Share

190. Aresh Menuntut

Author: Lil Seven
last update Last Updated: 2025-12-29 17:39:44

Baru saja aku bernapas lega setelah selesainya kasus pak Samuel dan pulang ke apartemen Kaiser untuk beristirahat, masalah baru datang.

"Kamu pikir sembunyi di rumah lelaki ini akan menyelesaikan masalahmu?"

Suara Aresh seperti petir di ruang tamu yang tenang.

Dia sudah masuk ke apartemen Kaiser, napasnya berat, matanya menatap tajam langsung menuju ke arahku di sofa, seakan Kaiser dan Arsion yang berdiri di antara kami adalah hantu yang tak terlihat.

Arsion mencoba menghalangi dan segera berdiri di tengah-tengah antara aku dan Kaiser.

"Aresh, tunggu—"

"Kamu tutup mulut!" desis Aresh mendesis.

"Beberapa hari kamu tidak pulang, tidak menjawab pesan atau telepon dariku, kupikir kamu sedang ada masalah berat, tapi ternyata… kamu cuma sedang 'libur' di apartemen teman?" cecar Aresh sambil melotot ke arahku sebelum kemudian, taapannya beralih ke Kaiser, penuh tuduhan.

"Apa yang terjadi di sini? Apa yang kamu lakukan sampai Sherry jadi seperti ini, hah?!"

"Dia butuh tempat aman. Apa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   229. Persaingan Kakak Adik?

    "Berbeda bagaimana?"Aaron bertanya pelan, sedangkan aku memandang Aresh dengan gelisah.“Tidak apa-apa,” jawabnya cepat, lalu tersenyum tipis. “Hanya… rasanya aneh melihat dinamika di rumah berubah.”Aresh tampaknya memilih menjawab dengan kalimat ambigu, sehingga Aaron meletakkan sendok dengan hati-hati dan berkata. “Perubahan tidak selalu buruk.”“Tidak,” sahut Aresh. “Tapi kadang membuat orang merasa tertinggal. Rasanya... tidak nyaman dan seperti tak dianggap."Kalimat itu menggantung, tapi entah kenapa aku bisa menangkap maknanya, dan Aaron jelas juga menangkapnya. Ia menoleh pada Aresh, tatapannya tenang tapi tegas.“Tidak ada yang ditinggalkan,” ucapnya, sedikit menekan. “Kita semua di sini untuk Sherry. Dengan cara masing-masing. Kita sudah sepakat tentang hal itu, kan, Aresh?"Aresh menghela napas, lalu memalingkan wajah sejenak, seolah menata perasaannya sendiri. Ketika ia menatapku lagi, ekspresinya lebih lembut, tapi ada bayang kecemasan di sana.“Aku hanya ingin memas

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   228. Cemburu!

    "Sherry...."Pintu tertutup lagi, kali ini tanpa suara. Ia berdiri di sana, punggungnya menempel pada kayu, seolah butuh penyangga agar tidak runtuh.Aku menatapnya dan ia balas menatapku.Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya. Yang tersisa hanya kegelisahan yang telanjang, perasaan yang terlalu lama ditekan dan kini bergetar di permukaan.“Aku tidak suka melihatmu bersandar pada orang lain,” katanya lirih. “Bukan karena aku ingin menguasai. Tapi karena setiap kali kamu terlihat rapuh, naluriku… ingin berada di sana. Ingin jadi yang pertama.”Kata-katanya tidak keras, tapi penuh beban sehingga aku pun melangkah mendekat“Aku tidak pergi ke mana-mana, kak Aaron.”Napasnya tersendat, jarak kami menyempit lagi Terlalu dekat untuk sekadar aman, terlalu jauh untuk benar-benar menyentuh. Ada listrik di udara—bukan dari hasrat fisik, melainkan dari emosi yang menumpuk: takut, cemburu, ingin melindungi, dan kelekatan yang sulit diberi nama.“Kamu selalu berhasil memmbuatku kehilangan kendali

