MasukSetelah pengkhianatan orang terkasih, Liera mati rasa. Bahkan ketika dijebak dalam situasi yang membuatnya mabuk dan harus menghabiskan malam dengan Jovan, konglomerat yang terkenal sebagai casanova, Liera tidak berharap ada hal baik yang menunggunya. Tapi, mengapa situasi menjadi sangat tidak terduga?
Lihat lebih banyakBeing back in the Silvan Packhouse after almost seven years is not how I wanted to celebrate my birthday. I haven't been here since the worst day of my life. I left in pieces that day and I've been trying to put them back together ever since.
I vowed never to return, and yet, here I am, going against everything I believe in. Like the fact that you should never willingly return to the home of someone who metaphorically punched a hole in your chest, pulled your heart out and stomped on it in front of everyone. Unluckily for me, when the Silvan family gives an order, you have to comply. Especially when the whole country is under several attacks and every single pack is on edge. I came back to the Silvan Pack two months ago and that’s when the threats in neighboring packs started. I knew in the back of my head the Council would make it my fault as soon as they heard I’m back and I clearly wasn’t wrong because I received a letter twenty-four hours ago from them, politely asking me to come here for a meeting. How did they know where I’m staying? Well, they do have eyes everywhere. And that’s why I had to leave the pack to begin with. Once upon a time, I would've been too rebellious to do this, I would've simply ignored the letter, but everything is different now and I'm not on my own anymore. I have to protect my son from these people. Making them angry and having them come after me is not something I'm willing to risk right now. "You can drop me off here," I say to Cassie, my best friend, and open the door as soon as she stops her car. She looks nervous, "I'll call you as soon as I know what's going on." "Okay... are you sure you're ready for this, Ivy?" she asks from the driver's seat, her tone more serious than usual. "No," I respond truthfully, "But that never stopped me before." Cassie gives me a low sigh and reaches over to squeeze my hand. "You know if it gets bad in there, I'll burn the whole damn place down for you." "I know,” I smile. And I’m not lying, Cassie is just as crazy as I am, "That's why I love you." I look to the backseat to check on my son but he’s still asleep, so I simply step out of the car and I close the door before I can talk myself out of this. The cold wind makes my hair fly back but I don't let myself shiver because I can feel eyes on me already. Wolves. Guards. Nosy house workers itching to see me. And probably even some council members judging me already. Not that I care. Well… maybe I do a little. But I didn't come here to win hearts or prove anything, I came because the Council summoned me. Because like I said, something is stirring—something dark enough to make even the proud Silvans call back the girl they were extremely eager to get rid of. The golden gates to the property creak open when I get close. I'm halfway up the gravel path to the main house when I feel it. That pull. The sizzling energy. Warm and electric. A tug low in my belly, like a memory that refuses to stay buried. And then—there he is. Remington Silvan. Alpha. Warrior. The first and only man who's ever broken my heart. He's at the top of the stone steps, broad shoulders tense, eyes worried and his silver-white hair tousled as if he's been messing with it. His light gray eyes lock onto mine, unreadable. I stop a few feet from the stairs, my jaw tight and my legs refusing to get any closer to that man. He's the enemy. "You look older," I let out, unable to bite my tongue. He doesn't look like an old man, but the last time I saw him he was youthful and very pretty. Now he's all hard lines and handsome features. Remington blinks, then he gives me the faintest smile. "You look strong," he says, his voice making everything in me light up, "Stronger than before." "I am," I respond, but that's all I'm willing to say right now, I don't want him asking a million questions. I want to get down to business, "Let's not pretend this is a sweet reunion. You called, I answered. Let's keep it professional and make it fast." He steps down the stairs, each movement careful, as if he's scared I'll take off and disappear again. "Ivy," He sighs. I can tell there's a million things he wants to say to me, but that's all he manages to breathe out. "Remington." Silence stretches between us. Heavy. Awkward. Familiar in all the worst ways. I don't know what I truly expected from seeing him again. Maybe some kind of closure. Maybe an apology. Maybe—if I'm being honest—to check if there's still that old fire between us. But what I feel instead is something colder. Heavier. This man was supposed to be my everything and, for a while, he was. My best friend, my lover, my fated mate, my husband. But he ruined everything and looking at his face now only makes me feel disappointed. We could've had it all. Instead, he let his family—the Council—get in our way. He threw us away for political gain and