เข้าสู่ระบบ"Ya, namanya juga memang kerjaanku sehari-hari sebagai tukang servis, Mir. Jadi ya harus pintar servis segala macam barang lah," ucap Dayat dengan nada bicara yang diusahakan tetap tenang dan santai, meskipun ia bisa merasakan deru napasnya sendiri mulai agak tidak teratur. Di dalam benaknya, Dayat mulai menebak-nebak dengan rasa cemas yang tertahan. "Gita udah ngomong apa aja ya ke ini anak?" gumam batin Dayat dalam hati. "Hmmm..." Mira hanya bergumam pelan. Jemarinya yang lentur kembali meremas pelan otot bahu tegap Dayat dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dayat tampak diam dan sama sekali tidak memberikan gerakan untuk menghindar atau menjauhkan tubuhnya dari sentuhan tersebut. Hal itu membuat Mira merasa berada di atas angin. Ia menyunggingkan senyuman tipis yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Bukan servis barang atau sanyo itu maksudku, Mas Dayat. Tapi servis yang lain," ucap Mira dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, terdengar sangat manja tepat di samping
"Yaaa... mau gimana lagi, Mir," ucap Dayat sambil mengulas senyum tipis, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka setelah mobil Niken melaju pergi. Dayat kemudian meneguk sisa kopinya yang sudah mendingin, lalu menatap Mira yang masih duduk santai di sofa rotan. "Oh iya, kamu mau langsung pulang sekarang apa masih mau di sini dulu sebentar?" tanya Dayat dengan nada bicara yang ramah dan sopan. Mira langsung memundurkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. "Ihh, Mas Dayat ini kok ketahuan banget sih mau mengusir aku ya? Belum juga semenit Gita jalan, udah langsung ditanya begitu," ucap Mira dengan wajah cemberut yang dibuat-bikin. Dayat tertawa kaku, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah bicara. "Yaa enggak begitu, Mir. Maksudku, aku cuma tanya aja. Kalau kamu masih mau di sini dulu ya nggak apa-apa. Mau nunggu sampai Gita pulang nanti juga nggak apa-apa kok, santai aja." Raut wajah
"Mas Dayat, mau dibuatkan kopi hitam hangat nggak? Kebetulan aku baru saja menjerang air di dapur," tawar Gita sambil menyunggingkan senyum manisnya dari ambang pintu. Dayat berbalik, "Boleh, Git. Terima kasih ya." "Siap, Mas. Ditunggu sebentar ya, aku buatkan dulu," sahut Gita dengan riang sebelum melangkah cepat kembali menuju arah dapur. Dayat berjalan keluar dari kamar, melintasi koridor dalam, lalu menghampiri Mira yang masih duduk sendirian di sofa ruang tengah. "Mir, kita ngobrol di ruang tamu depan aja yuk. Di sana angin sorenya lebih terasa segar, agak gerah kalau di dalam ruangan tengah begini," ajak Dayat dengan nada bicara yang sopan dan santai. Mira langsung bangkit dari duduknya sambil merapikan rok selututnya. "Oh, iya, Mas Dayat. Boleh. Di depan memang kelihatannya lebih adem ya." Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu depan dan mengambil posisi duduk di sofa rotan yang saling berhadapan. Tak lama kemudian, Gita datang dari arah dapur sambil membawa namp
"Jadi begini, Yat. Biar diperjelas lagi detail pekerjaannya di depan Astrid. Tugas kamu nanti di perumahan Galaxy Permai seperti biasa. Instalasi listrik dari jaringan utama ke dalam tiap rumah, sekaligus memeriksa fungsi mesin air di semua unit. Terakhir, kamu harus memastikan finishing pengerjaan instalasi itu rapi dan beres semua tanpa ada cacat," jelas Clara dengan nada suara yang lugas dan terarah. Dayat mengangguk-angguk paham, matanya ikut memperhatikan baris kalimat pada dokumen di atas meja. "Untuk unit yang sudah dipesan oleh pembeli, apa ada permintaan atau spesifikasi khusus untuk penempatan jalurnya, Tan?" tanya Dayat dengan sopan. Clara menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke sofa empuk. "Untuk sementara ini, belum ada request tambahan dari beberapa orang yang sudah booking unit di sana. Jadi kamu bisa pasang semuanya pakai standar baku yang biasa kamu pakai saja. Biar pengerjaannya juga bisa berjalan lebih cepat." Astrid yang sejak
Luki tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Dayat berulang kali, membuat sisa es kopi di dalam gelas Dayat sedikit bergoyang. Mata Luki melirik ke arah mobil sedan hitam mewah milik Clara yang baru saja melaju pergi meninggalkan area parkir warung kopi seberang kantor tersebut. "Gila ya, masih siang bolong begini saja lo sudah dipanggil Bos ke rumahnya, Yat! Benar-benar pekerja teladan lo, selalu siap sedia setiap saat," ucap Luki di sela-sela sisa tawanya. Dayat mendengus pelan, ia merapikan kembali posisi duduknya di atas bangku kayu yang teduh. "Halah, mending siang begini, Luk, daripada malam-malam disuruh datang ke rumahnya sendirian. Malah lebih repot urusannya kalau sudah larut." Luki mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi jenaka. "Lho, justru kalau dipanggil malam-malam kan enak, dong. Bisa sekalian berbagi selimut hangat di dalam kamar, hahaha!" Dayat langsung menjitak pelan lengan Luki, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat. "Ah, otak lo isi
"Wah, bahaya ucapan kamu, Lin. Jangan-jangan kamu malah mulai ketagihan lagi sekarang?" tanya Dayat dengan volume suara yang ditekan serendah mungkin, mencoba menanggapinya dengan nada bergurau namun matanya menatap serius. Linda tidak mengalihkan pandangannya, ia justru mengulas senyum tipis yang sarat akan arti dan menopang dagunya dengan kedua tangan. "Nah, itu dia tujuan utama aku mengajak kamu makan bareng siang ini, Mas Dayat. Sekalian aku memang mau bilang kalau aku itu kepingin mencobanya lagi sama kamu." Dayat menaikkan kedua alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian Linda. "Maksud kamu gimana, Lin?" Linda memajukan posisi duduknya sedikit lagi ke arah meja, matanya berkilat penuh harap. "Yang kemarin itu kan karena baru pertama kali buat aku, jadi rasanya masih sakit dan aku kurang bisa menikmati prosesnya, Mas. Sekarang aku mau mencobanya lagi sekali lagi sama kamu, biar aku bisa benar-benar merasakan bedanya." Dayat langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas







