Teilen

Bab 3

Nenas
Surat perceraian itu tinggal menunggu cap dari juru catat. Kebetulan orangnya sedang pergi menjalankan tugas dan lusa baru akan kembali.

Selama 2 hari ini, setiap hari aku mengajari Lea mengikis rangka bambu di bawah loteng.

“Ikuti serat bambunya. Jangan mengikis berlawanan arah.”

Lea mengangguk, lalu mengikis beberapa kali dengan serius. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah capung bambu yang dibuatnya dengan bentuk agak miring dan menyodorkannya kepadaku.

“Guru Fore, ini untuk Anda.”

Aku tidak kuasa menahan tawa.

Namun, detik berikutnya, Nino entah sejak kapan sudah muncul di pintu. Wajahnya tampak muram.

“Lea, rumah perahu kekurangan orang untuk memindahkan kayu. Pergi dan bantu di sana.”

Lea terkejut dan segera berdiri memberi hormat, “Tuan Kedua, Anda datang.”

Dia menggenggam pisau ukir di tangannya, tampak serba salah.

“Tetapi Guru Fore masih mengajariku … lagi pula, tubuhku kecil. Aku takut tidak kuat mengangkat kayu yang besar.”

Tatapan Nino menyapu capung bambu di tanganku. Wajahnya kembali menjadi semakin dingin.

“Jika tidak kuat, berlatihlah. Untuk sementara tidak perlu belajar membuat payung.”

Aku berdiri dan melindungi anak itu di belakangku, “Dia murid magang di toko payung. Belajar membuat payung adalah tugas utamanya.”

Nino mencibir, “Kenapa? Aku bahkan tidak boleh menyuruh murid magang di toko milikku sendiri?”

Dia meletakkan teko tembaga yang dibawanya di atas meja. Di dalamnya ada air panas, sementara bagian luar teko dibungkus kain tebal.

Dulu, setiap kali aku mengantarkan makan malam untuknya, aku selalu membungkus teko seperti ini agar airnya tidak cepat dingin terkena angin sungai.

Sepertinya kali ini dia datang untuk mengantarkan air untukku. Namun, begitu membuka mulut, yang keluar tetap saja teguran.

“Loteng ini bocor dari segala sisi. Dengan tinggal di sini, kamu ingin seluruh warga kota melihat bagaimana Keluarga Shawn memperlakukanmu?”

“Mia, perhitunganmu memang bagus.”

Aku melirik teko tembaga itu. Riak kecil yang baru saja muncul di hatiku pun kembali tenang.

“Tuan Kedua sedang bercanda.”

“Asalkan hari ini kita menyelesaikan semua perhitungan, besok aku akan menemui juru catat untuk menghapus namaku. Setelah itu, aku tidak akan punya hubungan apa pun lagi dengan Keluarga Shawn. Tidak akan ada seorang pun yang bisa mengatakan Keluarga Shawn memperlakukanku dengan buruk.”

Wajah Nino sedikit berubah. Tangannya yang terkulai di sisi tubuhnya tiba-tiba mengepal erat.

Setelah terdiam beberapa saat, dia akhirnya berkata seolah sedang mengalah, “Aku bisa meminta Dina untuk tidak menyentuh meja kerjamu. Kunci lemari sebelah barat juga bisa kukembalikan kepadamu. Asalkan kamu pulang.”

Itulah kompensasi yang dia tawarkan.

Kebetulan Dina masuk pada saat itu.

Mendengar dua kata terakhir, langkahnya terhenti. Senyum di wajahnya sedikit memudar, tetapi dia segera kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan berjalan mendekat.

“Kak Mia, Tuan Kedua sudah bersedia mengalah. Pulanglah. Dalam rumah tangga, mana mungkin pasangan benar-benar tega merusak hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun?”

Dia sedikit mengerucutkan bibirnya, seolah baru teringat sesuatu secara tidak sengaja.

“Tetapi Kakak bersikeras ingin bercerai. Jangan-jangan memang karena Tuan Muda Vino akan segera pulang?”

Aku menatapnya dan nada suaraku sedikit mendingin, “Tidak ada hubungannya dengan Vino.”

Dina menutup mulutnya sambil terkekeh, “Aku hanya bercanda. Siapa yang tidak tahu bahwa dulu hubungan Kakak dengan Tuan Muda Vino sangat dekat? Sekarang dia akan pulang, wajar jika orang lain berpikiran macam-macam.”

