Share

Jamu Tokcer Joss

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-05-10 10:50:02

"Mas, aku berangkat dulu ya! Jangan lupa kunci pintu kalau mau tidur!" seru Gita sambil membetulkan letak jaket tebalnya. Ia tampak bersemangat, matanya berbinar di bawah cahaya lampu teras.

Dayat bangkit sebentar, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Iya, Git. Hati-hati di jalan. Jangan pulang kemalaman kalau emang jadi nginep di rumah Sifa."

"Beres, Mas! Dahhh!" Gita melambaikan tangan, lalu naik ke boncengan Sifa. Deru motor itu perlahan menjauh, meninggalkan Dayat kembali dalam kesuny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Keringat Yang Tuntas

    Astrid mendesis sangat kesal. Wajahnya memerah padam bukan lagi karena gairah, melainkan karena emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun."Ckk! Apalagi sih sekarang ini?!" bisik Astrid berang dengan suara bergetar menahan marah. "Bangsat banget... orang udah mau di ujung juga, malah diganggu begini!"Dengan napas memburu dan raut muka ditekuk, Astrid terpaksa mencabut penyatuan mereka. Ia turun dari tubuh Dayat, meraih handuk yang tergeletak di dekat meja, lalu menyertakannya dengan cepat membalut dadanya hingga bawah pinggul.Tanpa membuang waktu, Astrid melangkah lebar-lebar dengan kekesalan yang membuncah menuju pintu kamar. Sambil menghentakkan kaki, ia memutar kunci dan membuka pintu cukup lebar dengan wajah bersiap menyemprot siapa pun yang berdiri di luar.Namun, kalimat makian yang sudah di ujung lidah Astrid seketika tertahan.Bukan manajer resort atau pengelola yang berdiri di sana, melainkan seorang petugas penginapan lain yang tersenyum sopan sambil menyodorkan sekant

  • Tukang Servis Spesialis   Gangguan Bertubi-tubi

    Astrid mendecak kesal dengan napas yang masih memburu. Wajahnya yang semula memerah akibat kenikmatan kini berganti menjadi raut sebal karena momen indahnya terpotong di tengah jalan."Ckk! Kampret banget sih..." bisik Astrid setengah berbisik tapi sarat akan rasa jengkel. "Lagi enak-enaknya full service malah diganggu room service!"Dengan malas dan setengah cemberut, Astrid menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan Dayat membebaskan diri dari atas kasur. Ia menarik selimut hingga menutup dadanya yang masih bertelanjang bulat, lalu menatap Dayat dengan pandangan menuntut."Mas, cepetan buka pintunya! Jangan lama-lama ya... aku lagi nanggung banget ini, buruan suruh pergi!" gumam Astrid serak sambil menggigit bibir bawahnya, menahan sisa-sisa gejolak gairah yang masih menggantung tinggi.Dayat terkekeh pelan melihat tingkah Astrid yang gemas dan tidak sabaran. Dengan cepat Dayat menarik celana fisiknya, membenahi kausnya yang sempat agak berantakan, lalu menepuk pelan paha Astrid di b

  • Tukang Servis Spesialis   Room Service

    Setelah merapikan seluruh peralatan dan memasukkannya ke dalam kotak perkakas, Dayat dan Astrid menyusuri setiap sudut ruangan sekali lagi. Mereka memastikan sakelar, kabel, serta stopkontak berfungsi sempurna dan aman. Yakin tidak ada yang tertinggal, mereka keluar dari bangunan resort, mengunci pintu rapat-rapt, lalu bergegas menuju kantor check-in untuk mengembalikan kunci.Di meja resepsionis, Astrid menyerahkan kunci sekaligus menyampaikan laporan singkat bahwa seluruh perbaikan kelistrikan di resort sudah rampung dikerjakan.Sang manajer resort menyambut mereka dengan ramah, lalu teringat sesuatu. "Oh iya, Mas Dayat, Mbak Astrid... tadi Pak Handoko sempat telepon saya. Beliau minta tolong menyampaikan ke kalian berdua untuk stay dulu di penginapan."Dayat menaikkan alisnya. "Oh, gitu ya, Pak? Ada arahan apa lagi dari Pak Handoko?""Pak Handoko minta pihak pengelola resort untuk ngecek dan tes jalan dulu seluruh hasil perbaikannya," terang manajer itu menjelaskan. "Jadi maksud be

  • Tukang Servis Spesialis   Menyelesaikan Yang Tertunda

    Astrid membebaskan kuluman bibirnya sejenak, mendongak menatap Dayat dengan binar mata nakal seraya menyunggingkan senyum polos yang dibuat-buat."Lho, aku kan juga lagi kerja ini, Mas... Lagi nyervis montirnya biar semangat kerjanya," kilah Astrid santai tanpa rasa dosa, jemarinya malah makin asyik mengelus bagian sensitif Dayat.Dayat menghela napas panjang, berusaha mempertahankan keseimbangannya di atas kursi sambil menahan gejolak nikmat yang mendadak menyengat tubuhnya."Bukan gitu cara kerjanya, Mbak Astrid..." ucap Dayat menggeleng pelan sambil merapikan kembali posisinya. "Minimal kita beresin dulu ini kabel-kabel sama kelistrikan resort. Nanti kalau perbaikannya udah beres semua... abis itu mau full service lagi juga gak apa-apa, bebas."Mendengar janji manis itu, mata Astrid seketika berbinar terang. Wajahnya langsung sumringah kesenangan seperti anak kecil yang baru saja dijanjikan hadiah manis."Beneran ya, Mas?! Janji lho ya! Awas kalau bohong!" seru Astrid antusias. Ia

  • Tukang Servis Spesialis   Keusilan Bergairah

    Sinar matahari pagi menyusup dari celah tirai vila, menggantikan riuhnya suara hujan semalam dengan udara segar pegunungan. Di atas tempat tidur, Astrid perlahan membuka matanya. Merasakan kehangatan tubuh Dayat di sisinya, ia langsung merapatkan diri, melingkarkan lengan mulusnya di dada Dayat dan mendaratkan manja kepalanya di sana."Pagi, Mas Dayat..." bisik Astrid dengan suara khas bangun tidur yang serak namun manis, jemarinya mengusap pelan dada pria itu. "Masih pegel semua nih badan aku gara-gara full service kamu semalam..."Dayat tersenyum tipis, mengusap rambut Astrid yang berantakan dengan lembut, lalu mengecup keningnya singkat. Namun, teringat akan tugas penting yang menanti hari ini, Dayat menghentikan usapannya dan menatap Astrid."Pagi, Mbak," sahut Dayat santai namun tegas. "Udah, makin manja aja nih. Ayo bangun, kita harus buruan mandi terus jalan."Astrid menyunggingkan bibir meweknya, cemberut manja. "Ih, Mas Dayat mah... masih betah di kasur tahu. Buru-buru banget

  • Tukang Servis Spesialis   Kegilaan Satu Sentuhan

    Dayat mematikan ujung rokoknya di asbak, lalu kembali menyeruput kopi panasnya yang masih mengasap tipis."Aku selesain kopi dulu ya, Mbak," ujar Dayat santai sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Sambil nunggu momen yang pas."Astrid memiringkan kepalanya, menatap Dayat dengan alis terangkat penasaran. Jemarinya yang lentur tak berhenti mengusap lengan tegap Dayat."Momen yang pas kayak gimana maksudnya, Mas?" tanya Astrid penuh selidik, nada suaranya mengalun manja.Dayat cuma menyunggingkan senyum misterius, melirik wanita di sampingnya dari sudut mata. "Ya liat aja nanti, Mbak. Pokoknya ada waktunya.""Ih... bikin penasaran aja," senggol Astrid pelan.Meski sengaja digantung rasa penasaran, Astrid justru makin gemas. Ia mengangguk pelan lalu merapatkan tubuh polos di balik piyamanya semakin menempel pada Dayat. Astrid melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dayat, menyandarkan dagunya di dada pria itu sambil mendongak, memamerkan tatapan mata yang manis sekaligus sarat godaan

  • Tukang Servis Spesialis   Gangguan Di Tengah Gairah

    Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal

  • Tukang Servis Spesialis   Sesuatu Yang Bocor

    "Mas Dayat? Ngapain di hotel jam segini? Jam sepuluh malam lho ini, lagi ada kerjaan servis mendadak ya?" tanya Anggun. Matanya menyipit, memindai penampilan Dayat yang tidak membawa tas perkakas andalannya.Dayat berdeham, mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional.

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Dan Pertanyaan

    Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun

  • Tukang Servis Spesialis   Lolos Dan Di Nanti

    Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status