Teilen

Meruncing

last update Veröffentlichungsdatum: 12.08.2025 22:11:20

Kapolsek itu kembali ke depan setelah selesai menelepon seseorang yang merupakan ajudan Sang Jenderal ayahnya Sandi. Wajahnya yang tadinya tegas, kini terlihat lebih tegang dan penuh perhitungan.

Sebenarnya, sejak subuh tadi, ia sudah dikabari pula secara langsung tentang Adit dan apa yang harus ia lakukan. Pesan dari seberang telepon saat ini sangat jelas: ia dimarahi karena dianggap tidak punya wibawa. Seharusnya polisi tak boleh kehilangan marwah dengan takut kepada preman. Tahanan tak bisa
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tukang Pijat Tampan   Tawaran Renata

    Vera mematikan mesin.Pintu utama sudah terbuka ketika mereka berjalan ke teras.Renata berdiri di ambangnya.Ia berpakaian rapi meski masih pagi; blus sutra lengan panjang berwarna krem dan celana palazzo hitam yang membuat ia terlihat seperti seseorang yang tidak mengenal konsep hari santai. Rambutnya diikat rendah di tengkuk, beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah dengan cara yang terlalu sempurna untuk disebut tidak disengaja.Matanya langsung ke Adit.Hanya sepersekian detik, tapi Vera melihatnya. Sesuatu di balik ekspresi Renata yang biasanya terkontrol sempurna bergerak, seperti permukaan air yang disentuh satu jari, sebelum kembali tenang."Sudah pulang," kata Renata. Bukan pertanyaan, bukan teguran. Hanya pernyataan yang membawa banyak hal di dalamnya tanpa menumpahkan satupun."Sudah," jawab Adit datar, menunggu dimarahi.“Ayo sarapan!” ajak Renata. Ia lekas berbalik dengan sikapnya yang datar. Padahal sebetulnya, dan sejujurnya, ia merasa senang Adit pulang. Ada rasa

  • Tukang Pijat Tampan   Memikirkan Bisnis Baru

    Pagi itu udara masih menyimpan sisa dingin malam ketika Vera memarkirkan mobilnya di depan toko. Adit menunggu di depan setelah Vera menelefonnya dan mengatakan ia dalam perjalanan.Toko belum buka tentu saja.Kini Adit mengajak Vera masuk, duduk di meja dapur."Kamu ini…" Vera meletakkan tasnya di kursi kosong, nada suaranya antara menggerutu dan tidak bisa sepenuhnya marah. "Bu Renata marah, tau! Kamu nggak langsung pulang, malah nginep di disini…"Adit menyesap kopinya dengan tenang. "Kemarin mau pulang rasanya kok tanggung. Nemenin Ayunda sekalian biar dia tenang. Dia mungkin masih bawa rasa takut gara-gara tukang palak itu, Ver.""Hmmm."Gumaman itu tidak mengandung persetujuan, tapi juga tidak mengandung penolakan. Vera sudah terlalu lama mengenal Adit untuk tidak mengerti bahwa alasannya tidak salah, dan terlalu jujur pada dirinya sendiri untuk pura-pura tidak mengerti itu.Ayunda muncul dari ruang belakang membawa handuk kecil di tangan, rambutnya masih sedikit berantakan dari

  • Tukang Pijat Tampan   Bermain Sepenuh Hati

    Ayunda tidak memedulikan peringatan itu. Alih-alih melambat, ia justru semakin berani, seolah ingin membuktikan bahwa otoritas Adit tidak berlaku sepenuhnya di atas ranjang ini. Ia tahu persis siapa pria yang ada di hadapannya; Adit bukan pria biasa yang akan tumbang setelah satu kali pelepasan. Energi Adit menjamin keperkasaan yang nyaris tanpa batas; lima ronde pun ia akan tetap kokoh berdiri seperti karang. Dan Ayunda sudah membuktikan hal itu, tak hanya sekali. Tapi selalu setiap mereka bercinta.Dengan pemahaman itu, Ayunda semakin menggila. Gerakannya menjadi lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh ritme yang mematikan. Ia menggunakan lidah dan tekanan bibirnya untuk memeras setiap sisa kontrol yang masih dimiliki Adit.Tongkat sakti itu benar-benar tenggelam di tenggorokannya. Ayunda menguncinya sejenak. Lalu jemari tangannya mengusap dua bola di bawa sana, dan terus bergerak ke celahnya, seolah mencari lubang kotor yang ada di sana.Hal itu menciptakan sensasi yang mematikan ba

