Mag-log inGabriella "Gabby" Cruz died as a badass in a Motorcycle crash. Middle of a chase. Gun in one hand, vengeance in her heart. But fate had a sense of humor—she wakes up in the body of Seraphina "Sera" Elizalde, the notoriously weak, timid, and unwanted wife of cold-hearted billionaire Damian Rafael Velasco. Now trapped in a life of luxury, betrayal, and manipulation, Gabby must play the part of Seraphina—the submissive socialite cast aside by the very man she married. Too bad Gabby doesn’t do submissive. With a foul mouth, street smarts, and zero patience for bullshit, Gabby decides to flip Seraphina’s life on its head. She’s done playing the victim. If Damian wants a trophy wife? Too bad. She’s about to become the most scandalous, fearless, and powerful woman in his world. What Damian doesn’t know is that the fragile wife he ignored just became the woman who will ruin or save him—and maybe, teach him how to love.
view more“Ah ….” Lenguhan dan desahan bergema di ruangan hotel itu.
Cahaya remang dari lampu tidur yang menyala memperlihatkan samar siluet dua orang yang tengah saling memagut satu sama lain.
Namun, detik sang pria ingin menyatukan dirinya dengan wanita dalam pelukan, satu desisan terlepas dari bibir wanita tersebut.
"Kamu masih perawan?" tanya Ryuga yang mengerutkan kening saat melihat gadis di bawah kungkungannya meringis kesakitan, tepat begitu dia berusaha membobol mahkotanya.
Claudia mencengkeram punggung Ryuga kuat-kuat. “Terobos aja, Pak,” tukasnya cepat.
Satu tangan Claudia merangkul tengkuk Ryuga, berusaha mengalihkan perhatian pria itu dengan bibirnya. Namun, Ryuga menolak.
"Jawab pertanyaan saya," tegasnya.
Ditatap seperti itu, Claudia menggigit bibir. Frustrasi karena hasratnya terpaksa ditahan. "Ya menurut Bapak?!" balasnya ketus, ingin agar pria di atasnya ini cepat melanjutkan aksinya lagi.
Namun, tidak disangka, Ryuga malah menghela napas dan menjauhkan diri darinya. "Saya nggak bisa lanjut." Suara Ryuga kembali mengudara di tengah hawa panas yang menyelimuti keduanya.
"Loh, kenapa?!" rengek Claudia. “Kan sudah sesuai perjanjian!”
Untuk melupakan rasa sakit hatinya karena ditinggal bertunangan oleh sang pujaan hati, Claudia memesan seorang pria dari muncikari yang direkomendasikan temannya.
Pria dewasa dengan proporsi tubuhnya bagus, tidak kelebihan otot dan juga wajah yang menawan, itu ciri-ciri yang Claudia berikan sehingga dirinya berujung mendapatkan Ryuga, pria yang membuat Claudia merasa telah mendapatkan jackpot lantaran gigolo yang dia pesan ternyata bisa begitu memesona.
Akan tetapi, karena dia perawan, Ryuga malah mengurungkan niatnya?! Transaksi macam apa ini!? Claudia sudah mengeluarkan uang, masa batal!?
Ryuga menautkan alis mendengar ucapan Claudia, entah karena bingung atau tidak setuju dengan kalimat gadis itu. Namun, kalimat yang tidak mampu Claudia percaya terlontar dari bibir Ryuga.
"Kamu harus lakukan itu dengan seseorang yang kamu suka,” ujar pria tersebut seraya turun dari tempat tidur dan meraih jubah mandi di dekatnya. Otot perutnya yang menggoda masih dipertontonkan.
Mendengar kalimat Ryuga membuat Claudia mematung. Gigolo macam apa Ryuga ini?! Kok bisa menolak dan malah menyarankan kliennya untuk melakukan yang pertama kali dengan orang yang mereka suka?!
Ya, kalau misalkan bisa bersama dengan orang yang Claudia suka, dia juga tidak akan ada di tempat ini!
Kepalang tanggung karena hasrat sudah di ubun-ubun, Claudia memutuskan untuk membalas, "Saya sukanya Pak Ryuga!”
