로그인"Aku setuju untuk menikah." Balas Sahira mengejutkan semua orang.
"Kamu yakin nak? Jangan Sahira." Ujar Pak Tomi. "Aku sudah yakin dengan keputusan ku itu Pak, aku rasa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak bisa melihat ibu dan bapak menderita seperti ini, lagi pula ini hanya sampai tiga bulan saja, setelah itu aku bisa kembali pada kalian." "Tapi itu bukanlah pilihan yang tepat Sahira, bapak tidak setuju jika kamu menikah dengan cara seperti itu." "Ini hanya untuk sementara Pak, tolong restui aku. Bapak tidak perlu begitu mengkhawatirkan aku karena keluarga mereka pasti akan menjaga aku dengan baik." "Pak Tomi, kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kita semua saya sendiri setuju untuk menikahkan putra sulung saya dengan Sahira. Pak Tomi juga tidak perlu khawatir, selama Sahira tinggal dengan kami, kami akan memperlakukan Sahira dengan sangat baik dan menjaga nya dengan aman." Ujar Pak Lukas.. Tak di sangka semua itu ternyata di dengar oleh Argantara yang berdiri di depan pintu kamar. "Argantara.." panggil Nek Sukma. Semua orang pun langsung menoleh ke arah nya, dan menatap tajam. Tanpa mengatakan apapun, Argantara langsung pergi begitu saja dari sana lalu di susul oleh Nek Sekar dan kedua orang tuanya. "Argantara tunggu dulu sebentar, ada hal yang ingin nenek bicarakan dengan kamu." "Jika nenek meminta aku untuk menikahi gadis itu, maaf aku tidak bisa nek." Ujar Argantara yang langsung menolak nya. "Iya nenek tahu kamu pasti akan menolaknya, tapi kali ini nenek ingin meminta tolong sama kamu untuk setuju. Hanya kamu satu-satunya harapan nenek untuk bisa menyelematkan kehormatan keluarga kita, kamu juga bisa lihat sendirikan betapa kasian nya Gadis itu dan keluarga nya." "Itu bukanlah urusanku Nek, lagi pula Baskara yang sejak awal ingin menikahinya lalu kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas kesalahan yang Baskara lakukan." "Baskara, ini hanya untuk tiga bulan saja nak. Setelah tiga bulan, kamu dan Sahira bisa berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Papa mohon sama kamu Arga, kali ini saja kamu mau menuruti permintaan kami ini, apapun akan Papa lakukan untuk kamu nak." Ujar pria paruh baya itu sambil berlutut di kaki putra nya. "Arga, apa kamu sampai tega membiarkan Papa kamu berlutut seperti itu. Mama tahu ini kesalahan adik kamu, kami juga tidak ingin hal ini sampai terjadi tapi kami juga tidak tahu keberadaan Baskara saat ini ada dimana." "Ini hanya sampai tiga bulan saja, itu tidak akan lama nak. Kami mohon bantu kami, bila perlu Mama juga akan ikut bersujud di kaki kamu." "Nenek juga akan melakukan hal yang sama." Lanjut wanita tua itu. "Baiklah aku akan menikahi nya." Balas Argantara dengan lantang... Bab 3 "Aku akan menikahi nya tapi hanya dalam waktu tiga bulan saja, setelah itu kalian jangan pernah memaksa aku untuk meneruskan pernikahan ku dengan nya. Setelah tiga bulan aku akan langsung menceraikan gadis itu, semua ini aku lakukan bukan untuk Baskara tapi untuk kehormatan keluarga ku." Ujar Arga. Saat mendengar hal itu, tentu saja mereka semua pun langsung tersenyum senang. "Terimakasih banyak Arga, kau bukan hanya menyelamatkan satu keluarga dari kehancuran tapi dua keluarga sekaligus, Papa sangat bangga dengan kamu." Sahut Pak Lukas sambil memeluk putra nya itu. "Pah, cepatlah Papa bicara dengan mereka agar persiapan pernikahan nya segera di langsungkan. Kita tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi." Pinta Bu Mayang. "Iya mah, papa akan temui mereka sekarang juga." Sahut Pak Lukas dengan cepat. "Arga, ayo nenek akan bantu kamu untuk bersiap." Ajak wanita tua itu. "Aku sama sekali tidak merasa keberatan jika Arga menikahi Sahira, karena dia bukanlah putra kandungku. Aku hanya tidak ingin jika Baskara putra ku menjalin hubungan dengan keluarga miskin seperti mereka ini, dia harus menikahi gadis yang setara dan aku sudah memilih calon istri untuk putra ku itu yaitu Laura." Gumam wanita paruh baya itu sambil tersenyum senang. "Sahira, apa kamu yakin nak?" Tanya Bu Inggit untuk memastikan nya lagi. "Iya Bu, aku sudah yakin dengan keputusan aku." Balas Gadis itu. Bu Inggit pun menghela nafasnya panjang dengan air mata yang