Share

Terpikat Janda Tajir
Terpikat Janda Tajir
Author: Diganti Mawaddah

Yasmin 1

last update Last Updated: 2022-06-16 11:14:13

Jangan lupa simpan di reading list kamu ya.🥰😘😘

Selamat membaca.

Jaja dan Nanang sedang menikmati makan siangnya di kantin pabrik. Seperti biasa, Jaja hanya membawa lauk nasi dan ikan goreng, lalu dibaluri kecap, sedangkan Nanang bekal makan siangnya disiapkan oleh Nunung, pacarnya. Ada tumis kangkung dan ayam goreng.

Jaja melirik kotak bekal Nanang. "Enak bener dah ah, yang punya pacar. Dimasakin terus," goda Jaja sambil mencolek lengan Nanang.

"Makanya lu, Ja. Kalau cari calon istri, janda aja. Selain jago masak, pinter nyari duit, pasti pinter juga wik..wiik..wiikk...!"

"Lha, bunyi kasur gua itu." Jaja terbahak, begitu juga Nanang.

Huukk!

Huuk!

Jaja tersedak tulang ikan. Air matanya meleleh.

"Tulang...tulang...tolong!" susah payah Jaja meminta tolong pada Nanang, namun Nanang tidak paham juga. Ia berlari ke tenda penjual nasi campur.

"Mbak, tolong ... nasi...!"

"Pake lauk apa?"

"Gak...pake... lauk!" terputus-putus Jaja bicara pada pelayan warung.

"Nasinya aja?" tanya pelayan warung nasi tersebut. Jaja sudah tidak tahan menahan perih di lehernya.

"Iya...cee...paat."

"Tiga ribu apa lima ribu?"

"Seribu ajaa."

"Maaf ya, beli nasi kok seribu, sana makan nasi mentah!"

"Tolong...Mbak, saya kesel..."

"Eh, kok malah kamu yang kesel, harusnya saya yang kesal. Dasar orang aneh!"

"Kesellleekk...Mbak, tolong!" air mata Jaja sudah bercucuran, sambil memegang lehernya. Ya Allah tolong jangan cabut nyawa saya sekarang. Saya belom nikah ya Allah.

"Oh, kamu keselek. Bilang dong, dari tadi." Mbak pelayan warung nasi mencuci tangannya, lalu mengambil nasi hangat di dalam rice cooker,  kemudian ia taruh di piring kecil. Dia ambil sebagian lalu ia kepal-kepalkan.

"Nih, langsung telan jangan dikunyah!" titah si mba.

Jaja mengangguk, lalu menelan nasi hangat yang sudah dikepalkan. Susah payah ia menelannya, hingga seperti orang tersedak dan akan muntah. Alhamdulillah berhasil.

"Bisa?"

"Alhamdulillah bisa, Mbak. Terimakasih ya. Ini uangnya." Jaja mengusap lehernya lega, dari kantung celananya ia mengeluarkan uang koin seribuan dari dalam saku celananya, lalu diberikan pada si pelayan warung.

"Makanya, kalau lagi makan jangan bicara, apa lagi ketawa. Jadi tersedak, untung saya cepat paham. Kalau tidak, bisa-bisa masnya almarhum deh."

"Iya, Mbak. Terimakasih." Jaja berjalan kembali ke tempat duduknya bersama Nanang. "Apaan, orang udah mau mati nahan tulang, masih ditanya mau pake lauk apa? tiga ribu apa lima ribu?" cibir Jaja dalam hati. Ia kembali duduk di samping Nanang.

"Kenapa lu?"

"Gue ketulangan oon!" umpat Jaja kesal, sambil melempar tisu ke wajah Nanang.

"Oh, ketulangan. Sorry Ja, gue ga ngeh. Makanya sekali-kali lauknya daging ayam dong, atau ikan tuna gitu, yang tanpa tulang. Jangan ikan mulu. Ketulangan deh."

"Huuuhhh...gue juga mau kali lauk ayam, atau daging. Tapi duit gue kaga cukup, Nang. Kalau gue makan makanan keren gitu."

"Emang duit gaji lu pada ke mana sih? kismin bener. Pan gajian empat juta dua ratus kita."

"Bapak gue ngutang mulu, jadi gue ketempuan ganti deh."

"Oh, alah sabar ya, Ja. Semoga rezeki lu berkah udah nolongin orangtua."

"Aamiiin."

"Makanya cari pacar janda, Ja. Serius, enak deh pokoknya. Bisa grepe grepe dikit, aahhaaayy..." Nanang tertawa lebar,  Sedangkan Jaja mencibir. "Buat dosa aja girang lu!" sentak Jaja sambil melotot ke arah Nanang.

"Ya udah cariin gua dah kalau gitu, tapi jangan janda uzur lho!"

Keduanya terbahak kembali. Tanpa mereka sadari, pemilik pabrik Bu Yasmin biasa mereka memanggilnya, setengah berlari ke arah mobilnya. Sudah ada Pak Yudis, supir beliau yang membukakan pintu.

Kasak-kusuk karyawan pabrik yang saat ini berada di kantin luar, membuat Jaja dan Nanang menoleh. Keduanya saling pandang. Ada apa? Pikir mereka heran.

"Ada apa, Ian?" tanya Jaja pada salah seorang teman wanitanya.

"Itu ga liat tadi, Bu Yasmin lari masuk ke dalam mobil sambil nangis."

"Oh, ya allah. Ada apa ya? Mudah-mudahan semua baik-baik aja ya," ujar Jaja sambil terus memperhatikan mobil BMW bosnya keluar dari gerbang tinggi pabrik.

****

"Mas...jangan seperti ini. Bangun, Mas!" isak tangis Yasmin mengiringi pemakaman suaminya Arman. Yah, pemilik pabrik dan beberapa restoran itu, akhirnya meninggal dunia di rumahnya, tanpa ada yang mengetahui. Bik Narsih yang saat ini baru kembali menjemput Reza sekolah.

Kaget saat menemukan Arman sudah terbujur kaku di atas sofa ruang tamu. Tempat biasa Arman beristirahat. Penyakit lambung akutnya yang sudah ia idap sejak SMP, akhirnya membuat ia menghembuskan nafas terakhir di usia 30 tahun. Masih sangat muda dan energik.

Betapa terpukulnya Yasmin dan keluarganya. Reza juga tidak kalah sedih, bahkan anak usia lima tahun itu meraung tatkala jasad papanya tercinta masuk ke dalam liang lahat.

"Mas, maafkan saya. Maafkan, Mas!" Yasmin terus saja memukul dadanya dengan marah. Betapa dzolimnya ia pada suaminya yang saat sakaratul mautnya, tidak didampingi oleh siapapun, bahkan dirinya.

Tubuh lemah Yasmin bersandar pada ibu mertuanya yang juga terisak, sedangkan Reza saat ini telah digendong oleh opanya. Dua keluarga besar Yasmin dan Arman begitu kaget dan terpukul atas kepergian Arman di usia masih sangat muda.

"Amih, papa Abang kok ditanam? Kasian Amih. Opa, papa abang jangan ditanam. Hiks..hiks..." Reza kembali meraung dalam gendongan opanya. Lelaki tua itu hanya bisa memeluk erat, sambil mengelus kepala cucunya dengan sayang.

"Mas," lirih Yasmin memeluk gundukan tanah merah yang sudah tinggi, menutupi pusara suaminya.

"Aku mencintaimu, Mas. Maafkan aku. Kenapa kamu pergi tanpa pamit, Mas!kenapa?" teriaknya lagi hingga membuat semua yang hadir disana ikut terisak.

Tiga orang lelaki menggotong tubuh lemah Yasmin menuju parkiran mobil. Diikuti oleh beberapa sanak familinya.

"Ya Allah, perasaan baru sebulan yang lalu liat Pak Arman masih sehat. Eh sekarang udah ga ada. Kasian ya Bu Yasmin," ujar Jaja yang diikuti oleh anggukan tiga orang temannya.

Begitu mendengar kabar pemilik pabrik mereka meninggal dunia, semua karyawan kaget bahkan ada yang menangis, mereka teringat kebaikan pak Arman.

Bos yang tidak pernah lalai dalam menjalankan kewajibannya dalam hal memenuhi gaji karyawan yang selalu tepat dan jelas perhitungannya. Bahkan jika ada karyawan sakit dan memberikan surat sakit, maka ada uang kesehatan yang ia berikan. Diluar asuransi kesehatan yang pabrik berikan. Tidak rela rasanya, jika bos muda mereka begitu cepat Allah panggil.

Para pejabat pabrik yaitu, Manager Marketing, Supervisor, Pengawas Gudang, Pengawas Pemasaran, hingga dua orang security pabrik,ikut melayat hingga Pak Arman dimakamkan.

Jaja bersama delapan orang temannya termasuk Nanang, ikut sampai ke pemakaman. Mereka melihat betapa terpukulnya Bu Yasmin atas kepergian suaminya.

"Yuk kita pulang!" ajak Nanang pada teman-temannya.

"Eh, jangan! Kita ke rumahnya aja lagi. Siapa tahu tenaga kita dibutuhkan di sana." Jaja menahan teman-temannya yang akan pulang.

"Lu aja deh, Ja. Gue mau anter emak ke dokter," sahut Nanang dan diikuti anggukan lima orang teman lainnya.

"Ya sudah, sama kita aja deh, Ja," ajak Yuni dan Dian.

Jaja mengayuh sepeda tuanya kembali ke rumah almarhum bosnya. Sedangkan Dian dan Yuni sudah terlebih dahulu pergi dengan mengendarai sepeda motor.

"Kasihan, masih muda, ganteng, sholeh, kaya,  baik eh malah umurnya pendek. Coba yang umurnya pendek itu mafia-mafia narkoba ya," gumamnya sambil terus mengayuh sepedanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Yuliono Gopal
awal yg bagus
goodnovel comment avatar
Ubaldus Pieter Adja Mossa
lumayan bagus
goodnovel comment avatar
Ubaldus Pieter Adja Mossa
lumayan bagus
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 99

    Acara akad nikah dan resepsi yang diadakan di ballroom sebuah hotel mewah, berlangsung lancar dan meriah. Para tamu undangan yang berbondong-bondong memberikan selamat dan juga mendoakan sepasang pengantin yang tengah berbahagia di atas pelaminan sana.Semua bergembira dan tersenyum penuh senang. Amira, si gadis super unik, berjodoh dengan Reza yang tak lain adalah anak majikan sang ibu, saat dahulu kala. Jika ada penulis yang bersedia menceritakan kisah mereka dan memberi judul 'Menikahi Anak Pembantu', pasti sangatlah tepat. Namun itu hanya sepenggal kisah masa lalu yang dilalui Amira dan juga ibunya. Saat ini, mereka bahkan tak tahu berapa banyak aset perusahaan dan juga warisan yang ditinggalkan Uyut Wijaya untuk Amira dan juga ibunya.Buktinya dapat dilihat dari para undangan yang hadir, mulai dari wali kota Jakarta Selatan dan beberapa stafnya. Belum lagi lurah, dan camat setempat. Relasi bisnis sang papa, teman sekolah Amira, dan tentu saja belum lagi tamu dari pihak keluarga R

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 98

    Devano menjadi pusat perhatian di dalam rumah besar milik Aminarsih. Lelaki itu tak banyak bicara. Hanya senyuman dan anggukan yang ia berikan, saat Amira atau Emir menanyai dirinya. Lalu bagaimana dengan Aminarsih? Wanita setengah baya itu tak mau mengeluarkan suara apapun untuk Devano. Bahkan ia menganggap lelaki itu sudah lama mati. Ia hanya menghargai Amira sebagai darah daging lelaki kejam seperti Devano.Lelaki itu duduk tepat di samping kiri Amira, sedangkan Emir dan Aminarsih ada di posisi kanan. Yasmin pun tak kalah bingung. Ia memang ingat, saat itu Narsih menggantikannya jadi pengantin Devano, tetapi bukannya mereka langsung berpisah beberapa hari kemudian? Harusnya, usia Amira lebih tua, atau tak beda jauh dari Reza. Namun, kenapa bisa Amira masih sangat muda?Satu hal yang paling menyeramkan dari semua ini adalah penampilan Devano yang telah kehilangan sebagian tangan kirinya. Ada banyak pertanyaan bersarang di kepalanya. Bagaimana bisa?"Bang Reza, Om, Tante, jangan bin

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 97

    Langit malam tampak begitu terang benderang. Bintang bertabur di atas sana yang jika kita perhatikan, tampak seperti bentuk kursi. Aminarsih membiarkan jendela kamarnya terbuka. Sambil memijat kaki sang suami, sambil menikmati sinar bintang dan rembulan.Besok adalah hari lamaran Amira. Semua sudah disiapkan dengan begitu sempurna oleh Aminarsih dan juga suaminya. Keputusan sang puteri kesayangan sudah bisa mereka terima dengan lapang dada. Namun masih ada satu yang mengganjal Aminarsih, tetapi ia ragu untuk menanyakan perihal itu pada suaminya."Kenapa, Sayang? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu? Apa ada yang belum rapi untuk acara besok?" tanya Emir penasaran, saat tiada suara yang keluar dari bibir sang istri saat memijatnya. Tidak seperti biasanya yang selalu ada saja yang menjadi bahan perbincangan."Pa, Ibu mau tanya. Mm ... tapi Papa jangan tersinggung. Ini soal ....""Devano?" tebak Emir dengan senyuman tersungging di bibirnya. Diraihnya tangan sang istri untuk duduk mendekat

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 96

    Amira, Reza, dan Aminarsih sudah duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu. Ketiganya duduk tergugu tanpa mengeluarkan suara. Terutama Amira yang merasa sangat malu bercampur haru. Wajahnya terus saja meron saat lelaki dewasa di depannya tak pernah memutus pandangan untuk menatapnya.Merahnya buah apel di kebunnya, sudah pasti kalah dengan warna pipinya saat ini. Hangat dan begitu bersinar sangat cantik. Bagaimana seorang Reza semakin tidak terpesona dengan gadis seperti Amira? Sungguh berbeda saat bertegur sapa di telepon dan saat ini bertemu langsung. Amira masih saja menunduk malu tanpa suara. Gadis itu sibuk memilin ujung bajunya sambil sesekali menggigit bibirnya."Kita kok jadi diam-diaman gini ya? He he he ...." Aminarsih membuka suara sambil tertawa kecil. Reza pun tersadar dari lamunan, lalu menoleh pada Aminarsih dengan wajah yang merona juga."Bingung mau ngomong apa, Tante. Hati saya terlalu senang saat bertemu Amira. Sepertinya Amira yang masih malu-malu," ujar Reza deng

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 95

    Tiga tahun kemudian.Banyak sekali hal indah yang dialami Amira selama menjalani masa SMA. Teman yang banyak lagi seru. Guru-guru yang perhatian, namun tetap tegas. Orang tua dan adik-adik yang selalu memperhatikan dan sayang padanya. Pacar yang selalu sabar bila ditinggal tidur, atau ditinggal main olehnya. Benar-benar sempurna. Ditambah lagi teman-teman goib yang tak pernah mengganggunya. Hanya numpang lewat, atau say hello saja. Beda dengan dokter koas yang selalu mengukuti ke mana pun ia pergi. Pagi ini sarapan sedikit berbeda, karena wajah sang papa sedikit asem dan tak bersemangat. Apakah papanya sakit? Amira hendak bertanya, tetapi sungkan. Ia hanya memperhatikan lelaki yang semakin hari semakin dewasa itu tengah menyesap teh manis yang dituangkan istri tercinta ke dalam cangkir ukiran miliknya."Papa sakit?" kali ini Mahesa yang bertanya. Untunglah, mewakili perasaan penasaran dirinya. Emir mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis."Papa baik-baik aja. Cuma agak lebay!" belu

  • Terpikat Janda Tajir   Season 2 Part 94

    Berawal dari kejadian hari pertama di sekolah, Amira menjadi terkenal. Ditambah lagi, semua guru baru mengetahui bahwa Amira adalah cicit pemilik lembaga pembelajaran mereka, sehingga hampir semua guru dan staf sangat menyukai Amira. Saat ini, Amira belajar di kelas XA bersama dengan Andini. Baru sepekan mengikuti kegiatan belajar mengajar, Amira sudah akrab dengan semua teman di kelasnya. Ditambah lagi desas-desus bahwa gadis itu adalah cikal-bakal pemilik lembaga pendidikan ini kelak. Tentulah banyak teman baik laki-laki mau pun perempuan yang dekat dan baik pada Amira. Namun tetap saja, Amira lebih merasa cocok dengan Andini. Si lemot yang menggemaskan."Nomor lima dong," bisik Andini pada Amira. Hari ini mereka ada kuis dari pelajaran matematika yang mengulang materi pembelajaran saat seragam putih biru. Andini dan Amira duduk di barisan tengah, juga saling bersebelahan."Belum. Baru nomor dua," jawab Amira sambil berbisik."Bohong dosa loh, Mira," balas Andini."Ish, gak percaya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status