ANMELDEN"Ah, si Mbak bisa aja," sahut Dayat dengan kekehan rendah yang terdengar santai. Ia melirik sekilas ke arah koridor menuju ruang tamu sebelum kembali menatap Cici. "Sudah, Mbak, sana mendingan temenin Ajeng di depan. Nanti kalau ditinggal kelamaan, dia malah ngomel-ngomel lho." Alih-alih langsung pergi, jemari lentiknya yang dingin perlahan naik, membelai lembut dagu Dayat selama satu detik penuh dengan tatapan yang sarat akan arti. Setelah memberikan kerlingan manja terakhirnya, Cici akhirnya membalikkan badan. Daster putih tipisnya melambai ringan seiring langkah kakinya yang anggun meninggalkan dapur untuk menghampiri Ajeng yang sudah menanti di ruang tamu.Begitu Cici tak lagi terlihat, Dayat mengembuskan napas panjang, mengusir ketegangan yang sempat mengunci dadanya. Ia segera berjongkok di depan kolong tempat cuci piring. Jemarinya yang cekatan mulai bergerak memeriksa badan mesin sanyo hitam yang terasa dingin. Dengan saksama, Dayat memutar kipas bagian belakang mesin menggun
"Ealah, Jeng, namanya juga di rumah sendiri," sahut Cici dengan suara yang sengaja dilembutkan. Ia membuka pintu rumahnya lebih lebar. "Ayo, Mas Dayat, Ajeng, masuk dulu ke dalam. Enggak enak ngobrol di teras malam-malam begini."Ajeng mendengus pelan, namun tetap melangkah masuk mendahului Dayat setelah melepaskan telapak tangannya dari mata pria itu. Mereka berdua kemudian mendudukkan diri di atas sebuah sofa busa usang yang terletak di ruang tamu."Kalian duduk dulu ya. Mbak buatkan teh hangat sebentar di belakang," ucap Cici sebelum membalikkan badannya dan melangkah menuju dapur dengan pinggul yang sengaja diayun lembut.Begitu sosok Cici menghilang di balik tirai pembatas ruangan, Ajeng langsung menggeser duduknya hingga benar-benar merapat ke sisi Dayat. Ia mencengkeram lengan Dayat dan berbisik dengan nada yang sangat tajam, "Awas aja ya kamu, Mas! Mata itu dijaga, jangan sampai jelalatan ngeliatin Mbak Cici terus!"Dayat menahan tawanya agar tidak pecah, mencoba mengontrol de
Di dalam kamar Ajeng yang bernuansa sederhana, aroma harum sabun mandi masih menguar dari tubuh Dayat. Pria itu baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan sedang mengancingkan kemeja santai yang diberikan Clara tempo hari. Cklek... Pintu kamar terbuka sedikit, lalu sosok Ajeng menyembul dari balik pintu sebelum akhirnya melangkah masuk. Ia membawa aroma wangi minyak wangi melati yang lembut, tampaknya juga sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi. "Mas Dayat," panggil Ajeng, melangkah mendekat sambil memperhatikan Dayat yang sedang merapikan kerah kemejanya di depan cermin. "Iya, Jeng? Kenapa?" tanya Dayat tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju pada pantulan dirinya di cermin. "Nanti habis ini kita makan malam dulu di meja makan sama Ibu, ya. Baru habis itu kita langsung jalan ke rumah Mbak Cici," ucap Ajeng memberi tahu rencana m
"Iya, Jeng, itu benar semua. Karena kamu di kota, jadi kamu enggak dengar beritanya," sahut Nindi mantap, meyakinkan Ajeng yang masih syok. Nindi mengelus dadanya sendiri sambil mengembuskan napas lega. "Aku malah bersyukur banget suamiku kerjanya di kota. Jadi ke sini cuma sebulan sekali, itu pun paling lama tiga hari sampai seminggu. Jadi aman dari radar dia. Pokoknya, aku wanti-wanti ya, kamu harus hati-hati banget! Kalau enggak, mas gantengmu ini nanti bakal digodain habis-habisan sama Mbak Cici." Mendengar penuturan panjang lebar dari sahabatnya, penyesalan langsung tergambar jelas di wajah Ajeng. Ia menepuk jidatnya pelan. "Duh... nyesel juga aku tadi pakai nawarin Mas Dayat benerin sanyonya," gumam Ajeng lemas. Ajeng kemudian memutar tubuhnya, melirik tajam sekaligus cemas ke arah Dayat. Merasa ditatap intens, Dayat balas menatap Ajeng dengan sebelah alis terangkat,
"Iya nih, Mbak. Aku baru pulang tadi siang sampai sini," jawab Ajeng ramah sembari mengulurkan tangan, menyalami Cici dengan begitu akrab. Matanya kemudian melirik ke arah ember yang dibawa Cici. "Mbak Cici sendiri habis dari mana?"Cici membetulkan lilitan kain jarit di dadanya yang agak melonggar sebelum menjawab. "Ini lho, Mbak habis dari sungai, mandi sekalian nyuci baju sedikit."Ajeng mengernyitkan dahinya, tampak agak heran. "Lho, kenapa mandi di sungai, Mbak? Tumben banget, biasanya kan di kamar mandi rumah."Cici langsung menghela napas panjang dengan raut wajah lelah. "Duh, Jeng... itu lho, mesin sanyo di rumah mati sudah tiga hari ini. Belum sempat panggil tukang servisan dari pasar, makanya terpaksa mandinya numpang ke sungai dulu.""Oh... begitu," Ajeng mangut-mangut paham.Lensa mata Cici kemudian bergeser, melewati pundak Ajeng dan langsung tertuju pada sosok Dayat yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam gubuk. Senyum penasaran terukir di wajah Cici."Eh, Jeng..
"Nindi!! Ngagetin tahu enggak?!" teriak Ajeng spontan, ekspresi terkejutnya langsung berubah menjadi tawa kesal yang renyah.Ajeng dengan cepat melepaskan pelukannya dari lengan Dayat, lalu bangkit berdiri dan melangkah lebar menghampiri wanita berpayung itu. Ternyata sosok tersebut adalah Nindi, sahabat kecilnya sejak zaman main lumpur di sawah dulu.Nindi menurunkan payungnya, matanya langsung melirik genit ke arah Dayat yang masih duduk di atas kasur busa dengan wajah yang perlahan kembali normal setelah sempat jantungan."Hehe, lagian pintu ditutup rapat banget sore-sore begini," goda Nindi sambil menyenggol bahu Ajeng dengan sikunya. Ia berbisik, tapi suaranya cukup terdengar. "Jeng, itu siapa? Ganteng banget, bagi-bagi dong."Ajeng langsung menoleh ke arah Dayat, lalu kembali menatap Nindi. Dengan dagu yang sengaja diangkat dan senyuman super lebar yang tampak begitu menyombongkan diri, Ajeng menjawab dengan nada bangga."Kenalin, ini Mas Dayat. Pacar aku dari kota!" ucap Ajeng
Menjelang siang, matahari di atas area proyek mulai terasa terik. Dayat menghabiskan sisa kopinya, lalu melipat denah yang sudah ia pelajari. Ia menoleh ke arah Dita yang sedang merapikan beberapa dokumen kantor."Mbak Dita, boleh minta tolong antar saya sekarang?" tanya Dayat.Dita langsung mendon
"Gimana, Mas? Udah dicek?" tanya Astrid yang tiba-tiba saja muncul dan berjalan masuk dari arah pintu depan unit rumah itu.Dayat dan Dita yang sejak tadi sedang asyik mengobrol di dekat area dapur pun sontak menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara."Udah,, ini semua 50 unit modelan strukturn
Dayat pun akhirnya memutuskan untuk membawanya ke rumahnya dulu, setidaknya sampai besok pagi wanita itu sadar dari mabuknya. Begitu tiba di depan rumahnya sendiri, Dayat bergegas turun dan membuka pintu utama terlebih dahulu agar tidak kesusahan nanti. Setelah itu, ia kembali ke mobil, membuka pin
Dayat mengendarai mobilnya membelah keheningan malam, sambil sesekali melirik ke spion tengah untuk memperhatikan Ajeng yang masih tertidur lelap di kursi belakang dengan posisi meringkuk. Aroma alkohol samar-samar tercium sampai ke kabin depan."Duh, gue bawa kemana ya,, enggak mungkin ke rumah gu