  • Tukang Pijat Tampan   Menahan Diri Di Kamar Mandi

    Uap air mulai memenuhi ruangan sempit itu saat kran pancuran diputar. Suara gemericik air yang jatuh ke lantai keramik menjadi satu-satunya musik yang mengiringi napas mereka yang mulai memburu. Di bawah temaram lampu kamar mandi yang kekuningan, suasana terasa jauh lebih gerah daripada dapur tadi siang.Ayunda tidak membuang waktu. Dengan jemari yang biasanya lihai menguleni adonan roti, ia kini menelusuri lekuk tubuh Adit. Tangannya yang masih basah bergerak nakal, turun ke bawah, memberikan usapan-usapan berani pada milik Adit yang sudah menegang sempurna sejak pertama kali pintu dikunci.Adit menggeram rendah, sebuah suara yang tertahan di tenggorokan. Ia merasakan sensasi keras dan kaku itu berdenyut di bawah elusan Ayunda yang sengaja menggoda. Ayunda menatapnya dari balik helaian rambut yang basah, matanya berkilat nakal; sisi genit yang hanya ia tunjukkan saat mereka benar-benar berdua."Sabar, Dit..." bisik Ayunda lirih, meski ia sendiri tidak bisa menyembunyikan getaran di s

  • Tukang Pijat Tampan   Pengen Menginap Di Toko

    Adit tertawa.Bukan tawa kecil yang bisa disembunyikan di balik ekspresi lain, tapi tawa yang keluar begitu saja melihat wajah Ayunda yang memucat seperti seseorang yang baru menyadari ia sudah berdiri di tepi sesuatu tanpa tahu kapan ia sampai di sana."Kamu kenapa, Ayun?""Dit…" Ayunda melepaskan pelukannya, mundur setengah langkah, matanya mencari wajah Adit dengan ekspresi yang tidak bisa memutuskan antara panik dan tidak percaya. "Sumpah… aku nggak enak banget lah sama pacarmu. Masak iya kamu cerita, terus dia nggak marah gitu?""Lha, tadi kamu lihat sendiri," kata Adit, masih menahan tawanya dengan susah payah. "Dia marah nggak?"Ayunda membuka mulutnya. Menutupnya lagi. "Ya nggak sih… tapi kan…" Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Duh, kan aku malu banget, Dit. Aku berasa kayak cewek nakal tau. Ya aku sadar sih aku bukan cewek baik-baik. Tapi kan…""Stt."Ayunda berhenti.Adit menunggu sampai ia benar-benar berhenti, sampai sisa kalimat yang masih mengambang di udara itu

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Yang Pengertian

    Teras belakang toko itu terlihat rapi tapi terasa lapang karena tidak ada yang berlebihan di sana; hanya dua kursi rotan, satu meja pendek, dan pot-pot tanaman herbal yang Ayunda rawat sendiri di sepanjang dinding. Lampu teras yang kuning menerangi semuanya dengan cahaya yang hangat dan sedikit kekuningan, berbeda dari lampu dingin di ruang utama toko.Mereka bertiga duduk dengan gelas teh di tangan masing-masing yang Ayunda siapkan dengan cara yang terlalu ribet untuk ukuran membuat teh; cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dilakukan agar tangannya tidak gemetar terus-menerus."Kamu nggak perlu takut lagi, Ayun," kata Adit. Ia memegang gelasnya tapi tidak meminumnya, matanya ke arah Ayunda. "Orang-orang seperti itu tidak akan pernah datang lagi kemari."Ayunda mengangguk pelan. Tapi ada sesuatu yang masih tersangkut di wajahnya, sesuatu yang tidak ikut selesai meski urusannya sudah selesai."Iya, Dit." Ia menyendok tehnya sebentar tanpa tujuan. "Eh, itu tadi… Bang Bayu. Dia…" Kali

  • Tukang Pijat Tampan   Ancaman Lain Yang Datang

    Bayu terlihat dalam kondisi yang sungguh tidak bagus; wajahnya berdarah, bajunya sobek, ia berusaha melawan namun tenaganya sudah hampir habis. Setiap kali ia mencoba berdiri, seseorang akan memukulnya lagi, menjatuhkannya kembali ke tanah. Ia sengaja permainkan oleh banyak orang itu. Mungkin semac

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
  • Tukang Pijat Tampan   Larasati Tak Setuju

    Cahaya matahari sudah cukup tinggi saat bunyi kunci diputar membangunkan Adit. Ia mengerang, kepalanya masih sedikit berat karena kurang tidur. Pintu terbuka, dan aroma parfum yang familiar masuk lebih dulu sebelum sosok Larasati muncul di ambang pintu.Larasati berjalan santai, meletakkan kunci ca

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
  • Tukang Pijat Tampan   Pertarungan Nyata

    Sepuluh menit kemudian, sebuah space kosong di dalam gudang dibersihkan dan matras tipis sudah digelar untuk safety meski Adit dan Vera tidak benar-benar membutuhkannya.Para kru berkumpul dengan penasaran, kameramen, lighting team, beberapa aktor termasuk Dedi dan Dina yang akan main di scene acti

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
  • Tukang Pijat Tampan   Bayu Dikeroyok

    Adit berhasil membuat Renata terkapar tidur setelah bercinta dengan dahsyat. Tubuh wanita itu terbaring lemas di atas kasur king size dengan sprei yang kusut. Napasnya masih terengah-engah, dada naik turun dengan ritme yang tidak teratur, keringat membasahi seluruh tubuhnya yang telanjang. Wajahnya

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-29
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status