Início / Fantasi / Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia / 05 : Memperhitungkan Semua Hal

Compartilhar

05 : Memperhitungkan Semua Hal

Autor: Domba Kecil
last update Última atualização: 2025-12-19 11:15:42

**

"Hah... hah... hah..."

Bangun dengan nafas terengah, Lily menatap langit-langit dengan perasaan lelah dan pusing. Masih teringat kepanikan semua orang didunia sana. Ketakutannya sama dengan ketakutan sebelumnya. Tapi, perasaan dikepung seperti itu, sama halnya dengan posisi prajuritnya yang dikepung prajurit musuh. Ketakutannya dua kali lipat, karena tidak ada senjata yang mumpuni, juga keadaan musuh yang tidak kenal takut, alias berani mati.

Lily meringkuk, memeluk dirinya sendiri dalam diam. Ia benar-benar tidak ingin pergi kesana. Mentalnya yang biasa sangat baik, berani, mendadak tumpul begitu ia dihadapkan dengan keadaan disana. Tak dapat dipungkiri, ia takut.

"Nona... kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu, apa ada yang tidak nyaman?" Tanya Chloe dengan nada lirih. Menatap Lily dengan kasihan. Entah apa yang terjadi dengan nona dan tuannya. Keduanya selalu terlihat murung, apalagi jika keduanya bersama, seperti ada awan gelap yang menyelimuti.

"Chloe... dimana ayahku?" Tanya Lily pelan, tanpa menatap Chloe, masih dalam kondisi meringkuk.

"Tuan besar sedang keluar, nona. Tapi sebelum pergi, tuan besar berkata, tunggu tiga hari untuknya padamu." Balas Chloe, seraya menghela nafas. "Nona, jika kau merasa tidak enak badan, bisakah bangun sebentar untuk mengisi perutmu?" Lanjut Chloe bertanya.

Lily terdiam, ia memejamkan kedua matanya mencoba menerima keadaan. Ayahnya mungkin menghindarinya sebentar, ia dan ayahnya sama. Sama-sama mencoba rela, tapi dengan menjauh selama beberapa hari dari satu sama lain. Agar keduanya bisa berpikir jernih kemudian.

Jadi, setelah itu Lily mulai bangun dibantu Chloe. Duduk dibibir ranjang sebentar sebelum akhirnya dipapah menuju meja makan sederhana yang ada dikamarnya.

"Nona, aku hanya menyiapkan bubur atas saran tabib yang memeriksamu sebelumnya. Kau kurang istirahat dan kurang asupan, ditambah dari kemarin kau belum makan apapun. Jadi agar tidak melukai perutmu, disarankan makanan yang ringan dahulu." Jelas Chloe seraya menyiapkan bubur, berikut teh hangat untuk sang nona. "Ada juga obat yang diberikan tabib, setelah bubur habis kau juga harus menghabiskannya." Lanjut Lily seraya tersenyum kecil.

Lily menghela nafas, bubur tidak apa-apa tapi obat dari tabib itu sangat pahit. Bukannya ia tidak bersyukur, apalagi mengingat didunia sana, untuk mendapat makan dan obat harus mempertaruhkan nyawa, ia hanya tidak tahan dengan rasa pahitnya saja. Pada akhirnya tetap Lily habiskan semua.

Jadi, setelah mengisi perut, ia tidak berlama-lama dikamar. Lily menunggu dihalaman, sementara ia menyuruh Chloe mengumpulkan semua harta benda miliknya yang dikumpulkan selama bertahun-tahun di gudang kediamannya.

Kediaman miliknya dan kediaman ayahnya tentu saja berbeda. Meski satu rumah, tapi ada beberapa halaman disini. Selain dua yang dipakai ada dua yang kosong, satu untuk dapur, satu ruang utilitas, satu gudang bersama, dan sisanya di belakang merupakan tempat khusus pelayan dan pengawal. Rumahnya selalu lebih sederhana dibanding para pejabat lainnya. Ibunya tidak suka, dan ayahnya menuruti sang ibu agar rumah dibuat lebih sederhana.

Yang ditempati Lily merupakan yang terbesar kedua, ada beberapa ruangan termasuk kamar, ruang baca, gudang dan kamar khusus pelayan serta pengawal pribadinya. Hanya ada beberapa orang, Lily tahu semua nama orang-orangnya. Jadi, begitu Chloe datang bersama beberapa orang mengangkut peti dan harta lainnya, Lily tersenyum menyapa semuanya meski jelas terlihat ia sedang kurang sehat.

"Sudah dibawa semua?" Tanya Lily pada Chloe. "Jangan sisakan satupun. Bawa semua kemari, aku akan menghitung semuanya." Lanjutnya.

"Baik, nona, semuanya sedang dibawa. Seraya menunggu, nona bisa membuka buku akunnya lebih dulu." Ucap Chloe seraya menyerahkan buku besar berwarna kuning.

Lily membacanya perlahan, sampai beberapa saat berlalu semuanya sudah dibawa keluar. Lily tetap melihat buku akun sebelum akhirnya menutupnya. "Jumlahnya sesuai, sekarang bantu pisahkan emas, uang, barang antik, kain dan lainnya dalam satu tempat masing-masing." Ucap Lily seraya menunjuk beberapa barang di depannya. "Barang antik seperti guci, giok, kaligrafi dan lukisan, bantu aku lelang semuanya. Pisahkan saja lukisan ayah dan ibuku ke samping untuk disimpan. Emas dan kain juga simpan dengan lukisan itu. Uang ini, bagikan upah lebih awal pada semua orang, sisanya belikan obat-obatan dan makanan pokok, serta makanan ringan yang tahan lama. Termasuk daging kering dan makanan fermentasi. Oh! Bantu aku temukan beberapa benih juga." Jelas Lily berlanjut.

Chloe mencatatnya dengan raut bingung, tapi tidak ada protes yang keluar dari mulutnya untuk sekedar bertanya meski banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Terutama pembagian upah lebih awal, tapi ia tetap mengarahkan beberapa orang agar memisahkannya dengan cepat.

" Jika semua sudah dipisahkan, simpan saja barangnya dikamarku. Aku tunggu di paviliun, Chloe. Temui saja aku disana jika kau sudah selesai." Ucap Lily seraya beranjak tanpa menunggu balasan Chloe.

Dengan langkah yang terlihat berat, Lily pada akhirnya sampai di paviliun. Menatap air danau yang ditumbuhi beberapa lotus serta ikan yang sesekali terlihat berenang ke kiri dan ke kanan. Pikirannya sedikit jernih melihat ketenangan tersebut. Lily bahkan menjulurkan kakinya ke danau, membiarkannya terendam disana, seraya memberi makan ikan.

Hingga tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. "Bisakah ikan-ikan ini dibawa ke tempat itu untuk dibesarkan?" Ucapnya pelan, kemudian mengarahkan tangannya pada ikan, yang seketika menghilang. Diikuti Lily yang juga menghilang ditempatnya, tepatnya memasuki ruang itu.

Begitu masuk, ia langsung berdiri di dekat danau yang entah mengapa bisa dilihat Lily meskipun airnya dalam, dan ikan-ikan yang menghilang tadi jelas ada disana. Membuat Lily mengangguk dengan senyum lebar.

Dekat danau, ada pohon rimbun dengan kolam kecil dibawahnya. Ada mata air kecil mengalir disana, tapi air kolam tidak meluap sama sekali. Volumenya selalu sama. Membuat senyum Lily semakin lebar. "Artinya tidak perlu khawatir kekurangan air kelak."Gumamnya bersemangat, menggantikan kesedihan yang dirasakannya.

Lily meminum air tersebut, dan merasakan rasa manis seperti air murni pegunungan. Setelahnya, ia berkeliling untuk mengenal lebih jauh tempat tersebut, karena meski sebelumnya sudah ia lakukan, ia ternyata belum benar-benar menganl ruang ini.

"Padang rumput ini, bisakah aku membawa beberapa hewan hidup kemari?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. "Aku coba saja nanti, ikan saja bisa bukankah hewan lain juga bisa?" Lanjutnya dengan senyum lebar.

Berjalan lagi menghampiri tanah coklat gelap yang terlihat hitam, sangat subur. Banyak ide yang keluar dari pikirannya. Semuanya, untuk kenyamanan diri ditempat ini. Termasuk pikiran membawa tempat tidur dan gudang sederhana yang tidak tertanam tanah. "Seharusnya bisa, cuacanya tidak berubah sama sekali, dan tidak ada waktu siang maupun malam." Ucapnya puas. Tapi sedetik kemudiaj menghela nafas. "Ayah, kau bisa tenang, semuanya akan baik-baik saja dengan adanya ruang ini." Ucap Lily lirih.

**

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   33 : Mencoba Menggali Potensi Baru

    ** "Katakan padaku, apa yang membuat kalian mengetuk pintu?" Tanya Lily pada keduanya, tapi sama-sama fokus pada makanan. Menggigit dan menyuapkan makanan, membuat Lily menghela nafas karena diabaikan. "OH! Kalian melihatku makan ayam makanya mengetuk pintu, kan?!" Tanyanya curiga, keduanya hanya mengincar makanannya. Ansley menalan potongan ayam dimulutnya. Ia menatap Lily dengan panik, menggeleng dengan cepat. Adapun Andien yang mulutnya masih penuh langsung membantah. "Tidak! Tidak! Kami benar-benar ada urusan, tentang inti kristal!" Ucapnya, membuat Lily mengernyit jijik. "Habiskanlah, kau menjijikkan ew!" Ucap Lily seraya mengusap wajahnya dengan tisue yang ada ditengah meja. "Ewww! Kondisikan sikapmu!" Ucap Ansley ikut jijik tapi ada tawa di akhir. "Kau, begitu lapar ya? Padahal biasanya kau yang paling anggun, hahaha!" Ejek Ansley, Lily juga ikut tertawa mendengarnya. Karena selama perjalanan ini, Andien memang yang paling banyak diam. Tidak disangka ia benar-benar be

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   32 : Makan Ayam Panggang

    ** Lily terbangun dari tidurnya, langsung keluar dari ruang ketika ia mendengar ketukan dari pintu kamar di RV. Suara Shion dan Allen yang bertanya tentang keadaannya. Tapi karena awalnya Lily tidak kunjung membuka pintu dan pintu terkunci, alhasil kedua orangtuanya yang sama-sama baru bangun juga ikut mengetuk. Kehabisan energi membuat tidur Lily menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Jadi awal-awal ia tidak mendengar. "Datang! Datang!" Pekik Lily sedikit panik, dan langsung membuka pintu menyambut semua orang dengan senyum lebar. "Ada apa? Maaf aku tidur terlalu nyenyak." Ucap Lily seraya menggaruk kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang, ada yang tidak nyaman?" Tanya sang ibu yang paling khawatir, sang ayah juga menatapnya lekat-lekat. Shion dan Allen menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan ibunya. "Aku baik-baik saja, bu, kalian apakabar? Ada yang terluka? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Lily menatap satu persatu orang didepannya. "Kami baik-baik saja, hanya sedikit lel

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   31 : Menggali Potensi Bakat

    ** Sepeninggal Ryu, Lily membuka kedua matanya. Menatap langit-langit RV kamarnya dan menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah menebaknya selama beberapa hari kedua kelompok bersama. Bahwa Ryu mungkin laki-laki yang tidur dengan pemilik tubuh sebelumnya. Perkataan Ryu barusan, Lily dengan jelas mendengarnya. Tapi ia tidal berniat mengungkap, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan mengaku lebih dulu, biar dia yang berbicara jika memang ingin mengakuinya. Selama ia tidak berbuat jahat dan macam-macam, maka Lily tidak akan mencari perhitungan dengannya. Lagipula malam itu, berdasarkan ingatan pemilik tubuh asli, kejadian yang terjadi diantara Lily dan Ryu adalah sebuah kecelakaan. Sama sekali tidak sengaja, bahkan menurutnya ini adalah kesalahan pemilik tubuh sendiri karena salah memasuki kamar. Ryu yang terpengaruh obat dan Lily yang telah mabuk sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Shion dan keluarga juga tidak menyalahkan, malah menyalahkan masing-masi

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   30 : Mengetahui Kebenaran

    ** Ryu tahu akan kedatangan beberapa orang dibelakang, dia tidak menghentikannya sama sekali. Tunggu saja dan lihat apa yang akan mereka lakukan, jika berniat mencelakai kelompok maka ia tidak akan memberi ampunan. Jika berniat ikut bertarung, itu bagus, maka ia tidak perlu repot-repot mencari perhitungan meski sangat tidak suka akan kesalahan yang mereka buat. Mengabaikan beberapa lrang dibelakang, Ryu lantas menatap Lily yang asyik menebas dengan raut semangat. Cipratan darah mengenai tubuh dan wajahnya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Ia terlihat lebih cantik hari ini, benar-benar membuat Ryu terpesona. Ryu hampir tidak bisa menahan diri apalagi ketika keduanya bersampingan. Tapi cara ia menebas kepala zombie tanpa sedikitpun rasa takut ini benar-benar membuatnya lebih menarik. Bisa disebut kecantikan kejam, pikir Ryu. Meski memikirkan beberapa hal berantakan, Ryu tetap tidak mengurangi serangannya pada zombie-zombie yang masih terus maju. Ia bahkan memerinta

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   29 : Bertarung

    **Raje dan Hans langsung keluar dari mobil begitu berhenti. Keduanya bersiap menghadapi gelombang zombie didepannya. Saling menatap, keduanya juga mengangguk dan mulai bertarung. "Buat dinding, Hans!" Ucap Raje, dengan serius. Kemudian Hans maju, ia langsung memukul tanah dan muncullah dinding tanah besar dan tinggi didepan keduanya. Raje lantas mengamgguk, kemudian giliran dirinya yang maju. Naik ke atas dinding tanah tebal yang telah dibuat Hans. Mengulurkan tangan ke arah gerombolan zombie, dan wushh! Seketika angin besar menghantam. Gerombolan zombie jelas tertahan pada saat ini. Hans memanfaatkan situasi, mulai membuat gelombang tanah, begitupula Raje yang mulai membuat banyak pisau kecil yang ia padatkan dengan kekuatan anginnya kemudian melemparkannya. Banyak zombie jatuh, setiap pisau yang dipadatkan berhasil mengenai setiap kepala zombie, menusuknya hingga mati. Lily menatap keduanya dengan takjub. Ada dua lagi di depannya yang mengeluarkan kemampuan spiritual. Tanah dan

  • Transmigrasi : Pergi Ke Akhir Dunia   28 : Makan Bersama

    ** Hingga konvoi berhenti untuk makan di siang hari, semua orang langsung menghela nafas lega karena bisa beristirahat lebih awal kali ini. Kejadian sebelumnya tidak benar-benar membuat setiap orang istirahat dengan baik, alhasil kini dibawah mata setiap orang dari kelompok Ryu terdapat lingkaran hitam yang sangat jelas. Berbeda dengan keluarga Lily, semuanya tampak segar dan tidak ada jejak kelelahan sa sekali. Membuat setiap orang dikelompok Ryu menatap kelimanya penasaran. Pasalnya, bahkan Shion dan sang ayah yang bertugas mengemudi pun tidak tampak lelah sama sekali. Kecuali tiga orang lain, tidak membuat orang-orang penasaran karena menebak jika ketiganya tidur dengan nyaman. Sampai-sampai Hans bertanya pada Lily. "Punya RV sangat nyaman ya?" Ucapnya dengan nada iri. "Bagus, tahan guncangan dan bisa tidur telentang seperti dirumah." Balas Lily menjawab dengan santai. Tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi ia menjawab sesuai fakta yang ia rasakan. Ben dan Widy mena

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status