Teilen

Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah
Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah
Nenas

Bab 1

Nenas
Setelah suara genderang ketiga menghilang, aku ditarik oleh seorang wanita dari tepi sungai ke tenda untuk berganti pakaian.

Pakaian basah menempel berat di tubuhku, sementara sela-sela jariku penuh lumpur dan pasir.

Bibi Shella menyelimutiku, saat dia hendak mengeringkan rambutku, pengurus Keluarga Shawn sudah menyelinap masuk.

“Nyonya Muda, malam ini banyak orang di kota. Ucapan Anda tadi .…”

Aku mengangkat tangan untuk menghentikannya, lalu melepaskan papan kayu dari pinggangku dan meletakkannya di atas meja.

Papan kayu itu terkena air, membuat bagian yang terukir namaku tampak lebih gelap.

“Panggil juru catat kemari dan coret namaku dari Keluarga Shawn.”

Wajah sang pengurus pun berubah, lalu dia merendahkan suaranya.

“Nyonya Muda, aturan kota memang tidak bisa diubah, tetapi manusia masih bisa diajak bicara. Tuan Kedua hanya sedang terbawa emosi. Jika Anda benar-benar dicoret dari keluarga, bagaimana Keluarga Shawn akan mempertahankan harga dirinya?”

Tirai tenda tiba-tiba disibak.

Nino mendorong pintu dan masuk. Abu dupa dari perahu upacara masih menempel di bahunya.

Tatapannya sempat tertuju pada bibirku yang memucat, sebelum akhirnya jatuh pada papan kayu di atas meja.

“Sudah tidak sabar melepaskan statusmu sebagai istri dari Keluarga Shawn?”

Aku tidak menjawab, tetapi pikiranku tanpa sadar kembali ke kehidupan sebelumnya. Di kehidupan sebelumnya, batukku bermula setelah kejadian jatuh ke air ini.

Begitu musim dingin tiba, dadaku terasa sesak. Setiap kali turun hujan, aku bahkan tidak bisa tidur semalaman.

Nino pernah memanggil tabib untukku dan beberapa kali menjaga tungku obat.

Saat itu, sesekali dia memberiku sedikit kehangatan, dan aku merasa semua kepedihan selama 6 tahun akhirnya terbayar.

Sekarang kupikir-pikir, ternyata aku memang terlalu mudah dibujuk.

Bibi Shella mengingatkan dengan suara pelan, “Tuan Kedua, seluruh tubuh Mia basah. Biarkan dia berganti pakaian dulu.”

Tatapan Nino kembali jatuh ke wajahku dan terdiam beberapa saat.

Dia melepas jubah luarnya. Tangannya sempat terangkat seolah hendak melemparkannya kepadaku, tetapi seolah teringat sesuatu, dia justru meletakkannya di sandaran kursi.

“Jika masih punya tenaga untuk menekan orang lain dengan aturan, berarti dia tidak akan mati kedinginan.”

Suasana di luar perlahan menjadi tenang.

Tetua Keluarga Shawn masuk dengan tongkat di tangan. Beberapa orang yang bertanggung jawab atas upacara perahu juga mengikuti di belakangnya.

“Mia, sejak zaman dahulu, bukan hanya kamu yang pernah jatuh ke air saat upacara perahu. Namun, tidak pernah ada yang benar-benar menggunakan aturan ini untuk mengakhiri pernikahan. Selama ini, semua orang hanya pura-pura tidak melihat dan membiarkannya berlalu.”

Aku merapatkan selimut di tubuhku, lalu menatapnya.

“Jika aturan ini bisa melindungi rumah leluhur Keluarga Shawn, aturan yang sama juga seharusnya bisa menjaga harga diriku. Siapa pun yang mengalaminya, harus diperlakukan sama.”

Tetua itu terdiam. Wajahnya tampak tidak senang.

Nino tiba-tiba terkekeh. Dia berjalan ke meja dan mengambil papan kayu itu.

“Kamu sudah menjalaninya selama 6 tahun, tetapi justru memilih hari ini untuk mengakhiri pernikahan. Kenapa? Karena tahu kakakku sebentar lagi akan pulang?”

Aku menatapnya dan merasa semua ini sungguh konyol.

“Apa hubungannya?”

“Tidak ada hubungannya?”

Nino menundukkan kepala. Ujung jarinya menekan keras nama yang terukir di papan kayu.

“Kamu menunggunya selama 6 tahun. Bukankah kamu hanya menunggu kesempatan yang sah untuk meninggalkanku?”

“Kamu mengakhiri pernikahan kita sekarang. Begitu dia pulang nanti, kamu bisa langsung memberitahunya bahwa dulu kamu menikahi orang yang salah.”

Tenggorokanku masih terasa amis oleh air sungai yang tertelan.

Selama 6 tahun, aku tidak pernah berinisiatif menemui Vino. Bahkan namanya pun sebisa mungkin kuhindari.

Namun di mata Nino, semakin aku menjaga jarak, semakin aku terlihat seperti orang yang merasa bersalah.

Dulu kukira selama waktu terus berjalan, suatu hari dia pasti akan percaya kepadaku.

Di kehidupan sebelumnya, aku mendengarkan nasihat semua orang.

Mereka berkata bahwa Nino hanya gengsi. Mereka berkata dia juga merasa dirugikan karena harus menggantikan kakaknya menikahiku dan menyuruhku bersabar sedikit lagi, karena suatu hari dia akan tahu siapa yang benar-benar tulus memperlakukannya.

Jadi aku bertahan selama 6 tahun … 16 tahun … hingga tubuhku sakit dan rapuh. Pada akhirnya, dia masih bertanya apakah aku menyesal tidak menikah dengan Vino.

Aku hanya menundukkan mata tidak ingin menjelaskan apa pun lagi.

Ketika kembali mengangkat pandangan, ekspresiku sudah tenang.

“Berikan papan kayunya. Aku sendiri yang akan membawanya untuk menghapus namaku.”

Nino tidak melepaskannya.

Saat itu, Dina keluar dari belakang kerumunan sambil membawa saputangan kering dan dengan lembut menekannya pada luka di tangan Nino.

“Tuan Kedua, lukanya harus dibalut dulu. Kak Mia baru saja keluar dari air. Mungkin karena kedinginan, pikirannya sedang tidak jernih. Jangan terlalu mempermasalahkannya.”

Dia adalah putri tunggal pemilik lama rumah perahu. Sejak kecil, dia tumbuh bersama kedua bersaudara Keluarga Shawn.

Selama bertahun-tahun Nino menjaga rumah perahu, dia hampir selalu berada di sana setiap hari.

Dia menatapku dengan lembut, “Kak, ganti pakaian dulu. Apa ada masalah antara suami istri yang tidak bisa dibicarakan di rumah? Kenapa harus membuat keributan di depan seluruh warga kota? Pada akhirnya, bukankah Kakak sendiri yang akan kehilangan muka?”

Aku tidak menerima jalan keluar yang dia tawarkan.

“Urusan Keluarga Shawn belum sampai saatnya Nona Parker ikut campur.”

Tangan Dina yang sedang memegang saputangan itu menegang.

Nino menarik tangannya dari genggaman Dina, lalu menekan papan kayu itu keras-keras ke atas meja.

“Baik.”

Dia menatapku, seolah menunggu sedikit saja tanda penyesalan dariku.

“Jika kamu mau membuat keributan, aku akan menemanimu. Selama bertahun-tahun, makanan, pakaian, sampai toko payung kertas yang kamu miliki, mana yang bukan milik Keluarga Shawn?”

“Boleh saja mengakhiri pernikahan. Tetapi kita selesaikan dulu semua perhitungannya.”

Dia begitu yakin bahwa aku tidak akan berani. Namun, aku justru mengangguk.

“Besok sore, kita hitung semua pemasukan dan pengeluaran toko payung.”

Tatapan Nino menjadi sedikit lebih gelap, “Kamu benar-benar mau menghitung semuanya denganku?”

Aku mengambil kembali papan kayu dari atas meja, lalu menjawab dengan tenang, “Tentu saja harus dihitung. Juga agar kamu bisa melihat dengan jelas, selama 6 tahun ini, sebenarnya siapa yang menghidupi siapa.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 10

    Nino menepati perkataannya.Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.Sebulan kemudian, aku pergi ke Keluarga Shawn untuk menyelesaikan perhitungan.Saat tiba di rumah perahu, aku sudah mendengar suara Dina.“Sekarang kamu malah melempar semua kesalahan kepadaku?”Dia berdiri di tengah bengkel perbaikan kapal. Di kakinya tergeletak kunci lemari sebelah barat dan cap cabang kedua Keluarga Shawn.Nino bersandar di sisi meja. Wajahnya tampak lelah.“Aku tidak bilang semua kesalahan ada padamu.”“Tetapi kamu mengusirku dari toko payung, mengambil kembali kuncinya, bahkan tidak mengizinkanku ma

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 9

    Vino kembali ke Kota Ark dua hari kemudian.Saat datang ke bangsal penyeberangan, dia mengenakan jubah panjang bergaya kota lain. Wajahnya hampir sama persis dengan Nino, tetapi rautnya jauh lebih santai.Sudah 6 tahun kami tidak bertemu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanggilku, “Mia.”Tanganku yang sedang merapikan permukaan payung tidak berhenti, “Panggil aku Nona Fore.”Dia tampak canggung, lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.“Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah bertemu denganmu. Sebenarnya, selama ini aku selalu ingin mengatakan satu hal kepadamu. Apa yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku. Aku minta maaf.”Aku meletakkan payung di tangan, lalu menatapnya.“Kesalahanmu bukan hanya kepadaku.”Dia menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, dia kembali berbicara.Dia menceritakan banyak hal, seolah ingin menuntaskan semua penjelasan yang tertunggak selama 6 tahun sekaligus.Katanya, dulu dia tidak ingin m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 8

    3 hari kemudian, aku pergi ke wilayah selatan kota untuk mengantarkan pesanan. Saat kembali, aku mendapati bangsal penyeberangan itu sudah berganti pintu baru.Atapnya sudah diperbaiki, celah-celah dinding yang sebelumnya membuat angin masuk juga sudah ditutup.Bahkan meja kerjaku dinaikkan kembali, tepat sesuai ukuran yang paling nyaman bagiku.Nino berdiri di dekat pintu, lengan bajunya digulung sampai siku.“Coba pintunya.”Aku mendorongnya. Engsel pintu bergerak begitu mulus, tanpa sedikit pun tersendat saat dibuka-tutup.Ada setitik cahaya di mata Nino, “Mulai sekarang, jarimu tidak akan terjepit lagi.”Aku menarik tanganku. Ujung jariku sempat menyentuh kusen pintu, “Terima kasih, tetapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi.”Sedikit cahaya yang baru saja muncul di matanya segera meredup, “Tidak mungkin membiarkanmu terus tinggal di bangsal reyot seperti ini.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan selembar surat perjanjian yang sudah dilipat dari balik bajunya dan m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 7

    Aku tetap kembali ke kediaman Keluarga Shawn.Aku sudah merawat Ayah Shawn selama bertahun-tahun. Saat penyakitnya kambuh di malam hari, orang lain tidak akan bisa langsung mengetahui apa yang harus dilakukan.Saat masuk ke kamar, Nino sedang berjaga di sisi ranjang. Ujung lengan bajunya terkena percikan obat.Begitu melihatku masuk, dia segera berdiri dan memberikan tempat kepadaku.Dahi Ayah Shawn penuh keringat, tetapi jemarinya justru menggenggam tanganku erat-erat. Dari tenggorokannya terdengar panggilan samar, “Mia … jangan pergi .…”Dadaku terasa sesak.Aku segera membantu mengatur napasnya, lalu mencampurkan setengah mangkuk air hangat ke dalam mangkuk obat di sampingnya.Di balik papan bambu di sisi ranjang terselip setumpuk catatan. Aku mengambilnya dan mencocokkan satu per satu waktu yang tertulis di sana.Kebiasaan yang kulakukan selama bertahun-tahun sudah terukir dalam tulangku.Dina berdiri di samping sambil membawa semangkuk obat lain. Wajahnya pucat, “Aku membuatnya se

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 6

    Saat hujan musim gugur pertama turun, bangsal penyeberangan itu bocor di 7 tempat.Aku memindahkan permukaan payung yang baru selesai ditempel ke sudut dinding, sementara aku sendiri diguyur hujan hampir sepanjang malam.Luka lama di tangan kananku terasa berdenyut karena air dingin, bahkan rangka payung yang paling tipis pun sudah sulit kugenggam dengan erat.Dulu, setiap kali menghadapi keadaan seperti ini, aku selalu pergi ke rumah perahu.Nino sangat pandai memperbaiki atap.Seberapa lapuk pun papan kayunya, begitu sampai di tangannya, dia selalu tahu bagian mana yang harus diberi penyangga.Mulutnya selalu mengeluh bahwa aku merepotkan, padahal di toko payung ada begitu banyak orang, tetapi aku justru datang mengganggu ketenangannya.Namun, sebelum fajar keesokan harinya, dia pasti sudah datang membawa peralatan dan memperbaiki setiap bagian yang bocor hingga rapat kembali.Saat hujan turun sangat deras, aku bahkan sudah berjalan sampai ke pintu.Air lumpur sudah menggenang hingga

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 5

    Aku pergi ke tepian sungai di sebelah barat kota dan tinggal sementara di sebuah bangsal penyeberangan tua yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.Atap bangsal itu bocor, sementara pintu kayunya hanya bisa tertutup separuh. Saat aku sedang mengikat engsel pintu dengan tali rami, Nino pun datang.Dia masih membawa gantungan payung itu di tangannya. Berdiri di tempat yang terkena angin, tetapi tidak masuk ke dalam.“Kamu meninggalkan benda ini di rumah perahu, apa maksudnya?”Aku terus mengencangkan simpul tali tanpa menoleh, “Awalnya aku ingin memberikannya kepadamu. Tetapi aku berubah pikiran.”“Ditinggalkan di depan pintu atau diberikan kepadaku, apa bedanya?”Aku pun menatapnya, “Jika diberikan, berarti itu untukmu. Jika ditinggalkan di ambang pintu, berarti itu sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.”Jari-jari Nino segera menegang. Dia meletakkan gantungan payung itu di atas meja, lalu kembali berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.“Nama di buku pintu air bisa kutambahkan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status