew shallow as the last of the teenagers shifted successfully. Wolves ran in circles, nudging their parents, basking in praise. I was still standing there, still human. The whisper began “She hasn’t shifted. ” “Is she scared?” “Maybe it's delayed.” I swallowed hard and lifted my face towards the moon. Surely it hadn’t forgotten me, surely I wasn’t invisible even to the Goddess who ruled us. I kept waiting. Hours passed, the moon climbed higher nothing happened. The laughter grew distant. The Alpha finally approached me, his expression unreadable. “Sometimess,” he said carefully, loud enough for the remaining onlookers to hear, “the Moon Goddess tests patience.” But there was doubt in his eyes. That was the first night I understood what it meant to be alone. I walked back to my small hurt alone that night. No wolf waited inside my mind, no second heartbeat echoed in my chest. Only silence. “Broken Omega,” Lyra Moonfall had called me earlier that day, laughing with her friends. “Even the Moon Goddess rejected me .” The next morning, they began calling me wolfless. By the end of the week, they had a new name. BROKEN OMEGA.Rombongan mobil bergerak sangat cepat di sebuah jembatan. Dari kejauhan, terlihat gedung-gedung pencakar langit dan sebuah pesawat terbang. Di salah satu mobil, Susan dan Rebecca berada. Kedua wanita itu tertidur nyaris di sepanjang perjalanan.Susan mulai membuka mata, memijat keningnya beberapa kali. “Di mana aku sekarang?”Susan tercengang saat melihat pemandangan kota asing di jendela. Ia menoleh pada dua pria di kursi depan, beralih pada Rebecca yang masih tertidur.Susan mengguncang tubuh putrinya berkali-kali. “Rebecca, bangunlah sekarang! Rebecca.”Rebecca mengerjap, membuka mata perlahan. Ia merenggangkan badan beberapa kali, dan terdiam saat mengingat kejadian beberapa waktu lalu. “Apakah kita sudah sampai di kediaman Caroline dan si rentenir tua itu, Bu?”“Apa maksudmu, Rebecca?” Susan berkata dengan suara kecil, nyaris seperti bisikan. “Orang-orang asing yang kita temui di depan rumah itu membawa kita ke tempat asing.”“Apa?” Rebecca seketika menegakkan punggung, membuka m
Susan tampak cemas saat beberapa mobil kembali menepi dan orang-orang berpakaian hitam terus bermunculan. “Sialan, siapa mereka sebenarnya?” gumamnya. Para pengawal Susan dan Rebecca segera bersiaga. Mereka tampak ragu karena kalah jumlah dengan orang-orang asing itu.“Apa kepentingan kalian di tempat ini?” tanya salah satu pria berseragam hitam. “Jika kalian tidak memiliki kepentingan apa pun, kalian harus segera pergi dari tempat ini sebelum aku dan para bawahanku bertindak kasar.”Susana mengamati orang-orang berseragam hitam yang sudah mengelilinginya dan Rebecca. Ia berusaha tenang, berjalan selangkah meski Rebecca tidak melepaskan tangannya. “Aku sedang mencari putriku yang menurut kabar berada di rumah ini, Tuan. Kami akan segera pergi karena rumah ini tampak kosong,” kata Susan setenang mungkin. Orang-orang berseragam itu saling bertatapan sesaat. Si pemimpin memberikan tanda pada bawahannya dengan anggukan kepala.Susan dan Rebecca semakin tegang, menoleh pada seorang pria
Ethan mulai mengerjap, membuka mata perlahan. Pria itu berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang menyilaukannya. Ia meringis kesakitan, merasakan kepalanya sangat sakit.“Di mana aku sekarang?” Ethan memaksakan diri untuk duduk, mengamati keadaan sekeliling. “Aku berada di rumah sakit?”Ethan termenung saat mengingat kejadian semalam. Ia berlari dari kejaran para berandal. Saat menyeberang, sebuah mobil mendadak muncul dan menabraknya sehingga ia terlempar dan tidak sadarkan diri di jalan.“Dasar brengsek! Badanku terasa sangat sakit.” Ethan memijat kening beberapa kali, menggelengkan kepala. Ia menoleh ke arah pintu saat seseorang memasuki ruangan. “Siapa kau?”“Aku kira kau akan tertidur selamanya, sialan! Aku adalah orang yang sudah menabrakmu,” ujar slah satu anggota pasukan yang dikerahkan Daniel, Donald, dan Dennis.“Dasar bajingan!” teriak Ethan tiba-tiba, “apa kau tidak bisa menyetir mobil dengan baik, hah? Kau membuatku menderita. Kau harus bertanggung jawab dan memberikan
Rebecca seketika terdiam, menjatuhkan tubuh di sofa. Ia meremas bantal dan gaun, menyumpahi Caroline saat melihat deretan foto yang wanita itu kirimkan padanya. Dadanya amat sesak karena amarah.“Jika tahu kejadiannya seperti ini, akulah yang sebaiknya dijual pada si rentenir tua itu. Aku benar-benar iri pada Caroline. Dia membeli sebuah toko mewah seharga seratus juta dolar secara tunai dan sekarang dia tinggal di sebuah rumah megah dengan barang-barang mewah.”Rebecca melempar bantal saking kesal dengan kenyataan yang terjadi. Wanita itu menarik-narik rambut, bergegas mendekati jendela. Sialnya, ia justru disambut dengan petir menggelegar.“Ah!” Rebecca sontak berteriak saat petir menyambar sebuah pohon. Ia berjongkok sambil menutup kedua telinganya.Susan mendengkus kesal, menatap Rebecca sekilas. Wanita itu berjalan mondar-mandir, berharap sebuah rencana muncul. Foto-foto yang ia lihat di ponsel Rebecca tadi membuatnya semakin jengkel.“Terkutuklah kau, Caroline!” pekik Rebecca.“
Eric menenangkan diri di sisi danau, menatap dua angsa yang saling kejar mengejar. Angin berembus cukup kencang, menggoyangkan dedauan dan rambutnya.Caroline muncul dari pintu, mengawasi sekeliling, pergi menuju sisi danau. Wanita itu berhenti berlari, berjalan perlahan, mengembus napas panjang. Ia
Sarapan kembali dilanjutkan. Anggota keluarga Stormind tampak sangat jengkel pada Eric karena ketidaksopanannya pada Evan. Akan tetapi, di antara semua anggota keluarga, Daniel, Donald, dan Dennis adalah orang yang paling mereka kesal. Mereka marah karena Eric menyinggung soal kebohongan mereka pada
Caroline melewati setiap hari dengan latihan beladiri dan belajar. Ia tidak ingin Eric menganggapnya sebagai tukang tidur dan tukang makan. Ia belajar banyak keterampilan, seperti berkuda, memanah, dan penggunaan senjata api.Langit sudah berubah jingga. Kawanan burung terbang melintasi rumah. Angin
Ethan berbaring di ranjang. Ketika memejamkan mata, ia teringat dengan peristiwa di outlet tadi. Caroline tampil sebagai wanita sombong, dan ia justru menjadi pria rendahan. Dadanya sesak dengan amarah. Wanita yang sudah dibuangnya berubah menjadi wanita yang sangat menyebalkan.“Ethan.” Rebecca mena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan