LOGINMayra dikhianati oleh calon suaminya, membuat dia tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan siapapun. Perjumpaannya dengan sersan Sidiq membuat semuanya berubah. Orang tua Mayra sudah jatuh hati pada kebaikan seorang lelaki berpangkat sersan tersebut sehingga menerima saja pinangan lelaki itu tanpa meminta persetujuan dari Mayra.
View More'When life is getting harder, lahat nalang ay gagawin magka pera lang. Lorelay Sugala married to Oliver Shein na hindi pa niya nakikita kahit kailan. Marriage for convinience may say but her journey is not what she thinks it is.
Marrying to unknown is the hardest thing to do. Living with the unknown is the craziest thing she can do, but falling for someone she didn’t see, drives her to find her lost sanity.
She felt desire, pleasure, and love in the midst of darkness. She lives with the man who can’t bring himself to her front. Mr. Shein is a man who can make a life hell easily, and his wife is not an exception to what he has done in the past.
The curse has been lifted, and it is up to them to break it.
Tying in bed and moaning in your name won’t guarantee happiness.
Loving endlessly won’t guarantee infinity.
Acceptance will end the misery.
Forgiveness is the key to a life of prosperity.
-----------------------
“Run Oliver, run!” Agad akong nagmulat ng mata nang mapagtantong panaginip lang lahat. I’ve been haunting with this guilt. Kahit anong gagawin ko ay hindi ko na yata matatakasan.
Puno ng pawis ang buong mukha ko. Binuksan ko ang bintana ng kwarto habang sinisindihan ang sigarilyo sa bibig. Hapon na kaya alam kong dadaan siya dito mamaya.
I saw her. She’s smiling talking with her friend. I can’t wait to be with her in any time I want. Masaya siyang nakikipag-usap sa kaibigan niya. Kahit iyong mga mata niya ay nakangiti. Ang ganda.
I saw the gals in their back, following them. Nagdilim ang paningin ko. Agad kong tinawagan ang mga tauhan ko. I won’t allow any of them touch my girl.
“boss,”
“I want you to teach them a lesson.”
“Alright,” ibinaba ko na ang tawag. Bago siya mawala sa paningin ko, sinulyapan ko muna siya saka bumaba para puntahan ang mga lalaking nakasunod sa kaniya.
Lorelay is mine. Touch her and you’ll face death.
"Selamat ya, sudah menjadi ibu!" ucap kak Jenny sambil memeluk tubuh ini."Jangan kuat-kuat! Aku masih sakit, Kak!" protesku."Sorry ... sorry." ujar kak Jenny seraya mengurai pelukan."Ngomong-ngomong bayimu mirip banget sama Siddik!" "Iyalah. Masak mirip tetangga sih!" ujar mas Siddik terkekeh tatkala banyak yang mengatakan bayi kami mirip dengannya."Itu artinya Siddik yang bucin habis sama kamu Mayra!" ujar kak Jenny."Gak apa lah aku bucin sama istriku sendiri. Yang penting gak bucini istri orang ya kan, Sayang!" Mas Siddik duduk didekat kepalaku seraya mengelus lembut pucuk kepala ini. Hatiku selalu saja disirami dengan kebahagian dari pria berpangkat sersan itu."Ibu sangat bahagia Mayra kamu perlakukan dengan baik. Semoga saja nak Siddik tidak bosan dengan sifat kekanak kanakan Mayra. Ibu selalu mendoakan kalian berdua!" ujar ibu terharu. "Ibu, Mayra itu bukan barang yang bikin bosan. Dia itu istri sah. Kalau ada yang tidak berkenan dihati ya Siddik nasehati, bukan begitu!"
"Maafkan Mayra tidak bisa melayani Mas seperti seorang istri pada umumnya!" ujarku tergugu tatkala melihat mas Sidik mencuci baju sendiri.Biasanya selain ada ibuku dan ibu mertua, dirumah kami juga juga membayar tukang cuci.. Tapi hari ini izin libur karena ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Sementara ibuku dan ibu mertua sudah pulang."Gak apa-apa, Sayang!" Mas Sidik masuk ke kamar dan merebahkan diri disisiku dan meraih tangan ini kemudian diletakkan dipipinya."Kasian Mas. Gara-gara Mayra jadi begini!" Aku berbalik arah tidur menatap kearah suamiku."Menurut Mas, tidak ada yang perlu dikasihani, sudah biasa dalam berumah tangga kita saling membantu, May. Kalau Mas sakit siapa yang bantu? Pasti istri kan?" tanyanya dengan suara lemah lembut seraya mengelus pucuk kepalaku. Mas Satria meraih pundak ini dan meletakkan didadanya."Sayang, Mas tidak pernah merasa Kamu repotkan. Jadi jangan pernah merasa bersalah, ya?" Mas Satria mengecup pucuk kepalaku, lama. Tuhan ... terim
"Mas, Mayra pendarahan!" aduku pada mas Siddik yang sedang berbaring ditempat tidur. Tadi aku juga ikut berbaring disebelahnya, tapi aku bangun hendak ke kamar mandi. Tiba-tiba dikejutkan tatkala melihat darah banyak bercecetan di lantai."Apa?" Mas Siddik tersentak dan langsung bangun dari pembaringannya. "May, jangan banyak gerak dulu!" ujar mas Siddiq panik seraya membawa tubuh ini ke ranjang untuk tidur. Walaupun aku berjalan pelan tapi darah masih menetes juga."Tidur aja ya? Begini saja, nyamankan?" Aku hanya mengangguk sebagai respon atas pertanyaan Mas Siddik. Lelakiku mengambil bantal dan menyangga kaki ini. Mungkin untuk menghentikan pendarahan.Pandangan mata sudah mulai kabur, aku sudah mulai hoyong. Tatapanku juga berkunang-kunang dan mutar. Tuhan ... selamatkan aku dan bayiku."Mas kerumah dan-ki dulu!" pamitnya seraya berlari keluar rumah. "Bu, tolong lihat istri saya sebentar. Istri Saya pendarahan!" teriak mas Siddik terdengar sampai ke telingaku."Iya, ya, Om. Saya
"Dek, sini!" Mas Siddik menepuk sofa disebelahnya untuk aku duduki.Aku melangkahkan kaki menuju sofa dimana mas Siddik duduk saat ini. Kulihat suamiku tidak seperti biasanya. Entah apa gerangan yang membuat suamiku bersedih hati."Mas kenapa agak lain hari ini? Mas sedang ada masalah?" tanyaku ragu-ragu. Biasanya kalau pulang dinas mas Siddik selalu tersenyum bahkan sering bercanda. Ada saja bahan yang sehingga membuat aku tertawa. Dia juga suka sekali meledek perutku yang semakin membuncit ini. Katanya kayak badut. "Nampaknya Mas sedang bersedih?" Aku kembali bertanya."Hmmm ... Adek ingat Nasir?" Mas Siddik mengusap sudut matanya. Aku tahu dia hendak menangis tetapi mungkin dia malu jika dihadapanku."Nasir yang mana? Yang membantu Mas keluar dari markas kelompok bersenjata itu, ya?" tanyaku dan mas Siddik mengangguk lemah."Kenapa dengan om Nasir, Mas?" Aku membaca ada sesuatu yang tidak mengenakkan telah terjadi pada pria berdarah Aceh tersebut."Tadi malam dia ditembak oleh ora
"Loh siapa ini ndusel-ndusel kayak anak kucing?" kelakarku saat melihat Mayra bangun tidur langsung memeluk tubuh ini. Dia kelihatan sangat manja. Semakin hari tingkah Mayra semakin membingungkan. Tadi malam katanya aku ini bau sehingga membuat dia muntah-muntah. Sekarang malah kayak anak kangguru
"Mas Siddik!" Aku berteriak histeris tatkala melihat pria yang selama ini aku nanti-nantikan sudah berada dihadapanku."Mayra, Mas pulang, Sayang!" ujar mas Siddik dengan suara gemetar.Kenapa mataku melihat sosok mas Siddik sedang mendekati diri ini? Apakah itu betukan suamiku atau hanya ilusiku s
"Banyak-banyak berdoa, May. Siapa tau mas Siddik masih hidup tapi tidak tau jalan pulang. Bisa jadi dia tersesat dalam hutan, kan?" Jenny berusaha menghiburku selama ini tidak ada satupun di rumah ini ataupun semua pihak yang mengerti isi hatiku kecuali Kak Jeni."Aku juga berpikir begitu kak bisa
Hari ini malam kedua acara kirim doa dirumahku. Para ibu-ibu udah mulai berdatangan untuk membantu memasak segala keperluan nanti malam."Kasian om Siddik ya. Padahal dia prajurit berprestasi. Tidak akan mungkin kalah jika melawan pemberontak." bisik bu Saidi pelan tapi masih bisa aku dengar."Mung






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews