LOGIN"Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini"
"Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara disisi lain, Liliana dan Adam baru saja mendarat di bandara negara Meikarta, Liliana duduk di kursi roda dengan tenang, wajahnya masih sedikit pucat efek dari pascaoperasi dan perjalanan yang jauh. Sementara Adam masih tampak segar meskipun hanya tidur sebentar selama perjalanan. Dengan lembut Ia mendorong kursi roda ke arah keluar tanpa menunggu bagasi karena sudah ada staff yang membantu mereka mengambil bawaan Mereka. Sesampainya di area Exit, tim peneliti dari rumah sakit yang didirikan oleh Adam sudah berdiri di sana untuk menyambut kedatangan Mereka. Diantara Mereka berlima, ada satu orang yang penampilannya tampak paling menonjol, Orang itu adalah Dexter Dzulfikar. Putra sulung sekaligus penerus dari Nextech Group yang selama ini mensponsori semua kegiatan pengobatan dan penelitian di rumah sakit Adam. Dia sampai ikut menunggu disini? Liliana merasa terkejut karena sosok Dexter sangat jarang muncul saat Adam melakukan Video Call grup bersama dengan para peneliti yang ada di bawah naungan Adam. Kalaupun muncul, pasti hanya sebentar dan tidak banyak bicara. sosoknya yang pendiam meskipun dari layar ponsel, tetap membuat orang lain merasa canggung. Tidak heran kalau Liliana merasa kaget karena Dexter yang sangat sibuk itu tiba-tiba muncul dan menjemput dirinya dan Adam di bandara. Itu menandakan hubungan antara Adam dan Dexter pastilah sangat baik. 'Selamat datang ketua, Kami sangat antusias menyambut Anda dan calon profesor Kami! haha" Ucap Amanda dengan penuh semangat. Sosok gadis mungil dengan rambut keriting alami yang menggemaskan, matanya yang bulat mencerminkan kepolosan. Adam sering menceritakan tentang Amanda, Dia adalah anak yatim-piatu sama seperti Adam. Bedanya, Adam dirawat oleh Rosita sementara Amanda dibesarkan di panti asuhan. Liliana menyambut sapaan Amanda dengan senyum merekah sambil mengatakan terima kasih kepada Amanda. Selain Amanda dan Dexter ada pula Reagan, Steve dan juga Vera. Meski hanya berdiri, mereka mampu menarik perhatian banyak orang terutama dari segi penampilan Mereka yang menawan. Liliana awalnya merasa ciut, apalagi penampilannya yang lusuh dan berantakan saat ini membuatnya semakin tidak percaya diri. Melihat Liliana yang tampak murung, Vera memberanikan diri untuk maju kedepan dan berjongkok tepat di hadapan Liliana. "Kak Lilia, Aku turut berduka atas kehilanganmu. Semoga saat bersama Kami nanti, kesedihanmu akan tergantikan oleh kebahagiaan" Ucapnya seraya menggenggam tangan Liliana. Liliana merasa sangat terharu, seumur hidupnya, selain Adam dan Rosita, hampir tidak pernah ada yang menghibur dan menyemangatinya seperti ini. Liliana sangat berterima kasih. "Terima kasih, Aku akan bekerja keras agar tidak mengecewakan Kalian, terutama kak Adam" "Ah, Kakak senior, Anda jangan merendah seperti itu, Kami sudah dengar dari Kak Adam betapa hebatnya kemampuan Anda, seharusnya Kami yang bekerja keras untuk menyenangkanmu" Ucap Reagan sambil tertawa riang, mencoba merubah suasana yang terasa sendu itu menjadi lebih menyenangkan. Liliana mengangguk. Dikelilingi oleh orang-orang baik adalah sebuah keberuntungan yang tidak boleh disia-siakan. Jadi dengan penuh semangat Lilia berkata "Baiklah, kalau begitu mari Kita pergi, Kak Adam bilang ada pesta kecil yang kalian siapkan, kebetulan Aku sangat lapar hehehe" "Tentu saja! ayo segera berangkat, kebetulan hari mulai gelap" Sahut Steve. Diantara Mereka ber 4, hanya Dexter yang tidak berbicara apapun. Tapi, Liliana tidak ingin sok akrab jadi Dia juga tidak banyak bicara pada Pria itu. Mereka pun pergi bersama-sama dari bandara, menuju Villa milik Adam dan merayakan pesta kecil untuk menyambut kedatangan Liliana. *** Malam harinya, Setelah menyelesaikan pekerjaan yang sangat menumpuk, Gerald datang ke acara makan malam yang dibuat oleh adik dan teman-temannya di sebuah cafe yang memang sering Mereka gunakan untuk berkumpul. Gerald sebenarnya tidak berniat datang, Pikirannya selalu teringat pada Liliana yang menghilang. Sudah ratusan kali Ia mencoba untuk menghubungi nomor telepon istrinya itu tapi tidak tersambung juga. Pesan W******p terakhir yang dikirim Liliana adalah 3 hari yang lalu. Dulu Gerald sangat sebal jika menerima pesan dari wanita itu, sekarang entah kenapa Dia sedikit mengharapkannya. Sembari memikirkan banyak hal, Gerald akhirnya sampai di cafe yang Ia tuju. Masih dengan setelan jas lengkap Ia turun dari mobil, wajahnya terlihat kusut dan tidak bersemangat, karena merasa sesak Pria itu melonggarkan dasinya, tapi penampilannya yang sedikit acak-acakan ini membuatnya terlihat semakin seksi. Dari jauh Grace sudah memperhatikan Gerald dengan jantung berdegup kencang. Dia tahu Gerald yang tampan, tapi setelah bertahun-tahun lamanya, Pria itu terlihat semakin sempurna dan matang. Gerald tidak memperhatikan orang-orang yang kini mencuri pandang ke arahnya, matanya menatap lurus ke arah depan, langkahnya yang angkuh dan dominan membuat orang enggan mendekat, tidak sampai 5 menit Gerald sudah masuk ke dalam ruangan yang biasa Ia gunakan untuk bersenang-senang dengan kawan-kawannya. Namun kali ini ruangan itu sudah di hias sedemikian rupa, entah ada perayaan apa. Gerald berdiri di sana, menatap malas ke arah pernak-pernik yang dianggapnya sangat norak dan kekanak-kanakan. "Ada apa ini? Tanyanya. Dilihat dari wajahnya saja, Teman-teman Gerald sudah tahu bahwa suasana hati Pria itu sedang buruk. Davin, Randy, dan Grace terdiam sesaat, namun Cecilia dengan cepat membangun suasana, maklum, gadis itu adalah adik kesayangan Gerald, yang sejak kecil selalu di manja, Gerald tidak pernah marah kepada adiknya. "Aku sudah bilang kan kak? ini adalah pesta anniversary untukmu dan juga Kak Grace" Ucap Cecilia dengan senyum cerianya. Gerald meliriknya sinis tanpa berkata apa-apa, namun itu pertama kalinya Gerald menunjukkan kemarahan semacam itu pada Cecilia. Cecilia pun diam-diam merasa panik. "Aku sudah bilang padamu, Aku sudah menikah. Anniversary apanya? Aku bahkan tidak merayakannya bersama istriku" Ucap Gerald dengan tegas. Mendengar kata 'istriku' diam-diam Grace mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jemarinya memutih. Sementara Cecilia langsung marah dan kemudian membentak " Kenapa sih akhir-akhir ini Kakak selalu menyebut wanita rendahan itu! Dia kan sudah menghilang, siapa tahu Dia sudah mati di luaran sana!" Gerald melotot. Menatap tajam ke arah Cecilia. Dalam benaknya, Ia merasa Cecilia tahu sesuatu, Dia pun melangkahkan kakinya perlahan, mendekati Cecilia dengan aura yang menakutkan hingga tanpa sadar Cecilia kini melangkah mundur. "Apa maksudmu? Kamu tahu sesuatu?""Sudahlah, jangan banyak bicara. Pergilah, Aku sangat sibuk hari ini" "Ya,ya, baiklah. Tapi malam ini Kamu harus datang, Aku, Kak David, kak Randy dan Kak Grace akan menyiapkan makan malam istimewa, Kakak jangan sampai tidak datang, Ok?" "Ok, Aku akan datang, tapi mungkin sedikit terlambat" Ujarnya dengan malas. "nggak masalah, yang penting kakak datang! kalau gitu Aku akan kasih tahu yang lain" "hmn, terserahlah" Melihat kepasrahan kakaknya, Cecilia tampak lebih gembira. Dia sudah mengatur pesta kecil yang istimewa untuk Kakak dan calon Kakak ipar kesayangannya. Semacam pesta untuk mengingat memori indah keduanya saat masih bersama. Dan Cecilia sudah berencana untuk mengirim foto-foto momen pesta itu pada Liliana agar wanita itu sadar akan posisinya! Setelah mendapat lampu hijau, Cecilia dengan riang meninggalkan ruangan Gerald dengan langkah ringan dan ceria kemudian menghubungi teman-teman Gerald termasuk Grace bahwa Dia sudah berhasil melakukan misinya. Sementara di
Gerald membeku di tempat sambil bergumam Bayi itu meninggal? Bagaimana mungkin. Kemarin... Seketika kenangan semalam menyambar ingatannya. Dia telah menurunkan Liliana di tengah jalan karena harus pergi menemui Grace yang tiba-tiba demam. Dia tidak berfikir panjang karena perasaan bencinya pada wanita itu kian menumpuk hingga tidak tahan walau hanya menghabiskan waktu sebentar bersama dengannya. "Tuan Ford, apa ada lagi yang Anda butuhkan?" Tanya perawat itu. Gerald menatapnya dengan tatapan kosong. Kenyataan pahit yang baru saja di dengarnya membuatnya sedikit linglung. Meskipun Ia marah saat mengetahui Liliana hamil tapi bukan berarti Ia membenci anaknya sendiri. "Kapan Liliana keluar dari rumah sakit?" "Berdasarkan data di komputer, beliau meninggalkan rumah sakit 3 jam yang lalu Tuan" "Baiklah" Gerald menarik nafas dalam-dalam dengan kening berkerut. Ia kemudian pergi dari rumah sakit itu dan berniat untuk kembali ke Villa dan mencari petunjuk, namun di tengah perjalanan
"Ok" Adam menuruti perkataan Liliana. Surat cerai itu memang masih tergeletak diatas meja rias. Adam meraihnya, Lalu memberikannya pada Liliana beserta dengan bolpoint nya. Liliana membaca sekali lagi isi surat perceraian itu. Kompensasi yang di berikan Gerald cukup banyak, tapi Dia tidak membutuhkannya. Liliana segera membubuhkan tanda tangannya dengan cepat lalu menutup dokumen itu. Ia juga melepas cincin pernikahannya dan meletakkannya bersama dengan surat cerai itu diatas meja rias. Liliana memandangi kamar yang sudah di tempatinya selama 3 tahun ini. kamar itu penuh dengan foto-foto pernikahannya dan Gerald. "Kak, Aku ingin membuang semua foto itu" "Aku bantu" Setelahnya, Adam dengan cepat mencopot bangkai-bangkai foto yang menempel di dinding dan rak pajangan, lalu membuangnya sekaligus di tempat sampah. "Ada lagi?" "Tidak ada, Aku hanya membawa sedikit pakaian saat pertama kali datang kesini. Aku hanya ingin membawa itu dan kotak peninggalan Bibi Rosita di lemari
Saat mengatakan itu, nafasnya sedikit tertahan, kemudian melanjutkan "Aku menyerah, Aku sudah tidak sanggup lagi" Lanjutnya, kemudian Liliana mulai menceritakan semuanya. Bukan untuk mengadu, bukan untuk menciptakan permusuhan antar Nyonya besar Ford dan Gerald, melainkan agar Nyonya besar Ford mengerti alasannya harus pergi. "Maafkan Aku nak, semua ini salahku" Suaranya terdengar sangat bergetar, Liliana menjadi sedikit panik, kemudian berkata "Nenek, ini bukan salahmu, jangan berkata seperti itu lagi, Aku menelepon agar Kamu tidak cemas dan mencariku. Aku baik-baik saja dan akan pergi bersama Kakak angkatku" "Kemana? Kemana Kamu akan pergi? bisakah Kamu kasih tahu Aku agar Aku merasa yakin kalau Kamu akan baik-baik saja" Liliana tampak ragu, Dia terdiam sesaat. Nenek Ford tahu bahwa Liliana takut kalau Dia akan memberitahu Gerald, jadi Dia berjanji pada Liliana. "Lily, Aku berjanji dengan sisa umurku, Aku tidak akan memberitahu siapapun" "Nenek...." Setelah merasa lebih
Liliana sudah setengah sadar ketika ambulans datang. Liliana tergeletak bersimbah darah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Liliana sempat menengok ke bagian perut dan kakinya. Gaun putih yang dikenakan nampaknya berubah merah sebagian. Kondisi Liliana sungguh mengerikan.Melihat bagaimana parahnya kondisi wanita itu, para petugas ambulance yang datang langsung membawa Liliana ke rumah sakit. Petugas itu bergegas memindahkannya ke dalam tandu dan segera membawanya ke rumah sakit.*** “Ah…”Liliana mengerang saat ia membuka matanya perlahan. Ada nyeri luar biasa yang dia rasakan di sekujur tubuhnya. “Nyonya?” panggil seseorang yang tak dikenalnya. Liliana mengerjap, berusaha mencerna keadaan. Ah, pasti perawat yang membawanya ke sini.Liliana mengangguk, menandakan bahwa ia dapat mendengar perawat itu.“Nyonya, maaf, tadi kami menelepon nomor darurat di ponsel milik Nyonya. Kami menghubungi suami Nyonya,” ucap perawat itu pelan. “Penanganan kondisi Nyonya harus mendapat per
Cecilia tertawa kecil sambil melihat ke arah Liliana yang berdiri kaku di depan wastafel dapur. Raut wajahnya seperti begitu puas melihat Liliana yang tampak terluka. Tiba-tiba, suara nenek Gerald menggema di ruangan. "Kalau kau datang kesini hanya untuk menindas orang, sebaiknya kau pulang!" Mendengar suara itu, Cecilia langsung terdiam kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibunya. "Ibu...." "Diam! Susan, didik anak perempuanmu dengan benar agar ia tidak kehilangan akal, apa dia tidak malu menindas orang yang telah menyelamatkan nyawa kakaknya? Kalau tidak ada Liliana, Gerald tidak mungkin berdiri disini sekarang! Kapan kalian akan mengerti! Uhuk!" Saking marahnya, nenek Gerald terbatuk dan wajahnya sampai menggelap. Amarahnya begitu memuncak melihat Liliana lagi-lagi diperlakukan seperti pembantu. Gerald yang berdiri disana langsung menghampiri neneknya dan ingin memapahnya, tapi nenek Gerald menolak. "Tidak perlu,” sanggahnya. Mendengar nada sang nenek yang dingin itu,






