بيت / Romansa / The Day We Do It / Bab 83 - Tamu Tengah Malam

مشاركة

Bab 83 - Tamu Tengah Malam

مؤلف: Anidania
last update تاريخ النشر: 2026-09-22 23:27:21

Tok! Tok! Tok!

Gedoran di pintu apartemennya pada pukul sembilan malam membuat Raia tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.

Jantung wanita itu berdegup kencang. Matanya yang sembab terpaku pada gagang pintu. Pak Leo? Apakah pesan ultimatumnya berhasil memaksa pria itu keluar dari persembunyian dan mendatangi apartemennya malam-malam begini?

Raia menelan ludah dengan susah payah. Ia menguatkan cengkeraman tangannya, berdiri melangkah mendekati pintu dengan napas yang memburu. Ke
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • The Day We Do It   Bab 83 - Tamu Tengah Malam

    Tok! Tok! Tok!Gedoran di pintu apartemennya pada pukul sembilan malam membuat Raia tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.Jantung wanita itu berdegup kencang. Matanya yang sembab terpaku pada gagang pintu. Pak Leo? Apakah pesan ultimatumnya berhasil memaksa pria itu keluar dari persembunyian dan mendatangi apartemennya malam-malam begini?Raia menelan ludah dengan susah payah. Ia menguatkan cengkeraman tangannya, berdiri melangkah mendekati pintu dengan napas yang memburu. Keberanian yang dia dapatkan dari gereja tadi sore ia kumpulkan di dalam dadanya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Raia memutar kunci dan menarik pintu itu lebar-lebar, bersiap menghadapi sorot mata Leo yang menghunusnya tajam."Nih! Aku tahu kamu pasti belum makan dari sore!"Raia mematung.Bukan sosok jangkung Leo berpakaian rapi yang berdiri di sana, melainkan Sinta. Sahabatnya itu berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit terengah, mengacungkan dua kantong plastik berukuran besar yang me

  • The Day We Do It   Bab 82 - Bebaskan Dirimu

    "Saya ..." Suara Raia bergetar, tak sanggup melakukan pembelaan apa pun di balik rasa malu yang membakar seluruh wajahnya. "Saya cuma ingin membantu, Romo. Saya tidak tahu kalau dampaknya bakal sejauh ini..."Romo Danu menatapnya prihatin, pria itu menggeser kotak tisu ke dekat Raia. "Membantu dan membiarkan dirimu dimanfaatkan untuk menyempurnakan kebohongan adalah dua hal yang sangat berbeda, Nak. Kamu tidak sedang menyelamatkan siapa pun dengan cara ini. Kamu justru membiarkan ibu itu hidup dalam ilusi, sementara temanmu berlari makin jauh tanpa perlu menghadapi konsekuensi apa pun."Romo sejenak mengambil napas panjang. "Jika kamu terus menjadi benteng untuk kebohongannya, maka saat kebenaran ini runtuh—dan percayalah, kebenaran itu pasti runtuh—kamulah yang akan tertimpa reruntuhannya paling parah," nasehatnya, menekan beberapa kata.Air mata Raia menetes semakin deras mendengar penuturan dari Romo.Romo Danu benar. Leo tidak sedang berjuang demi panggilan suci; Leo sedang bersem

  • The Day We Do It   Bab 81 - Pertanyaan Romo Danu

    "Panggilan hidup menjadi seorang imam itu proses yang sangat panjang, Nak. Bukan keputusan yang bisa diambil dalam waktu semalam," jelas Romo Danu dengan nada lembut. "Memerlukan waktu tujuh sampai sepuluh tahun untuk pembinaan. Dan salah satu syarat paling mendasar dalam proses pembedaan roh adalah bagaimana calon pastor tersebut menyelesaikan tanggung jawab keduniawiannya."Romo Danu mengambil napas sejenak sebelum kembali melajutkan ucapannya. "Gereja tidak pernah mengajarkan seseorang untuk lari dari kewajiban moralnya, apalagi jika itu sampai melukai dan menelantarkan seorang ibu. Panggilan yang sejati tidak pernah dibangun di atas puing-puing penderitaan orang lain.""Tapi... bagaimana kalau di tengah jalan dia menyesal?" Raia buru-buru menyela, menyuarakan isi hatinya. "Atau... kalau suatu hari nanti setelah jadi pastor, dia mau mengundurkan diri dan ingin kembali, apakah dia bisa berhenti begitu saja?" lanjutnya, sedikit ragu.Romo Danu menggeleng. "Pada Gereja Katolik, ada pr

  • The Day We Do It   Bab 80 - Romo Danu

    Kenyataan pahit yang baru saja ia baca membuat dadanya serasa terhimpit beban ber ton-ton. Ia menutup tab penyamaran itu dengan jemari yang gemetar. Pikirannya benar-benar kalut, ia sama sekali tidak bisa tenang.Raia mencoba mengalihkan pikirannya—sekaligus menutupi kekacauan batinnya. Ia membuka map milik pria tadi, memegang pulpen dengan jemari yang dingin, dan berpura-pura memeriksa baris demi baris di dalamnya.Namun, fokusnya sudah hancur lebur. Deretan kata di atas kertas itu tampak kabur, tak satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Setiap beberapa menit sekali, matanya refleks melirik ke angka digital di sudut kanan bawah layar monitornya.15.12.Raia menarik napas panjang, menekan dada kirinya yang terasa begitu nyeri. Ia membetulkan posisi duduknya, mencoba fokus kembali pada berkas di tangannya.15.25.Waktu terasa berjalan sangat lambat. Raia hanya ingin hari gila ini cepat berakhir. Ia ingin segera berkemas, melangkah keluar dari gedung Vaneric Group, dan melarikan di

  • The Day We Do It   Bab 79 - Janji Selibat

    "Sampai kapan aku harus bohong kayak gini?" bisik Raia pada dirinya sendiri.Pertanyaan itu tertancap tajam di dalam dadanya. Dengan jemari yang gemetar, wanita itu menggeser kursornya, membuka tab penyamaran di monitornya.Ia mengetikkan kata kunci yang selama ini berputar di kepalanya.Berapa lama proses menjadi pastor dan apa saja pantangannya?Matanya menyapu baris demi baris informasi yang tertera di layar monitor, membaca dengan hati yang berdebar.Proses menjadi pastor tidak terjadi dalam hitungan bulan. Seperti yang Raia baca, proses menjadi seorang imam, seseorang harus menempuh pendidikan berjenjang yang memakan waktu tujuh hingga sepuluh tahun. Dimulai dari Tahun Orientasi Rohani, studi sarjana Filsafat dan Teologi, Tahun Orientasi Pastoral, hingga magister teologi sebelum akhirnya layak menerima sakramen tahbisan imamat.Sebuah perjalanan panjang yang menuntut seseorang meninggalkan seluruh kehidupan dunianya.Namun, hal yang paling menghantam kesadaran Raia adalah penjela

  • The Day We Do It   Bab 78 - Sampai Kapan?

    Mendengar jawaban dari Raia, raut wajah di hadapannya berubah panik. Ia meremas pinggiran map di dadanya, makin terlihat bingung dan serba salah."A-aduh, gimana ya, Mbak?" gumamnya gugup, menelan ludahnya kasar. "Soalnya, harus banget ditandatangani hari ini sebelum jam empat sore. Kalau enggak, nilai evaluasi magang saya bakal ditahan sama dosen."Raia menarik napas panjang. Ia mengulurkan tangan ke map tersebut, berusaha menyunggingkan senyum demi menenangkan anak muda itu."Tinggalkan saja berkasnya di meja saya," ucap Raia tenang dan penuh wibawa. "Nanti biar saya periksa dulu. Kalau memang sifatnya sangat mendesak, saya yang akan usahakan dapat persetujuan beliau secepatnya."Raut panik di wajah anak itu langsung luruh, berganti dengan rasa lega yang mulai membuncah. Dengan gerakan sedikit canggung, ia menyerahkan map tersebut ke tangan Raia."Makasih banyak ya, Mbak Raia! Maaf banget sudah mengganggu," ucapnya seraya membungkuk hormat beberapa kali, lalu terburu-buru berbalik d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status