The Red Daisy

The Red Daisy

last update최신 업데이트 : 2024-05-14
에:  Piauthentic연재 중
언어: Filipino
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
39챕터
3.1K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

시놉시스

Ang tanging nais niya lang ay masayang pamilya, tahimik na buhay, at maging mabuting asawa’t ina ngunit mapagbiro ang tadhana para kay Daisy Alyson Strauss. Kalat sa buong San Isidro ang apelyidong Strauss lalo pa’t isang Mayor ang ama ng pamilyang ito at maraming proyektong nakatutulong sa tao ang nagawa na ng ama ni Daisy kaya naman hindi maiiwasang makilala at kaaliwan din ng madla si Daisy. Dahil sa katanyagan ay maraming nais umagaw sa pwesto ng kanyang ama. Grabeng pahirap ang dadanasin ng pamilyang Strauss na siyang magtutulak kay Daisy sa sukdulan ng kanyang galit at magpasyang maghiganti sakanyang bagong katauhan na si Ryann Ezra Destiny Guerrero. Ngunit magagawa niya kayang magtagumpay sa kanyang paghihiganti kung nakasalalay naman ang buhay at kaligtasan ng kanyang mga mahal sa buhay, pati na rin ang kanyang pagiging ina?

더 보기

1화

PROLOGUE

Saat menyadari aku tidak mengajukan satu pun permintaan kebutuhan rumah tangga selama tiga hari ini, ini pertama kalinya dalam beberapa bulan ini Adrian sendiri yang meneleponku.

Adrian berkata dengan nada halus dan sabar, "Sarah, kliniknya sudah dibereskan dan berkasmu kembali diprioritaskan. Lihatlah. Ketika kamu nggak mempersulit keadaan dan belajar bagaimana caranya keluarga ini bekerja, aku akan pastikan kamu terurus."

Nada bicara Adrian selalu terdengar paling lembut saat mengingatkanku siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, yang tidak diketahuinya adalah surat perceraian sudah disiapkan saat namanya muncul di layarku.

Dari luar, aku memang terlihat seperti memiliki segala yang diinginkan seorang wanita. Dari vila yang dilengkapi penjagaan, sopir yang siap dipanggil, pakaian desainer, dan marga dari salah satu pria yang paling ditakuti di kota. Namun, hampir semuanya bukan benar-benar milikku.

Kartu-kartuku diawasi dan pemakaian uang tunai pun harus disetujui. Staf juga harus menerima perintah dari Vivian terlebih dulu, baru mau mendengarkan permintaanku. Bahkan anggaran pakaian, jadwalku, dan akses ke kantor keluarga pun semuanya berada di bawah kendali Vivian. Adrian bilang ini demi kemudahan.

Tiga hari yang lalu, aku dilarikan ke klinik pribadi dengan kondisi darah merembes melalui gaunku. Sementara itu, seorang dokter bilang masih ada kesempatan untuk menyelamatkan bayi di kandunganku jika segera membayar dana darurat pada klinik. Aku menelepon Adrian sampai tanganku gemetar.

Namun, Vivian menunda transfer uangnya. Awalnya, alasannya adalah tidak ada otorisasi langsung dan jumlah nominalnya pun terlalu besar. Selain itu, Adrian sedang rapat dan tidak bisa diganggu untuk sesuatu yang mungkin tidak serius.

Saat transfer uangnya akhirnya masuk, semuanya sudah terlambat. Bayiku sudah tiada.

Aku bisa bertahan hidup bersama Adrian karena dua alasan, yaitu aku mencintainya dan aku percaya dia akan memilihku saat menghadapi masalah yang benar-benar penting. Namun, aku salah dalam kedua hal itu.

Anakku dengan Adrian mati terlebih dulu, lalu pernikahanku ikut mati bersamanya.

....

Saat aku keluar dari Pusat Perawatan Maria, kata-kata dari dokter tetap masih terngiang di telingaku.

"Kami sudah kehilangan kesempatan terakhir untuk mempertahankan kehamilan ini, nggak ada gunanya kembali lagi untuk memeriksa kehamilan ini."

Saat aku tiba di kantor pusat Grup Martono, Adrian berada di ruang kerja pribadinya dan menandatangani dokumen yang baru saja diletakkan Vivian di hadapannya. Saat aku berkata ingin bercerai, dia bahkan tidak mengangkat kepalanya dan hanya tertawa singkat.

"Apa lagi sekarang? Kamu marah karena aku nggak pulang makan malam tadi malam? Sarah, jangan bicara seperti itu, terlalu kekanak-kanakan," kata Adrian dengan nada yang agak menegur.

"Aku nggak bercanda, aku mau cerai," kataku.

Kata-kata itu akhirnya berhasil membuat Adrian mengangkat kepala. Dia berdiri dan berjalan ke arahku dengan tenang sekaligus hampir seperti memanjakan, seolah-olah aku hanya ingin membuatnya kesulitan lagi.

Saat Adrian hendak meraih tanganku, aku melangkah mundur sebelum dia sempat menyentuhku. Tangannya sempat berhenti di udara sejenak, lalu mengernyitkan alis dan mereda kembali. Dia berkata, "Aku tahu kamu kesal soal klinik. Tapi, aku menghentikan itu karena aku nggak mau kamu langsung setuju dengan setiap prosedur mahal yang mereka sarankan. Panik bukan rencana."

Setelah itu, Adrian melirik Vivian yang berdiri tenang di dekat mejanya. Vivian terlihat rapi dan terkendali, gambaran sempurna dari efisiensi dan setia. "Dia hanya mengikuti instruksiku. Kenapa kamu malah berdebat dengannya di bagian pembayaran di depan para staf? Kemarin aku sudah mengembalikan aksesmu. Jadi, kalau ini soal uang, itu sudah selesai."

Sebelum aku sempat menjawab, Adrian melihat jam tangannya. "Ada orang yang menungguku. Aku menjalankan seluruh organisasi, Sarah. Aku nggak bisa terus membuang waktu untuk drama seperti ini. Aku akan mampir malam ini dan bawa makanan penutup dari Belladonna. Baik-baiklah dan tunggu aku."

Adrian begitu yakin aku akan tetap tinggal, yakin sedikit kelembutan darinya akan membuatku memaafkan semuanya.

Selama tiga tahun ini, Adrian berpikir apa pun yang dilakukannya selalu benar. Bahkan saat dia meninggalkanku berdiri di tengah hujan karena Vivian membutuhkannya di tempat lain. Dia hanya perlu berkata Vivian bekerja untuknya dan jangan membuat situasinya menjadi buruk, aku akan menelan rasa sakit itu dan berpura-pura mengerti.

Kini, makanan penutup sudah tidak berarti apa-apa, apakah Adrian sudah membuka kembali transfer itu juga tidak berarti apa-apa. Jika tiga hari yang lalu Adrian mendengarkan ucapanku, aku mungkin masih akan bertahan dengan bodoh.

Hari itu, aku menelepon Adrian dari lorong rumah sakit dan memohon agar dia tidak menutup telepon sebelum aku selesai berbicara.

Namun, terdengar suara Vivian yang sudah berbicara dengan Adrian terlebih dulu. "Bos, aku rasa Nyonya Sarah sudah salah paham. Aku hanya bilang ke klinik jumlahnya terlalu besar untuk dicairkan tanpa detail. Kalau dia benar-benar membutuhkannya segera, aku bisa memaksakan prosesnya. Meskipun itu melanggar prosedur."

"Aku hanya khawatir nanti bagian keuangan akan mulai bertanya. Aku bersikap lebih ketat karena aku pikir dia harus belajar bagaimana caranya keluarga ini menangani semuanya."

Kata-kata itu sudah cukup bagi Adrian. Dia pun berkata dengan nada kesal, "Sarah, kamu dengar sendiri betapa perhatiannya dia? Kenapa kamu nggak bisa belajar darinya dan malahan panik setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah? Lakukan saja apa yang dikatakan Vivian. Setelah dokumennya selesai, kita baru bicara."

Semuanya selalu seperti itu. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, aku harus bicara dengan Vivian. Setelah itu, aku mengikuti pengaturannya dan melakukan apa pun yang dikatakannya.

Aku adalah istrinya Adrian, tetapi wewenangku lebih sedikit di dunia itu dibandingkan wanita yang mengatur jadwalnya. Bahkan untuk makan malam formal, penggalangan dana politik, dan acara keluarga pribadi di mana aku seharusnya berdiri di sisinya, aku tetap harus minta gaun dan perhiasanku melalui Vivian.

Namun, setiap kali Vivian selalu berhasil menemukan alasan untuk membuatku pulang dengan tangan kosong. Warnanya bukan selera Adrian, kalungnya terlalu mencolok, permintaan datang terlalu terlambat, dan barang yang lebih baik sudah dialokasikan. Oleh karena itu, aku selalu berakhir berdiri di samping Adrian dengan sesuatu yang ketinggalan zaman atau tidak pas.

Sementara itu, Adrian membungkuk dan berbisik dengan lembut, "Sarah, kamu mewakiliku. Jangan mempermalukan keluarga."

Kata-kata Adrian itu seolah-olah kegagalan itu milikku. Kenyataannya sebenarnya jauh lebih sederhana, aku bahkan tidak bisa menangani hal-hal kecil karena Adrian telah menempatkan segalanya di tangan Vivian. Setelah itu, dia bertindak seolah-olah aku tidak kompeten karena terlalu bergantung padanya.

Padahal Adrian tahu kehamilanku sejak awal memang tidak stabil. Dia tahu para dokter sudah memperingatkan kehamilanku bisa dalam bahaya jika ada sesuatu yang ditunda. Dia tahu aku sudah bolak-balik menjalani pemeriksaan selama berminggu-minggu ini. Namun, saat aku paling membutuhkannya, dia tetap memberiku jawaban yang sama seperti biasanya yaitu melewati Vivian.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang  manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.

댓글 없음
39 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status