power. I hope it was worth it, I really do.Liera perlahan berhenti mengunyah, sendok ia letakan diatas meja, kemudian diambilnya segelas jus disampingnya untuk diminum. "Aku belum mengizinkan kalian bergabung." Kata Liera begitu Gian dan Beni hendak duduk. Merasa jengkel, Gian tertawa, mencoba untuk tidak memperlihatkan kekesalannya. Dengan tangan disaku celana, Gian berucap, "Liera, kami disini karena merasa kasihan denganmu. Lihat bagaimana kau makan sendiri tanpa suamimu?" Ia menggeleng sembari berdecak menyayangkan. Beni menyambung, "Coba lihat sekelilingmu, Liera." Sambil menyapu semua orang dengan telunjuknya, namun sedikitpun Liera tak menoleh melihat ke arah lain. Hanya melihat kedua orang itu dengan nanar. "Mereka semua berpasangan bahkan lebih, tapi lihat dirimu?" Beni tertawa. Gian menghela nafas panjang, menarik keluar kursi di depan Liera dan langsung duduk. "Sudahlah, jangan mempermalukan dirimu terlalu jauh. Aku tau kau orangnya sok jual mahal, tetapi kau harus tau kalau kepribadianmu itu akan menjatuhkanmu
Mereka saling bersi pandang, wanita yang sudah diduga Liera sebagai wanita panggilan itu dengan angkuh melewati Liera begitu saja tak lupa mengibaskan rambutnya hingga terkena diwajah Liera. "Si-sialan...." Liera. Tangannya berpegang kuat pada pegangan tangga. Menarik napas dalam-dalam, Liera menghembuskannya dengan pelan. Sudahlah, ayo cari makan saja. Begitu turun di lantai satu, lagi-lagi ada wanita yang baru saja keluar dari sebuah kamar. Hanya seorang wanita dengan gaun minim bahan berwarna merah, rambutnya kusut dan langkah kakinya tak normal. Wanita itu dan Liera saling melihat. Kali ini, wanita itu berjalan mendekat kearah Liera. Berhenti, ia melihat Liera dari atas hingga bawah menatapnya dengan angkuh. Lalu berdecak tertawa. "Lebih besar punyaku." Kata wanita itu. Ia mengangkat kedua gundukannya keatas, memamerkannya. Liera saking syoknya, menutup mulut dengan telapak tangannya. Baru kali ini ia melihat wanit
"Aku akan menikah besok." Penuturan George membuat semua orang yang disana menghela nafas lelah. "Untuk membuat buku perceraian yang baru?" Tanya yang lain. "Ini adalah yang terakhir, yang akan menemaniku hingga aku tua. Kami sudah saling berjanji untuk itu." Kata George bangga. Mereka yang mendengar hanya mengangguk-angguk. Yah, biarkan George melakukan apa yang dia mau. Sementara itu, Liam sudah mempersiapkan segalanya untuk malam ini. Musik terdengar, langsung dengan opening yang memecah. Lampu diredupkan, botol minuman dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Mereka tidak akan tidur malam ini. *** Liera membekap telinganya. Sejak beberapa jam yang lalu berusaha untuk tidur tetapi selalu saja tidak bisa. Degungan musik dari lantai satu masih setia mengganggunya. Pintu kamarnya diketuk. Liera langsung terduduk diatas tempat tidur, melihat pintu kamarnya disana. Ketukan kembali terdengar, tetapi tak sedikitpun Liera ingin beranjak membukakan pintu. Ia hanya melihatnya da
"Tidak, tunggu! Jangan semuanya!" "Ssst, tenanglah." Kata Jovan pelan dengan suaranya yang rendah. "Ada sesuatu yang harus kuperiksa." Liera menahan napas. Tubuhnya menegang. Mau itu nafas Jovan yang menyapu halus kulit lehernya ataupun sentuhan tangannya yang sensual, keduanya sama-sama menyengat. Liera memejamkan mata begitu merasakan tangan besar itu bersentuhan dengan pinggang polosnya, kedua tangannya meremas sprei dengan kuat, ia menggigit bibir bawahnya, tubuhnya sedikit maju ke depan, lalu lenguhan naif itu lolos begitu saja. Jovan tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, nafasnya pun tercekat dan pupil matanya melebar. Irisnya bergerak, melihat Liera lewat ujung matanya. Jakunnya bergerak, menelan ludah. Ia kembali melihat apa yang baru saja ia lakukan. Terkejutlah ia dengan apa yang ia lakukan. Tangannya bahkan masih berada disana dengan tujuan dan visi misi yang jelas, yakni terus merambat ke bawah dan ke bawahnya lagi menc
Adam tidak bisa menyembunyikan ekspresi marahnya sejak keluar dari ruang rapat yang dihadiri oleh para Direktur lainnya. "Apakah ini akhir dari Exvander Group?" Kalimat itu terbayang-bayang di kepalanya. Putranya sudah berkali-kali membuat masalah yang hampir mirip dengan ini, namun konsekuens
Drrt!Nomor tidak dikenal: [Ayo bertemu di villa] Liera termenung, membaca pesan itu sekali lagi. Orang tidak dikenal, tanpa sopan santun, meminta bertemu di villa. Ah tidak, ini sepertinya bukan permintaan tapi perintah. "Villa... " Liera berpikir. "Villa yang tadi pagi?" Dia bangun dari ran
"Silahkan duduk Liera."Liera tertegun sejenak. Duduk? Dimana? Hanya ada satu kursi terdekat disini, dan itu tidak lain tidak bukan kursi yang sedang diduduki Gian sekarang. Sementara sofa berada jauh disana, dan lagi Gian tampak tidak berniat untuk pindah bersama kesana.Gian memundurkan kursinya
Sementara itu di benua lain, Jina membelalak kaget, mulutnya bahkan sampai menganga lebar melihat sosok pria yang diatur untuk Liera baru turun dari mobil taxi."Tunggu, kau baru sampai?!!" Pria itu tertawa, menggosok kepalanya yang gundul halus bercahaya. "Ahaha, aku tersesat lagi tadi. Sudah kub






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.