ログインIa mengusap air matanya secara kasar, berusaha menyapu kehampaan yang tak bertepi itu. Tiba-tiba gerakan Martin terhenti. Tatapannya mendadak kosong menatap lurus ke depan."Pantas saja..." bisiknya lirih, seolah menemukan satu demi satu kepingan teka-teki yang selama ini tersembunyi. "Pantas saja Leli begitu bahagia dan protektif saat mengandung Cynthia dulu. Dia tampak begitu berbeda..."Martin menelan ludah yang terasa mencekik. "Dulu aku bodoh sekali. Aku pikir dia bahagia karena akhirnya kami dikaruniai putri setelah sekian lama... Ternyata bukan. Dia bahagia karena anak dalam kandungannya adalah benih dari pria lain!"Arya menghela napas berat. "Tuan, Anda harus menjaga kesehatan Anda..."Martin menggeleng lemah. "Bagaimana caranya aku bertahan, Arya? Bagaimana caranya aku menerima kenyataan bahwa 30 tahun hidupku dirancang di atas panggung sandiwara yang menjijikkan?"Tanpa menunggu balasan Arya, Martin menegakkan tubuhnya kembali. Matanya yang memerah menatap tajam dokumen lai
“Tuan, ini hasil tes DNA-nya.”Suara Arya mengalun berat di tengah keheningan ruang kunjungan tahanan yang dingin.Martin tidak langsung menjangkau map cokelat yang diletakkan di atas meja kayu itu. Tatapan matanya yang cekung hanya terpaku tanpa berkedip. Map itu tampak biasa saja, sederhana tanpa ciri khusus. Namun di mata Martin, benda tipis itu terasa bagaikan jurang tak berdasar yang siap menelannya bulat-bulat.Jari-jari Martin yang tirus dan kaku perlahan mengepal rapat. Dadanya bergemuruh hebat, berdegup begitu kencang hingga gema detak jantungnya sendiri seolah mendengung di kedua telinganya."Kau... sudah melihat isinya?" tanya Martin akhirnya, suaranya serak dan tercekat di tenggorokan.Arya terdiam beberapa saat, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum mengangguk pelan. "Sudah, Tuan."Martin menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Tatapannya kembali jatuh pada map di depannya. Ada rasa takut luar biasa yang mendadak melumpuhkan jemarinya. Bukan karena ia membenci keben
"Xavier... kamu di mana?" panggilnya lagi, menyipitkan mata memindai area sekitar.Liora perlahan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. "Sudah pergi, ya?"Tiba-tiba, sebuah hembusan napas hangat menerpa ceruk lehernya tepat dari arah belakang, disusul suara berat yang teramat familier. "Mencari aku, hm?"Liora terlonjak kaget. "Ah!"Ia berbalik seketika dan mendapati Xavier sudah berdiri kokoh di depannya dengan senyum penuh kemenangan."Kamu!" tuduh Liora seraya menunjuk suaminya.Xavier mengangkat kedua tangannya santai. "Iya, aku."Liora melangkah mundur membentengi diri. "Jangan lempar aku, ya. Awas!"Xavier menggeleng halus. "Tidak, aku tidak akan melempar.""Janji?""Iya, janji."Liora menghela napas lega, membuang napas kewaspadaannya. Namun, baru saja ia berbalik hendak melangkah—Plak!Segumpal salju mendarat telak di bahu mantel kremnya.Liora membelalakkan mata tak percaya. "Xavier!"Tawa Xavier meledak renjang. "Nah, sekarang kita impas.""Kamu bohong! Katanya jan
"Sudah. Ayo."Mereka berjalan berdampingan menuju halaman luar hotel yang membentang luas. Begitu kakinya memijak hamparan salju putih yang tebal, langkah Liora seketika terhenti. Matanya berbinar cerah bagaikan anak kecil yang baru menemukan tempat bermain impiannya."Wow..." desah Liora takjub.Xavier menghentikan langkah di sampingnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.Liora perlahan mendongak, menatap langit Paris. Butiran-butiran salju halus melayang turun dengan anggun, mendarat lembut di helai rambut dan bahunya."Indah sekali..." bisiknya terpesona.Xavier tak menyahut. Tatapan matanya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan kota Paris yang membeku, melainkan sepenuhnya terkunci pada paras manis wanita di sampingnya.Merasa diawasi, Liora perlahan menoleh. "Kenapa melihatku seperti itu?"Xavier tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku sedang menikmati pemandangan yang jauh lebih indah."Liora langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. Ia menghela n
Liora bersiap menarik kembali tangannya dengan merajuk. "Kalau tak mau, ya sudah! Aku tidur lagi—"Sebelum kalimatnya tuntas, jemari kekar Xavier sudah menyusup ke bawah tubuh Liora. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya yang terbungkus selimut tebal itu ke dalam dekapannya."Ah!"Liora terpekik kaget dan refleks melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher Xavier."Pegangan yang kuat.""Kamu buat kaget! Aku belum siap!""Makanya, jangan mengancam mau tidur lagi."Xavier membawa Liora dalam dekapannya mendekati jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Ia memosisikan Liora berdiri di depannya, sembari merengkuh tubuh berbalut selimut itu dari belakang rapat-rapat agar kehangatan tubuhnya menyalur sempurna.Begitu tirai dihalau penuh, sepasang mata Liora seketika berbinar cerah.Paris tampak begitu memukau.Seluruh sudut kota bagaikan disihir menjadi negeri dongeng serbaputih. Butiran salju jernih berjatuhan perlahan dari langit yang t
Sudah genap satu minggu Liora dan Xavier menikmati liburan mereka di Paris. Namun, ada satu hal yang terus ditunggu Liora dengan penuh rasa penasaran: salju.Setiap pagi, hal pertama yang dilakukannya selalu sama—melompat dari ranjang, menyibak tirai jendela, dan menatap ke luar dengan binar mata penuh harap.Hingga akhirnya, pagi itu keajaiban musim dingin yang dinantikannya benar-benar tiba.Sejak tengah malam, butiran-butiran putih nan lembut telah menari-nari membasahi langit Paris. Salju tipis menyelimuti atap-atap bangunan berarsitektur klasik, merayapi dedaunan, memutihkan jalanan, hingga menutupi pembatas balkon kamar suite hotel mereka.Sayangnya, sosok yang paling antusias menantikan momentum ini justru masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.Xavier, yang sudah terjaga sejak awal, berdiri tenang di sisi ranjang. Tangannya bertumpuk di saku celana, menatap sang istri dengan pendar kehangatan yang tak terselubung. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat Liora ya
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan







