Teilen

Bab 46 Diam-diam ...

last update Veröffentlichungsdatum: 12.07.2026 20:42:11

“I–iya, Kak?”

Erin buru-buru menurunkan ponsel Rama lalu menatap kru syuting itu dengan sedikit gugup.

Kru syuting itu sempat melirik ponsel di tangan Erin lalu tersenyum. “Sedang merekam Rama, ya?”

Seakan takut kru syuting itu salah mengartikan situasinya, buru-buru Erin mengelak sambil mengibaskan kedua tangannya. “B–bukan kok!”

Tapi, sekon berikutnya, Erin langsung menyerah. Dia menghela napas. Percuma saja mengelak karena mungkin saja kru syuting itu sempat memergoki Erin yang memang mereka
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 63 Ikut Campur

    Apa mau dikata, Erin tidak punya pilihan lain selain berlari ke tengah lapangan, tepat di mana baik Rama maupun Sena masih sibuk memperebutkan bola.“Fisio Erin, apa yang kamu lakukan?” Coach Teknik terdengar panik begitu melihat wanita itu berada di jalur permainan, seakan memaksa kedua pria itu untuk menyadari kehadirannya.Sebenarnya Rama langsung bisa merasakan kehadiran sosok lain. Dari suara yang terdengar menyerukan nama Erin, demi memastikan Rama sempat menolehkan pandangan dan menukikkan alis saat benar-benar melihat wanita itu tepat ada di sampingnya.“Berikan bolanya padaku,” pinta Erin sambil mengulurkan kedua tangannya pada Sena.Mendengarnya, Sena yang sedang menggiring bola tertawa pelan. Selama lebih dari lima belas menit berduel dengan Rama, Coach Teknik yang sejak tadi berusaha menghentikkan mereka pun hanya bisa memanggil dari pinggir lapangan.Apa yang membuat fisioterapis tim ini sampai nekad untuk menghentikkan mereka?“Kamu mau ikut bermain, Fisio Erin?” goda Se

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 62 One on One

    Di sisi Erin menikmati makan malamnya di kamar asrama, di sisi lain Rama juga memutuskan pergi ke kamarnya. Namun, kurang dari dua menit berada di dalam, pria itu kembali ke luar.Diam-diam Rama melangkah menuju lorong belakang yang mengarah ke tempat pembuangan sampah. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun di sana.Baru setelah itu, Rama mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dia mengambil satu batang dan menyelipkannya di antara bibir. Satu tangan yang lain mengeluarkan pemantik.Dengan satu kali gesekan, api kecil itu menyala, dan perlahan membakar ujung rokok yang diapitnya.Rama mengisapnya dalam-dalam. Batang rokok itu berpindah, terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya sesaat sebelum dia mengembuskan asap tipis itu ke udara. Begitu seterusnya, berulang kali Rama mengulanginya.Tubuhnya dibiarkan bersandar di dinding bangunan. Sepasang matanya terus menatap langit dengan ekspresi keras, seakan tengah berusaha mengusir sesua

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 61 Reaksi Aneh

    Gerakan mendadak Erin itu membuat bagian tubuh Rama ikut menegang.Bagaimana tidak? Dalam satu kali hentakan, Erin mengangkat tubuhnya dan kini kembali mendarat di pangkuannya.Refleks, tangannya mencengkeram lengan Erin sedikit lebih erat lantas melepaskannya.“Erin, rambutmu tersangkut,” beritahu Rama dengan suara yang terdengar berat. Dengan ekspresi yang kesulitan dia menatap Erin tajam. “Jadi, jangan bergerak.”Erin menganggukkan kepala. “O–oke.”Sejujurnya Erin tidak habis pikir. Bagaimana bisa rambutnya itu tersangkut? Meski berusaha menenangkan diri, jari-jarinya tampak gemetar saat mencoba melepaskan helaian rambut yang terlilit di salah satu kancing polo Rama.“Bisa lebih cepat?” desak Rama.Siapa yang bilang dia nyaman dengan posisi ini?Semalam dia memang sempat memangku Erin. Namun, saat itu tubuhnya hampir mati rasa karena dingin. Dia tidak berpikir apa pun selain mendapatkan kehangatan untuk tubuhnya dari Erin.Dan sekarang, situasinya jelas berbeda ‘kan?Rama berada da

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 60 Posisi itu Lagi

    “Kalau memang tidak menghindar, kenapa sampai melewatkan makan malam?” dengus Rama.Dia sendiri sebenarnya yakin kalau Erin memang menghindarinya. Setelah dari ruang rapat, Rama bahkan tidak melihat keberadaan fisioterapis pribadinya itu lagi.Kakinya yang panjang kembali melangkah mendekat. Tangannya kemudian meletakkan kotak makanan yang sedari tadi dibawanya ke atas meja.Melihat kotak makanan itu, Erin mengernyitkan dahi. Dia sampai tidak menyadari kalau Rama membawa sesuatu di tangannya.Baru akan bertanya, pria itu lebih dulu menjelaskan, “Dokter Tim menitipkan makanan untukmu. Sekalian aku diminta mengambil obat.”Tadi di kafetaria Rama sempat bertemu dengan Dokter Tim. Setelah memeriksa lututnya yang kembali terasa nyeri, dokter itu menyuruh Rama mengambil obat ke ruang fisioterapi. Kebetulan, Dokter Tim juga menitipkan satu kotak makanan untuk Erin yang sejak tadi belum terlihat di kafetaria.“Obat apa?” tanya Erin. Dia langsung bangkit dari duduknya. “Biar aku ambilkan.”“Pe

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 59 Hilang Satu Tumbuh Seribu

    Menyadari dirinya baru saja membaca pesan yang bukan untuknya, Erin buru-buru menutup ruang percakapan itu. Telapak tangan yang tengah memegang ponsel mulai terasa lembap oleh keringat.“Apa ini? Kenapa aku malah membuka pesan ini?” tanyanya pada diri sendiri dengan perasaan yang gelisah.Erin kembali melihat ke arah layar ponsel. Di sudut percakapan tertera keterangan bahwa pesan tersebut hanya dapat dilihat dalam waktu tertentu. Ya … pesan berwaktu.Tanpa sadar, Erin menggigit pipi bagian dalamnya.Bagaimana sekarang? Pesan itu jelas ditujukan untuk Rama. Itu berarti … Rama harus melihatnya.Tapi, bagaimana? Erin baru saja membuka pesan itu tanpa sengaja. Kalau pesan berwaktu itu hilang dalam waktu dua puluh empat jam, bukankah itu artinya Rama tidak akan sempat membacanya?“Astaga … tidak bisakah satu hari saja berlalu tanpa masalah?” gerutu Erin.Biasanya Erin tidak terbiasa menyalahkan orang lain. Tapi, kali ini dia sangat ingin menyalahkan dirinya sendiri.Dilihat dari isi pesan

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 58 Pesan Tanpa Nama

    Usai ke luar dari ruangan rapat, Erin tersentak saat tahu-tahu lengannya disambar Rama. “Ikut aku.” Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu langsung membawanya menuju sebuah ruangan di samping yang letaknya tidak jauh dari ruang rapat. Erin meringis pelan. Dia tidak berusaha melepaskan diri karena memang ada sesuatu yang sejak tadi ingin dia bicarakan dengan Rama. Begitu keduanya masuk, Rama menutup pintu setelah memastikan tidak ada yang melihat keberadaan mereka. Dia juga menguncinya dari dalam. “Apa tidak sebaiknya pintunya dibiarkan terbuka saja?” tanya Erin ragu-ragu. Jari-jari tangannya meremas sisi celana. “Supaya tidak ada orang yang salah paham melihat kita.” Urusannya bisa panjang kalau kejadian seperti kemarin terulang lagi. “Silakan kalau kamu ingin mereka juga tahu kalau semalam kita melakukan–” Mengetahui arah pembicaraan Rama akan mengarah ke mana, Erin refleks mendekat dan menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya. Matanya membelalak. “Rama!” d

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 8 Membuang Harga Diri

    Ditanya tanpa basa-basi seperti itu, Erin berusaha menjawab dengan tenang selagi menggenggam ujung bajunya sendiri, “Aku ke sini untuk bicara padamu.” Rama tidak langsung membalas. Pria itu hanya diam menatap Erin, menunggu lanjutan penjelasannya. “Aku dengar … kamu merekomendasikan fisioterapis

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 7 Bantuan

    Wanita berambut ikal itu langsung tersentak dan buru-buru melepaskan lengan Erin. “Ka-Kak Rama, aku cuma—” wanita itu buru-buru memasang senyum canggung. “Tadi dia bikin rusuh, jadi aku—” Namun, Rama bahkan tidak meliriknya. Pria itu langsung berjalan mendekati Erin dan berhenti tepat di depanny

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 6 Kerumunan Penggemar

    “Sekali lagi, saya minta maaf karena kerja sama ini tidak terjadi, Bu Erin. Selamat sore.”BIP.Panggilan itu berakhir sebelum Erin sempat memberikan respons.Tangannya yang memegang ponsel kemudian merosot turun. Dia memejamkan mata dan menghela napas, berusaha menenangkan api kemarahan yang mulai

  • Tuan Rama, Aku Menolak Balikan!   Bab 5 Rama Lagi?!

    Di sisi lain, tepatnya di dalam kamar sebuah rumah, Erin bersin dengan cukup keras.“Hachi!”“Astaga, Erin. Kamu sakit, Nak?” ucap sang ibu yang terbaring di tempat tidurnya dengan wajah khawatir. “Maaf ya, Nak. Kamu pasti kecapekan rawat Ibu. Makanya sakit.”“Nggak kok, Bu. Tenang aja. Erin nggak

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status