Teilen

Bab 2

Nenas
Malam itu, aku tidak kembali ke kediaman Keluarga Shawn. Aku langsung pindah ke toko payung kertas.

Di belakang toko ada sebuah loteng kecil. Aku meminta anak magang bernama Lea membersihkan satu sudut, lalu memindahkan sebuah ranjang kecil ke sana.

Pengrajin senior yang bekerja di toko melihatnya dan terus menggelengkan kepala.

“Walaupun bertengkar, mana mungkin suami istri sampai benar-benar tidur di tempat terpisah? Tuan Kedua berjaga di rumah perahu setiap malam. Jika kamu juga tidak pulang, rumah itu masih bisa disebut rumah?”

Aku sibuk merapikan rangka-rangka payung di rak kayu.

“Selama 6 tahun dia tidak pernah masuk ke kamar pengantin. Rumah itu sudah lama tidak seperti rumah.”

Pengrajin senior itu langsung terdiam.

Keesokan sorenya, Ayah Shawn dibawa ke toko dengan kursi tandu. Dia sudah lumpuh selama bertahun-tahun dan bicaranya pun tidak jelas.

Setiap kali memandikan atau memberinya obat, aku sering harus menebak apa yang ingin dia katakan dari gerakan bibirnya.

Namun, beberapa kata yang diucapkannya hari ini kudengar dengan sangat jelas.

“Kamu ... tidak boleh ... menghancurkan hidup Nino.”

Aku menyelimuti lututnya dengan selimut tipis, lalu berkata pelan, “Ayah, aku tidak menghancurkannya.”

Dia menarik napas dengan susah payah, lalu tangan kurusnya mencengkeram lengan bajuku.

“Selama ini ... kamu sudah bekerja keras. Tetapi Keluarga Shawn ... juga sudah memberimu status sebagai istri. Dalam hidup, jangan hanya mengingat semua kepedihan.”

Aku menundukkan mata dan tidak membantah lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ketika penyakitnya semakin parah, dia bahkan tidak bisa berbaring sepanjang siang dan malam.

Aku menjaganya di sisi ranjang selama 7 bulan, hingga bahuku berkali-kali tercakar olehnya.

Sesekali Nino pulang dan melihatku membantu ayahnya berganti posisi. Dia hanya berkata datar, “Sebagai menantu, memang sudah seharusnya kamu berbakti.”

Ternyata sebanyak apa pun yang kulakukan, semuanya tetap dianggap sebagai kewajibanku.

Sedangkan status sebagai bagian dari Keluarga Shawn justru dijadikan kebaikan yang mereka berikan kepadaku.

Aku perlahan melepaskan tangan Ayah Shawn dari lenganku.

“Mulai sekarang, obat-obatnya ada di laci ketiga di samping ranjang. Waktu untuk membalikkan tubuhnya sudah kuukir di bagian belakang papan bambu. Sebentar lagi aku bukan lagi menantu Keluarga Shawn. Setelah ini akan ada orang baru yang merawat Ayah.”

“Mia ....”

Di tengah percakapan, terdengar suara dari pintu. Dina masuk sambil membawa setumpuk rangka bambu baru.

Begitu melihat Ayah Shawn, langkahnya terhenti sejenak. Dia membungkuk memberi salam, “Paman Shawn juga ada di sini. Bagaimana keadaan Paman hari ini? Sudah sedikit membaik?”

Ayah Shawn menjawab dengan suara samar. Dina kemudian menoleh padaku dan tersenyum.

“Kak Mia, kudengar hari ini toko sedang menyiapkan payung baru. Jadi aku membawa beberapa rangka bambu kemari. Aku sekalian ingin belajar dari Kakak bagaimana cara mengurus toko.”

Dia meletakkan rangka bambu itu di sisi meja, lalu tanpa sungkan duduk di kursi yang biasa kugunakan untuk mengurus pembukuan. Dia mengambil buku kas yang terbuka di atas meja dan membolak-balik beberapa halaman.

“Ini semua catatan pemasukan dan pengeluaran toko selama hampir setengah tahun?”

Aku mengernyit dan segera menekan halaman buku itu dengan tangan.

“Nona Parker, pembukuan toko bukan sesuatu yang boleh dilihat orang luar. Tolong letakkan kembali.”

Dina membuka mulut, wajahnya tampak sedikit sedih. Sebelum dia sempat berbicara, Nino pun masuk.

“Dia bukan orang luar.”

Dia menatapku dan berbicara dengan dingin, “Bukankah kamu ingin mengakhiri pernikahan ini? Tetap harus ada yang meneruskan toko ini. Kamu tidak punya alasan untuk menghalanginya.”

Tanganku yang menekan buku kas tidak bergeser sedikit pun.

“Dia tidak mengerti soal payung. Kamu mau menyerahkan toko padanya? Apa kamu ingin menghancurkan nama baik toko ini?”

Nino mencibir. Dia mengulurkan tangan dan mengambil sebuah payung rangka hijau dari samping.

Itu adalah salah satu payung pertama yang kubuat setelah mengubah lengkungan rangka payung.

Kota Ark memiliki kelembapan tinggi. Payung kertas biasa mudah terbalik ketika terkena hujan, jadi aku membutuhkan 4 bulan untuk menemukan bentuk yang tepat. Dia jelas tahu berapa banyak usaha yang kukerahkan untuk membuatnya.

Namun sekarang, dia justru melemparkan payung itu ke lantai begitu saja.

“Bukankah hanya beberapa batang bambu dan 1 lapisan minyak pelapis? Bukan hanya kamu yang bisa membuatnya.”

“Memangnya setelah kehilangan kamu, toko Keluarga Shawn harus tutup?”

Aku membungkuk mengambil payung itu dan menepuk debu yang menempel di permukaannya.

“Jika kamu memang tidak peduli dengan usaha keluarga ini, aku juga tidak keberatan. Toh, aku hanya akan mengambil apa yang memang menjadi hakku. Karena semuanya sudah ada di sini, sekalian saja kita selesaikan semua perhitungannya.”

“6 tahun lalu, toko ini punya utang upah kepada para pekerja. Aku yang menjual mas kawinku untuk melunasinya. Model rangka payung hijau ini aku yang kembangkan. 7 toko di bagian selatan kota juga aku yang berhasil mendapatkan kontraknya.”

Aku mendorong bukti-bukti transaksi yang tersimpan di toko satu per satu ke hadapannya.

“Aku tidak menginginkan toko Keluarga Shawn. Tetapi uang mas kawinku, upah selama 6 tahun, dan bagian keuntungan dari payung rangka hijau, kamu harus melunasinya.”

Nino tidak melihat lembaran-lembaran itu. Tatapannya berhenti di wajahku, seolah untuk pertama kalinya aku menjadi orang asing baginya.

“Semalam membuat keributan soal perceraian, hari ini sudah meminta uang. Mia, setiap langkahmu sudah diperhitungkan dengan baik.”

“Tuan Kedua.” Dina memanggilnya pelan.

“Jangan salahkan Kak Mia. Mungkin dia hanya ingin menyiapkan jalan keluar. Bagaimanapun sebagai seorang wanita, setelah meninggalkan Keluarga Shawn, dia tetap membutuhkan sesuatu untuk menopang hidupnya.”

Satu kalimat darinya berhasil mengubah 6 tahun perjuanganku menjadi seolah-olah aku hanya hidup bergantung pada Keluarga Shawn.

Nino tidak membantah. Dia mengeluarkan serangkaian kunci dari lengan bajunya dan meletakkannya di hadapan Dina.

“Di lemari sebelah barat ada semua buku pembukuan dari tahun-tahun sebelumnya dan daftar pelanggan. Kalau ada waktu, pelajari juga.”

Lemari sebelah barat itu dibuat sendiri oleh Nino untukku pada tahun pertama pernikahan kami.

Saat lemari itu dikunci, dia pernah meletakkan kuncinya di telapak tanganku dan berkata bahwa mulai saat itu, toko ini diserahkan untuk kuurus.

Itulah satu-satunya bentuk kepercayaan yang pernah diberikannya kepadaku selama 6 tahun.

Kini, dia menatapku seolah sedang menunggu sedikit saja tanda kesedihan dariku.

Aku hanya tersenyum dan tidak ikut campur. Aku mengambil kembali buku kas itu dan meletakkannya di hadapanku.

“Siapa yang menerima kunci itu adalah urusanmu.”

“Tetapi untuk saat ini, pernikahan kita belum resmi berakhir. Jadi toko ini masih berada di bawah kendaliku. Jika hari ini kamu tidak berniat menyelesaikan perhitungannya denganku, silakan pulang dan hitung semuanya dengan baik terlebih dahulu.”

“Silakan pergi.”

Karena tidak mendapatkan reaksi yang diharapkannya, wajah Nino segera menggelap. Di balik kemarahannya, tampak sedikit rasa malu.

“Mia, sebaiknya kamu terus sekeras kepala ini. Jangan sampai nanti kamu sendiri yang memohon untuk kembali.”

Setelah berkata demikian, dia menopang kursi ayahnya, lalu pergi bersama Dina.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 10

    Nino menepati perkataannya.Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.Sebulan kemudian, aku pergi ke Keluarga Shawn untuk menyelesaikan perhitungan.Saat tiba di rumah perahu, aku sudah mendengar suara Dina.“Sekarang kamu malah melempar semua kesalahan kepadaku?”Dia berdiri di tengah bengkel perbaikan kapal. Di kakinya tergeletak kunci lemari sebelah barat dan cap cabang kedua Keluarga Shawn.Nino bersandar di sisi meja. Wajahnya tampak lelah.“Aku tidak bilang semua kesalahan ada padamu.”“Tetapi kamu mengusirku dari toko payung, mengambil kembali kuncinya, bahkan tidak mengizinkanku ma

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 9

    Vino kembali ke Kota Ark dua hari kemudian.Saat datang ke bangsal penyeberangan, dia mengenakan jubah panjang bergaya kota lain. Wajahnya hampir sama persis dengan Nino, tetapi rautnya jauh lebih santai.Sudah 6 tahun kami tidak bertemu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanggilku, “Mia.”Tanganku yang sedang merapikan permukaan payung tidak berhenti, “Panggil aku Nona Fore.”Dia tampak canggung, lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.“Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah bertemu denganmu. Sebenarnya, selama ini aku selalu ingin mengatakan satu hal kepadamu. Apa yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku. Aku minta maaf.”Aku meletakkan payung di tangan, lalu menatapnya.“Kesalahanmu bukan hanya kepadaku.”Dia menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, dia kembali berbicara.Dia menceritakan banyak hal, seolah ingin menuntaskan semua penjelasan yang tertunggak selama 6 tahun sekaligus.Katanya, dulu dia tidak ingin m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 8

    3 hari kemudian, aku pergi ke wilayah selatan kota untuk mengantarkan pesanan. Saat kembali, aku mendapati bangsal penyeberangan itu sudah berganti pintu baru.Atapnya sudah diperbaiki, celah-celah dinding yang sebelumnya membuat angin masuk juga sudah ditutup.Bahkan meja kerjaku dinaikkan kembali, tepat sesuai ukuran yang paling nyaman bagiku.Nino berdiri di dekat pintu, lengan bajunya digulung sampai siku.“Coba pintunya.”Aku mendorongnya. Engsel pintu bergerak begitu mulus, tanpa sedikit pun tersendat saat dibuka-tutup.Ada setitik cahaya di mata Nino, “Mulai sekarang, jarimu tidak akan terjepit lagi.”Aku menarik tanganku. Ujung jariku sempat menyentuh kusen pintu, “Terima kasih, tetapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi.”Sedikit cahaya yang baru saja muncul di matanya segera meredup, “Tidak mungkin membiarkanmu terus tinggal di bangsal reyot seperti ini.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan selembar surat perjanjian yang sudah dilipat dari balik bajunya dan m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 7

    Aku tetap kembali ke kediaman Keluarga Shawn.Aku sudah merawat Ayah Shawn selama bertahun-tahun. Saat penyakitnya kambuh di malam hari, orang lain tidak akan bisa langsung mengetahui apa yang harus dilakukan.Saat masuk ke kamar, Nino sedang berjaga di sisi ranjang. Ujung lengan bajunya terkena percikan obat.Begitu melihatku masuk, dia segera berdiri dan memberikan tempat kepadaku.Dahi Ayah Shawn penuh keringat, tetapi jemarinya justru menggenggam tanganku erat-erat. Dari tenggorokannya terdengar panggilan samar, “Mia … jangan pergi .…”Dadaku terasa sesak.Aku segera membantu mengatur napasnya, lalu mencampurkan setengah mangkuk air hangat ke dalam mangkuk obat di sampingnya.Di balik papan bambu di sisi ranjang terselip setumpuk catatan. Aku mengambilnya dan mencocokkan satu per satu waktu yang tertulis di sana.Kebiasaan yang kulakukan selama bertahun-tahun sudah terukir dalam tulangku.Dina berdiri di samping sambil membawa semangkuk obat lain. Wajahnya pucat, “Aku membuatnya se

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 6

    Saat hujan musim gugur pertama turun, bangsal penyeberangan itu bocor di 7 tempat.Aku memindahkan permukaan payung yang baru selesai ditempel ke sudut dinding, sementara aku sendiri diguyur hujan hampir sepanjang malam.Luka lama di tangan kananku terasa berdenyut karena air dingin, bahkan rangka payung yang paling tipis pun sudah sulit kugenggam dengan erat.Dulu, setiap kali menghadapi keadaan seperti ini, aku selalu pergi ke rumah perahu.Nino sangat pandai memperbaiki atap.Seberapa lapuk pun papan kayunya, begitu sampai di tangannya, dia selalu tahu bagian mana yang harus diberi penyangga.Mulutnya selalu mengeluh bahwa aku merepotkan, padahal di toko payung ada begitu banyak orang, tetapi aku justru datang mengganggu ketenangannya.Namun, sebelum fajar keesokan harinya, dia pasti sudah datang membawa peralatan dan memperbaiki setiap bagian yang bocor hingga rapat kembali.Saat hujan turun sangat deras, aku bahkan sudah berjalan sampai ke pintu.Air lumpur sudah menggenang hingga

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 5

    Aku pergi ke tepian sungai di sebelah barat kota dan tinggal sementara di sebuah bangsal penyeberangan tua yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.Atap bangsal itu bocor, sementara pintu kayunya hanya bisa tertutup separuh. Saat aku sedang mengikat engsel pintu dengan tali rami, Nino pun datang.Dia masih membawa gantungan payung itu di tangannya. Berdiri di tempat yang terkena angin, tetapi tidak masuk ke dalam.“Kamu meninggalkan benda ini di rumah perahu, apa maksudnya?”Aku terus mengencangkan simpul tali tanpa menoleh, “Awalnya aku ingin memberikannya kepadamu. Tetapi aku berubah pikiran.”“Ditinggalkan di depan pintu atau diberikan kepadaku, apa bedanya?”Aku pun menatapnya, “Jika diberikan, berarti itu untukmu. Jika ditinggalkan di ambang pintu, berarti itu sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.”Jari-jari Nino segera menegang. Dia meletakkan gantungan payung itu di atas meja, lalu kembali berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.“Nama di buku pintu air bisa kutambahkan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status