Se connecterAlvin berdiri di belakangku."Kok kamu datang?" tanyaku. "Bukannya kamu bilang males hadapin acara kayak gini?""Sebenarnya males." Dia menyesap minumannya, tatapannya tertuju padaku. "Tapi, aku mikir, kamu sendirian ngadepin orang sebanyak ini, pasti capek.""Makanya kamu datang?""Iya."Aku menatapnya, lalu tiba-tiba terkekeh."Kenapa ketawa?" tanyanya."Ketawain kamu," jawabku. "Kamu ini ya, ngasih perhatian ke orang aja caranya kaku banget."Dia mengangkat sebelah alis, tidak membantah.Hening selama dua detik, tiba-tiba dia bertanya, "Tadi di balkon, kamu ngobrolin apa sama orang itu?"Aku tertegun sejenak, lalu tersadar.Dia melihatku dan Devan di balkon tadi."Kamu lihat semuanya?" tanyaku."Iya," jawabnya. "Dari ruang VIP lantai dua."Aku tidak berkata apa-apa.Angin malam berembus masuk dari jendela, menerpa anak rambut di dahinya.Dia berdiri di hadapanku, seluruh tubuhnya diselimuti cahaya hangat dari lampu ruang perjamuan, membuatnya terlihat begitu tampan hingga seolah tid
Mataku seketika merah."Foto ini … kamu temukan di mana?""Di brankas Keluarga Prameswara," jawab Devan, nadanya datar. "Dulu Doni menggeledah rumahmu dan menyita banyak barang lain. Naskah asli ayahmu, catatan eksperimen, catatan riset ibumu, semuanya ada di sana.""Aku sudah menyuruh orang merapikannya. Minggu depan akan ada yang mengantarkannya ke tempat tinggalmu di Kota Marvelle."Aku menggenggam erat foto itu, hingga buku-buku jariku memutih.Setelah sekian lama, aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak menatapnya."Kenapa kamu melakukan semua ini?""Karena ini adalah peninggalan ayahmu," jawabnya. "Sudah seharusnya dikembalikan padamu.""Bukan itu yang kutanyakan," ujarku kata demi kata, seolah mewakili diriku di masa lalu."Kenapa kamu mengambil barang-barang ini dari Keluarga Prameswara? Bukannya kamu masih bekerja sama dengan mereka? Bukannya kamu ingin melindungi Farah?"Dia terdiam beberapa detik, lalu mengucapkan sesuatu. Suaranya sangat lirih, saking lirihnya hingga
Saat pesawat mendarat di Kota Bandar, hari sudah menjelang malam.Di luar jendela kabin, kota yang telah kutinggalkan selama satu setengah tahun ini terselimuti warna keemasan hangat oleh cahaya senja. Gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang, lalu lintas kendaraan padat merayap, semuanya sama persis seperti saat aku pergi.Akan tetapi, aku tahu, yang berbeda adalah diriku sendiri.Rapat evaluasi proyek diadakan di Pusat Konvensi Internasional Kota Bandar. Proyek riset dan pengembangan obat ADC dari Susilo Biomedis telah lolos persetujuan uji klinis fase III untuk kawasan regional. Ini berarti kami selangkah lebih dekat menuju peluncuran obat ke pasar.Perjamuan perayaan dijadwalkan pukul tujuh malam, di ruang perjamuan lantai tiga Hotel Shangrila ….Aku mengenakan gaun panjang beludru berwarna hijau gelap, rambutku disanggul rapi, memperlihatkan tulang selangka dan sepasang anting mutiara kecil di daun telingaku.Wanita di dalam cermin dan wanita yang berlari terhuyung-huyung m
Aku menatapnya, yang dengan lancar memesan makanan dan mengobrol dengan pemilik restoran dalam bahasa asal negeri tersebut, merasa agak tercengang.Pria ini bagaikan sebuah buku. Setiap halaman yang kubuka selalu menyimpan kisah baru.Selesai makan, dia mengantarku kembali ke apartemen.Mobil berhenti di depan gedung. Dia tidak langsung mematikan mesin, melainkan mengambil sebuah amplop dari laci dasbor dan menyerahkannya padaku."Apa ini?" Aku menerimanya dan membukanya.Isinya adalah sebuah proposal proyek, riset dan pengembangan tahap awal untuk obat ADC. Pihak inisiatornya adalah Susilo Biomedis, dengan mitra dari Institut Medis Kota Bandar dan sebuah firma modal ventura di Negara Apura.Di kolom pemimpin proyek, tertera namaku.Aku mendongak menatapnya, mulutku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Untuk proyek ini, kamu yang jadi pemimpinnya," ucapnya. "Tim sudah dibentuk. Peneliti utamanya adalah murid Profesor Murdoch dan untuk studi praklinis, ada tim dari GlaxSmith yang
Bagaimana mungkin orang seperti dia membiarkan dirinya mabuk?Akan tetapi, aku tidak banyak bertanya, langsung mengambil kunci mobil dan berangkat.Sesampainya di Soubank, Alvin sedang duduk di sebuah bangku di tepi sungai.Angin malam terasa dingin. Dia hanya mengenakan kemeja tipis, lengan digulung hingga ke lengan bawah, dan kerahnya terbuka longgar.Aku belum pernah melihatnya seperti ini."Pak Alvin." Aku melangkah mendekat dan berdiri di hadapannya.Dia mendongak menatapku.Cahaya lampu jalan menyinari wajahnya. Di dalam sepasang matanya yang sipit itu, terpancar sebuah emosi yang belum pernah kulihat sebelumnya.Tatapan kosong yang hampa."Kamu kok minum sebanyak ini?" Aku berjongkok, hendak mengambil gelas dari tangannya.Dia menghindari tanganku, suaranya terdengar berat. "Hari ini hari kematian ayahku."Gerakanku seketika terhenti."Tiap tahun di hari ini …." Dia menatapku, tatapannya agak menerawang. "Aku selalu ke sini buat duduk sebentar.""Dia pergi di sungai ini."Aku me
Mata Profesor Murdoch seketika berbinar. "Andre Wijaya? Yang dari Kota Bandar itu?"Aku mengangguk, merasakan kehangatan samar di dada.Tidak menyangka nama Ayah, di Kota Marvelle yang berjarak ribuan mil, masih ada yang mengingatnya.Sepanjang pagi, Alvin mengajakku berkeliling ke berbagai ruang seminar.Dia hampir tidak mengobrol denganku, hanya saat aku tertinggal, dia akan tiba-tiba memperlambat lajunya, atau menggunakan tatapan matanya untuk memberi isyarat agar aku memperhatikan pembicara tertentu.Aku mengikutinya seperti bayangan, mengamati cara dia berinteraksi dengan orang-orang.Dia tidak pernah membuang waktu untuk basa-basi. Berjabat tangan, memperkenalkan diri, menyampaikan gagasan, dan bertukar informasi, semuanya berjalan mulus bagai air mengalir, tanpa satu kata pun yang berlebihan.Saat istirahat siang, dia akhirnya membuka suara."Bagaimana menurutmu?""Informasinya terlalu padat," jawabku jujur. "Ada beberapa istilah teknis yang bahkan belum pernah kudengar."Dia me







