공유

Upah Keringat

작가: NomNom69
last update 게시일: 2026-05-21 09:51:44

"Eh, maaf ya sayang. Mama tadi nggak kedengaran di dalam. Mama tadi habis menemui Om Dayat, itu lho... lagi minta tolong benerin lampu di dalam yang sempat mati."

​Aldo yang masih polos hanya mengangguk-angguk percaya tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Oh, kirain Mama lagi tidur. Adek lapar banget nih, Ma. Mau makan siang."

​Tak lama kemudian, Dayat keluar dari arah koridor dalam dengan pakaian yang sudah rapi kembali, meskipun sisa keringat masih terlihat di pelipisnya. Ia melangkah mendekati
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan dan Project Baru

    "Jadi begini, Yat. Biar diperjelas lagi detail pekerjaannya di depan Astrid. Tugas kamu nanti di perumahan Galaxy Permai seperti biasa. Instalasi listrik dari jaringan utama ke dalam tiap rumah, sekaligus memeriksa fungsi mesin air di semua unit. Terakhir, kamu harus memastikan finishing pengerjaan instalasi itu rapi dan beres semua tanpa ada cacat," jelas Clara dengan nada suara yang lugas dan terarah. Dayat mengangguk-angguk paham, matanya ikut memperhatikan baris kalimat pada dokumen di atas meja. "Untuk unit yang sudah dipesan oleh pembeli, apa ada permintaan atau spesifikasi khusus untuk penempatan jalurnya, Tan?" tanya Dayat dengan sopan. Clara menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke sofa empuk. "Untuk sementara ini, belum ada request tambahan dari beberapa orang yang sudah booking unit di sana. Jadi kamu bisa pasang semuanya pakai standar baku yang biasa kamu pakai saja. Biar pengerjaannya juga bisa berjalan lebih cepat." Astrid yang sejak

  • Tukang Servis Spesialis   Sosok Pendamping Berikutnya

    Luki tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pundak Dayat berulang kali, membuat sisa es kopi di dalam gelas Dayat sedikit bergoyang. Mata Luki melirik ke arah mobil sedan hitam mewah milik Clara yang baru saja melaju pergi meninggalkan area parkir warung kopi seberang kantor tersebut. ​"Gila ya, masih siang bolong begini saja lo sudah dipanggil Bos ke rumahnya, Yat! Benar-benar pekerja teladan lo, selalu siap sedia setiap saat," ucap Luki di sela-sela sisa tawanya. ​Dayat mendengus pelan, ia merapikan kembali posisi duduknya di atas bangku kayu yang teduh. "Halah, mending siang begini, Luk, daripada malam-malam disuruh datang ke rumahnya sendirian. Malah lebih repot urusannya kalau sudah larut." ​Luki mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi jenaka. "Lho, justru kalau dipanggil malam-malam kan enak, dong. Bisa sekalian berbagi selimut hangat di dalam kamar, hahaha!" ​Dayat langsung menjitak pelan lengan Luki, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat. "Ah, otak lo isi

  • Tukang Servis Spesialis   Hal Yang DiTakutkan dan Mengenakan

    "Wah, bahaya ucapan kamu, Lin. Jangan-jangan kamu malah mulai ketagihan lagi sekarang?" tanya Dayat dengan volume suara yang ditekan serendah mungkin, mencoba menanggapinya dengan nada bergurau namun matanya menatap serius. Linda tidak mengalihkan pandangannya, ia justru mengulas senyum tipis yang sarat akan arti dan menopang dagunya dengan kedua tangan. "Nah, itu dia tujuan utama aku mengajak kamu makan bareng siang ini, Mas Dayat. Sekalian aku memang mau bilang kalau aku itu kepingin mencobanya lagi sama kamu." Dayat menaikkan kedua alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian Linda. "Maksud kamu gimana, Lin?" Linda memajukan posisi duduknya sedikit lagi ke arah meja, matanya berkilat penuh harap. "Yang kemarin itu kan karena baru pertama kali buat aku, jadi rasanya masih sakit dan aku kurang bisa menikmati prosesnya, Mas. Sekarang aku mau mencobanya lagi sekali lagi sama kamu, biar aku bisa benar-benar merasakan bedanya." Dayat langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas

  • Tukang Servis Spesialis   Upah Keringat

    "Eh, maaf ya sayang. Mama tadi nggak kedengaran di dalam. Mama tadi habis menemui Om Dayat, itu lho... lagi minta tolong benerin lampu di dalam yang sempat mati."​Aldo yang masih polos hanya mengangguk-angguk percaya tanpa menaruh curiga sedikit pun. "Oh, kirain Mama lagi tidur. Adek lapar banget nih, Ma. Mau makan siang."​Tak lama kemudian, Dayat keluar dari arah koridor dalam dengan pakaian yang sudah rapi kembali, meskipun sisa keringat masih terlihat di pelipisnya. Ia melangkah mendekati Putri dan Aldo yang masih berdiri di dekat ambang pintu utama dengan sikap yang sopan.​Putri menoleh ke arah anaknya, lalu menunjuk ke arah Dayat. "Nah, ini Om Dayat yang sudah bantu Mama tadi. Adek, ayo salim dulu sama Om-nya, bilang terima kasih."​Aldo melangkah maju satu langkah, meraih tangan kanan Dayat, lalu menempelkan punggung tangan Dayat ke dahinya dengan sopan. "Terima kasih ya, Om, sudah benerin lampu rumah kita."​Dayat tersenyum hangat, ia mengelus pucuk kepala Aldo dengan lembu

  • Tukang Servis Spesialis   Keringat Mengalir Di Siang Hari

    "Gimana, Mas Dayat? Tawaran aku yang tadi masih berlaku, lho. Kamu mau apa nggak membantu aku malam ini? Kalau kamu mau, nanti uang bayaran servis sanyonya aku lebihin banyak buat kamu," ucap Putri dengan volume suara yang sangat rendah, sarat akan desakan gairah. Dayat menatap tubuh Putri dari ujung kaki hingga ke dada bidangnya yang naik-turun dengan cepat. Bentuk tubuh Putri yang semok, padat, dan berisi di balik daster tipis itu benar-benar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan yang ia bangun sejak pagi. Hasratnya sebagai laki-laki sudah berada di ubun-ubun, membuat tenggorokannya terasa luar biasa kering. Dayat menegakkan punggungnya, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan mata yang dalam. "Boleh, Mbak Put. Kalau Mbak memang butuh bantuan saya, saya siap." Putri tersenyum lebar, sepasang matanya berbinar puas mendengar persetujuan itu. Ia langsung meraih pergelangan tangan Dayat, menariknya dengan lembut namun pasti agar bangkit dari sofa. "Ayo, kita pindah ke dalam kamar s

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan Baru Janda Desa

    Putri menurunkan tubuhnya ke atas sofa empuk, tepat di sebelah Dayat namun masih menyisakan sedikit jarak. Ia menyilangkan kakinya, membuat belahan dasternya sedikit tersingkap di bagian paha. "Gimana kopinya, Mas Dayat? Cocok nggak sama lidah orang kota?" tanya Putri sambil menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Dayat tanpa berkedip. Dayat meletakkan cangkirnya ke atas tatakan kaca dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. "Enak banget, Mbak Put. Mantap, terasa banget kalau ini kopi asli tanpa campuran," jawab Dayat dengan nada sesopan mungkin, meski matanya sempat melirik sekilas ke arah leher putih Putri yang masih menyisakan sisa kelembapan setelah berganti pakaian tadi. Putri tertawa kecil, suara tawanya terdengar rendah dan serak. Ia memajukan sedikit posisi duduknya, membuat aroma sabun mandi dari tubuhnya semakin jelas tercium oleh Dayat. "Bisa saja kamu, Mas. Di rumah ini sepi banget sejak aku balik. Nggak ada teman mengobrol yang pas. Kamu kalau kerja beg

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status