تسجيل الدخولDi dalam ruangannya yang kedap suara, Nicholas menghempaskan punggungnya ke kursi. Suasana hatinya benar-benar memburuk. Ia memijat pangkal hidungnya, merasakan kepalanya berdenyut karena tingkah adiknya yang tidak pernah bisa bersikap dewasa.Berada dalam suasana hati yang buruk, pikiran Nicholas seketika tertuju pada satu-satunya sumber ketenangannya. Emily.Ia berpikir untuk melakukan panggilan video dengan istrinya. Senyum dan suara lembut Emily pasti bisa menetralisir rasa frustasi yang sedang menguasai kepalanya saat ini. Nicholas meraih ponselnya, mencari kontak Emily, dan menekan tombol video call.Tidak butuh waktu lama, panggilan itu tersambung.Nicholas baru saja mencondongkan tubuhnya ke depan, mengira ia akan langsung disambut oleh wajah cerah dan suara manja Emily seperti biasanya pagi ini.Namun, dugaannya salah total.Di layar ponselnya, wajah Emily terlihat seperti kebingungan. Tidak ada senyum sama sekali di bibir istrinya. "Nicholas," sapa Emily cepat dengan napas
Pagi itu, Clara datang ke Firma Hukum Spencer dengan suasana hati yang sangat buruk. Wajahnya ditekuk masam sejak ia melangkah keluar dari lift. Sepatu hak tingginya berderap kasar menghantam lantai, menciptakan gema yang membuat beberapa karyawan langsung menundukkan kepala."Sialan," umpat Clara pelan saat ia melempar tas mahalnya ke atas meja kerjanya yang berada tidak jauh dari ruangan Nicholas.Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan untuknya. Ia sudah merencanakan untuk datang ke acara peluncuran barang bermerek edisi terbatas yang sudah lama ia incar. Clara bahkan sudah bersusah payah merengek dan membuat Eric berjanji untuk menemaninya ke acara tersebut. Namun, semua rencananya hancur berantakan karena Nicholas memaksanya kembali bekerja sebagai karyawan sungguhan.Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan divisi. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan rekan-rekan kerjanya.Para karyawan jelas sekali menghindari kontak mata dengannya. Jika s
Pagi itu, Emily sengaja membiarkan kakinya berpijak, berdiri di atas punggung kaki Nicholas yang terbalut sepatu pantofel mengkilap. Wanita itu sedikit berjinjit di sana agar wajahnya dan wajah suaminya bisa saling bertemu.Emily memeluk leher Nicholas dengan erat, sementara, kedua tangan Nicholas melingkar sempurna memegang pinggang ramping istrinya, menahan tubuh itu dengan posesif.Keduanya saling menempel begitu rapat di tengah ruangan, berpelukan dalam keheningan pagi yang hangat, seolah sama-sama enggan untuk saling melepaskan."Kau yakin aku tidak perlu ikut ke firma hari ini?" tanya Emily memecah keheningan, menatap mata kelam suaminya dengan tatapan memohon."Iya, aku sangat yakin," jawab Nicholas dengan suara baritonnya yang berat dan menenangkan."Benarkah?" rajuk Emily lagi, mengeratkan pelukannya di leher Nicholas. Keduanya masih berpelukan erat, Emily berayun kecil ke kiri dan ke kanan mengikuti gerakan pelan sang suami. "Kau tidak akan merindukanku di sana?""Tentu saja
Dengan tangan sedikit gemetar, Diana memutar kenop dan membuka pintu apartemennya."Chris?" panggil Diana pelan, hampir tak terdengar.Namun, alih-alih menemukan sosok pria jangkung itu di hadapannya, Diana justru mendapati seorang pria paruh baya berkacamata yang menatapnya dengan senyum canggung."Selamat malam, Diana," sapa pria itu.Bahu Diana seketika merosot turun. Kekecewaan yang luar biasa langsung menghantam dadanya. "Ah... selamat malam, Pak Miller. Ada apa Bapak kemari malam-malam begini?""Maaf mengganggumu selarut ini," ucap Pak Miller, sang pemilik gedung apartemen. "Aku hanya sedang berkeliling lantai ini untuk mengingatkan soal iuran bulanan kebersihan dan keamanan yang jatuh tempo hari ini. Kau belum mentransfernya, kan?""Oh, astaga! Saya benar-benar lupa," Diana menepuk dahinya pelan, merasa bodoh karena saking paniknya memikirkan Chris, ia sampai melupakan tagihannya. "Sebentar, Pak. Saya ambilkan uang tunainya ke dalam."Setelah menyelesaikan semua pembayarannya d
"Apa?" Emily sedikit mendongakkan kepalanya dari dada bidang sang suami, menatap wajah Nicholas dengan dahi berkerut bingung. "Kenapa tiba-tiba sekali?""Kau kan tahu sendiri, Emily, satu kasus di pengadilan akan butuh waktu yang sangat lama untuk diselesaikan," jelas Nicholas. Jemarinya terus membelai punggung istrinya dengan gerakan yang menenangkan. "Bisa berbulan-bulan untuk tahap investigasi dan persidangan, bahkan bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun untuk mencapai putusan akhir dari hakim.""Tapi selama ini kau selalu menikmatinya, kan?"“Ya, tapi selain mengurus firma, kau tahu sendiri aku juga harus ikut dalam urusan bisnis keluargaku. Jadwalku sudah terlalu padat."Nicholas terdiam sejenak, seolah tengah memperhitungkan berapa banyak waktu yang harus ia luangkan untuk Emily dan anak mereka kelak.“Kalau aku mulai mengurangi kasus yang kutangani dari sekarang..." Nicholas menunduk, mencium kening Emily dalam-dalam. "...aku bisa punya lebih banyak waktu untukmu dan anak k
Nicholas menatap Emily dan lembar hasil USG di tangannya secara bergantian dengan gerakan lambat. Matanya mengerjap beberapa kali, seolah pikirannya masih tak mampu memproses apa yang baru saja ia lihat dan dengar."Emily, kau... kau tidak sedang bercanda denganku, kan?" tanya Nicholas, suaranya terdengar bergetar pelan.Emily dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang begitu rapuh dari reaksi suaminya saat ini. Mata kelam Nicholas memancarkan ketidakpercayaan yang diwarnai oleh harapan yang teramat besar."Apa aku terlihat seperti sedang bercanda saat ini?" jawab Emily dengan tawa kecil."Aku hanya... aku tidak tahu harus berkata apa. Ini… Ya tuhan, Emily..."Emily menatap suaminya, seolah menunggu suaminya itu melanjutkan perkataannya sebelum akhirnya bertanya pelan."Apa kau tidak merasa senang dengan berita ini, Nicholas?" tanya Emily ragu."Senang? Kata 'senang' bahkan tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan sekarang, Emily."Senyum Emily kembali mereka di w
Gerakan tangan Emily seketika terhenti. Pisau di tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Anak? Dengan Nicholas? Pria yang hari ini menatapnya seolah ia adalah hama pengganggu?Emily harus menahan diri agar tidak tertawa ironis di depan ibu mertuanya. Ia menatap Nyonya Spencer, membalas
Emily panik saat melihat halte bus tempat persinggahannya itu menjauh dari pandangan."Pak, aku bilang turunkan aku di sini!" Emily mulai menaikkan nada bicaranya pada supir yang kini terlihat kebingungan menatap dari kaca spion, ragu harus mematuhi perintah siapa."Turunkan kami di lobby," potong
Mendengar perkataan Emily, batas kesabaran Nicholas seolah putus. Pria itu bergerak mendekat dan menarik sebelah lengan Emily dengan kuat, membuat wanita itu meringis tertahan."Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa itu hanya salah paham?!" desis Nicholas tajam, wajahnya kini hanya berjarak bebe
Suara bariton Nicholas yang berat dan dingin membuat keheningan di ruang makan itu terasa semakin mencekam. Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Tuan Spencer yang sejak tadi tidak peduli pun kini ikut memperhatikan pria itu.Hanya Nyonya Spencer yang wajahnya seketika berbinar lega melihat keda