berurai. "Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu, ibu hanya bisa mendoakan kamu agar selalu bahagia dan bisa melewati semua ini." Balas Wanita paruh baya itu sambil memeluk putri nya. "Tante, maaf semua orang sudah menunggu Sahira di depan." Ujar Rani. "Ayo kita kesana, bapak masih kuatkan Pak untuk menikahkan Sahira?" "Tentu saja bapak masih kuat Bu, bapak sudah merasa lebih baik sekarang ini." Sahut pria paruh baya itu. "Rani, tolong kamu bantu Sahira bersiap ya. Riasannya jadi rusak karena menangis, Tante dan Om akan keluar lebih dulu." "Baik Tante." Dengan cepat mereka pun segera keluar untuk menemui semua orang.. "Sahira, aku tahu saat ini hatimu sedang tidak baik-baik saja tapi menurutku menikah dengan Argantara adalah keputusan yang tepat." Ujar Rani. Sahira pun hanya diam dan tidak mengatakan apapun.. "Apa bisa kita mulai ijab kabul nya?" Tanya pak penghulu itu. "Tentu saja bisa Pak." Sahut Pak Lukas dengan cepat. Arga pun mulai menjabat tangan Pak Tomi dan mulai mengucapkan ijab Kabul itu dengan lancar.. "Saya terima nikah dan kawin nya Sahira Amalia dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." "Bagaimana para saksi?" "Sah.." ujar nya dengan kompak. "Alhamdulillah." Ucap semua keluarga sambil tersenyum senang. Berbeda dengan Arga yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, begitu juga dengan Sahira yang justru meneteskan air matanya kembali saat dirinya sudah sah menjadi seorang istri. Rani pun lalu menuntun Sahira keluar, dan duduk di samping Arga. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah pria yang kini menjadi suami nya itu dari dekat, pria yang sama sekali tidak pernah dia kenal bahkan belum pernah dia temui. Namun dalam sekejap pria itu sekarang sudah menjadi suaminya.. Sahira pun tidak lupa mencium tangan Arga, meskipun dengan ekspresi wajah yang datar Arga tidak bisa menolak hal itu. "Sekarang kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri, semoga pernikahan kalian sakinah mawadah dan warahmah. Sekarang kalian hanya perlu meminta restu pada keluarga." "Nak Arga, bapak titip Sahira pada kamu ya nak. Meskipun pernikahan kalian terjadi dengan cara seperti ini, tapi bapak harap kalian akan akur dan bisa beradaptasi satu sama lain." "Sahira adalah gadis yang baik, dia pasti akan bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Tolong jangan sakiti Sahira." Ujar Pak Tomi dengan mata yang berkaca-kaca. Arga pun hanya merespon dengan menganggukkan kepala nya saja."Sahira, coba tanyakan pada suami kamu makanan apa yang dia suka. Ibu akan membuatkan nya." Ujar Bu Inggit. "Tidak perlu Bu, kita akan memasak makanan dengan bahan yang ada saja di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang di sukai dan tidak di sukai nya." Sahut Sahira. "Kamu tidak boleh bersikap seperti itu Sahira, ibu tahu kalau kalian menikah dengan cara yang berbeda tapi bagaimana pun juga dia tetaplah suami kamu. Dan selama kamu masih menjadi istrinya, kamu harus bisa menghormati dia juga melayani Arga dengan baik." "Iya Bu, aku perlu waktu untuk bisa melakukan semua itu. Mungkin dengan seiring berjalan nya waktu, aku bisa mulai terbiasa." "Ya sudah sekarang kamu bantu ibu menyiapkan makanan nya, ini adalah kali pertamanya kamu dan suami kamu menginap di rumah ini." Sahira pun hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum kecil. Sementara itu, Baskara terlihat sudah rapih sekali. Bu Mayang pun segera menghampiri putra nya itu. "Baskara, kamu mau pergi kemana nak?" Tanya
"Sahira, ibu senang sekali kamu bisa datang kesini menemui kami." Ujar Bu Inggit sambil memeluk putri kesayangan nya itu. "Aku juga sangat senang sekali Bu, tiba-tiba saja Mas Arga mengajak aku untuk pergi menemui kalian." Sahut Sahira. Pak Tomi dan Bu Inggit pun langsung menoleh ke arah Arga dan tersenyum padanya. Arga pun mencoba membalas senyuman mereka, walau dengan ekspresi wajah yang jutek. "Sebenarnya nenek memintaku untuk memberikan hadiah pada kalian, aku tahu kalau Sahira pasti merindukan kalian jadi aku juga mengajaknya ikut dengan ku kesini." Ujar Arga. "Duduklah dulu nak Arga, ibu akan buatkan minum dulu." Arga pun menurut dan angsung duduk."Nak Arga, sampaikan ucapan terimakasih untuk Nek Sukma dan yang lainnya." Ujar Pak Tomi. "Iya Pak, akan aku sampaikan pada mereka.""Apa kalian akan menginap disini?" Tanya Bu Inggit. "Hhmm tidak Bu, aku akan pulang." Balas Sahira dengan raut wajah yang terlihat sedih.Tidak apa-apa Bu, meskipun Sahira tidak menginap tapi kit
"Sahira dan Arga mau pergi kemana Bu?" Tanya Bu Mayang. "Mereka akan pergi ke rumah orang tuanya Sahira, nanti sore juga mereka akan segera kembali." Sahut Nek Sukma. "Kenapa ibu tidak ikut dengan mereka juga." "Aku ini sedang merasa tidak enak badan, itulah kenapa aku tidak ikut dengan mereka. Seharusnya kamu yang pergi dengan mereka, meskipun Arga bukan anak kandungmu tapi tetap saja kau juga ibunya." "Sebenarnya aku ingin ikut menemani mereka pergi dan bertemu dengan keluarga Sahira, hanya saja aku masih belum merasa tenang selama belum tahu tentang keberadaan nya Baskara. Sejak kemarin Baskara tidak ada kabar sama sekali, dan aku sangat mengkhawatirkan nya." Nek Sukma pun terdiam, dan ikut memikirkan tentang keberadaan nya Baskara. "Ini sudah dua puluh empat jam, sebaiknya kamu hubungi polisi saja, aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada Baskara tanpa kita sadari, Baskara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia juga sangat menantikan pernikahan ini dan
"Aku sama sekali tidak peduli dengan alasanmu itu Ibu, yang membuat aku senang tindakan mu itu sangat menguntungkan aku. Karena jika Baskara tahu Sahira dan Arga sudah menikah, aku yakin sekali dia akan berhenti berharap dan mencintai Sahira lagi. Andai saja semua orang tahu, kalau akulah penyebab Baskara tidak datang ke acara pernikahan nya." Gumam Bu Mayang dalam hatinya sambil terus licik. Wanita paruh baya itu, lalu segera pergi ke kamar nya. ***Terlihat, Sahira baru saja selesai mandi namun dia terlihat sangat kebingungan. Arga yang menyadari hal itu pun, langsung melemparkan sebuah selimut dan bantal ke arah istrinya. "Kau bisa tidur di bawah, aku cukup baik memberikan mu sebuah bantal dan selimut." Ujar pria itu dengan ketus. Sahira pun lebih memilih diam dan tidak mengatakan apapun.. Tanpa banyak bicara dan protes, gadis itu lalu mulai membaringkan tubuh nya di atas karpet yang ada di lantai, dan mulai tertidur dengan tenang. "Kenapa dia hanya diam saja tanpa mengataka
"Sahira, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri dan kamu harus selalu ingat dengan pesan-pesan ibu untuk menjadi istri yang baik, nurut pada suamimu dan keluarga barumu ya nak. Jangan sampai kamu membuat mereka kecewa, ibu pasti akan sangat merindukan kamu." "Iya Bu, aku pasti akan selalu ingat dengan nasehat dari ibu. Aku juga pasti akan sangat merindukan ibu dan bapak." "Selamat untuk kalian berdua, nenek berharap setelah pernikahan ini hidup kalian akan selalu bahagia." "Selamat untuk kalian." Lanjut Bu Mayang. "Arga, Papa harap kamu bisa menjadi suami yang baik untuk Sahira selama pernikahan ini terjadi. Karena bagaimanapun secara hukum dan agama Sahira tetaplah istri kamu, tetap lakukan tugas kamu sebagai seorang suami." Ujar Pak Lukas pada putra nya dengan suara pelan. "Sahira, kamu jangan khawatir ya karena Papa janji akan selalu menjaga kamu. Bahkan kamu bukan hanya seorang menantu di rumah kami, tapi kamu sudah Papa anggap sebagai putri Papa sendiri. Jika kamu mer
"Aku setuju untuk menikah." Balas Sahira mengejutkan semua orang."Kamu yakin nak? Jangan Sahira." Ujar Pak Tomi."Aku sudah yakin dengan keputusan ku itu Pak, aku rasa ini adalah jalan yang terbaik untuk kita semua. Aku tidak bisa melihat ibu dan bapak menderita seperti ini, lagi pula ini hanya sampai tiga bulan saja, setelah itu aku bisa kembali pada kalian.""Tapi itu bukanlah pilihan yang tepat Sahira, bapak tidak setuju jika kamu menikah dengan cara seperti itu.""Ini hanya untuk sementara Pak, tolong restui aku. Bapak tidak perlu begitu mengkhawatirkan aku karena keluarga mereka pasti akan menjaga aku dengan baik.""Pak Tomi, kalau memang ini jalan yang terbaik untuk kita semua saya sendiri setuju untuk menikahkan putra sulung saya dengan Sahira. Pak Tomi juga tidak perlu khawatir, selama Sahira tinggal dengan kami, kami akan memperlakukan Sahira dengan sangat baik dan menjaga nya dengan aman." Ujar Pak Lukas..Tak di sangka semua itu ternyata di dengar oleh Argantara yang berdi







