LOGINAstrid membebaskan kuluman bibirnya sejenak, mendongak menatap Dayat dengan binar mata nakal seraya menyunggingkan senyum polos yang dibuat-buat."Lho, aku kan juga lagi kerja ini, Mas... Lagi nyervis montirnya biar semangat kerjanya," kilah Astrid santai tanpa rasa dosa, jemarinya malah makin asyik mengelus bagian sensitif Dayat.Dayat menghela napas panjang, berusaha mempertahankan keseimbangannya di atas kursi sambil menahan gejolak nikmat yang mendadak menyengat tubuhnya."Bukan gitu cara kerjanya, Mbak Astrid..." ucap Dayat menggeleng pelan sambil merapikan kembali posisinya. "Minimal kita beresin dulu ini kabel-kabel sama kelistrikan resort. Nanti kalau perbaikannya udah beres semua... abis itu mau full service lagi juga gak apa-apa, bebas."Mendengar janji manis itu, mata Astrid seketika berbinar terang. Wajahnya langsung sumringah kesenangan seperti anak kecil yang baru saja dijanjikan hadiah manis."Beneran ya, Mas?! Janji lho ya! Awas kalau bohong!" seru Astrid antusias. Ia
Sinar matahari pagi menyusup dari celah tirai vila, menggantikan riuhnya suara hujan semalam dengan udara segar pegunungan. Di atas tempat tidur, Astrid perlahan membuka matanya. Merasakan kehangatan tubuh Dayat di sisinya, ia langsung merapatkan diri, melingkarkan lengan mulusnya di dada Dayat dan mendaratkan manja kepalanya di sana."Pagi, Mas Dayat..." bisik Astrid dengan suara khas bangun tidur yang serak namun manis, jemarinya mengusap pelan dada pria itu. "Masih pegel semua nih badan aku gara-gara full service kamu semalam..."Dayat tersenyum tipis, mengusap rambut Astrid yang berantakan dengan lembut, lalu mengecup keningnya singkat. Namun, teringat akan tugas penting yang menanti hari ini, Dayat menghentikan usapannya dan menatap Astrid."Pagi, Mbak," sahut Dayat santai namun tegas. "Udah, makin manja aja nih. Ayo bangun, kita harus buruan mandi terus jalan."Astrid menyunggingkan bibir meweknya, cemberut manja. "Ih, Mas Dayat mah... masih betah di kasur tahu. Buru-buru banget
Dayat mematikan ujung rokoknya di asbak, lalu kembali menyeruput kopi panasnya yang masih mengasap tipis."Aku selesain kopi dulu ya, Mbak," ujar Dayat santai sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Sambil nunggu momen yang pas."Astrid memiringkan kepalanya, menatap Dayat dengan alis terangkat penasaran. Jemarinya yang lentur tak berhenti mengusap lengan tegap Dayat."Momen yang pas kayak gimana maksudnya, Mas?" tanya Astrid penuh selidik, nada suaranya mengalun manja.Dayat cuma menyunggingkan senyum misterius, melirik wanita di sampingnya dari sudut mata. "Ya liat aja nanti, Mbak. Pokoknya ada waktunya.""Ih... bikin penasaran aja," senggol Astrid pelan.Meski sengaja digantung rasa penasaran, Astrid justru makin gemas. Ia mengangguk pelan lalu merapatkan tubuh polos di balik piyamanya semakin menempel pada Dayat. Astrid melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dayat, menyandarkan dagunya di dada pria itu sambil mendongak, memamerkan tatapan mata yang manis sekaligus sarat godaan
Setelah menyelesaikan makan malam dan membayar tagihan, Dayat dan Astrid berjalan keluar dari rumah makan menuju area parkir. Begitu merogoh saku dan merengkuh ponselnya, mata Dayat membelalak melihat deretan notifikasi merah di layar."Beneran dong... lima panggilan tak terjawab sama belasan pesan WA dari Bu Clara," gumam Dayat sambil meringis ke arah Astrid."Nah kan, dibilang juga apa. Buruan telepon balik gih, daripada besok pas ketemu mukanya makin tekuk," celetuk Astrid terkekeh pelan sambil menyandarkan tubuhnya di kap mobil.Tanpa buang waktu, Dayat menggeser layar dan langsung melakukan Panggilan Telepon ke atasaannya itu. Tak butuh waktu lama, sambungan langsung terhubung."DAYAT! Kamu itu ke mana aja sih?! Telepon gak diangkat, WA gak dibalas! Kamu piker saya nelepon cuma mau ngajak ngobrol biasa?!" suara Clara langsung menyambar nyaring dari speaker ponsel, membuat Dayat refleks menjauhkan ponselnya sebentar dari telinga."Aduh, maaf banget, Bu Clara... Maaf," potong Dayat
Mendengar ucapan Dayat, Astrid tertawa kecil lalu makin merapatkan tubuh polosnya ke pelukan pria itu. Mereka berbaring berdua di balik selimut tipis, saling melempar senyum danusapan mesra di bawah semilir angin sepoi-sepoi yang masuk dari celah jendela vila.Jemari Astrid menelusuri dada tegap Dayat yang masih hangat, membelai pelan otot-ototnya yang rileks. Namun, di tengah keheningan yang romantis itu, mendadak terdengar suara keroncongan pelan dari perut Astrid.Astrid tersentak kecil, lalu tertawa malu sambil menutupi wajahnya di dada Dayat."Duh, Mas... gara-gara kamu nih," keluh Astrid manja sambil mendongak. "Aku jadi laper banget..."Dayat terkekeh geli melihat tingkah wanita di sampingnya. Ia mencium kening Astrid singkat lalu mengusap rambutnya yang sedikit berantakan."Ya iyalah laper, kan tadi udah ngeluarin tenaga ekstra," goda Dayat sambil mencubit pelan hidung Astrid. "Yaudah, ayo kita cari makan."Astrid memiringkan kepalanya, menatap Dayat penasaran. "Makan di mana
Astrid merayap pelan di atas tubuh Dayat, gerakannya begitu santai dan tenang namun sarat akan godaan. Luapan kehangatan dari tubuh mulusnya terasa begitu dekat saat ia mengangkangi paha tegap pria itu.Dengan tatapan mata sayu yang mengunci pandangan Dayat, Astrid memposisikan dirinya tepat di atas kejantanan Dayat yang kembali menegang keras."Mas... liat aku," bisik Astrid halus. Bibirnya mengukir senyum tipis yang nakal.Dayat menelan ludah, memegangi kedua pinggul mulus Astrid dengan cengkeraman erat. "Jangan pelan-pelan banget, Mbak... makin bikin gemes kalau digantungin gini."Astrid terkekeh pelan. Jemarinya yang lentur bergerak ke bawah, meraih batang perkasa Dayat lalu mengarahkannya tegak lurus, menyejajarkannya tepat di bibir kewanitaannya yang sudah sangat basah dan hangat."Sabar dong, Mas Montir... yang nikmat itu justru pas proses masuknya," goda Astrid sambil menggoyangkan pinggulnya perlahan, membiarkan kebasahan intinya mengolesi ujung kejantanan Dayat."Shhh... uda
Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal
"Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar d
"Mas Dayat? Ngapain di hotel jam segini? Jam sepuluh malam lho ini, lagi ada kerjaan servis mendadak ya?" tanya Anggun. Matanya menyipit, memindai penampilan Dayat yang tidak membawa tas perkakas andalannya.Dayat berdeham, mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional.
Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun