LOGINSebagai manusia setengah siluman yang dibesarkan di alam manusia, ada dua hal yang melilit kehidupan Nando: Pertama, berada di alam manusia tanpa direndahkan namun harus mempertaruhkan hidupnya setiap waktu. Kedua, berada di alam Tumaya tanpa menghadapi bahaya apa pun namun harus siap direndahkan sebagai manusia setengah siluman terlemah dari bangsa Jin Hal. Sementara cintanya yang besar terhadap seorang gadis di alam manusia dan harga diri yang tinggi membuatnya harus memilih kedua hal itu. Lalu seperti apakah upaya Nando menjaga nama baik keluarga sekaligus melindungi orang yang sangat dicintainya? Akankah ia mampu membuktikan diri sebagai manusia siluman terkuat di alam Tumaya? Arc 1 : Petualangan Di Alam Tumaya Arc 2 : Disekap Di Alam Kulbis Arc 3 : Melindungi Tumaya Dari Serangan Raja Lacodra Arc 4 : Mencari Permata Naga Langit
View MoreAfter leaving my husband, who did not love me, I restored my status as an heir to a super-rich family. With newfound clarity and determination, I reclaimed my birthright and embraced the responsibility that came with it. No longer bound by the constraints of a loveless marriage, I embarked on a journey of self-discovery and empowerment, guided by the unwavering support of my family. As I stepped into my role as heiress, I vowed to honor the legacy of generations past while forging my own path towards a future defined by resilience, strength, and unabashed authenticity.
In the hushed quietude of the night, Eva Torres paced the plush carpet, the air thick with a nervous energy that prickled her skin. Her reflection in the gilded mirror showed a stark contrast – the woman she knew, clad in sensible cotton pajamas, battled with the image she sought to portray. Tonight, silk whispered against her skin, a luxurious departure from the usual comfort. The delicate fabric clung to her curves in a way that was both foreign and exhilarating, the coolness a stark contrast to the heat rising in her cheeks. Her hand trembled as she smoothed down the hem, the absence of any familiar undergarment a decision both daring and terrifying. This wasn't just about the feel of the silk; it was a calculated move, a step into the unknown territory of desire, a silent plea for a spark to reignite the embers of their marriage. But with each passing moment, the nervous anticipation morphed into a gnawing uncertainty. Would this be the night that rekindled the flame, or would the silk remain just that – a symbol of a yearning unfulfilled?There was a cool breeze, and the sensation of it brushing past her skin made her tremble.Eva, spurred herself on.There was nothing to be afraid of, she reminded herself.The man in the room was her husband, Blake Torres, and they had been married for three years. A nightgown like this was made for times like this.Patting her face and taking deep, calming breaths, Eva knocked on the door.A man appeared, tall and strong-looking. His eyes were unfriendly and his lips were slightly pursed. He was as handsome as a god from an ancient Greek oil painting."It's late. What's up?"His voice was ice cold. It was like looking at a stranger.Eva, almost lost all the courage she had worked so hard to gather."Blake, do you remember what day it is?"Blake frowned. "Get to the point."The expectation in Eva's eyes became disappointment. Forcing a smile, she said, "It's our third wedding anniversary. You've seemed so busy lately. But it doesn't matter; I prepared a surprise for you!"No sooner had she finished speaking than a woman suddenly stepped out from behind Blake. She stood comfortably by his side and greeted Eva with a smile."Eva, I've heard so much about you from Blake. We haven't been introduced, have we?"The woman was a vision – beauty etched in delicate features, a gentle voice that flowed like honey, and eyes that sparkled with a lively intelligence, the kind that drew people in with a desire to shield her from any harm. Yet, for Eva, the sight of her was a physical blow, the warmth of the room leaching from her as she froze, a cold dread settling in her hands and feet.Setelah lama tak bermimpi, kini aku kembali mengalami mimpi yang aneh, tapi entahlah ini benar-benar mimpi atau bukan, rasanya seperti begitu nyata. Tubuhku terantai dengan rantai yang dipenuhi aliran listrik berwarna biru, dan listrik itu bersumber pada mustika Naga Langit yang melayang-layang beberapa meter di depanku."Tempat apa ini?" gumamku.Tak ada apapun dan siapapun di tempat itu, hanya ruangan kosong yang gelap dan dipenuhi kabut merah yang berkemendang. Ketika aku tengah memperhatikan sekelilingku, tiba-tiba mustika Naga Langit mengembang dan mengeluarkan energi listrik yang lebih besar. Dan tubuhku mulai tersengat."Aaakkhh!" aku menjerit menahan energi itu.Sementara mustika Naga Langit semakin besar, dan aliran energi itu juga semakin besar sehingga aku kian tersiksa. Aku meronta-ronta, namun rantai itu begitu kuat untuk bisa kulawan.Mustika itu semakin dekat, dan energi yang dialirkannya semakin deras hingga menyelimuti tubuhku. Mustika itu terus mendekat seperti terta
Tanpa memejamkan mata, aku menyaksikan duri-duri besi raksasa itu pecah berkeping-keping menyentuh tubuhku, aku yang sedikit terperangah dengan kekebalan tubuhku mengalihkan pandanganku ke Mustika berwarna biru yang saat ini kupegang."Jangan-jangan ini adalah Mustika Naga Langit yang sedang kucari," gumamku, lalu memperhatikan ke sekeliling goa dan kembali bergumam, "Dan jangan-jangan, aku sedang berada di dalam perut naga langit."Secara tiba-tiba sebuah gelombang yang sangat kuat menarik tubuhku keluar kembali dari perut Naga Langit. "Aaakh!" Aku terseret kembali menuju ke luar.Benar saja, Naga Langit tengah mengamuk. Sementara aku yang berada beberapa puluh kaki di depannya melihat dengan jelas Matanya yang nampak menyala dan memancarkan warna kebiruan, lalu ia menghisap berbagai halilintar dengan mulutnya, sehingga halilintar-halilintar itu membentuk pusaran besar yang dahsyat dan terpusat di mulutnya.Selang beberapa mili detik kemudian, Naga Langit menyemburkan pusaran halilint
Kemilau cahaya perlahan-lahan menipis, dan panorama perlahan-lahan semakin jelas. Begitu semuanya benar-jelas dan kemilau cahaya sudah tidak ada, aku baru menyadari jika kami tengah dikelilingi halilintar dan petir yang menyambar ke segala arah.Sementara Zeon terus mengepakkan sayap dan melaju melewati celah-celah petir, Singa berbulu keemasan itu menghindari amukan halilintar dengan tangkas."Hati-hati, Zeon," ucapku."Jangan khawatir, Pangeran," jawab Zeon.Untuk mengurangi ketegangan, aku mencoba mengobrol dengan Tungganganku itu. "Kenapa kamu jarang sekali berbicara?"Bukannya menjawab pertanyaanku, singa itu malah mengajukan pertanyaan kembali, "Untuk apa sering berbicara, Pangeran?""Kau bodoh atau memang judes?" gumamku, kemudian menjawab, "Tentu saja untuk berkomunikasi agar kita bisa lebih mudah saling mengerti."Sambil terus melaju dengan kecepatan tinggi menerobos halilintar, Zeon berkata, "Aku diciptakan untuk peka terhadap tuanku. Jadi, aku tidak memerlukan obrolan untuk
"Zeon?" gumamku.Singa itu merunduk bersamaan dengan sayapnya yang menyusut semakin kecil, hingga sayapnya benar-benar hilang dari pandanganku. Sesaat kemudian, Ayahku turun dari Singa itu.Tiba-tiba saja Nero yang menunggangi singa bersayapnya tiba di sampinging Zeon. "Singa ini sungguh cepat, tungganganku yang dikenal sebagai tunggangan tercepat di Alam Tumaya tidak mampu mengimbangi kecepatannya," ucap Nero sambil menuruni tunggangannya yang telah merunduk."Untuk saat ini, tunggangan adikmu adalah tunggangan tercepat di alam Tumaya," ucap Ayahku sambil mengelus bulu Zeon yang berwarna keemasan."Singa ini masih sangat muda untuk menumbuhkan sayap, bagaimana kau bisa berhasil menumbuhkan sayapnya, Ariuz?" tanya Lensana Merah."Aku memandikannya dengan cairan Paksacakra," jawab Ayahku."Bukankah cairan itu hanya bisa digunakan satu kali? Bagaimana kau akan menumbuhkan sayapmu, Ariuz?" tanya Lensana Hijau."Aku memang berniat menumbuhkan sayapku untuk menembus dinding Julaga, tetapi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore