Share

Sosok Perekam

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-08-05 12:33:21

​"Urusan listrik luar sudah beres, Mbak..." gumam Dayat dengan suara berat yang dalam. Tangannya merayap naik dari pinggang Astrid, meremas lembut dadanya yang membusung indah. "...sekarang waktunya beresin 'aliran listrik' di dalam kamar ini."

​"Nggghhh... Mas Dayat..." desah Astrid tertahan saat jemari Dayat mulai memainkan puncak dadanya di balik kain tipis.

​Tanpa membuang waktu, Dayat membalikkan tubuh Astrid, melumat bibirnya dengan begitu panas dan bernafsu. Lidah mereka saling membeli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Tak Bisa Mengelak

    Dayat tak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung mengangkat tubuh Astrid dalam gendongannya, membawanya kembali ke atas ranjang king size. Di bawah keremangan lampu kamar, Dayat melepas jubah mandi Astrid, membiarkan keindahan tubuh wanita itu kembali terekspos sepenuhnya di depan matanya. ​Sentuhan Dayat kali ini tidak kasar, melainkan begitu intens dan menuntut. Bibirnya menyapu setiap inci kulit mulus Astrid—mulai dari leher, kelembutan dadanya, hingga merayap turun ke perut dan paha bagian dalam. ​"Nggghhh... Mas Dayat... ah!" desah Astrid tertahan, matanya terpejam menikmati kehangatan sentuhan jemari dan bibir Dayat yang membakar kembali gairahnya. ​Saat kejantanan Dayat yang kembali mengeras menembus kewanitaannya yang basah, Astrid menjerit pelan, melingkarkan kakinya rapat-rapat di pinggul Dayat. ​"A-ah! Mas... nikmat banget... hngggh!" rintih Astrid berulang kali, menyatu dalam ritme dorongan Dayat yang mantap dan dalam. Kamar mewah itu kembali dipenuhi oleh suara le

  • Tukang Servis Spesialis   Manager Berulah

    Dayat mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Cengkeramannya di kerah baju sekuriti itu makin mengetat, membuat pria paruh baya berseragam hitam itu kelimpungan mencari udara. ​"M-Mas... ampun, Mas! Jangan pukul saya!" ratap sekuriti itu dengan suara gemetar, matanya melotot panik menatap wajah Dayat yang dipenuhi amarah. ​"Siapa yang suruh kamu ngelakuin ini, Hah?!" bentak Dayat dengan suara rendah namun sangat menekan. "Ini bukan cuma sekali dua kali! Kamu meramut data dan ngerekam semua tamu VVIP di sini! Buat apa?!" ​Astrid yang sudah mengenakan jubah mandi tebal akhirnya memberanikan diri keluar lewat pintu kaca. Wajahnya pucat pasi saat melihat Dayat sedang menyudutkan seorang petugas keamanan resort. ​"Mas Dayat! Astaga... Pak Toto?!" jerit Astrid kaget setengah mati begitu mengenali wajah sekuriti tersebut. "Pak Toto kok tega banget sih?! Apa-apaan ini?!" ​"Mbak Astrid... tolong Mbak, jangan laporkan saya ke Pak Handoko..." rengek Pak Toto p

  • Tukang Servis Spesialis   Sosok Perekam

    ​"Urusan listrik luar sudah beres, Mbak..." gumam Dayat dengan suara berat yang dalam. Tangannya merayap naik dari pinggang Astrid, meremas lembut dadanya yang membusung indah. "...sekarang waktunya beresin 'aliran listrik' di dalam kamar ini." ​"Nggghhh... Mas Dayat..." desah Astrid tertahan saat jemari Dayat mulai memainkan puncak dadanya di balik kain tipis. ​Tanpa membuang waktu, Dayat membalikkan tubuh Astrid, melumat bibirnya dengan begitu panas dan bernafsu. Lidah mereka saling membelit basah, diiringi suara kecapan nikmat yang memenuhi ruangan. Dayat menyapu lingerie tipis itu hingga terlepas, membiarkan tubuh polos Astrid terpampang sempurna di bawah pendar lampu kamar yang hangat. ​Dayat merebahkan Astrid di atas ranjang king size. Ia menyibak kedua paha mulus Astrid lebar-lebar, lalu menunduk. Tanpa peringatan, bibir dan lidah hangat Dayat langsung melumat inti kewanitaan Astrid yang sudah sangat basah dan hangat. ​"Aaaahh! M-Mas Dayat! Ah! Disituhh... nggghhh!" jerit A

  • Tukang Servis Spesialis   Jadwal Lembur

    ​"Aman, Pak Budi. Semalam main breaker-nya sempat saya matikan karena ada panel yang korslet hampir terbakar," jawab Dayat tenang sambil menghampiri mereka. ​Pria di samping Pak Budi menghela napas lega yang sangat panjang, memegang dadanya seolah baru saja lolos dari bencana besar. ​"Terima kasih Tuhan... Untung ada Mas Dayat di sini," ujar Pak Budi lega, lalu berbalik menatap pria paruh baya di sebelahnya. "Oh iya, Mas Dayat, Mbak Astrid... kenalkan, ini Pak Handoko, pemilik utama seluruh kawasan resort ini." ​Pak Handoko langsung maju dan menjabat tangan Dayat rapat-rapat dengan raut penuh rasa syukur. "Mas Dayat, saya benar-benar berutang besar sama kamu. Kalau semalam tempat ini kebakaran, bukan cuma rugi miliaran, tapi nama baik resort saya hancur." ​Pak Handoko menghentikan kalimatnya sejenak, menatap Dayat dan Astrid dengan tatapan serius. ​"Karena dedikasi dan keahlian Mas Dayat... saya nggak cuma mau minta kamu benerin panel ini," lanjut Pak Handoko dengan nada tegas. "

  • Tukang Servis Spesialis   Kepanikan sia-sia

    ​"Nggak beres ini," gumam Dayat pelan sambil memasang telinganya erat-erat. ​Ia berjalan mengepalkan tangan, melangkah pelan mendekati pintu kayu tebal tersebut. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, rasa hangat mendadak menjalar di telapak tangannya. Tanpa ragu, Dayat memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. ​Kreeek... ​Pintu terbuka, menyisakan celah sempit. Di dalam ruangan bawah tanah yang remang itu, terlihat beberapa panel listrik berukuran raksasa dengan kabel-kabel melilit tak beraturan. Bau hangus makin menusuk hidung, diiringi percikan api kecil dari salah satu sakelar utama. ​"Mas Dayat...? Kamu di mana?" ​Suara panggilan Astrid dari arah kamar utama terdengar memecah keheningan. Tak lama, langkah kaki wanita itu mendekat, memperlihatkan sosoknya yang berdiri di lorong sambil mengucek mata, hanya berbalut kimono mandi longgar. ​"Di sini, Mbak. Jangan mendekat dulu," potong Dayat cepat sambil memberi isyarat tangan agar Astrid berhenti. ​Astrid berjalan mendek

  • Tukang Servis Spesialis   VVIP

    ​"Denger kan tadi, Mas?" bisik Astrid setengah tertawa saat mereka melangkah menuju parkiran. "Stay di villa VVIP... Lengkap ada kolam renangnya lagi. Pak Budi bener-bener tau cara memanjakan kita." ​Dayat melirik wanita di sampingnya sambil meremas pelan jemari Astrid yang melingkar di tangannya. "Bukan cuma memanjakan kerjaan, Mbak... Tapi kayak ngasih lampu hijau buat agenda 'lembur' kita nanti malam." ​"Dih, Mas Dayat pikirannya langsung ke sana!" goda Astrid sambil mencubit pelan pinggang Dayat, walau matanya berkilat penuh antusiasme. "Tapi ya... Kolam renang malam-malam, udara dingin, berdua aja... Kayaknya sayang banget kalau gak dimanfaatkan kan?" ​"Tuh kan, ujung-ujungnya Mbak Astrid juga yang ngode," kekeh Dayat seraya membukakan pintu mobil untuk Astrid. "Udah, yuk. Kita beresin dulu urusan belanja alat-alatnya ke toko teknik, biar nanti sore pengerjaan lancar dan kita bisa nikmatin fasilitas VVIP itu tanpa beban." ​Sore harinya, setelah hampir setengah hari muter-mut

  • Tukang Servis Spesialis   Gangguan Di Tengah Gairah

    Setelah terdiam beberapa saat sambil menimbang-nimbang risiko yang paling aman, Dayat akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menunduk untuk menatap Ajeng kembali, memantapkan keputusannya."Ya sudah, Jeng, mendingan kita enggak usah ngomong dulu deh sama Gita," ucap Dayat pada akhirnya. "Nanti kal

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran Dan Pertanyaan

    Dayat masih termangu. Suara kipas angin kontrakannya memecah hening. Dayat baru saja memejamkan mata, tak lama, layar ponsel yang tergeletak di samping bantalnya menyala. Dayat melirik malas, namun keningnya berkerut saat membaca nama pengirimnya. “Yat! Mau jadi engineer nggak di kantorku? Mumpun

  • Tukang Servis Spesialis   Lolos Dan Di Nanti

    Dayat memacu motornya seolah-olah sedang dikejar malaikat maut. Deru mesin tuanya menjerit di sepanjang jalan aspal perumahan elit yang senyap. “Gila.. Gilaa.. Apa si Luki ngerjain gue yaa!” Gerutu Dayat. Pikirannya masih kacau, bau parfum amber milik Clara seolah menempel permanen di jaket ke

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan Dalam Kegelapan Yang Sempit

    “Hati-hati gimana?”Mendengar ucapan itu Dayat sempat terdiam, ia tahu betul sedikit kesalahan yang ia lakukan nanti atau hal yang membuat Istri dari Bos-nya tidak suka dapat memutus langsung jalur rezekinya.Dayat terkekeh sinis. "Lo tenang deh. Iman gue kuat. Tadi aja di rumah Mbak Niken, gue ham

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status