Teilen

Bab 4

Nenas
Malam itu, aku memimpikan kehidupan sebelumnya. Pada suatu malam di musim dingin, aku tertidur di toko payung kertas.

Ketika terbangun, ujung lengan bajuku terasa hangat karena tungku arang. Nino sedang berjongkok di sampingku, membalik satu per satu permukaan payung yang lembap.

Begitu melihatku membuka mata, wajahnya langsung kembali dingin.

“Jangan salah paham. Aku hanya takut kamu sakit. Kalau begitu, tidak ada yang membuatkan obat untuk ayahku.”

Belakangan, toko payung kertas kembali dibuka. Payung rangka hijau pertama pun digantung di sudut atap.

Dia berdiri di bawah hujan dan memandanginya cukup lama, lalu hanya berkata, “Lumayan.”

Kemudian, Vino pulang ke kampung halaman.

Aku sengaja menghindarinya, tetapi Nino justru menggenggam tanganku di tengah jalan utama dan tidak melepaskannya sepanjang perjalanan.

Hari itu, aku mengira dia akhirnya bersedia mengakui bahwa aku adalah istrinya.

Potongan-potongan kecil kebaikan itu pernah menjadi alasan yang membuatku mampu bertahan selama bertahun-tahun.

Ketika terbangun, langit bahkan belum terang.

Aku meraba sisi bantal yang terasa lembap dan dingin. Setelah duduk cukup lama, akhirnya aku bangkit dan mengambil sebatang bambu hijau.

Aku mengukirnya menjadi gantungan payung kecil berbentuk perahu, lalu mengukir kata “Nino” di bagian ujungnya.

Mungkin aku bisa sekali lagi menerima tangan yang semalam sempat dia ulurkan, lalu ditarik kembali itu.

Menjelang fajar, aku pergi ke rumah perahu mencarinya.

Pintu rumah perahu terbuka setengah. Di dalamnya menyala sebuah lampu. Nino membelakangiku, sedang mengikis sisa-sisa kasar pada dayung.

Dina membantu menahan kayunya, “Tuan Kedua, kamu benar-benar tidak mau pergi membujuk Kakak lagi?”

“Bagi seorang wanita, hal yang paling ingin diketahui sebelum pergi adalah apakah ada seseorang yang ingin menahannya. Jika kamu mau sedikit mengalah, belum tentu dia benar-benar tega pergi.”

Nino menggeser alat serut di atas permukaan kayu. Serpihan kayu berjatuhan ke lantai.

“Tidak perlu. Semalam aku sudah mendatanginya. Itu sudah cukup menunjukkan itikad baik.”

“Lagipula, dia tidak akan pergi. Selama ini dia sangat pandai bertahan. Kali ini dia hanya menggunakan perceraian untuk memaksaku mengalah.”

“Tuan Kedua begitu yakin?”

Nino menundukkan kepala dan kembali menggeser alat serutnya.

“Aku mengenalnya. Beri dia semangkuk sup hangat, ucapkan satu kalimat lembut, dan dia sendiri akan menelan semua kepedihannya. Selama 6 tahun, memang begitulah caranya bertahan.”

Aku menggenggam erat gantungan payung di tanganku. Ujungnya yang berbentuk perahu menusuk telapak tanganku.

Ternyata dia tahu ….

Tahu aku akan terluka, dan juga tahu bagaimana membuatku tetap tinggal. Jadi, teko air hangat dengan suhu yang pas tadi malam bukanlah permintaan maaf.

Itu hanya karena dia yakin aku akan kembali seperti dulu, dan melupakan luka hanya karena diberi sedikit kehangatan.

Dina menghela napas, “Tetapi bagaimana jika Tuan Muda Vino pulang? Apa Kakak akan pergi bersamanya?”

Suasana di dalam rumah perahu tiba-tiba hening, bunyi air sungai menghantam tiang-tiang kayu ….

Setelah lama terdiam, Nino akhirnya berkata, “Mia tidak punya keberanian untuk itu.”

“Jika dia berani pergi bersama Vino, itu berarti dia benar-benar perempuan murahan yang selama ini tidak setia.”

“Mulai sekarang, setiap kali dia melewati pintu air, orang-orang akan memanggilnya perempuan yang sudah dibuang Vino.”

Alat serut yang menekan dayung mengeluarkan suara nyaring.

Dina terkekeh pelan.

“Benar juga. Wanita sangat menjaga nama baik mereka. Mana mungkin dia benar-benar mau kehilangan harga dirinya … Tuan Kedua memang sudah memikirkan semuanya.”

Darah perlahan merembes dari telapak tanganku dan meresap ke dalam huruf “Nino” yang terukir di gantungan payung itu.

Seorang pekerja rumah perahu kebetulan melewati belakangku. Begitu melihatku, dia melirik ke dalam lalu segera menundukkan kepala.

Aku meletakkan gantungan payung itu di luar ambang pintu.

Nino bukan tidak tahu ketulusanku. Dia hanya lebih memilih percaya bahwa orang yang kucintai adalah Vino.

Karena selama memercayai hal itu, semua kecurigaan dan penghinaan yang diberikannya kepadaku terasa masuk akal baginya.

Setelah meninggalkan rumah perahu, aku pergi ke Jembatan Amber di sebelah barat kota.

Juru catat membuka buku catatan pintu air dan membaliknya sampai ke halaman Keluarga Shawn.

“Kamu benar-benar sudah memikirkannya baik-baik?”

Aku menyerahkan papan kayuku.

“Sudah 3 kali genderang dibunyikan. Sesuai aturan kota, seorang wanita boleh mengakhiri pernikahan atas kehendaknya sendiri.”

Juru catat itu menghela napas, lalu membuka halaman untuk Keluarga Shawn cabang kedua.

6 tahun lalu, namaku ditulis di bawah nama Nino. Saat itu, aku mengira satu tulisan itu akan menjadi seumur hidupku.

Aku menekan cap jariku di buku catatan pintu air. Kemudian juru catat membubuhkan cap merah di atasnya.

“Setelah cap ini dibubuhkan, namamu akan dihapus dari rumah leluhur, buku catatan pintu air, dan surat perjanjian kapal pengantin. Jika ingin menikah kembali, kalian berdua harus kembali melewati 9 pintu air dari awal.”

“Tidak akan ada hari seperti itu.”

Aku meninggalkan tempat itu dengan surat perceraian yang telah dibubuhi cap.

Saat melewati toko payung kertas, papan nama Keluarga Shawn masih tergantung di tengah kabut pagi.

Tidak banyak barang yang ada di loteng. Aku hanya mengambil cap kayu untuk pekerjaanku dan satu set pisau pembuat payung milikku.

Lea mengejarku dan bertanya sambil menangis, “Guru Fore, Anda mau pergi ke mana?”

Aku mengusap air matanya, “Menjalani hidupku sendiri.”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari belakang. Sepertinya Nino menemukan gantungan payung yang kutinggalkan di luar ambang pintu.

Dia berdiri di ujung jalan, menggenggam erat gantungan payung itu. Wajahnya begitu dingin hingga membuat orang gentar.

“Mia!”

Aku tidak berhenti.

Angin menerbangkan surat perceraian di tanganku. Cap merah di atasnya terlihat begitu jelas, menandakan semuanya telah resmi diputuskan.

“Nino, mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa pun lagi.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 10

    Nino menepati perkataannya.Di hadapan para tetua keluarga, dia mengakui bahwa insiden diriku jatuh ke air saat upacara perahu adalah kesalahannya.Dia juga menjelaskan di depan semua orang bahwa selama 6 tahun ini, akulah yang merawat Ayah Shawn dan mempertahankan toko payung Keluarga Shawn.Keluarga Shawn tetap menggunakan desain payung bambu hijauku dan membayarku berdasarkan jumlah payung yang dibuat, tetapi tidak lagi menjadikan itu alasan untuk memintaku kembali.Sebulan kemudian, aku pergi ke Keluarga Shawn untuk menyelesaikan perhitungan.Saat tiba di rumah perahu, aku sudah mendengar suara Dina.“Sekarang kamu malah melempar semua kesalahan kepadaku?”Dia berdiri di tengah bengkel perbaikan kapal. Di kakinya tergeletak kunci lemari sebelah barat dan cap cabang kedua Keluarga Shawn.Nino bersandar di sisi meja. Wajahnya tampak lelah.“Aku tidak bilang semua kesalahan ada padamu.”“Tetapi kamu mengusirku dari toko payung, mengambil kembali kuncinya, bahkan tidak mengizinkanku ma

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 9

    Vino kembali ke Kota Ark dua hari kemudian.Saat datang ke bangsal penyeberangan, dia mengenakan jubah panjang bergaya kota lain. Wajahnya hampir sama persis dengan Nino, tetapi rautnya jauh lebih santai.Sudah 6 tahun kami tidak bertemu. Hal pertama yang dia lakukan adalah memanggilku, “Mia.”Tanganku yang sedang merapikan permukaan payung tidak berhenti, “Panggil aku Nona Fore.”Dia tampak canggung, lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.“Selama bertahun-tahun, setiap kali pulang ke kampung halaman, aku tidak pernah bertemu denganmu. Sebenarnya, selama ini aku selalu ingin mengatakan satu hal kepadamu. Apa yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku. Aku minta maaf.”Aku meletakkan payung di tangan, lalu menatapnya.“Kesalahanmu bukan hanya kepadaku.”Dia menghindari tatapanku. Setelah terdiam cukup lama, dia kembali berbicara.Dia menceritakan banyak hal, seolah ingin menuntaskan semua penjelasan yang tertunggak selama 6 tahun sekaligus.Katanya, dulu dia tidak ingin m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 8

    3 hari kemudian, aku pergi ke wilayah selatan kota untuk mengantarkan pesanan. Saat kembali, aku mendapati bangsal penyeberangan itu sudah berganti pintu baru.Atapnya sudah diperbaiki, celah-celah dinding yang sebelumnya membuat angin masuk juga sudah ditutup.Bahkan meja kerjaku dinaikkan kembali, tepat sesuai ukuran yang paling nyaman bagiku.Nino berdiri di dekat pintu, lengan bajunya digulung sampai siku.“Coba pintunya.”Aku mendorongnya. Engsel pintu bergerak begitu mulus, tanpa sedikit pun tersendat saat dibuka-tutup.Ada setitik cahaya di mata Nino, “Mulai sekarang, jarimu tidak akan terjepit lagi.”Aku menarik tanganku. Ujung jariku sempat menyentuh kusen pintu, “Terima kasih, tetapi tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini lagi.”Sedikit cahaya yang baru saja muncul di matanya segera meredup, “Tidak mungkin membiarkanmu terus tinggal di bangsal reyot seperti ini.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan selembar surat perjanjian yang sudah dilipat dari balik bajunya dan m

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 7

    Aku tetap kembali ke kediaman Keluarga Shawn.Aku sudah merawat Ayah Shawn selama bertahun-tahun. Saat penyakitnya kambuh di malam hari, orang lain tidak akan bisa langsung mengetahui apa yang harus dilakukan.Saat masuk ke kamar, Nino sedang berjaga di sisi ranjang. Ujung lengan bajunya terkena percikan obat.Begitu melihatku masuk, dia segera berdiri dan memberikan tempat kepadaku.Dahi Ayah Shawn penuh keringat, tetapi jemarinya justru menggenggam tanganku erat-erat. Dari tenggorokannya terdengar panggilan samar, “Mia … jangan pergi .…”Dadaku terasa sesak.Aku segera membantu mengatur napasnya, lalu mencampurkan setengah mangkuk air hangat ke dalam mangkuk obat di sampingnya.Di balik papan bambu di sisi ranjang terselip setumpuk catatan. Aku mengambilnya dan mencocokkan satu per satu waktu yang tertulis di sana.Kebiasaan yang kulakukan selama bertahun-tahun sudah terukir dalam tulangku.Dina berdiri di samping sambil membawa semangkuk obat lain. Wajahnya pucat, “Aku membuatnya se

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 6

    Saat hujan musim gugur pertama turun, bangsal penyeberangan itu bocor di 7 tempat.Aku memindahkan permukaan payung yang baru selesai ditempel ke sudut dinding, sementara aku sendiri diguyur hujan hampir sepanjang malam.Luka lama di tangan kananku terasa berdenyut karena air dingin, bahkan rangka payung yang paling tipis pun sudah sulit kugenggam dengan erat.Dulu, setiap kali menghadapi keadaan seperti ini, aku selalu pergi ke rumah perahu.Nino sangat pandai memperbaiki atap.Seberapa lapuk pun papan kayunya, begitu sampai di tangannya, dia selalu tahu bagian mana yang harus diberi penyangga.Mulutnya selalu mengeluh bahwa aku merepotkan, padahal di toko payung ada begitu banyak orang, tetapi aku justru datang mengganggu ketenangannya.Namun, sebelum fajar keesokan harinya, dia pasti sudah datang membawa peralatan dan memperbaiki setiap bagian yang bocor hingga rapat kembali.Saat hujan turun sangat deras, aku bahkan sudah berjalan sampai ke pintu.Air lumpur sudah menggenang hingga

  • Tidak Ada Sungai yang Berbalik Arah   Bab 5

    Aku pergi ke tepian sungai di sebelah barat kota dan tinggal sementara di sebuah bangsal penyeberangan tua yang sudah terbengkalai selama bertahun-tahun.Atap bangsal itu bocor, sementara pintu kayunya hanya bisa tertutup separuh. Saat aku sedang mengikat engsel pintu dengan tali rami, Nino pun datang.Dia masih membawa gantungan payung itu di tangannya. Berdiri di tempat yang terkena angin, tetapi tidak masuk ke dalam.“Kamu meninggalkan benda ini di rumah perahu, apa maksudnya?”Aku terus mengencangkan simpul tali tanpa menoleh, “Awalnya aku ingin memberikannya kepadamu. Tetapi aku berubah pikiran.”“Ditinggalkan di depan pintu atau diberikan kepadaku, apa bedanya?”Aku pun menatapnya, “Jika diberikan, berarti itu untukmu. Jika ditinggalkan di ambang pintu, berarti itu sesuatu yang tidak kuinginkan lagi.”Jari-jari Nino segera menegang. Dia meletakkan gantungan payung itu di atas meja, lalu kembali berbicara dengan nada dinginnya yang biasa.“Nama di buku pintu air bisa kutambahkan k

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status