Seolah tersentuh oleh perkataan itu, tatapan Nino pun menggelap. Dia merampas capung bambu dari sela jariku.

“Diberi barang kecil yang tidak berharga oleh orang lain saja kamu sudah sebahagia ini. Mia, ternyata harga dirimu memang murah.”

Aku menarik sudut bibirku, “Setidaknya ini diberikan Lea dengan tulus kepadaku, bukan digunakan untuk memaksaku menunduk.”

Wajahnya benar-benar menjadi dingin, “Aku tanya sekali lagi. Malam ini kamu pulang atau tidak?”

“Tidak.”

Nino terdiam beberapa saat, lalu mencibir. Suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

“Terserah.”

Dia melempar capung bambu itu, lalu berbalik pergi. Teko tembaga yang dibawanya juga tidak diambil. Dina mengejarnya sampai ke pintu.

“Tuan Kedua, aku akan menemanimu ke rumah perahu. Malam hari cukup lembap, luka di tanganmu juga belum sembuh.”

Nino tidak menolak. Suara langkah mereka perlahan menghilang di ujung gang.

Aku memungut capung bambu itu dan meletakkannya di atas meja, lalu mengambil teko tembaga.

Suhu airnya pas ….

Dia tahu sejak jatuh ke air, aku paling takut kedinginan. Dia juga ingat bahwa aku tidak bisa minum air yang terlalu panas.

Namun, semua hal yang dia ingat tentangku tidak pernah bisa ditukar dengan satu kalimat kepercayaan.

Di larut malam, aku menyerahkan kunci kediaman Keluarga Shawn kepada pengurus.

Namun, Nino kembali lagi. Ada sedikit aroma alkohol di tubuhnya.

Dia berdiri di bawah tangga kayu loteng. Ketika melihat gantungan payung untuk melindungi Lea dan Bibi Shella dari hujan yang kubuat, dia mengulurkan tangan kepadaku.

“Kamu begitu perhatian kepada orang lain. Bagaimana denganku?”

Aku tertegun sesaat.

Namun, dia segera menarik kembali tangannya, seolah kalimat tadi bukan keluar dari mulutnya.

“Sudahlah. Apa pun yang kamu berikan kepada orang lain selalu terasa mudah. Kalau diberikan kepadaku, malah seperti sedang beramal.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 10

    Nino menepati perkataannya.Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.Sebulan kemudian, aku pergi ke Keluarga Shawn untuk menyelesaikan perhitungan.Saat tiba di rumah perahu, aku sudah mendengar suara Dina.“Sekarang kamu malah melempar semua kesalahan kepadaku?”Dia berdiri di tengah bengkel perbaikan kapal. Di kakinya tergeletak kunci lemari sebelah barat dan cap cabang kedua Keluarga Shawn.Nino bersandar di sisi meja. Wajahnya tampak lelah.“Aku tidak bilang semua kesalahan ada padamu.”“Tetapi kamu mengusirku dari toko payung, mengambil kembali kuncinya, bahkan tidak mengizinkanku ma

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 9

    Vino kembali ke Kota Ark dua hari kemudian.Saat datang ke bangsal penyeberangan, dia mengenakan jubah panjang bergaya kota lain. Wajahnya hampir sama persis dengan Nino, tetapi rautnya jauh lebih santai.Sudah 6 tahun kami tidak bertemu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanggilku, “Mia.”Tanganku yang sedang merapikan permukaan payung tidak berhenti, “Panggil aku Nona Fore.”Dia tampak canggung, lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.“Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah bertemu denganmu. Sebenarnya, selama ini aku selalu ingin mengatakan satu hal kepadamu. Apa yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku. Aku minta maaf.”Aku meletakkan payung di tangan, lalu menatapnya.“Kesalahanmu bukan hanya kepadaku.”Dia menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, dia kembali berbicara.Dia menceritakan banyak hal, seolah ingin menuntaskan semua penjelasan yang tertunggak selama 6 tahun sekaligus.Katanya, dulu dia tidak ingin m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 8

    3 hari kemudian, aku pergi ke wilayah selatan kota untuk mengantarkan pesanan. Saat kembali, aku mendapati bangsal penyeberangan itu sudah berganti pintu baru.Atapnya sudah diperbaiki, celah-celah dinding yang sebelumnya membuat angin masuk juga sudah ditutup.Bahkan meja kerjaku dinaikkan kembali, tepat sesuai ukuran yang paling nyaman bagiku.Nino berdiri di dekat pintu, lengan bajunya digulung sampai siku.“Coba pintunya.”Aku mendorongnya. Engsel pintu bergerak begitu mulus, tanpa sedikit pun tersendat saat dibuka-tutup.Ada setitik cahaya di mata Nino, “Mulai sekarang, jarimu tidak akan terjepit lagi.”Aku menarik tanganku. Ujung jariku sempat menyentuh kusen pintu, “Terima kasih, tetapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi.”Sedikit cahaya yang baru saja muncul di matanya segera meredup, “Tidak mungkin membiarkanmu terus tinggal di bangsal reyot seperti ini.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan selembar surat perjanjian yang sudah dilipat dari balik bajunya dan m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 7

    Aku tetap kembali ke kediaman Keluarga Shawn.Aku sudah merawat Ayah Shawn selama bertahun-tahun. Saat penyakitnya kambuh di malam hari, orang lain tidak akan bisa langsung mengetahui apa yang harus dilakukan.Saat masuk ke kamar, Nino sedang berjaga di sisi ranjang. Ujung lengan bajunya terkena percikan obat.Begitu melihatku masuk, dia segera berdiri dan memberikan tempat kepadaku.Dahi Ayah Shawn penuh keringat, tetapi jemarinya justru menggenggam tanganku erat-erat. Dari tenggorokannya terdengar panggilan samar, “Mia … jangan pergi .…”Dadaku terasa sesak.Aku segera membantu mengatur napasnya, lalu mencampurkan setengah mangkuk air hangat ke dalam mangkuk obat di sampingnya.Di balik papan bambu di sisi ranjang terselip setumpuk catatan. Aku mengambilnya dan mencocokkan satu per satu waktu yang tertulis di sana.Kebiasaan yang kulakukan selama bertahun-tahun sudah terukir dalam tulangku.Dina berdiri di samping sambil membawa semangkuk obat lain. Wajahnya pucat, “Aku membuatnya se

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 6

    Saat hujan musim gugur pertama turun, bangsal penyeberangan itu bocor di 7 tempat.Aku memindahkan permukaan payung yang baru selesai ditempel ke sudut dinding, sementara aku sendiri diguyur hujan hampir sepanjang malam.Luka lama di tangan kananku terasa berdenyut karena air dingin, bahkan rangka payung yang paling tipis pun sudah sulit kugenggam dengan erat.Dulu, setiap kali menghadapi keadaan seperti ini, aku selalu pergi ke rumah perahu.Nino sangat pandai memperbaiki atap.Seberapa lapuk pun papan kayunya, begitu sampai di tangannya, dia selalu tahu bagian mana yang harus diberi penyangga.Mulutnya selalu mengeluh bahwa aku merepotkan, padahal di toko payung ada begitu banyak orang, tetapi aku justru datang mengganggu ketenangannya.Namun, sebelum fajar keesokan harinya, dia pasti sudah datang membawa peralatan dan memperbaiki setiap bagian yang bocor hingga rapat kembali.Saat hujan turun sangat deras, aku bahkan sudah berjalan sampai ke pintu.Air lumpur sudah menggenang hingga

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 5

    Aku pergi ke tepian sungai di sebelah barat kota dan tinggal sementara di sebuah bangsal penyeberangan tua yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.Atap bangsal itu bocor, sementara pintu kayunya hanya bisa tertutup separuh. Saat aku sedang mengikat engsel pintu dengan tali rami, Nino pun datang.Dia masih membawa gantungan payung itu di tangannya. Berdiri di tempat yang terkena angin, tetapi tidak masuk ke dalam.“Kamu meninggalkan benda ini di rumah perahu, apa maksudnya?”Aku terus mengencangkan simpul tali tanpa menoleh, “Awalnya aku ingin memberikannya kepadamu. Tetapi aku berubah pikiran.”“Ditinggalkan di depan pintu atau diberikan kepadaku, apa bedanya?”Aku pun menatapnya, “Jika diberikan, berarti itu untukmu. Jika ditinggalkan di ambang pintu, berarti itu sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.”Jari-jari Nino segera menegang. Dia meletakkan gantungan payung itu di atas meja, lalu kembali berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.“Nama di buku pintu air bisa kutambahkan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status