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   228. Takut Kehilangan

    Mereka saling bertatapan tanpa suara, membuat suasana canggung.Namun untungnya, Kaiser tampak mengalah lebih dulu, dia bangkit sambil menghela napas panjang."Hah, sepertinya aku sudah terlalu lama di sini. Sherry, aku pamit ya?"Keheningan di ruang tamu akhirnya pecah ketika Kaiser pamit. Ia tidak banyak bicara, hanya menatapku sekali lagi sebelum melangkah keluar. Tatapan itu tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sempit.Begitu pintu tertutup, udara terasa berbeda.Lebih berat.Aaron berdiri kaku di tempatnya. Rahangnya mengeras, tangannya masih mengepal seolah ia menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tak boleh.“Aku mau ke kamar,” ucapku pelan.Arsion mengangguk. “Istirahatlah.”Aku berbalik, melangkah ke lorong. Namun sebelum aku sempat menutup pintu kamarku, langkah cepat menyusul dari belakang.“Sherry.”Aku menoleh, melihat Aaron berdiri di ambang pintu, matanya gelap, penuh emosi yang sulit kubaca: marah, cemburu, takut… dan sesuatu yang lebih dalam

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   227. Kaiser atau Aaron?

    "Hai, Sherry," sapanya, yang kini berdiri dengan senyum lelah, membawa tas kecil. "Kaiser....."Kaiser tersenyum lebar saat aku membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.“Aku baru kembali dari kampung. Nenekmu stabil sekarang. Dokter bilang krisisnya sudah lewat, tapi Tante tetap di sana untuk menemani nenek," ujarnya sambil duduk di sofa. Dadaku langsung menghangat dan tersenyum lega.“Syukurlah… terima kasih sudah menemani ibu dan mengantar ke sana, Kai." “Kamu tidak perlu berterima kasih,” jawabnya lembut. “Itu tugasku sebagai sahabat kamu, kan?" Aaron baru turun dari kamar di lantai atas bersama Arsion, saat melihat Kaiser duduk di sofa ruang tamu, keningnya sedikit berkerut “Kamu sudah kembali.” “Iya,” jawab Kaiser singkat. “Aku ke sini hanya mau memastikan Sherry baik-baik saja," jelasnya, seakan-akan tak ingin menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu. Aku tersenyum kecil dan menjawab dengan hangat. “Aku baik baik saja di sini, Kai. Tiga kakakku sangat me

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   226. Berbicara Dengan Ayah

    Aresh menatapnya tanpa emosi. “Keluargamulah yang menghancurkan dirinya sendiri. Dan kenapa aku harus tidak tega padamu? Yang sudah memporak porandakan keluarga ku??" ejek Aresh dengan sinis. “Kami punya pengaruh! Dan aku wajar melakukan hal itu” Maureen hampir berteriak. “Kami punya sekutu! Kami bisa melawan!” “Sekutu-sekutumu sudah menarik diri, sayang sekali bukan?” sahut Aresh. “Mereka tidak mau ikut tenggelam.” Maureen terdiam. Napasnya mulai tidak teratur. “Tidak… ini tidak nyata…” Aaron berkata datar, “Nyata sekali.” Maureen perlahan kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai. “Ayahku… ibuku… adik-adikku…” suaranya pecah. “Kamu tidak bisa melakukan ini…” Aresh berlutut di depannya, menatap lurus ke matanya. “Aku bisa. Dan aku akan.” Maureen menggeleng putus asa. “Kalau masuk penjara… hidup mereka hancur.” “Kalau dibuang?” tanya Arsion. “Setidaknya… mereka masih hidup bebas,” bisik Maureen. Ia menatap Aresh dengan mata basah. “Tolong… jangan penjara.” Ares

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   225. Masuk Penjara, Atau....

    Aresh berdiri dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya. Maureen membalasnya dengan senyum yang lebih sinis, lebih tajam. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Maureen dingin. “Apa keluargaku kembali menjadi pemilik puncak bisnis di negeri ini?” lanjutnya dengan nada angkuh, sambil mengibaskan tangan. Aresh mengangkat alis, seakan membiarkan Maureen dengan kesombongannya, sebelum kemudian berkata dingin. “Masih merasa di atas angin, ya. Mentang mentang selama ini kamu mengira bahwa keluargamu satu-satunya yang menguasai puncak bisnis?" “Wajar,” balas Maureen dengan tatapan sinis. “Kamu tahu siapa ayahku. Kamu tahu jaringan keluargaku.” "Wah, wah, tapi sepertinya kamu harus tahu berita terbaru?" Aresh pun mengeluarkan tablet dari tasnya, menyalakannya dengan gerakan santai. "Aku sudah bosan dengan berita keberhasilan keluargaku, jadi—" “Justru karena itu… kamu perlu lihat ini," potong Aresh sambil memutar layar ke arah Maureen. Di layar tablet milik Are

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status