ANMELDEN“Apa yang kamu rasakan?” tanya dokter tersebut.
“Seluruh tubuhku terasa sakit, terutama pinggang dan kepalaku. Semua terasa berputar dan membuatku mual,” ucap Bride menjawab pertanyaan dokter. “Istirahatlah dan pejamkan matamu, sakit di pinggang dan kepalamu karena kamu menjalani operasi besar,” jelas dokter tersebut. “Apa yang terjadi denganku?” Bride masih tampak kebingungan. Mendengar pertanyaan tersebut, Gloria langsung mendekati“Apa yang kamu rasakan?” tanya dokter tersebut. “Seluruh tubuhku terasa sakit, terutama pinggang dan kepalaku. Semua terasa berputar dan membuatku mual,” ucap Bride menjawab pertanyaan dokter. “Istirahatlah dan pejamkan matamu, sakit di pinggang dan kepalamu karena kamu menjalani operasi besar,” jelas dokter tersebut. “Apa yang terjadi denganku?” Bride masih tampak kebingungan. Mendengar pertanyaan tersebut, Gloria langsung mendekati Bride dan menggenggam tangannya lembut. “Kamu jatuh dari tangga yang cukup tinggi. Kepalamu mengalami benturan kuat dan tulang rusukmu patah. Kamu menjalani operasi selama berjam-jam dan koma selama seminggu. Aunty bersyukur kamu terbangun dan terus berjuang untuk tetap hidup.” “Aunty ...? Kamu bukan mamaku? Di mana mamaku?” Perkataan Bride membuat Gloria bingung. Dia menatap dokter yang berdiri di sampingnya. Dokter itu mendekati Bride dan mulai menanyakan sesuatu
Tidak lama kemudian, keduanya sampai di sebuah lorong dengan kamar berjendela kaca yang besar. Terlihat Gloria berdiri di depan kaca besar tersebut sambil menatap wanita yang kini terbaring lemah dan pucat. Alat medis yang menunjangnya untuk bisa terus hidup, terpasang di tubuh wanita itu. “Aunty,” gumam Catelyn dengan suara tertahan menahan tangis. Gloria mengalihkan tatapan dari Bride dan melihat Catelyn yang datang mendekatinya. Dia segera menyambut keponakannya lalu memeluknya lembut. “Bagaimana keadaanmu? Apakah dokter memperbolehkanmu turun dari ranjang?” “Aku sudah lebih baik. Bagaimana keadaan Bride?” tanya Catelyn. Gloria menggeleng pelan menjawab pertanyaan Catelyn. “Masa kritisnya belum lewat. Cedera di kepalanya sangat parah, tulang rusuknya juga patah sehingga membuatnya kehilangan banyak darah.” “Dia telah menyelamatkan nyawaku, aku berhutang nyawa pada Bride,”ujar Catel
Sesampainya di rumah, Wiston langsung pergi ke kamar Catelyn, membuka pintu kamarnya dengan kasar hingga Catelyn terlonjak kaget. “Aku tidak akan menunggumu untuk bunuh diri, bahkan aku tidak sudi menyentuh tubuhmu yang keturunan Hilton itu. Keturunan manusia terkutuk. Dengan tanganku sendiri aku akan membunuhmu dan mengirimkan mayatmu ke depan pintu hotel di mana mereka sedang berpesta tanpa ada rasa kehilanganmu,” geram Wiston. Tubuh Catelyn seketika gemetar ketakutan mendengar hal tersebut. “Kita bisa bicara baik-baik Wiston, membunuhku tidak akan menyelesaikan masalah. Keluargaku akan memburumu dan anak istrimu nanti yang menderita, bukan dirimu. Apakah kamu mau hal itu terjadi?” “Istriku tidak peduli padaku, aku tidak punya anak dan aku akan menyusulmu mati agar keluargamu tidak bisa membalas dendam lagi padaku. Mari kita akhirnya semuanya sampai di sini.” Terdengar nada putus asa di setiap perkataan Wiston. Dia merasa
Dia kemudian bangun dari tidurnya, terduduk di atas ranjang lalu membawa kotak itu ke dalam pangkuan. “Apa ini?” batin Bride. Tangannya membuka kotak tersebut dan didapati gaun indah di dalamnya. Sebelum membuka kartu yang ada di dalam kotak tersebut, tubuh Bride menegang karena mengingat apa yang terjadi ketika terakhir kali Wiston memberinya gaun indah. Pria itu malah membawanya ke tempat menjijikkan dan melecehkannya di sana. Penasaran dengan apa yang kali ini Wiston mau darinya, dia mengambil kartu di dalam kotak tersebut dan membacanya. “Pakai gaun ini nanti malam dan berdandanlah dengan baik karena aku akan mengajakmu ke acara penting,” ucap Bride membaca tulisan suaminya. Deg ... Bride langsung teringat acara ulang tahun perusahaan Hilton seperti apa yang Catelyn ceritakan. Mungkinkah Wiston akan mengajaknya ke acara tersebut? Bahkan dia belum sempat bicara
“Sekarang lakukan apa yang kamu bilang!” perintah Wiston. Mata Bride menatap nanar mata suaminya. Berharap ada rasa kasihan dalam diri Wiston sehingga pria itu tidak memaksanya melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan, tapi yang dia lihat hanya mata merah penuh kemarahan dengan rahang mengeras menakutkan. “Aku tidak suka menunggu, Bride. Apakah kamu mau aku menyeret Catelyn ke sini untuk memberimu contoh?” geram Wiston. Mata Bride berkabut menerima perlakuan suaminya, tapi dia tidak ingin suaminya menyentuh Catelyn dan dia sendiri tidak rela ada wanita lain yang menyentuh Wiston. Dia kemudian turun dari ranjang dan mendekati Wiston, menurunkan tubuhnya dan bersimpuh tepat di hadapan aset milik pria itu. Jika biasanya Wiston merasa biasa saja saat ada wanita yang ingin memuaskannya, tapi berbeda saat Bride yang ada di hadapannya. Tubuhnya merespon dengan berlebihan. Nafasnya tercekat, jantungnya berdeta
“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu. Aku juga sepertimu yang dibawa paksa ke sini dan dinikahi oleh Wiston untuk memuaskan gairahnya. Jika aku bersikap manis dan tidak menolaknya, Wiston akan memperlakukanku dengan baik. Bahkan dia mencukupi kebutuhanku mulai dari makan, tempat tinggal yang nyaman dan pakaian branded yang belum pernah aku miliki seumur hidupku, tapi kalau kita menolak perintahnya, Wiston akan bersikap kasar,” terang Bride. “Aku tidak sudi melayani gairahnya. Lagi pula dari mana dia bisa mengenalku?” geram wanita itu. “Sebelum kita saling bertanya yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Bagaimana jika kita berkenalan lebih dulu. Namaku Bride, siapa namamu?” tanya Bride. “Bride,” gumam wanita itu. “Namamu seperti nama adiku,” ucap wanita itu. “Benarkah? Aku merasa tersanjung. Aku sendiri anak tunggal. Mamaku sudah meninggal sedangkan papaku entah pergi ke mana setelah menjualku pada Wis