Sontak, Ryuga membeku. Ekspresi pria itu memang datar, tapi pancaran matanya memancarkan keterkejutan seiring dirinya perlahan menoleh untuk menatap mata Claudia.
Wajah Ryuga tampak kesulitan, tapi setelah beberapa saat, pria itu kembali membuang wajah. “Tapi saya nggak suka kamu,” ucapnya, sukses membuat Claudia terbelalak. “Kamu amatir.”
"Pak, jahat banget sih mulutnya!" protes Claudia, merasa tersinggung.
Memang dia tidak seksi dan berisi seperti wanita-wanita lain di bar malam itu, tapi Claudia cukup pede dengan parasnya. Walau Claudia tidak selalu percaya, tapi banyak orang yang memuji kecantikannya, membuatnya yakin kalau paling tidak penampilannya masih berada di garis rata-rata!
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena tersinggung, Claudia merengut selagi menatap Ryuga. Pria itu pun menyadari hal tersebut dan berujung kembali menghela napas.
"Saya minta maaf, tapi saya bener-bener nggak bisa," ucap Ryuga.
"Kenapa?! Saya berkenan, Bapak juga. Saya mau, Bapak juga mau. Jadi harusnya–”
"Kamu takut,” potong Ryuga membuat Claudia terdiam. Pria itu menoleh saat selesai berpakaian dan menatap mata Claudia lurus. “Saya bisa lihat itu di mata kamu."
Mendengarnya, Claudia tersedak air ludahnya sendiri. Apa … sungguh sejelas itu?
Memang, sejujurnya Claudia takut karena ini pertama kali baginya. Bukan hanya itu, dari awal dirinya juga tak pernah senakal itu apabila berpacaran. Paling mentok juga berpegangan tangan dan berpelukan, sisanya tidak pernah karena nyalinya begitu kecil.
Namun, karena patah hati yang begitu besar, malam ini Claudia memutuskan untuk nekat.
"Apa alasan kamu ingin tidur dengan saya?" tanya Ryuga lagi. “Penasaran? Ingin mencoba? Atau … karena ingin menjadikan malam ini pelampiasan?”
Claudia kaget. Tidak menyangka isi hatinya terbaca jelas oleh pria di hadapannya. Berusaha menghindari tatapan Ryuga yang tajam dan menusuk itu, Claudia pun menundukkan kepala, sedikit malu dan merasa bersalah.
Tahu tebakan terakhirnya benar, Ryuga berucap, “Saya nggak bersedia dijadikan pelampiasan.”
Ucapan Ryuga membuat Claudia mengepalkan tangannya. Dia sudah membayar sang muncikari, masa ditinggal tanggung begini!?
"Bener nih, Pak?" Claudia masih berharap, tapi Ryuga menganggukkan kepalanya mantap.
Keputusan Ryuga memang menyebalkan. Akan tetapi, pun dia seorang gigolo, Ryuga tetap manusia. Dia boleh punya pilihan.
Memikirkan itu, Claudia pun menghela napas kasar dan berkata, “Kalau begitu, saya minta yang lain saja.”
Mendengar tersebut, Ryuga yang baru saja ingin mengenakan jasnya mendadak membeku di tempat. “Apa?” Dia menatap gadis itu dengan wajah tidak percaya.
Claudia mengedikkan bahunya. “Ya, kalau Pak Ryuga nggak mau, saya cari pria lain. Rugi dong kalau kadung nanggung begini.”
Namanya sudah bayar, masa mau minta balik uangnya. Mana mungkin si muncikari mau!?
Baru saja Claudia membuka hapenya untuk menyalakan internet dan mengirim pesan kepada si muncikari, tangannya langsung dicekal oleh Ryuga. “Kamu akan mencari pria lain kalau saya menolak?” tanya pria itu.
Claudia mengerjapkan mata, tapi dia menjawab, “Iya.”
Ada kilatan aneh di mata Ryuga seiring dirinya berkata, “Apa kamu gila? Sebegitu nekatnya kamu sampai sama sekali tidak memedulikan harga dirimu?”
Alis Claudia tertaut, dia rasanya ingin marah. Apa hak Ryuga membicarakan harga diri dengannya?!
Baru saja ingin menyemprot pria itu, mendadak ponsel Claudia bergetar. Itu telepon dari ‘Mami’, panggilan untuk sang muncikari.
Melihat hal itu, Ryuga gegas melepaskan tangan Claudia. Mungkin baru sadar dia tidak ada hak menahan gadis tersebut.
“Saya ke kamar mandi dulu … kalau memang kamu mau lanjut, kita lanjutkan setelah kamu selesaikan panggilan itu!” Usai mengatakan hal tersebut, Ryuga langsung masuk ke kamar mandi.
Mendengar hal itu, Claudia tersenyum penuh kemenangan. Dia pun mengangkat panggilan.
“Halo?” sapa Claudia.
“Bu Claudia! Akhirnya, terhubung juga panggilannya! Ibu dari tadi ke mana?! Saya telepon berkali-kali!” tegur si mami dengan agak panik, membuat Claudia menautkan alis. Belum sempat dibalas, si mami melanjutkan, “Ini anak Mami nungguin dari tadi!”
Claudia mengerutkan kening. “Loh, ini anaknya udah sama saya.” Ryuga saja ada di dalam kamar mandi.
“Hah? Nggak, Bu Claudia. Ini anak Mami aja udah dua jam nungguin Ibu di depan bar!”
Informasi dari si muncikari membuat Claudia membeku. Dia perlahan menatap ke arah pintu kamar mandi, lalu berkata dengan agak bergetar, “Nama anak Mami … Ryuga, ‘kan?”
“Ryuga? Siapa itu? Anak Mami yang buat Bu Claudia namanya Evan!”
Balasan sang muncikari membuat dunia Claudia serasa berhenti. Jadi, dia salah orang!? Lalu, siapa Ryuga yang ada di dalam kamar mandi kalau bukan gigolo yang dia pesan?!
**
Pagpasok ko sa sala ng mansion ramdam ko agad ang katahimikan na puno ng pangako. Mga kandila ang pumapaligid, may petal rose sa carpet, at may harp music na mababa ang volume sa background. Ang bintana ay bukas, hinayaan ni Damian na maramdaman ang simoy ng gabi. Hindi ito grand gestures tulad ng dati. Wala ang mga designer flower arrangements o showy band. Pero ramdam kong matindi ang kahalagahan—ito ang susunod na yugto ng relasyon namin.“Huwag kang matakot,” bulong ni Damian habang papalapit siya sa akin. Naka-navy tux siya, simple pero elegante. Ako naman ay nakasuot ng nude sheath dress na akmang-akma sa katawan ni Seraphina—pero ramdam ko ang tibay ng pagkatao ko sa bawat linya ng damit.Ngumiti ako nang mahina. “Excuse me?”Huminto siya nang harap ko. “I wanted to do this properly. To meet you where you are now—not siya, hindi ako, tayo lang.”Mumitla ko nang sandali. “Ikaw.”Lumapit siya at dahan-dahan humarap. “Si Seraphina dati, ‘yon ang binuntong mo para gawin kong weak.
GABBY POINT OF VIEW Pagpasok ko sa UN General Assembly Hall ramdam ko agad ang bigat ng lugar. Daan-daang delegado mula sa iba’t ibang bansa, ambassadors, diplomats at media crews ang pumapalibot. Nakasuot ako ng simpleng pero elegante at pulang suit—kulay ng dugo, kulay ng pagbabago. Habang lumalakad ako papunta sa podium ay naka-focus ako sa bawat mukha na nakatingin. Hindi bilang si Seraphina Velasco kundi bilang babae na nagdaan sa giyera ng katahimikan at kumayod para sa boses ng bawat babaeng nasaktan.Paglapit ko sa mic pinindot ko ang button at nagkaroon ng kaunting putok. Kinausap ko ang audience nang buong kumpiyansa. “Magandang araw sa inyong lahat. Ako si Seraphina Velasco, nagtatrabaho sa Pilipinas bilang lider ng Velasco Foundation at tagapagsalita para sa mga kababaihan na nakaranas ng karahasan. Hindi po siya mahalaga bilang imbakan ng pangalan o ngaman dahil sa kasal ko. Mahalaga siya dahil sa kwentong gusto kong ipahayag—yung mga kwentong hindi na dapat tinatago pa.
GABBY POINT OF VIEW Pagpasok ko sa abandoned warehouse sa Maynila ay agad kong napansing malamig ang silid kahit tanghaling-tanghali. Marami na akong naagaw na labanan pero itong eksenang ito ang pinaka-mapalad sa akin. Kasama ko si Damian at isang maliit na team mula sa pulisya, ang plano namin ay limpiyuhin ang lugar na naging taguan ng arsenal ni Cassius at ng mga cult na gusto niyang patindihin. Pero bago iyon, kailangan namin makapasok nang tahimik at kumalabog ang sorpresang aksyon."Ready na ba kayo?" tanong ko, nakatingin sa mga maskarang naka-charge ng baton at flashlight. Tumango lahat. "Good. Lumakad tayo."Sa pagdulas namin sa pinto, habang naka-dark mode ako sa lahat ng settings ng cellphone, inidsi namin ang paligid. May ilang kahon sa gilid—mostly pagkain at duet deodorant—pero hindi iyon ang mahalaga. Sa gitna ng warehouse may hagdan na nagdidiretso sa isang mezzanine. Didikit duon ang blueprint ng arsenalan. Pero ang oras na iyon, may narinig kami—ulong hiyaw, parang
GABBY POINT OF VIEW Pumasok ako sa underpass ng lumang Dela Rosa district nang ang mga ilaw sa paligid ay tila namimilosopyo sa gabi, nanginginig sa lamig at unlapi ng gabi. Hindi ako paminsan-minsan pumapalusot dito—hindi dahil sa takot kundi dahil alam kong dito nagsisimula ang susunod na baitang ng laban ko bilang Seraphina Velasco. May nakita akong grupo sa dulo: ilang babae at lalaki, nakasuot ng hoodies at mask na tinatakpan ang mukha. May bitbit silang maleta na may maraming laman. Lumapit ako, tahimik, gamit ang liham na natanggap ko mula kay Alonzo—may informant daw silang gustong magpabigat ng kaso laban sa Dela Rosa family. "Ito na," bulong ko sa sarili. "Walang dudang target natin ang ilang iligal na dokumento na ginagamit ng pamilya Dela Rosa para kontrolin ang ilang proyekto ng Velasco Foundation. Nakaramdam ako ng lagim habang naglalakad sa kanilang direksyon. Natigil ako nang makita kong lumabas si June, assistant mula sa foundation, at humarap sa grupo. Ang mga mat
GABBY POINT OF VIEW Pagkababa ko mula sa entablado, ramdam ko pa rin ang mga mata nilang lahat. Parang mga matang naninimbang kung ano ang gagawin nila sa susunod. Lalapitan ba ako para magpakitang-tao? O iiwasan akong parang may dalang bomba? Sa gilid ng ballroom, nakita kong mabilis ang pagla
GABBY POINT OF VIEW Nang bumukas ang malalaking pinto ng Grand Monarch Hotel Ballroom, halos lahat ng mata ay sabay-sabay na lumingon sa direksyon ko.May konting katahimikan. Isang uri ng alingawngaw na hindi mo maririnig pero mararamdaman mo parang usok na mabagal pero mapanganib na bumabalot sa
Gabby’s POVPagpasok ko sa grand ballroom ng Velasco estate, agad kong naramdaman ang tensyon sa hangin. Ang mga mata ng mga babaeng naroroon ay tila mga kutsilyong nakatutok sa akin. Ang mga asawa ng board members, nakasuot ng mamahaling alahas at designer gowns, ay nagtipon-tipon sa isang sulok,
GABBY POINT OF VIEW Mula pa kagabi, hindi ako mapakali. Hindi dahil sa kaba o takot sanay na ako ro’n. Kundi dahil sa presensyang naroon sa paligid ko, palaging nandoon sa anino, sa katahimikan, sa mga tanong na hindi ko pa nasasagot. Damian.Kanina lang, ipinatawag niya ako. Hindi bilang CEO. Hin












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Mga Ratings
RebyuMore